Mengenal Jurnalisme Investigasi

Rabu, April 12, 2017 Add Comment
Ilustrasi jurnalisme investigasi dalam film Spotlight (2015). Sumber: Google

Jurnalisme investigasi bertujuan membongkar kejahatan dan menunjuk pelakunya.

ISTILAH investigasi sering serampangan dipakai oleh media massa terlebih oleh koran atau majalah yang terbit di daerah. Merujuk pengalaman, pemaikaian istilah investigasi lebih ditujukan untuk mendongkrak gengsi dan reputasi, atau malah untuk gagah-gagahan belaka.

Padahal liputan penyelidikan (investigative reporting) tidak segampang itu. Dalam praktiknya terbukti liputan penyelidikan lebih berat ketimbang rata-rata pekerjaan jurnalisme sehari-hari lantaran wartawan investigasi tidak bekerja berdasarkan agenda peliputan reguler.

Ambil contoh laporan panjang yang dilakukan koran terbitan Surabaya dan Malang. Harian Surya edisi Jumat, 3 Oktober 2003, menurunkan laporan panjang di rubrik Malang Raya yang berjudul Warga Batu sulit air di gelimang sumber air—penulisan judul asli demikian. Surya mewartakan kesulitan warga Kota Batu mendapatkan air justru di daerah yang sebenarnya memiliki sumber air melimpah. Memang sebuah ironi. Ini kenyataan yang menyerupai kiasan “bagai ayam semaput di lumbung padi.”

Dalam pengantarnya redaksi Surya menyebutnya laporan investigasi oleh M. Taufiq Zuhdi, wartawan gres. Penabalan istilah investigasi untuk laporan itu tidak tepat.

Sebenarnya Surya sudah mempunyai rubrik Liputan Khusus yang terbit hampir saban hari. Temanya beragam, namun kebanyakan berhubungan dengan isu-isu korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Kalau tak salah ingat, koran Malang Post juga sempat melakukan hal serupa selama tahun 2002, yang dimuat di halaman 2. Diberi nama “News Indepth” (perhatikan ejaannya). Malang Post mencoba menyoroti berbagai persoalan yang dinilai aktual dan faktual dalam tulisan sepanjang setengah bahkan pernah satu halaman. Lepas dari kualitas penulisannya, isu yang diangkat Malang Post lumayan menarik.

Antara lain, isu penyeragaman batik yang diwajibkan bagi setiap sekolah dasar (Sabtu, 7/9); rebutan aset antara Pemerintah Kabupaten Malang dan Pemerintah Kota Batu (Jumat, 13/9); relokasi pedagang buku di Jalan Majapahit alias Blok M (Senin, 23/9 dan Selasa, 31/12); televisi lokal (Senin, 30/9), serta maraknya peristiwa pencurian kendaraan bermotor (Senin, 7/10).

Lepas dari kualitasnya, apa yang dilakukan Surya dan Malang Post lebih cocok disebut in-depth reporting. Artinya, berita yang dibuat tidak benar-benar menyajikan penelusuran dan penyelidikan wartawan, melainkan semata mengungkap, mengorganisasikan, dan menganalisis fakta-fakta yang telah diketahui banyak orang dan tidak dirahasiakan lagi.

Yang membedakan investigative reporting dari in-depth reporting adalah motif dan tujuan peliputan. Pada investigative reporting, seorang atau lebih wartawan memutuskan untuk melakukan liputan investigasi lantaran mengendus adanya pelanggaran atau penyelewenangan yang merugikan kemaslahatan masyarakat, namun sengaja hendak ditutup-tutupi, serta ketidakberesan ini memang dianggap layak dan penting untuk diketahui masyarakat.

Mantan pemimpin redaksi majalah Tempo, Goenawan Mohamad, menyebut investigative reporting sebagai jurnalisme “membongkar kejahatan”. Jurnalis yang baik, akan mencoba mempelajari dokumen-dokumen bersangkutan dan membongkar tindak kejahatan di belakangnya. Majalah Tempo sendiri sudah menambahkan rubrik Investigasi setelah terbit kembali pada 6 Oktober 1998.

Adanya pelanggaran hukum bukan menjadi unsur utama dalam in-depth reporting. Tujuan in-depth reporting lebih terfokus untuk mengangkat suatu masalah secara mendalam, seperti masalah anak jalanan, pengangguran, dan nasib petani yang tak kunjung ceria. In-depth reporting biasanya disajikan dalam bentuk feature dalam satu tulisan atau lebih, sebagaimana dicontohkan Kompas lewat rubrik Fokus.

Investigative reporting bermula dari suatu anggapan atau kecurigaan bahwa something is wrong, that someone has done something wrong, yang biasanya bersumber dari informasi rahasia atau berdasarkan pengamatan seorang reporter yang jeli. Sedangkan in-depth reporting umumnya berasal dari suatu diskusi rapat redaksi yang memutuskan untuk menulis suatu laporan yang mendalam dan utuh mengenai suatu hal supaya dapat dimengerti secara lebih objektif.

Liputan penyelidikan terlanjur identik dengan pembongkaran kasus-kasus besar, semisal korupsi miliaran rupiah, skandal tokoh sekelasa menteri dan presiden, serta sindikat narkotika. Padahal, sebenarnya jurnalisme investigasi juga bisa diterapkan untuk hal-hal yang tidak terlalu besar tapi penting dan terlebih bila menyangkut kepentingan publik yang sengaja dirahasiakan.

Ada tujuh tahapan yang diperlukan dalam melakukan investigative reporting.

Pertama, smelling a story. Seorang wartawan patut curiga dan mencium adanya ketidakberesan yang pantas diketahui publik. Setelah itu penentuan subjek; apa memang layak diselidiki, apakah menyangkut kepentingan umum, seberapa besar magnitude-nya, menarik perhatian masyarakat atau tidak, bagaimana feasibiliti-nya, serta apakah didukung atasan—karena menyangkut dukungan dana, waktu, dukungan moral, penyediaan tempat (space) buat tulisan hasil investigasi. Dalam tahap ini perlu pemastian apakah liputan itu mau dikerjakan oleh perseorangan atau tim. Biasanya laporan investigasi merupakan hasil kerja tim. Apabila dikerjakan tim, lazimnya ditentukan pembagian tugas dan wewenang, serta penanggung jawab (project officer).

Tahap berikutnya adalah perencanaan (planning), mencakup semua aspek yang mungkin timbul. Lebih baik didahului dengan diskusi maupun adu pendapat (brainstorming). Jika oke, maka dibuatlah outline. Outline merupakan kerangka dari apa yang akan diselediki, diawali dengan suatu hipotesis atau asumsi dasar dari persoalan yang dipilih. Hipotesis sangatlah penting untuk membantu wartawan memfokuskan dirinya dalam suatu investigasi. Pun dalam outline disebutkan rencana pembagian tulisan. Misalnya apakah perlu pembuatan sidebars atau boks untuk memudahkan penulisan dan sekaligus memudahkan pembaca, disertai uraian singkat rencana isi masing-masing bagian.

Outline hendaknya disertai rencana waktu pengerjaan serta penentuan narasumber, termasuk narasumber cadangan jika sumber utama gagal diperoleh. Jika investigasi dikerjakan keroyokan, maka dalam outline diuraikan secara jelas pembagian kerjanya.

Berikutnya melakukan riset kepustakaan dan riset lapangan. Riset sebenarnya sudah bisa dilakukan sebelum perencanaan. Riset amat diperlukan agar selain membantu menguasai permasalahan, seorang wartawan terbantu mengetahui dan memilah mana sumber primer, mana sumber skunder. Riset juga akan memperkaya hasil laporan dengan data-data yang diperlukan, bisa bersumber dari kepustakaan, klipingan, atau dari internet.

Setelah semuanya mantap, baru turun ke lapangan. Sekalipun sudah menguasai permasalahan, seorang wartawan atau tidak akan mampu bekerja becus jika tidak menguasai keterampilan jurnalistik—news gathering dan news writing—termasuk teknik wawancara dan menembus narasumber.

Yang selalu perlu diingat, sang wartawan harus terus-menerus melakukan melakukan check, double check, dan triple check terhadap informasi dan data yang diperoleh di lapangan. Barulah setelah semua informasi tergali, tinggal menulis. Tulisan mesti otoritatif, objektif, nonpartisan, fair, impartial, serta tentu saja yang manusiawi dan enak dibaca.

Untuk mempermudah seorang investigator dalam mengatur sistematika pekerjaannya, Direktur Philippines Center for Investigative Journalism, Shella Coronel, membagi proses investigasi ke dalam dua kali tujuh bagian. Bagian pertama merupakan bagian penjajakan dan pekerjaan dasar. Sedangkan bagian kedua sudah berupa penajaman dan penyelesaian investigasi.

Bagian pertama terdiri: petunjuk awal (first lead), investigasi pendahuluan (initial investigation), pembentukan hipotesis (forming an investigative hypothesis), pencarian dan pendalaman literatur (literature search), wawancara para pakar dan sumber-sumber ahli (interviewing experts), penjejakan dokumen-dokumen (finding a paper trail), serta wawancara sumber-sumber kunci dan saksi-saksi (interviewing key informants and sources).

Bagian kedua terdiri: pengamatan langsung di lapangan (first hand observation), pengorganisasian file (organizing files), wawancara lebih lanjut (more interview), analisis dan pengorganisasian data (analyzing and organizing data), penulisan (writing), pengecekan fakta (fact checking), pengecekan pencemaran nama baik (libel check).

Begitupun, secara umum ada beberapa teknik yang biasa dipakai seorang investigator. Pertama, riset dan reportase yang mendalam dan berjangka waktu panjang untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan hipotesis.

Kedua, pencarian jejak dokumen (paper trail) yang berupa upaya pelacakan dokumen publik maupun pribadi untuk mencari kebenaran-kebenaran untuk mendukung hipotesis. Ketiga, wawancara yang mendalam dengan pihak-pihak yang terkait dengan investigasi baik para pemain langsung maupun mereka yang bisa memberikan background terhadap topik investigasi.

Keempat, pemakaian metode penyelidikan polisi dan peralatan anti-kriminalitas, termasuk melakukan penyamaran (undercover). Sedangkan alat-alat bisa termasuk kamera tersembunyi atau perekam. Kelima, pembongkaran informasi yang tidak diketahui publik maupun informasi yang sengaja disembunyikan.

Jelaslah, investigative reporting itu njelimet banget. Teori dan praktik sama-sama merepotkan sehingga dibutuhkan orang-orang pilihanm buka tipe memble, untuk dipercaya menjadi wartawan investigasi.

Wartawan investigasi harus siap fisik dan mental. Betapa besar tantangan dan risiko yang harus diterima dan dihadapi wartawan investigasi; berbeda dengan wartawan yang biasa mengerjakan laporan reguler. Wartawan penyelidik lebih sering menjadi target ancaman, jebakan, pelecehan, penipuan, dan tuntutan pencemaran nama baik. Belum lagi ancaman diputus pacar, bosan, rusaknya perkawinan, lama membujang, frustrasi, rekan kerja yang sirik, bos yang rewel, redaktur yang penakut, dan macam-macam.

Asyiknya, disadari atau tidak, dalam bekerja, seorang wartawan investigasi bisa mirip seorang peneliti, atau hakim atau detektif, atau seorang filsuf, sekaligus.


CATATAN

Disampaikan dalam Pendidikan dan Latihan Jurnalistik Tingkat Dasar se-Malang yang diadakan Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Universitas Merdeka, Malang, Kamis, 9 Oktober 2003.






Berita Kebencanaan Sudah Bagus tapi Kebanyakan Masih Dangkal

Selasa, Maret 21, 2017 Add Comment
 
Dari kiri ke kanan: Nur Hidayati (Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup/WALHI), Tri Widayati (Kepala Subdirektorat Ekologi Buatan Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan/DJPPI KLKH), Zulfikar Mardiyadi (dosen dan peneliti Fakultas Kehutanan Universitas Papua), Abdi Purmono (Dewan Pengawas SIEJ), dan Muhammad Teguh Surya (moderator, Direktur Eksekutif Yayasan Manusia dan Alam untuk Indonesia Berkelanjutan/Yayasan MADANI Berkelanjutan. (Foto: IIL ASKAR MONDZA)

Masyarakat adat lebih banyak diberitakan sebagai objek, bukan sebagai subjek yang tangguh menghadapi perubahan iklim. Pers dituntut untuk pintar-pintar memperkuat kontribusi-kontribusi positif masyarakat adat terhadap mitigasi perubahan iklim, serta upaya adaptasi yang mereka lakukan. 

ISU perubahan iklim mungkin masih merupakan sesuatu yang abstrak bagi sebagian besar orang meski kenyataannya pemanasan global (global warming) telah menerpa lingkungan tempat tinggal dalam bentuk cuaca ekstrem seperti kekeringan di musim panas, kebanjiran di musim hujan, dan angin puting beliung. Bencana muncul di mana-mana.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sepanjang 2016 di Indonesia terdapat 2.342 kejadian bencana. Jumlah kejadian bencana ini tertinggi sejak 2002 atau naik 35 persen dari 2015. Sebagai perbandingan, pada 2015 ada 1.732 bencana, 2014 ada 1.967 bencana, 2013 (1.674 bencana), dan sebanyak 1.811 bencana terjadi pada 2012.   

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho, sekitar 92 persen dari 2.342 bencana pada 2016 adalah bencana hidrometeorologi yang didominasi oleh banjir (766 kejadian), longsor (612 kejadian), puting beliung (669 kejadian, kombinasi banjir dan longsor sebanyak 74 kejadian, ditambah 178 kebakaran hutan dan lahan, 13 gempa dan 7 erupsi gunung meletus, serta 23 gelombang pasang dan abrasi. (CNN Indonesia, Kamis, 29 Desember 2016).

Dalam kaitan itu pers berperan penting dalam memberitakan pelbagai bentuk dan sebaran lokasi bencana, sekaligus berperan memastikan bahwa tanda-tanda perubahan iklim telah nyata, tidak lagi sebatas bahasan pertemuan ilmiah atau gambaran film bencana masa depan.

Selain menjalankan fungsi informasinya itu, pers juga bisa berperan penting dan strategis mengedukasi masyarakat untuk mengantisipasi kemunculan bencana yang bisa tiba-tiba. Pers bisa meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang risiko bencana, sekaligus memberitahu masyarakat bahwa perubahan iklim telah tiba baik karena variabilitas alami atau sebagai hasil dari aktivitas manusia (antropogenik). 

Dalam hal itu, pers maupun media massa memiliki efek positif bagi masyarakat untuk dapat memahami arti bencana alam karena ia mempunyai kemampuan untuk menyebarluaskan informasi faktual kebencanaan secara cepat, akurat, berimbang, dan independen.

Pers memang harus bisa berperan menciptakan kesadaran tentang perubahan iklim, pengurangan risiko bencana melalui mitigasi dan adaptasi bencana, serta membangkitkan semangat dan menularkan inspirasi.

Namun, harus diakui, masih sangat sedikit media massa di Indonesia yang menganggap isu perubahan iklim sebagai isu yang gawat sehingga layak ditempatkan di ruang utama pemberitaan. Dengan watak industri pers yang makin kapitalistik, isu perubahan iklim tidak bisa sepenuhnya dikomodifikasi untuk menghasilkan keuntungan ekonomi sehingga dianggap sepele untuk dijadikan headline maupun tulisan feature nan memikat.

Media massa memang banyak memberitakan peristiwa kebencanaan, tapi sekadar sebagai sebuah peristiwa biasa. Sangat jarang ditemui ada karya reportase mendalam (depth reporting atau indepth news) mengenai kebencanaan, semisal film dokumenter. Apalagi laporan investigasi (investigative reporting) kebencanaan, jelas lebih langka.

Umumnya, liputan kebencanaan masih seputar permukaan peristiwa yang menyangkut elemen berita who, what, when, dan where; minus upaya mengulas lebih tajam elemen why dan how masalah kebencanaan melalui tulisan panjang-mendalam, kaya informasi dan data, yang ditunjang oleh hasil riset.

Alhasil, banyak bencana yang terkait dengan perubahan iklim, namun masyarakat sendiri tidak tahu betul bahwa bencana yang terjadi dan juga mereka alami berkaitan dengan perubahan iklim.

Tantangan yang dihadapi para jurnalis adalah pengetahuan untuk mengenali masalah perubahan iklim itu sendiri; penyajian laporan faktual dan akurat dalam bahasa yang gampang dipahami. Salah satu aspek pemberitaan yang harus ditonjolkan adalah bagaimana mengulas keterkaitan perubahan iklim dengan tindakan-tindakan manusia.

Dalam konteks dampak perubahan iklim terhadap masyarakat adat, sejauh ini pemberitaan media massa minim mengangkat isu-isu advokasi masyarakat adat meski cerita muluknya media massa mempunyai peran penting dalam proses advokasi terhadap mereka, serta mempengaruhi para pengambil kebijakan di tingkat nasional dan daerah.

Masyarakat adat lebih banyak tampil dalam pemberitaan lebih sebagai objek, sebagai korban. Sangat jarang ditemukan karya jurnalistik yang menempatkan masyarakat adat sebagai kontributor positif yang tangguh menghadapi perubahan iklim. Padahal, masyarakat adat sejak lama telah mengamati, mengalami, mengatasi dan menyesuaikan diri atau beradaptasi terhadap perubahan iklim selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. 

Masyarakat adat berkontribusi sangat kecil terhadap perubahan iklim lantaran bermata pencaharian tradisional dan bergaya hidup berkelanjutan. Tapi justru masyarakat adatlah—sebagian besar merupakan sukubangsa yang berakar di suatu wilayah—yang harus menanggung dampak buruk perubahan iklim; dampak buruk yang harus ditanggung bukanlah karena tindakan-tindakan masyarakat adat sendiri, melainkan sebagian besar disebabkan oleh kegiatan masyarakat-masyarakat yang melakukan pembangunan berbasis produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan, yang terbukti telah menghabiskan banyak hutan (deforestasi), mengotori udara (polusi), dan degradasi lingkungan dalam bentuk lainnya.

Ingat, Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Perubahan Iklim (The United Nation Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) menekankan bahwa terjadinya perubahan iklim lebih disebabkan oleh aktivitas-aktivitas manusia.

Sesuai dengan fungsi atau perannya, pers diharapkan dapat menyebarkan pengetahuan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat luas untuk terlibat dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Pemberitaan mengenai isu lingkungan memang telah meningkat secara dramatis dalam satu dekade terakhir. Isu tersebut secara terus menerus menjadi pembicaraan dan headline di banyak media massa, termasuk media siber (online media). Sayangnya, pemberitaan tersebut lebih banyak sebagai bentuk respons terhadap sebuah peristiwa lingkungan (bersifat reaktif) dan belum banyak karya jurnalistik bertema lingkungan yang dihasilkan berkat inisiatif sang wartawan dan perusahaan tempat ia bekerja. Berita lingkungan lebih didominasi berita biasa (hard news). Ya, ini juga masih lebih mendingan daripada tiada berita lingkungan sama sekali.

Dalam perspektif komunikasi lingkungan, pers berperan menyambung pengalaman dan gagasan publik dengan pemangku kebijakan. Komunikasi lingkungan sendiri adalah need-oriented dan membutuhkan partisipasi dari banyak pihak dan lebih berorientasi pada proses, bukan pada tujuan.

Berkaitan dengan hal itu, ada banyak masalah perubahan iklim yang berkaitan dengan eksistensi masyarakat adat, yang berkaitan dengan perjuangan-perjuangan dasar masyarakat adat terhadap hak atas tanah (ulayat), wilayah dan sumber daya, hak atas budaya dan atas penentuan nasib sendiri, termasuk hak masyarakat atas pembangunan.

Pers ditantang untuk menceritakan secara komprehensif relasi antara masyarakat adat dan ekosistem tempat mereka hidup dan berkembang selama ratusan maupun ribuan tahun; pers dituntut mampu mengisahkan perihal ketergantungan masyarakat pada ekosistem yang beragam bagi eksistensi mereka dari sisi nutrisi, ekonomi, budaya, sosial, dan spritual.

Demi kemaslahatan masyarakat adat dan demi masa depan Bumi, pers harus lebih gencar mempromosikan perubahan pola produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan yang masih merupakan sistem dan model pembangunan yang masih mendominasi dunia; perubahan gaya hidup, baik perorangan atau kolektif, dan perubahan secara struktural atas jalan pembangunan yang berkelanjutan dan rendah karbon.

Pers harus selalu mengingatkan bahwa mekanisme berbasis pasar bebas sangatlah terbatas. Pasar bebas hanya semakin mengokohkan ketidakmerataan bila aturan mainnya tidak ditaati. Dalam hal ini negara-negara maju dan kaya harus rela mendonasikan keuangan dan mentransfer teknologi yang dibutukan untuk mengatasi dampak perubahan iklim yang dirasakan masyarakat adat.

Kalau pun aturan main itu tetap tidak dipatuhi, maka sangatlah penting bagi masyarakat adat untuk betul-betul memahami mekanisme pasar bebas tadi. Dengan berbekal informasi yang memadai, masyarakat adat dapat mengevaluasi risiko dan peluang yang memungkinkan mereka membuat keputusan sendiri perihal apakah mereka akan terlibat dalam pasar emisi atau tidak.

Apabila masyarakat adat diberi kesempatan, maka mereka bisa memberikan kontribusi yang signifikan terhadap diskusi-diskusi dan keputusan-keputusan mengenai kebijakan dan aksi perubahan iklim baik di tingkat nasional maupun global seperti diamanatkan dalam Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat (The United Nations Declration on the Rights Indegenouse People/UNDRIP).

Begitu banyak isu dan perspektif yang bisa diangkat, tapi pada akhirnya pers dituntut untuk pintar-pintar memperkuat kontribusi-kontribusi positif masyarakat adat terhadap mitigasi perubahan iklim, serta upaya adaptasi yang mereka lakukan melalui pemberitaan.


Penguatan Kerja Sama

Terlepas dari masalah internal, seperti kurangnya kapasitas pengetahuan jurnalis tentang isu perubahan iklim, SIEJ berharap organisasi atau institusi terkait lebih aktif melibatkan pers dalam pembahasan dan aksi menghadapi perubahan iklim.

Jangan hanya menempatkan para jurnalis sebagai “tukang berita”, sebatas memahami pekerjaan jurnalis pada fungsi publikasinya. Masyarakat adat bisa lebih aktif mengajak pers bekerja sama melalui organisasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

Begitu pula dengan lembaga eksekutif dan pemangku kepentingan lainnya. ***


■  Penulis: Abdi Purmono. Artikel ini saya tulis untuk sarasehan masyarakat adat bertema "Mitigasi dan Adaptasi Bencana (Perubahan Iklim)" dalam rangkaian pelaksanaan Kongres Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) kelima di Kelurahan Tanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis, 16 Maret 2017.

Saya hadir mewakili Dewan Pengawas The Society of Indonesian Enviromental Journalists (SIEJ) atau Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia.

■ SIEJ didirikan bertepatan pada Hari Bumi 22 April 2006 di Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

■ Pembentukan SIEJ diawali dengan sebuah kegiatan bernama Konferensi Nasional Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia yang diadakan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Konferensi ini difasilitasi oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta bekerja sama dengan Earth Journalis Network (EJN) atau Jaringan Jurnalis lingkungan Internasional dan didukung pihak TNGL.

■ SIEJ beranggotakan 400-an jurnalis yang tersebar di 26 provinsi.

Darah di Kuil Sri

Minggu, Maret 05, 2017 Add Comment
Majalah PANJI MASYARAKAT Nomor 21 Tahun III, 8 September 1999


Ilustrasi: Seorang umat Hindu di Singapura, dengan pipih dan tubuh tertembus paku baja, menjalani prosesi Thaipusam, 21 Januari 2000. (Sumber: Time
Konflik Hindu: Perselisihan umat Buddha belum usai, terdengar kabar umat Hindu terlibat bentrok di Sumatera. Gara-gara ritual yang menyiksa tubuh.

DALAM keadaan kesurupan (trance), sejumlah lelaki Tamil mencucuk (menusuk) tubuh, wajah, dan lidah mereka dengan besi. Darah pun mengalir. Lalu, masih dengan bertelanjang dada, mereka berjalan di atas bara sembari mengucapkan doa-doa.

Jangan salah. Ini bukan pertunjukkan debus. Ini adalah cara penganut Hindu tadi melaksanakan ritual Timeri dalam upacara Aadhi Tiruvisha di Kuil Sri Mariyamman di Desa Bulucina, Deli Serdang, Sumatera Utara, Ahad pekan lalu.

Namun suasana khidmat tak berlangsung lama. Tiba-tiba datang sekelompok orang pria pimpinan Naransami dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sumatera Utara. Mereka minta acara itu dihentikan. “Kegiatan menyiksa diri semacam itu bukan bagian dari ritual agama Hindu,” tegas Naransami, Sekretaris PHDI Sumut.

Permintaan itu ditolak oleh Forum Komunikasi Umat Hindu (FKUH) Sumatera Utara, penyelenggara ritual tersebut. Terjadilah perdebatan sengit berbuntut bentrok. Keadaan pun gaduh. Untung pihak keamanan cepat bertindak, dan keadaan dapat segera diatasi.

Pihak FKUH juga sewot bila ritual Timeri itu dibilang kegiatan penyiksaan diri. Menurut sekretarisnya, Thina Thayalan, acara ritual itu merupakan tradisi dalam agama Hindu sejak ribuan tahun lalu. Ritual itu dimaksudkan sebagai syukuran atas limpahan rahmat atau sebagai ungkapan terima kasih setelah permintaan (nazar) seseorang dikabulkan Tuhan. “Jadi ritual itu bukan penyiksaan diri dan bukan sadistis,” katanya.

Kegiatan Timeri, menurut Thina, dilaksanakan sekali setahun, yaitu tiap penanggalan Aadhi Masem yang biasanya jatuh sekitar Juli atau Agustus. Artinya, tidak dilakukan di sembarang waktu. Syarat-syaratnya juga berat. Seseorang yang hendak mengikuti ritual ini harus berpuasa 41 hari. Selama itu ia tidak boleh makan makanan berbau amis dan dianjurkan makan sayuran. Bagi yang telah menikah juga dilarang bercampur dengan istrinya. Setelah berpuasa seperti itu, barulah seseorang bisa mengikuti prosesi Aadhi Tiruvisha.

Dalam mengikuti upacara ritual tersebut, sebagai perlindungan dari hal-hal gaib, tangan peserta dipasangi gelang berupa kunyit yang telah dikeringkan, dan mereka mengenakan pakaian warna kuning. Peserta dan pengunjung tidak boleh memakai alas kaki. Bila itu sudah dipenuhi, prosesi dimulai dari pinggir sungai. Peserta dimandikan dan disyarati dengan mantra sampai kesurupan.

Nah, saat kemasukkan roh itulah, para peserta melakukan atraksi penyiksaan diri: mencucuk lidah, wajah, dan badan untuk selanjutnya berjalan di atas bara api yang sudah tersedia di halaman kuil. Sukses-tidaknya seseorang dalam pijak api diyakini tergantung pada bagus-tidaknya puasa orang yang bersangkutan. Usai upacara, mereka makan bersama berlauk sayuran dalca (gulai terung).

Ilustrasi: Festival Berjalan di atas bara api oleh umat Hindu di
Singapura. (Sumber: The Straits Times).
Sebetulnya, upacara seperti itu sudah berlangsung sejak 1970-an. Namun karena dinilai banyak penyimpangan di dalamnya, pada 6 Januari 1976 Dirjen Bimas Hindu dan Buddha mengeluarkan surat edaran pelarangan penyelenggaraan upacara tersebut. Aturan itu diperkuat lagi dengan Surat Keputusan Menteri Agama 10 April 1979, yang melarang upacara Timeri atau pijak api, salah satu bagian dari Aadhi Tiruvisha. Dan sejak itu pula, kegiatan menyiksa tubuh itu hilang sama sekali.

Bagi kalangan FKUH, yang percaya bahwa ritual itu sebagai bagian dari ajaran Hindu, pelarangan itu dianggap sebagai pengekangan. Apalagi di masa Orde Baru pemerintah hanya mengakui PHDI. Makanya, begitu era reformasi bergulir, FKUH kembali didirikan, termasuk penyelenggaraan ritual Timeri itu.

“PHDI arogan dengan memaksakan kehendak lewat intimidasi segala macam. Padahal Menag Malik Fadjar sendiri sudah mengatakan bahwa agama sudah harus dikembalikan kepada pemeluknya,” tutur Thina berapologi.

Namun pihak PHDI tetap merasa benar dengan pelarangan itu. Menurut Ketua PHDI Sumut Shri Ramlu, ajaran Hindu mengajarkan bahwa pelaksanaan upacara keagamaan harus berdasarkan nilai-nilai etika-moral. Yang paling pokok dalam Hindu adalah kebenaran (satya), kebajikan (dharma), kasih sayang (prema), kedamaian (shanti), dan hidup tanpa kekerasan (ahimsa).

Oleh karena itu, praktek Timeri jelas bertentangan dengan nilai etika-moral Hindu. “Jika tetap dipaksakan, Timeri justru akan menodai upacara Mahapuja,” katanya.

Meski begitu, pihak PHDI sebenarnya membolehkan Timeri dilaksanakan seperti halnya debus, barongsai, asal diselenggarakan di tempat terbuka, bukan di kuil dan ada izin dari PHDI selaku majelis tertinggi agama Hindu. “Kalau demikian, mereka kita perbolehkan, asal praktek itu tidak dikait-kaitkan dengan upacara keagamaan Hindu seperti yang selama ini mereka lakukan,” tegas Naransami. NASRULLAH ALIEF, ABDI PURMONO (DELI SERDANG)


Asal Usul Nama Lucu Ambulans Wiuwiu

Sabtu, Februari 25, 2017 Add Comment
Ambulans Wiuwiu di Brawijaya Edupark (dulu Taman Senaputra), Minggu, 26 Februari 2017. (Foto: ABDI PURMONO)

MALANG — Minggu besok Komunitas Peduli Malang alias Asli Malang akan meluncurkan satu unit ambulans gratis. Kehadiran ambulans ini merupakan hasil kerjasama dan donasi anggota Asli Malang.

Si ambulans diberi nama unik dan lucu: Wiuwiu. Lalu dari mana nama Wiuwiu berasal? Akhwan Afandi alias Aphan, anggota Asli Malang punya cerita begini.

Pada Februari 2016 seorang Aremania cilik meninggal di Bali saat hendak menonton pertandingan tandang Arema Cronus melawan Bali United. Jenazahnya kemudian dipulangkan ke Malang oleh Yayasan Arema Dewata. Ambulans milik suporter Arema di Bali ini resmi digunakan sejak Maret 2014.

Hati dan pikiran Aphan tergugah. “Mosokmember Asli Malang yang waktu itu sudah sekitar 58 ribu orang, lebih banyak dari jumlah member Aremania Dewata, enggak iso ngadain ambulans juga. Niat dan tujuannya sama-sama ingin membantu wong cilik,” kata Aphan, berkisah kepada Proklamasi, Sabtu, 14 Januari 2017.

Lalu Aphan mengajak tiga rekannya berembuk dan muncullah ide pengadaan ambulans. Mereka membahas konsep dan teknisnya. Ide ini kemudian disodorkan ke pengurus Perkumpulan Asli Malang saat kopidarat sambil nonton bareng pertandingan Arema.

Setelah pengurus setuju, maka dibentuklah Kelompok Kerja (Pokja) Ambulans, dengan sekretariat di Kedai Djibriel, Jalan Melati 2, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Aphan dipercaya jadi koordinator. Waktu itu ambulansnya belum bernama.

Pokja Ambulans langsung ngegas dengan melakukan penggalangan dana. Program pengadaan ambulans juga dikampanyekan melalui grup Facebook Asli Malang.

Pokja sempat meminta bantuan pada Menteri Sosial, tapi ditolak. Penolakan tak membuat Pokja surut melangkah. Mereka kian bersemangat ketika mendapati respons anggota Asli Malang yang begitu besar. 

“Solidaritas anggota yang begitu kuat membuat kami tambah bersemangat. Dari awal sampai sekarang, seluruh duit yang terkumpul berasal dari seluruh anggota Asli Malang dan warga di luar komunitas,” ujar Aphan.

Awalnya, donasi anggota antara Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu. Jumlah donasi terus bertambah sampai program donasi ditutup pada Mei 2016 dan menghasilkan ojir (duit) sekitar Rp 75 juta.

Jumlah ini dianggap kurang untuk membeli sebuah mobil. Pokja kemudian melakukan pedekate terhadap Hari Pandiono dan Heri Cahyono Heri, dua pentolan Aremania. Sukses. Hari Pandiono, misalnya, rela berdonasi US$ 4.000 atau Rp 40 juta, bila kurs US$ 1 sama dengan Rp 10 ribu.

Hasilnya, jumlah donasi hampir mencapai Rp 120 juta. Seluruh hasil penggalangan dana ditangani Tri Wahyuni Achyar alias Yoeni Achyar, Bendahara Perkumpulan Asli Malang.

Seluruh donasi cukup untuk membeli satu unit mobil bekas Grand Max berkondisi gres dengan nomor kendaraan B-9011-BCP. Mobil ini diberi kelir dominan kuning dan merah layaknya warna ambulans. Untungnya lagi, biaya pengerjaan ambulans pun bisa dihemat karena dikerjakan di bengkel milik Heri Cahyono Heri.

Nama Wiuwiu sebenarnya hasil celetukan yang muncul begitu saja dalam sebuah rapat Pokja. Pencetus nama Wiuwiu adalah Bambang Indra Bastian, yang sekarang petugas hubungan masyarakat Pokja. Karena dirasa unik, lucu, dan enak diucapkan, maka nama Wiuwiu disepakati jadi nama ambulans.

Sebenarnya ada dua misi yang diusung Pokja Ambulans. Aphan bilang, pertama, ingin menyatukan komunitas-komunitas agar tidak gampang gegeran dan sebaliknya rukun. Kedua, membantu rakyat miskin yang membutuhkan pertolongan kesehatan dengan segera.

Banyak kasus ambulans tidak bisa mengakses ke daerah-daerah terpencil di wilayah Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu) sehingga warga yang membutuhkan tidak mendapat pelayanan kesehatan yang memadai.

Sebagai modal untuk membiayai perawatan dan operasionalisasi Ambulans Wiuwiu, Pokja juga membuka peluang bagi siapa pun untuk jadi sponsor. Logo sponsor disediakan di sisi kiri, kanan, dan belakang ambulans.

Yoeni Achyar menambahkan, secara resmi Ambulans Wiuwiu diperkenalkan di depan Stasiun Kota Baru. Acaranya dimulai pukul 06.30 sampai 07.30 WIB. Seluruh peserta acara akan melanjutkan acara dengan berkonvoi dari Stasiun Kota Baru hingga finis di Coban Khetak, Desa Pait, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang.

Lima klub motor, yakni Yamaha N Mex Club Indonesia (YNCI), Yamaha Rider Federation Indonesia (YRFI), Bram Bison Rider Arek Malang, All Varian Motor Club (AVMC), ikut berpartisipasi memeriahkan acara. Masih ada beberapa lagi komunitas yang ingin berpartisipasi.

Mewakili seluruh pengurus Komunitas Peduli Malang, Aphan dan Yoeni menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh anggota dan warga yang membantu kelancaran program Ambulans Wiuwiu.

“Acara peluncuran diadakan juga sebagai bentuk pertanggungjawaban kami kepada seluruh donatur dan pihak-pihak yang telah mendukung kami,” kata Yoeni.

Sekadar informasi tambahan, Komunitas Peduli Malang pertama kali memperkenalkan diri melalui jejaring sosial pertemanan Facebook pada 15 Juni 2014 dan kini anggota di Facebook berjumlah 86.633 orang.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada Juni 2016, Komunitas Peduli Malang resmi berbadan hukum sebagai perkumpulan yang disahkan oleh Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di Jakarta.

Nah, pembaca yang budiman, mulai besok Ambulans Wiuwiu beraksi. Pengelola Ambulans Wiuwiu bisa dihubungi melalui nomor 08115545471 dan 08156545471.

Ya, di bodi ambulans ditulis nama Wiiuwiiu dengan empat huruf “i”, tapi esensi pelafalannya sama. Bila Anda tak percaya, coba deh sekarang Anda bayangkan dan tirukan lengkingan panjang suara ambulans. Wiiuuwiiuuu.... ABDI PURMONO


CONTOH baik ditunjukkan Komunitas Peduli Malang alias Asli Malang. Minggu besok, perkumpulan warga Malang Raya ini akan meluncurkan satu unit ambulans gratis bernama Wiuwiu.

Bendahara Perkumpulan Asli Malang Tri Wahyuni Achyar alias Yoeni Achyar mengatakan, program ambulans gratis sudah digagas setahun lalu. Dilatari oleh peristiwa meninggalnya seorang Aremania cilik di Bali saat Arema Cronus melakukan lawatan ke Bali, Februari 2016. Jenazah kemudian dipulangkan ke Malang dengan menggunakan ambulans gratis milik Aremania Dewata.

“Terus kami yang di Malang berpikir, kenapa kami tidak punya ambulans serupa yang bisa dimanfaatkan bersama oleh suporter dan masyarakat lainnya. Yang punya ide itu Sam Aphan dan dia yang serahkan idenya ke pengurus,” kata Yoeni saat dihubungi Proklamasi, Sabtu, 14 Januari 2017.

Yoeni dan kawan-kawan pengurus Asli Malang optimistis program ambulans Wiuwiu berjalan lancar. Program ini gencar mereka kampanyekan melalui grup Facebook Komunitas Peduli Malang yang mereka buat pada 15 Juni 2014 dan kini beranggotakan 86.225 pengguna akun Facebook.

Respons anggota menggembirakan. Pengurus Asli Malang membentuk Kelompok Kerja Ambulans yang dikoordinir Akhwan Afandi alias Aphan. Aksi penggalangan dana digelar dengan sekretariat di Kedai Djibriel, Jalan Melati 2, Kota Malang.

Awalnya, donasi anggota antara Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu. Jumlah donasi terus bertambah. Program donasi ditutup pada Mei 2016 dan terkumpul sekitar Rp 75 juta. Jumlah ini dianggap kurang untuk membeli sebuah mobil.

Lalu pertolongan datang dari Hari Pandiono dan Heri Cahyono, dua pentolan Aremania. Hari Pandiono rela berdonasi US$ 4.000. Hasilnya, jumlah donasi lebih dari Rp 100 juta. Seluruh donasi cukup untuk membeli satu unit mobil bekas berkondisi gres berpelat nomor B-9011-BCP. Mobil ini diberi kelir dominan kuning dan merah layaknya warna ambulans.

Nah, secara resmi, Ambulans Wiuwiu akan diluncurkan besok hari. Acaranya dipusatkan di depan Stasiun Kota Baru, mulai pukul 8 pagi. Seluruh peserta akan melanjutkan acara dengan berkonvoi dari Stasiun Kota Baru hingga finis di Coban Khetak, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Ide finis di Coban Kethak berasal dari Heri Cahyono.

Sejumlah klub motor, seperti Yamaha N Mex Club Indonesia (YNCI), Yamaha Rider Federation Indonesia (YRFI), Bram Bison Rider Arek Malang, All Varian Motor Club (AVMC), ikut berpartisipasi memeriahkan acara. Masih ada beberapa lagi komunitas yang ingin berpartisipasi.

Nah, pembaca yang budiman, bila Anda butuh bantuan Ambulans Wiuwiu, silakan hubungi nomor ini: 08115545471 dan 08156545471. ABDI PURMONO


DI MALANG ini sudah ada puluhan ambulans gratis yang dikelola dikelola oleh yayasan-yayasan sosial, dan Ambulans Wiuwiu Asli Malang ini adalah adalah salah satu dari yang ada tersebut.

Mungkin hanya karena kita kurang informasi (atau tidak mau mencari informasi) saja tentang ambulans gratis yang ada... Tapi perlu dipahami bahwa tidak semua ambulans bisa digunakan untuk semua kejadian karena menurut jenis dan fungsi ambulans dibagi dalam beberapa kategori:

1.   Ambulans transpor: biasanya berupa alat transportasi sederhana, yang penting sanggup membawa pasien menuju tempat yang dituju. Tidak dilengkapi perlengkapan medis lengkap, hanya terdiri dari tandu/stretcher serta oksigen portable. Bentuk kendaraan serupa dengan city car karena targetnya adalah hanya mengantar pasien saja dan kondisi pasien dalam keadaan stabil tanpa alat bantu medis.

2.   Ambulans rescue. Ambulans ini lebih difungsikan sebagai kendaraan transportasi pasien sejak pasien diketemukan di lokasi kejadian hingga ke rumah sakit. Tersedia perlengkapan medis setara unit instalasi gawat darurat di rumah sakit. Juga tersedia alat-alat rescue nonmedis seperti yang dimiliki oleh pemadam kebakaran. Untuk bentuk kendaraan biasanya tipe high roof dan besar karena harus membawa banyak sekali peralatan rescue selain peralatan medis.

3.   Ambulans emergency transport. Untuk jenis ini, alat transportasi dilengkapi perlengkapan medis yang memadai untuk mengontrol kondisi pasien selama perjalanan serta tersedia perlengkapan yang dapat disetarakan dengan intensive care unit/intensive cardiac care unit di rumah sakit, sehingga digunakan sebagai alat transpor dari rumah sakit ke rumah sakit atau alat penghubung dari ambulans lain ke rumah sakit.

4.   Ambulans jenazah. Untuk jenis ini sudah sangat jelas, kendaraan pembawa jenazah, baik dari lokasi kejadian ke rumah sakit, rumah sakit ke rumah duka, atau ke pemakaman. Untuk kendaraan jenis ini sangat disarankan tidak membawa pasien hidup. Begitu pula korban mati harus dibawa dengan ambulans jenis ini dengan pertimbangan kesehatan.

Nah... ambulans gratis Wiuwiu Asli Malang termasuk dalam kategori mana?

Kalau melihat fisik serta kelengkapan yang dimiliki, maka Ambulans Wiuwiu masuk dalam kategori ambulans transpor yang berfungsi hanya untuk evakuasi penderita (orang sakit) dari suatu tempat ke tempat lain, khususnya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.

Apakah jenis ambulans transpor bisa digunakan untuk membawa jenazah?

Tentu jawabannya adalah tidak bisa karena karena spesifikasi ambulans transpor dan ambulans jenazah (mobil jenasah) sangat berbeda. Untuk ambulans transpor tidak ada rel/tempat guna menempatkan peti atau keranda jenasah.

Mudah-mudahan sedikit uraian ini bisa membantu.


CATATAN:

Artikel yang Anda baca ini aslinya gabungan tiga artikel. Dua artikel saya publikasikan di kanal atau rubrik Senggang media siber Proklamasi masing-masing dengan judul:

1.   Wiuwiu, Ambulans Gratis Asli Malang Siap Membantu, Sabtu, 14 Januari 2017, pukul 17.06 WIB.

2.   Asal Usul Nama Lucu Ambulans Wiuwiu, Sabtu, 14 Januari 2017, pukul 20.04 WIB.

Nah, judul artikel nomor 2 yang saya pakai untuk artikel di blog saya ini sehingga isi artikelnya saya tempatkan di urutan pertama, disusul artikel nomor 1 meski urutan pemuatannya di Proklamasi tidak begitu. Yang jelas, di akhir dua tulisan itu saya cantumkan nama asli saya.

Sedangkan artikel ketiga sebenarnya catatan yang dibuat Tri Wahyuni Achyar alias Yoeni Achyar, Bendahara Perkumpulan Komunitas Peduli Malang (Asli Malang) di fanpage Facebook Asli Malang (https://www.facebook.com/groups/895894557102982/search/?query=%20ambulance%20wiiuwiiu)

Sengaja saya kutip buat tambahan informasi yang tidak sepenuhnya bisa saya dapat. Terima kasih sudah membaca artikel ini. ***



Kota Malang Kusayang Jalanmu Kok Berlubang-lubang

Senin, Februari 20, 2017 Add Comment
Anggota Asli Malang sedang menandai jalan rusak di Kelurahan Oro-oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur. (Foto: Komunitas Peduli Malang atau ASLI Malang

MALANG — Rinai gerimis tidak menyusutkan tekad Bayu Kurniawan dan kawan-kawan mencari lokasi sasaran.

Bersepeda motor, mereka tetap bersemangat menyisir lubang-lubang di jalanan dari Jalan Raya Sulfat sampai kawasan Terminal Arjosari pada Jumat malam, 27 Januari lalu.

Kegiatan mencari lubang-lubang di jalanan Kota Malang itu belum dua pekan mereka lakukan. Bayu ingat, mereka mulai beraksi 21 Januari 2017 sehabis ngopi di depan Stasiun Kota Baru. “Kami langsung lanjut gerak ke Jalan Ijen, Jalan Kiai Tamin, Janti, dan area Pasar Besar,” kata Bayu kepada Proklamasi, Ahad, 29 Januari 2017.

Tiada nama khusus buat kerja sosial mereka. Mau disebut apa saja terserah asal sebutannya bagus dan sopan. Di grup WhatsApp mereka menamakan diri sebagai “Tim Peduli Jalan Lubang”. Biar gampang diingat dan diucapkan, boleh dong disingkat jadi Tilang Malang.

Menurut Bayu, mereka aslinya anggota Komunitas Peduli Malang alias Asli Malang. Bukan berarti mereka jadi organisasi sempalan karena kegiatan mereka diketahui pengurus Asli Malang. Tilang Malang dibentuk bareng sejumlah anggota Asli Malang, tapi ide awalnya berasal dari Bayu dan Akhwan Afandi alias Aphan.

Yo, Mas, mereka punya ide itu disampaikan ke pengurus kok,” sahut Bendahara Perkumpulan Asli Malang Tri Wahyuni Achyar alias Yoeni Achyar.

Gerakan Tilang Malang berlangsung spontanitas; dilatari kenyataan banyak lubang di jalanan Kota Malang yang sudah bikin banyak pengendara celaka, serta dimotivasi untuk membantu warga kota agar lancar dan selamat berkendaraan. Tiada motivasi maupun tendensi lain kecuali ingin menunjukkan kepedulian pada kota yang mereka cintai, sekaligus sebagai bentuk kritik dan protes mereka terhadap kelambatan pemerintah kota membenahi jalan-jalan rusak.

“Kami mencoba menyampaikan kritik dan protes melalui cara dan aksi yang unik, tidak pake rame-rame seperti demo massa. Sing (yang) penting hasilnya positif dan bermanfaat bagi warga, khususnya bagi seluruh pengendara,” kata Bayu, yang berperan layaknya koordinator lapangan Tilang Malang.

Galih Romli, anggota Tilang Malang yang lain, mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai metode khusus untuk menentukan lokasi sasaran. Lokasinya ditentukan secara acak, terutama berdasarkan laporan anggota yang menemukan jalan berlubang. Bukan hanya jalan rusak berlubang yang disoroti, trotoar jalan amblas dan saluran air yang tumpa pun mereka catat dan difoto.

Saat berangkat kerja, misalnya, dan ia menemukan lubang di jalan langsung ditandai dengan cat Pilox kalau pas membawanya atau mencari benda yang bisa menjadi penanda bagi pengendara untuk berhati-hati saat melintas. “Yang pasti lokasinya difoto dulu untuk dibahas bersama anggota lainnya,” kata Galih.

Galih mencontohkan jalan yang dipenuhi lubang adalah Jalan Peltu Sujono, Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun. Tidak cuma berlubang, sebagian aspal jalan terkelupas hingga nyaris terkikis habis. Lubang-lubang berdekatan dan tentu membahayakan pengendara.

Kondisi lubang terparah diketahui ada di Jalan Laksamana Martadinata, Kelurahan Kota Lama, Kecamatan Kedungkandang. Galih sampai membawa alat pengukur untuk mengetahui diameter dan kedalaman lubang.

Contoh lain, jalan aspal berlubang di Jalan Raya Madyopuro yang berdimensi 60x15 sentimeter, 100 meter barat jembatan Madyopuro, pernah membuat seorang ibu dan anaknya terperosok hingga mengalami luka parah.

Umumnya jalan berlubang dikarenakan kualitas aspal yang jelek, pengerjaannya yang terkesan asal-asalan, juga bekas galian pipa yang tidak sempurna dirapikan.

Anggota lainnya, Bambang Indra Bastian menyahut, sebelum beraksi Tilang Malang mengadakan kopidarat dulu ditempat yang sudah ditentukan, seperti di kawasan Stasiun Kota Baru dan monumen pesawat di Jalan Soekarno-Hatta, baru disepakati pembagian wilayah bila memang jumlah anggota yang hadir mencukupi untuk dibagi dua grup.

“Tidak ada patokan jumlah anggota yang terlibat. Kalau misalnya yang datang tiga orang, ya kami tetap bergerak,” kata Bambang. “Tidak ada basis keanggotaan yang ketat, semuanya berdasarkan kesukarelaan.”

Biasanya, kata Bambang, mereka berkumpul selepas (ba’da) salat Isya dan mulai bergerak pukul 23.00 WIB dan menghentikan aksi pukul 2 pagi. Tilang Malang sengaja bergerak malam karena jalanan sepi sehingga aksi mereka tidak mengganggu lalu lintas dan aman juga bagi mereka. Aksi di siang hari hanya dilakukan di jalan berlubang nan sepi.

Di setiap aksi Tilang Malang membawa cat putih Pilox. Cat mereka semprotkan mengitari lubang, bisa berbentuk kotak dan lingkaran. Garis semprotannya mengikuti bentuk lubang, bisa berbentuk kotak, lingkaran, dan gambar mirip pulau tak bernama. Sepintas, pekerjaan mereka mirip-miriplah dengan polisi yang sedang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) kecelakaan lalu lintas.

Uniknya, mereka pun selalu meninggalkan tulisan “Beautiful Malang” yang sudah didesain keren, selain tulisan lain seperti “asli bolong” dan “pajak Malang”.

Rupanya, diakui Bambang dan kawan-kawan, selain ditujukan sebagai rambu peringatan bagi pengendara agar berhati-hati, tulisan “Beautiful Malang” jadi semacam sindiran halus dan empatik, bahwa mereka tetap mencintai Kota Malang kendati harus dengan menampilkan sebagian kejelekan jalan kotanya sendiri.

Cat Pilox dibeli dari hasil uang urunan. Ada pula yang berasal dari donasi. Sumbangan Pilox langsung diserahkan waktu kopidarat dan persiapan aksi. "Alhamdulillah banget ada anggota yang nyumbang 6 botol cat,” ujar Bambang.

Namun, Bayu, Galih, dan Bambang tidak bisa memastikan berapa banyak jumlah lubang yang mereka coreti kecuali menyebutnya ratusan dan mungkin sudah ribuan titik—dengan ukuran kecil, sedang, dan besar, serta kategori kerusakan ringan, sedang, dan berat. Aphan berusaha lebih realistis dengan memperkirakan ada 200-300 titik lubang yang ditandai dengan coretan dalam dua hari terakhir.

 “Gerakan kami memang masih kondisional, hampir semuanya masih serba spontanitas,” kata Bayu.

Awalnya gerakan mereka dianggap aneh oleh warga, tapi lama-lama mereka bersikap simpatik dan mendukung. Dukungan warga, misalnya, memberikan mereka gorengan atau mengajak mereka mampir di rumah untuk bertiup dari hujan. Sekarang pun beberapa anggota Asli Malang rela menyumbangkan cat atau bantuan dalam bentuk lain.

Mereka kian bersemangat karena tidak pernah ditegur apalagi dilarang polisi. Malah, mereka pernah diacungi jempol oleh semua polisi yang berada di dalam satu mobil.

Bayu, Galih, Bambang, Aphan, serta semua anggota Tilang Malang tidak pernah menganggap aksi mereka sebagai aksi vandalisme. Semua coretan mereka buat sebagus dan serapi mungkin. “Itu kan semacam coretan grafiti atau mural di aspal. Ketimbang orang-orang yang suka nyoretin enggak jelas, mendingan ikut kami saja biar lebih terarah dan bermanfaat,” kata Aphan.

Meski sudah bekerja sukarela, para pegiat Tilang Malang tetap meminta maaf kepada pengendara karena coretan Pilox mereka cepat memudar dan hilang tersiram air hujan.

Saat ini Tilang Malang berusaha mengkoordinasikan kegiatan mereka dengan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) Pemerintah Kota Malang, yakni Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Pengawasan Bangunan. Direncanakan mereka bisa beraudiensi dengan pihak eksekutif pada Senin, 30 Januari 2017. ABDI PURMONO


CATATAN:

1.  Artikel ini pertama kali saya publikasikan di media siber Proklamasi dengan judul yang sama: Kota Malang Kusayang Jalanmu Kok Berlubang-lubang.

http://proklamasi.co/senggang/aurora-beri-sejuta-rupiah-pria-pendamping-wisuda/

2.  Saya bersyukur karena nama Tilang (Tim Peduli Jalan Berlubang) Malang yang saya pakai dalam artikel berita itu kemudian dipakai oleh Tim Peduli Jalan Lubang (nama asli di grup WhatsApp). Semula, di grup TPJL saya memberikan ide nama Tilang Malang meski mayoritas anggota grup menyatakan soal nama tidak terlalu penting dan siapa pun boleh memberi nama.

Nama Tilang Malang saya usulkan karena kerja anggota tim mirip tokoh superhero Batman yang kelayapan malam hari untuk menolong dan memberantas kejahatan, tapi anggota TPJL kelayapan untuk mengumpulkan bukti-bukti jalan berlubang (tilang), sebuah istilah yang sangat populer di kalangan polisi lalu lintas dan para pengendara yang singkatan aslinya “bukti pelanggaran” lalu lintas. 

Nah, tanpa saya sangka sama sekali, ternyata pada Selasa dinihari, 31 Januari 2017, Sam Muklis membuat desain logo Tilang Malang lengkap bersama aksesori gambar cat piloks dan tokoh Batman. Desain ini kemudian dipatenkan oleh seluruh anggota grup dan mereka tetap bagian dari Komunitas Peduli Malang (ASLI Malang). 

Kemudian pada 1 Februari tahun yang sama, nama grup WhatsApp TPJL pun diganti jadi grup Tilang Malang, yang kini beranggotakan 57 orang. Saya tetap jadi satu-satunya jurnalis yang ada di grup Tilang Malang sejak 28 Januari 2017. Akun WhatsApp saya dimasukkan ke dalam grup oleh Sam Akhwan Afandi alias Ayah Aphan, “kepala suku” Ambulans Wiuwiu.

3.  Aksi Tilang Malang yang dipublikasikan oleh pers dan “diramaikan” di media sosial direspons cepat oleh Pemerintah Kota Malang dengan menambal jalan-jalan yang berlubang.