Melawat Sayap Garuda Bekerja di Lanud Abdulrachman Saleh

Senin, Januari 02, 2017 2 Comments
Gerbang utama Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh pada Kamis, 30 Mei 2012. (Foto-foto: ABDI PURMONO)

SAYA merasa sangat beruntung bisa mengikuti press tour dan outbound yang diselenggarakan Dinas Penerangan Markas Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh alias selama tiga hari, mulai 30 Mei sampai 1 Juni 2012.

Horas, Dua Seteru Berdamai

Minggu, Desember 25, 2016 Add Comment

Majalah PANJI MASYARAKAT, 6 Desember 2000

Menjadi salah satu Sinode Agung paling bersejarah sejak HKBP didirikan pada 1861. (Foto-foto: ABDI PURMONO)

Sinode Agung HKBP ke-56 menyepakati rekonsiliasi di antara dua kelompok yang bertikai. Para pimpinan jemaat malah bersikap arogan dan sarat privilese. Mengapa?

SIDANG Pleno Sinode Agung Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di auditorium HKBP di Desa Simanungkalit, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara, tampaknya bakal dikenang sebagai hari bersejarah. Maklumlah, perhelatan kali ini terhitung paling besar sejak Sinode ini berdiri di Sipirok, 7 Oktober 1861.

Sedikitnya, 1.359 Sinodestan dari 440 resor, plus 22 anggota Majelis Pusat dan 18 praeses menghadiri rapat pleno itu. Menariknya, para peserta ini datang dari dua kelompok yang bertikai. Selain itu, baru sekarang pula kegiatan ini menghadirkan tokoh-tokoh agama Islam dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, yaitu Andi Jamaro, pakar sosiologi Universitas Airlangga Hotman M. Siahaan, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Luhut B. Pandjaitan, dan Menteri Pertanian Bungaran Saragih.

Menurut Jubil Raplan Hutauruk, ada dua hal penting yang patut dicatat dalam Sinode kali ini. Selain menunjukkan bahwa HKBP sebagai gereja yang terbuka, inklusif dan dialogis yang bersumber dari firman Allah, tak kalah pentingnya adalah sebagai tempat untuk menyempurnakan proses rekonsiliasi yang tengah berlangsung di tubuh HKBP. Maklumlah, berdasar Sinode Agung dua tahun lalu, rekomendasi rekonsiliasi dilakukan di tingkat jemaat, resor, distrik, dan lembaga, termasuk rekonsiliasi antarjemaat.

“Selain itu, Sinode ini pun dimaksudkan untuk mengevaluasi seluruh kinerja HKBP pascakrisis 1992-1998, sekaligus menetapkan kebijakan dan merancang program umum HKBP dua tahun ke depan,” kata eforus HKBP ini kepada Panji.

Sejauh ini, cukup banyak hambatan yang mendera HKBP untuk mengembangkan diri. Hal ini terutama menyangkut persoalan ikatan tradisi, visi dan misi, kedisiplinan, dan perilaku berorganisasi. Salah satu yang menonjol adalah keengganan untuk menerima apalagi memulai sesuatu yang baru. Ketika Garis-garis Kebijaksanaan Pembinaan dan Pengembangan (GBKPP) masih dalam proses penyusunan, misalnya, ada sebagian pendeta yang melontarkan isu bahwa pimpinan HKBP hendak mengubah nama HKBP, dan GBKPP sengaja disusun untuk menghilangkan hamomion (misteri) gereja sehingga pengelolaannya dilakukan dengan manajemen terbuka.

Isu ini memang disengaja dikembangkan. Itu terjadi karena sebelum GBKPP disahkan pada Sinode Agung ke-49 (1988), selama berpuluh tahun pendeta HKBP berada dalam posisi yang sentralistik dan sarat privilese dalam kehidupan berjemaat. Apalagi, hubungan antara pendeta dan pimpinannya pun mirip hubungan antara camat dan bupati, sehingga memunculkan hubungan formalitas yang mengaburkan objektivitas.

Kekurangan lainnya bertumpu pada persoalan intern organisasi. Program yang dicanangkan HKBP lewat Sinode Agung 1988 sudah mensahkan GBKPP, tapi dalam prakteknya banyak yang tidak menggubrisnya. Sementara hambatan eksternal yang dialami HKBP menyangkut kebebasan beragama, politik perizinan, dan intervensi kekuatan konglomerat (kasus PT Inti Indorayon Utama), dan pembungkaman pers sehingga pers tak mampu bicara lebih jujur mengenai HKBP.

Ironisnya, Sinode yang dilangsungkan 21-24 November ini terusik ketika ratusan mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) HKBP Pematang Siantar di bawah pimpinan Marolop Sitinjak melakukan demontrasi. Walaupun sempat terjadi ketegangan, tapi tidak sampai pada perbuatan anarkis.

Dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal HKBP Willem Tumpal Pandapotan Simarmata, para mahasiswa menyampaikan delapan aspirasi kepada pucuk pimpinan HKBP dan Sinodestan. Di antaranya menuntut agar pelayanan gereja HKBP paa milenium ketiga difokuskan kepada pembenahan struktural dan fungsional; eksodusnya muda-mudi HKBP ke Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) dan Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) supaya ditanggapi secara serius oleh pemimpin HKBP.

Namun, persoalan itu akhirnya bisa diselesaikan oleh pihak HKBP. Mereka berjanji akan menuntaskan masalah ini dalam waktu dekat. Sementara dari sidang Sinode sendiri, ada tiga hal pokok yang mengemuka.

Pertama, HKBP harus lebih proaktif dalam menjalin kerangka dalam menjalin kerja sama dengan agama-agama lain, terutama dengan Islam dalam kerangka hubungan yang inklusif, terbuka, dan dialogis. Kedua, pendeta harus mampu menjadi penafsir sosial (yang aktual) dan tidak lagi melulu mengandalkan tafsir teologis alias dogmatis. Pendeta tak cukup bergelut dalam ritus-ritus ibadah belaka. Ketiga, konstitusi HKBP mestinya makin memberikan peluang bagi jemaat untuk berpartisipasi aktif dan konstruktif, dalam pola kemitraan yang bottom up dan bukan top down

“Inilah paradigma baru HKBP ke depan,” kata Willem Tumpal Pandapotan Simarmata. ■ ABDI PURMONO (MEDAN)




Daftar Kecelakaan Enam Pesawat Milik Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh

Senin, Desember 19, 2016 Add Comment
Pesawat Hercules A-1326 saat mendarat di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Sabtu, 2 Juli 2015. Pesawat membawa peti berisi jenazah para koban kecelakaan Hercules A-1310 di Kota Medan. (Foto: ABDI PURMONO)



JATUHNYA pesawat angkut militer C-130 Hercules A-1334 di sekitar Gunung Lisuwa, Distrik Minimo, Kabupaten Jayawijaya, Papua, pada Minggu pagi, 18 Desember 2016, memperpanjang daftar kecelakaan pesawat milik Pangkalan TNI Angkatan Udara Abdulrachman Saleh.

Saya mencatat, kejatuhan Hercules A-1334 menjadi musibah keenam yang dialami pesawat milik Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh dalam kurun 11 tahun terakhir sejak 2005. Hercules A-1334 juga menjadi pesawat kedua yang jatuh sepanjang 2016, sekaligus menjadi Hercules kedua yang rontok sejak 2015.

Anggota Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh yang gugur dalam enam kecelakaan pesawat itu berjumlah sekitar 34 orang. 

Berikut catatan yang saya susun dari peristiwa terbaru hingga terlama:


1. Ahad, 18 Desember 2016

Pesawat Hercules yang dibeli dari Angkatan Udara Australia itu diterbangkan dari kandangnya, Skuadron Udara 32 Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, pada Sabtu, 17 Desember 2016, pukul 04.00 WIB. Dipiloti Mayor (Penerbang) Marlon Ardiles Kawer, dijadwalkan pesawat kembali ke Malang pada Rabu, 21 Desember tahun yang sama. 

“Pesawat sedang menjalani tugas latihan Navex (navigation exercises alias terbang navigasi jarak jauh) di wilayah udara Papua,” kata Komandan Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh Marsekal Pertama TNI R.M. Djoko Senoputro, Ahad, 18 Desember 2016.

Djoko memastikan 12 anggota Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh di dalam pesawat tewas, ditambah Kapten Rino Pratama yang merupakan penumpang dari Satuan Radar 242 Tanjung Warari, Biak, Papua. Total, 13 orang yang tewas. (Baca: Selusin Anggota Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh Gugur dalam Kecelakaan Hercules).


2. Rabu, 18 Februari 2016

Pesawat tempur ringan Super Tucano TT-1308, yang berkandang di Skuadron 21, menghunjam tanah di permukiman penduduk di Jalan LA Sucipto Gang 12, Kelurahan Blimbing, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Kecelakaan itu menewaskan Mayor (Penerbang) Ivy Safatillah dan juru mesin udara Sersan Mayor Syaiful Arif Rakhmawan. Ivy ditemukan meninggal di tengah sawah dengan kursi pelontar sejauh 8 kilometer dari lokasi jatuhnya pesawat. Sedangkan Syaiful ditemukan tewas di dalam pesawat.

Super Tucano TT-1308 yang jatuh merupakan pesawat Super Tucano pertama yang jatuh sejak dibeli secara bertahap oleh TNI Angkatan Udara dari Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer), Brazil, sejak 2012. Ada 16 Super Tucano yang dibeli untuk menggantikan OV-10 Bronco dan seluruh pesawat ditempatkan di Skuadron 21.


3. Selasa, 30 Juni 2015

Pesawat angkut militer C-130 Hercules A-1310 jatuh di kawasan pertokoan Jalan Letjen Jamin Ginting, Kota Medan, Sumatera Utara.

Pesawat mengalami gangguan mesin setelah take-off atau tinggal landas dari Pangkalan Udara Soewondo, Medan, menuju Pangkalan Udara Tanjungpinang di Provinsi Kepulauan Riau—sejak 2 April 2016  berganti nama jadi Pangkalan Udara Raja Haji Fisabilillah—untuk menjalankan misi Penerbangan Angkutan Udara Militer (PAUM) di wilayah barat Indonesia.

Pesawat mengangkut 122 orang, terdiri dari 38 anggota TNI dan 83 orang sipil. Seluruh penumpang dan kru pesawat meninggal. Selain itu, ada delapan warga sipil bukan penumpang pesawat yang meninggal di tempat kejadian. Anggota TNI yang gugur terdiri dari 12 awak Hercules A-1310, 10 anggota Pasukan Khas TNI AU, 10 anggota TNI AU lainnya, serta enam anggota TNI Angkatan Darat.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, dibangun monumen peringatan di depan hanggar Skuadron Udara 32 yang prasasti peresmiannya ditandatangani oleh Komandan Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh Marsekal Pertama TNI R.M. Djoko Senoputro pada Rabu, 29 Juni 2016.


4. Kamis, 26 Juni 2008

Berikutnya, kecelakaan ketiga dialami pesawat CASA C-212-200. Pesawat bernomor register A-2106 ini jatuh di Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Pesawat jatuh saat melakukan misi uji coba kamera baru dari Dinas Survei dan Pemotretan Udara TNI Angkatan Udara. Sebanyak lima anggota TNI Angkatan Udara dan 13 penumpang tewas dalam kecelakaan ini. 


5. Senin, 23 Juli 2007

Pesawat tempur taktis ringan OV-10 Bronco TT-1014 rontok di ladang tebu Dusun Bunut, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Lokasi kejadian berjarak 1,5 kilometer dari ujung landasan pacu pangkalan. Letnan Dua (Penerbang) Eliseus Quinta Rumiarsa tewas. Sedangkan Mayor (Penerbang) Danang Setyabudi, sang instruktur, berhasil menyelamatkan diri dengan kursi lontar.


6. Jumat, 22 Juli 2005

Pesawat tempur taktis ringan OV-10 Bronco TT-1011 jatuh di Gunung Limas, Desa Gadingkembar, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Kecelakaan ini menewaskan Mayor (Penerbang) Robby Ibnu Robert dan Letnan Dua (Penerbang) Harchus Aditya Wing Wibawa. 

Peristiwa kecelakaan pada 2005 dan 2007 mengurangi jumlah OV-10 Bronco menjadi tinggal tujuh unit. Sebelumnya, di era 1990-an, satu unit Bronco juga jatuh. Akhirnya, Markas Besar TNI Angkatan Udara menghentikan seluruh pengoperasian OV-10 Bronco. Pesawat yang dipakai Angkatan Udara sejak 1976 itu dipensiunkan pada Oktober 2010 dan perannya diganti oleh Super Tucano. ABDI PURMONO


CATATAN:

Artikel yang lebih pendek ada di Tempo.co dengan judul Hercules Jatuh, Ini 6 Pesawat Lain yang Bernasib Nahas, Minggu, 18 Desember 2016, pukul 17.11 WIB.


Selusin Anggota Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh Gugur dalam Kecelakaan Hercules

Senin, Desember 19, 2016 Add Comment
Hercules A-1316 sedang menjalani perawatan di hanggar Skuadron Udara 32 Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh pada Kamis, 30 Mei 2012. (Foto: ABDI PURMONO)

SEBANYAK 12 dari 13 korban meninggal dalam kecelakaan pesawat Hercules A-1334 di sekitar Gunung Lisuwa, Distrik Minimo, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, pada Ahad pagi, 18 Desember 2016, merupakan anggota Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh.

Pangkalan itu berlokasi di Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Hercules berkandang di Skuadron Udara 32 Wing 2.

“Positif, 12 anggota kami gugur dalam tugas. Mereka kru Herky (kode Hercules) A-1334,” kata Komandan Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh Marsekal Pertama TNI Djoko Senoputro.

Menurut Djoko, pesawat angkut militer bertipe C-130 itu diterbangkan diterbangkan dari Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh pada Sabtu, 17 Desember 2016, pukul 04.00 WIB. Pesawat dijadwalkan kembali ke Malang pada Rabu, 21 Desember tahun yang sama.

Dipiloti Mayor (Penerbang) Marlon Ardiles Kawer, pesawat diterbangkan untuk menjalani tugas latihan terbang navigasi jarak jauh atau Navex (navigation exercises). Tugas itu tertuang dalam Surat Perintah Terbang Nomor: SPT/2799/XII/2016 yang ditandatangani Djoko pada Jumat, 16 Desember 2016, pukul 20.00 WIB. SPT ini dibuat berdasarkan telegram Panglima Komando Pelaksanaan Operasi TNI Angkatan Udara 2 (Pangkoopsau 2) Makassar No. T/3982/16 Tgl 1216.

Di Jakarta Timur, Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Madya Hadiyan Sumintaatmadja mengatakan, sebelum diketahui mengalami kecelakaan, pesawat Hercules A-1334 sempat berkomunikasi dengan petugas air traffic controller (ATC) atau pihak menara bandar udara Wamena, Papua.

Pesawat lepas landas dari Bandar Udara Mozes Kilangin, Timika, Papua, pada pukul 05.30 WIT (Waktu Indonesia Timur) dan diperkirakan mendarat di Bandar Udara Wamena, Kabupaten Jayawijaya, pukul 06.13 WIT. Di Wamena, kata Hadiyan, ada dua landasan pacu, yakni runway atau azimuth 15 dan 33. 

Hadiyan melanjutkan, pada pukul 06.02 WIT pesawat sempat berkomunikasi dengan pihak menara Bandar Udara Wamena untuk melakukan pendaratan di landasan pacu azimuth 15.

“Karena di ujung runway (landasan pacu) 15 kurang baik, kemudian diputuskan untuk mengubah pendaratan ke runaway 33,” kata Hadiyan dalam konferensi pers di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Pada pukul 06.08 WIT, petugas ATC dari menara Wamena sempat melihat visual A-1334 mendekati bandara. Istilahnya, pesawat ada di downwind. Pada pukul 06.09 WIT petugas menara memanggil-manggil pesawat, tapi tiada jawaban dari pilot Marlon. Tak lama kemudian diketahui pesawat itu jatuh dekat ujung landasan 33.

Disusun berdasarkan hirarki kepangkatan, berikut ini daftar nama 12 anggota Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh yang gugur:

1.   Mayor (Penerbang) Marlon Ardiles Kawer (Instruktur    
      Penerbang). Marlon lahir di Biak, Papua, 30 Maret 1982.
2.   Kapten (Penerbang) Jhon Hotlan Parlin Saragih 
      (Penerbang BR). Hotlan lahir di Pagar Jambi, Kecamatan
      Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara,
      16 Juni 1985.
3.   Letnan Satu (Penerbang) Hanggo Fitradhi (Penerbang
      II). Hanggo lahir di Ngajuk, Jawa Timur, 19 Juni 1982.
4.   Letnan Satu (Navigator) Arif Fajar Prayogi (Navigator I). 
      Arif lahir di Malang, Jawa Timur, 29 Desember 1988.
5.   Pembantu Letnan Satu Lukman Hakim (Juru Radio 
      Udara). Lukman lahir di Malang, Jawa Timur, 2 April
     1972.
6.   Pembantu Letnan Satu Suyata (Juru Mesin Udara I).
      Suyata lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, 15 Mei 1967.
7.   Pembantu Letnan Satu M. Khusen (Juru Mesin Udara II).
      Khusen lahir Sidoarjo, Jawa Timur, 28 Desember 1964.
8.   Pembantu Letnan Satu Agung Tri Wahyudi (Load Master 
      I). Agung Tri lahir di Surabaya, Jawa Timur, 15 Maret
      1975.
9.   Pembantu Letnan Dua Agung Sugihantono (Load Master
      II). Sugihantono lahir Magetan, Jawa Timur, 23 April
     1977.
10. Sersan Mayor Mokhammad Khudori (Juru Mesin Udara
      II). Khudori lahir di Tulungagung, Jawa Timur, 15 Februari
      1979.
11. Sersan Mayor Achmad Fatoni (Load Master II). Fatoni
      lahir di Mojokerto, Jawa Timur, 23 Juni 1979.
12. Sersan Dua Suyanto (extra crew). Suyanto lahir di
      Surabaya, 14 November 1977.

Satu korban lagi atas nama Kapten Rino Pratama dari Satuan Radar (Satrad) 242 Tanjung Warari, Biak, Provinsi Papua.

Sekadar tambahan, Satrad 242 merupakan satuan radar kedua yang resmi dioperasikan sejak 1 April 2006, setelah Satrad 241 Buraen di Nusa Tenggara Timur. Pengoperasian Satrad 242 di bawah Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional IV Biak. 

Kecelakaan pesawat Hercules A-1334 di Papua merupakan kecelakaan pesawat jenis dalam waktu kurang dari dua tahun setelah jatuhnya Hercules di Kota Medan pada 30 Juni 2015. ABDI PURMONO


Celotehan No Baper No Cry

Selasa, Desember 13, 2016 Add Comment
Bob Marley (Sumber: Youtube)

DI tengah malam ini saya kepikiran mau menulis untuk blog. Namun, kebanyakan ide justru membuat otak saya nyaris macet dan membeku, tak tahu apa yang mau ditulis.  

Eh, saya justru mendapat ide saat menatap tanaman markisa yang menjuntai-juntai. Sebuah ide untuk berceloteh, celoteh picisan asal-asalan yang muncul begitu saja di kepala. Celotehan ini pengingat bagi saya pribadi supaya berhati-hati dan tidak sembarangan memainkan jempol saat bermedia sosial, bahwa mulutmu harimaumu, jempolmu celakamu.

Begini celotehan terbaru saya: 
Menyebarkan informasi bohong (hoax), ujaran kebencian, fitnah, dan provokasi dapat menyebabkan kanker hati, serangan jantung, dan gangguan jiwa pada pelakunya.
Lalu, dua celotehan di bawah ini masing-masing sudah saya tulis lebih dulu di akun facebook saya.

Senin, 28 November 2016, pukul 11.01 WIB 
Kemerdekaan berpendapat dan berekspresi merupakan hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, UUD 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Tapi, apabila ada di antara kawan-kawan saya di facebook atau media sosial lainnya—baik yang sudah saya kenal langsung maupun masih sebatas pertemanan di jagat maya—terus asyik menyampaikan ujaran kebencian, mengirim meme dan video yang mengandung SARA penuh fitnah, saya tak segan-segan memutus hubungan pertemanan di facebook dan media sosial lainnya.
Jadi tukang kritik lebih bagus dan mulia daripada jadi pembenci dan tukang fitnah. Mengkritik pakai argumentasi, tapi pembenci tak membutuhkannya. Dasarnya sudah jadi pembenci, kebenaran apa pun dari orang-orang yang tidak sepaham dan sehaluan dengannya takkan bisa diterima.
Aneh tapi nyata. Sekarang era pengguna media sosial berkuasa sampai kita kesulitan membedakan mana informasi faktual mana informasi bohong (hoax). Media sosial sudah mirip zona liar yang berbahaya.
Dan yang waras mengalah saja...

Ahad, 6 November 18.37 WIB 
Pepatah Inggris: Many are schooled but few are educated, banyak orang bersekolah tapi sedikit yang berpendidikan. 
Heboh-heboh sepekan ini menjadi pelajaran sangat berharga agar setiap orang harus semakin berhati-hati bermedia sosial. Medsosmu harimau kamu. Jangan bunuh akal sehatmu. Jangan butakan matahatimu. 
KH Ahmad Dahlan dalam film Sang Pencerah: fanatisme itu dekat dengan kebodohan. Sudah, begitu saja. Saya mau nyeruput kopi dulu... :)

Nah, karena tiga celotehan di atas tidak bermutu, Anda tak usah serius banget membacanya; jangan pula sampai baper dan marah-marah. Anggap saja saya sedang melantur akibat kurang piknik dan mengalami disorientasi waktu.

Tapi, bila Anda menganggap celotehan saya bagus dan perlu, ya syukur alhamdulillah. Anda anggap jelek pun bukan masalah karena aslinya saya memang jelek dan menyebalkan.

No baper no cry...



Mengeratkan Persahabatan Internasional Melalui Gunma Cup

Selasa, November 15, 2016 Add Comment


SUASANA hening dan tenang menjelang pembacaan nama para pemenang Gunma Cup II. Suasana kembali meriah seusai Kimura Nanami mengumumkan tiga nama pemenang kontes esai dan pidato bahasa Jepang itu di Gedung Aula Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya pada Ahad, 13 November 2016.