Manan dan Revo Pimpin AJI Indonesia

Senin, November 27, 2017 Add Comment
Dari kiri ke kanan:Arfi Bambani, Abdul Manan, Revolusi Riza Zulverdi, dan Suwarjono. Foto: ABDI PURMONO

Peningkatan kapasitas dan kompetensi anggota, serta peningkatan posisi tawar AJI menjadi skala prioritas kerja Pengurus Nasional AJI yang baru selama tiga tahun ke depan.

SOLO — Abdul Manan terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Nasional Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Periode 2017-2020. Ia didampingi Revolusi Riza Zulverdi alias Revo yang jadi sekretaris jenderal untuk periode serupa.

Duet redaktur Majalah Tempo dan Kepala Pemberitaan (Newsgathering Head) di CNN Indonesia itu menggantikan duet Suwarjono dan Arfi Bambani yang selama tiga tahun sebelumnya menjadi Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal AJI Indonesia Periode 2014-2017.

Manan-Revo terpilih secara aklamasi dan ditetapkan dalam puncak Kongres X AJI yang dihelat di Hotel Sunan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Senin dinihari, 27 November 2017. Sejatinya Kongres dijadwalkan sepanjang Jumat-Sabtu, 24-26 November tahun yang sama.

Pemilihan secara aklamasi sama dengan hasil Kongres VII di Denpasar, Bali, 28-29 November 2008 yang menetapkan pasangan Nezar Patria dan Jajang Jamaludin sebagai pengganti pasangan Heru Hendratmoko dan Abdul Manan.

Sebelumnya, saat penjaringan pasangan calon yang dilakukan secara tertutup, Manan juga diusulkan oleh sejumlah pengurus AJI Kota berpasangan dengan Syofiardi Bachyul Jb, Dandhy Dwi Laksono, Aryo Wisanggeni, dan Iman Dwi Nugroho. Ada pula yang mengusulkan pasangan Dandhy-Syofiardi dan Arfi-Aryo. Namun Dandhy dan Arfi menolak dicalonkan.

Dalam sambutan perdana selaku Ketua Umum, Manan menyampaikan tiga hal prioritas, yakni peningkatan kapasitas AJI Kota, peningkatan kompetensi anggota dalam berorganisasi dan membuat karya jurnalistik, serta meningkatkan posisi tawar AJI.

Peningkatan kapasitas akan dilakukan dengan memperbanyak kegiatan pelatihan, menciptakan metodelogi pembelajaran yang sistematis dan menyusun modul-modul pelatihan keorganisasian. Lalu, kompetensi anggota AJI akan diintensifkan melalui pelatihan keterampilan jurnalisme dan penyusunan modul-modul pelatihan kewartawanan. 

“Apabila keterampilan bertambah, maka posisi tawar jurnalis akan meningkat,” kata Manan, yang juga alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Manan melanjutkan, peningkatan posisi tawar AJI dioptimalkan melalui sosialisasi program yang sudah dan akan dijalankan; serta memanfaatkan para alumni AJI yang menduduki jabatan strategis di pelbagai lembaga. Ia mencontohkan kegagalan caon AJI dalam seleksi pemilihan komisioner Komisi Penyiaran Indonesia sebagai pelajaran sangat berharga terkait pelaksanaan strategi organisasi.

Pada akhirnya Manan sangat mengharapkan dukungan dari semua (38) AJI Kota. Tanpa dukungan AJI Kota, maka kepengurusan bisa lumpuh dan tidak apa-apanya.

Revo menyampaikan, industri media massa sedang menghadapi tantangan mahaberat di era digital. Ia mencontohkan media cetak yang berjuang hidup di tengah kepungan ribuan media siber dan media sosial. Posisi media elektronik (radio dan televisi) pun mulai terancam.

Dalam konteks itu, AJI harus bisa berperan aktif mencarikan solusinya. Karena itu, dukungan semua AJI Kota sangat dibutuhkan. Ia mengharapkan hubungan Pengurus Nasional AJI dengan AJI Kota kian kompak dan harmonis. “Saya perlu belajar banyak kepada teman-teman pengurus AJI Indonesia periode sebelumnya,” ujar Revo.

Sebelum pemilihan ketua umum dan sekretaris jenderal, peserta Kongres juga memilih lima anggota Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO), yakni Dandhy Dwi Laksono (AJI Jakarta), Sunarti Sain (AJI Makassar), Nurdin Hasan (AJI Banda Aceh), Hasan Basril (AJI Pekanbaru), dan Abdi Purmono (AJI Malang).

Sedangkan anggota Majelis Etik AJI Indonesia nantinya dipilih oleh Pengurus Nasional AJI terpilih.

No.

Tempat
Waktu

Terpilih

1

Gedung Realino, Yogyakarta

7-8 Oktober 1995

Satrio Arismunandar (sekretaris jenderal), Santoso (ketua presidium)
2
Wisma Hijau, Cimanggis, Depok, Jawa Barat
25-26 Oktober 1997
Lukas Luwarso (ketua), Dadang RHS (sekretaris), Roy Pakpahan (bendahara)
3
Hotel Santika, Surabaya, Jawa Timur
3-5 Desember 1999
Didik Supriyanto (sekretaris jenderal, 1999-2001)
4
Graha Santika, Semarang, Jawa Tengah
9-11 November 2001
Ati Nurbaiti (ketua umum), Solahudin (sekretaris jenderal)
5
Wisma Hijau, Cimanggis, Depok, Jawa Barat
17-20 Oktober 2003
Eddy Suprapto (ketua umum), Nezar Patria (sekretaris jenderal)
6
Pusat Pendidikan dan Latihan Lautan Berlian, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat
25-27 November 2005
Heru Hendratmoko (ketua umum), Abdul Manan (sekretaris jenderal)
7
Hotel Sanur Beach, Denpasar, Bali
28-29 November 2008
Nezar Patria (ketua umum), Jajang Jamaludin (sekretaris jenderal)
8
Hotel Aryaduta, Makassar, Sulawesi Selatan
1-3 Desember 2011
Eko Maryadi (ketua umum), Suwarjono (sekretaris jenderal)
9
Hotel Grand Rocky, Bukittinggi, Sumatera Barat
27-29 November 2014
Suwarjono (ketua umum), Arfi Bambani (sekretaris jenderal)
10
Hotel Sunan, Solo, Jawa Tengah
24-27 November 2017
Abdul Manan (ketua umum), Revolusi Riza Zulverdi (sekretaris jenderal)

Salah satu hasil Kongres yang penting adalah penghapusan Badan Pengawas Keuangan (BPK) karena dianggap mubazir, tidak berfungsi sebagai mandat yang diberikan Kongres sebelumnya.

Pelaksanaan Kongres didahului dengan pelaksanaan Festival Media AJI sepanjang Kamis-Jumat, 23-24 November, di Grha Soloraya, kota yang sama. Salah satu agendanya adalah pendeklarasian Himpunan Media Alternatif Nusantara (HUMAN). Organisasi ini digagas 20 orang anggota AJI. ABDI PURMONO



HUMAN Mandiri Berdikari dan Tidak Menomorsatukan Keuntungan

Jumat, November 24, 2017 Add Comment
Pembacaan Deklarasi HUMAN oleh Dwidjo Utomo Maksum. Sumber foto: HUMAN/Kediripedia.com. 

PUKUL lima sore lebih sepuluh menit. Syam Terajana gegas berdiri di atas panggung. Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo ini meniup harmonika dan melantangkan ujaran-ujaran dalam langgam irama dan aksentuasi mirip seorang dukun sedang merapal mantra.

Berselang lima menit, pria bernama tulen Syamsul Huda M. Suhari itu memanggil 19 koleganya di AJI satu per satu untuk naik ke atas panggung hingga semua orang di atas panggung berjumlah 20 orang. Mereka berasal dari 15 kota; empat orang di antaranya berasal dari Kota Padang, Sumatera Barat, dan dua orang berasal dari Kota Malang, Jawa Timur.

Berikutnya Dwidjo Utomo Maksum dari Kota Kediri tampil ke depan untuk membacakan pernyataan pembentukan Himpunan Media Alternatif Nusantara (HUMAN). Usai dibaca, resmilah mereka menjadi deklarator HUMAN.

Pendeklarasian HUMAN dilakukan di atas panggung utama Festival Media AJI. Festival ini diadakan di Grha Soloraya, Kota Solo, Jawa Tengah, Kamis petang, 23 November 2017. Deklarasi HUMAN disaksikan Ketua Umum AJI Indonesia Suwarjono dan staf sekretariat AJI Indonesia, sejumlah anggota dan pengurus AJI Kota, serta pegiat pers kampus dan jurnalisme warga.

Acara pendeklarasian HUMAN berlangsung sederhana, lucu, dan seru tanpa menggerus maksud dan tujuannya yang esensial.

HUMAN didirikan untuk mewadahi sekaligus sebagai jaringan bagi media yang dikelola secara mandiri dan tidak melulu berorientasi pada keuntungan bisnis. Sikap dasar HUMAN beranjak dari keprihatinan terhadap kondisi media arus utama atau mainstream yang cenderung lebih menomorsatukan kepentingan pragmatis untuk mencetak laba sebanyak-banyaknya hingga mengabaikan independensi dan profesionalitas.

“Dari interaksi dan keprihatinan yang sama, sejumlah jurnalis menginisiasi lahirnya media online yang berusaha menarik kembali fungsi pers sebagai penampung dan penyalur aspirasi masyarakat. Ini merupakan tindakan alternatif untuk menjaga marwah media massa,” demikian penggalan deklarasi yang dibacakan Dwidjo, pendiri media siber Kediripedia.

Secara pribadi, Dwidjo menegaskan HUMAN bukanlah pesaing yang berniat dan ingin menggembosi organisasi sejenis, seperti Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) yang mayoritas penggagasnya juga anggota AJI.

HUMAN tidak menafikan upaya sejumlah jurnalis, khususnya jurnalis anggota AJI, yang bergiat membangun dan mengembangkan media siber atau online media menjadi perusahaan pers besar dengan model media kapitalis. Media begitu memang harus tetap tumbuh. Namun, menggarap media berbasis konten unik dan inspiratif seperti yang dilakukan oleh para penggagas HUMAN, juga menjadi keharusan agar pers tetap berada pada koridornya yang hakiki.

“Media alternatif merupakan bentuk perlawanan konstruktif terhadap kehidupan pers di Tanah Air yang serba formalitas,” kata Dandhy Dwi Laksono, salah seorang deklator yang juga pendiri Indonesia Biru.

Kehadiran HUMAN diharapkan makin mewarnai keberagaman media, mampu mengembangkan media yang aktif menyuarakan aspirasi pihak-pihak yang berkondisi marjinal, terpinggirkan dan terabaikan. Spirit ini tertera sebagai slogan HUMAN: yang tak berdaya juga perlu media; yang tak bersuara juga perlu media; yang tak berkuasa juga perlu media; yang tak berdana juga perlu media, serta yang tak sama juga perlu media.

Kendati merupakan media alternatif, Syofiardi Bachyul Jb dari Jurnalis Travel menekankan bahwa seluruh media pers anggota HUMAN tetap harus memahami Undang-Undang Pers, mematuhi Kode Etik Jurnalistik, serta mampu menghasilkan produk jurnalistik yang sesuai dengan etos kerja kewartawanan.

Suwarjono mengapresiasi pembentukan HUMAN karena spiritnya sejalan dengan visi dan misi AJI. Ia pun berminat untuk mengembangkan sendiri media alternatif dan bergabung di HUMAN.

“Supaya informasi mengenai daerah saya juga bisa terpublikasi secara luas karena sulit mengandalkan media nasional untuk menyuarakannya,” kata Suwarjono.


Berikut ini salinan lengkap Deklarasi HUMAN:

Pertumbuhan dan perkembangan media massa arus utama yang terus mewabah seperti cendawan di musim basah melahirkan sejumlah risiko terpinggirkannya nilai perjuangan dan kemanusiaan. Fungsi media yang salah satunya menjadi medan inspirasi, tergerus kepentingan pragmatis. Situasi ini memang tidak bisa dihindari. Tapi tentu saja perlu keseimbangan agar varian media tetap saling mendukung dan melengkapi.

Dari interaksi dan keprihatinan yang sama, sejumlah jurnalis di seluruh wilayah Indonesia menginisiasi lahirnya media siber atau media online yang berusaha menarik kembali fungsi pers sebagai penampung dan penyalur inspirasi aspirasi masyarakat. Ini merupakan tindakan alternatif untuk menjaga marwah media massa.

Banyak kawan seperjuangan yang membangun media siber rintisan agar menjadi perusahaan besar dengan capaian model media kapitalis. Dan itu tentu juga harus tumbuh. Tapi menggarap media berbasis konten unik dan inspiratif adalah suatu keharusan agar pers tetap selamat.

Dalam sejumlah perjumpaan, para pengelola media siber alternatif sepakat berhimpun dalam suatu wadah agar spirit yang dipilih terus terjaga dan profesionalitas kian terasah. Wadah tersebut bernama HUMAN (Himpunan Media Alternatif Nusantara).

Kami berharap kehadiran HUMAN bisa mendorong keberagaman media dan menjadi wadah berkembangnya media yang menyalurkan dan menginformasikan suara-suara dan kondisi masyarakat yang terabaikan.

Yang tak berdaya, juga perlu media.
Yang tak bersuara, juga perlu media.
Yang tak berkuasa, juga perlu media.
Yang tak berdana, juga perlu media.
Yang tak sama, juga perlu media.

Solo, Kamis, 23 November 2017

Hormat kami,

Deklarator HUMAN

      1.      Syofiardi Bachyul Jb (www.jurnalistravel.com, Padang)
      2.      Aries Munandar (www.peladangkata.com, Pontianak)
      3.      Furqon (www.gangsiput.com, Yogyakarta)
      4.      Dwidjo Utomo Maksum (www.kediripedia.com, Kediri)
      5.      Eko Widianto (www.terakota.id, Malang)
      6.      Abdi Purmono (www.batikimono.com, Malang)
      7.      Syamsul Huda M. Suhari (www.degorontalo.com, Gorontalo)
      8.      Yuafriza Ocha (www.mentawaikita.com, Padang)
      9.      Firmansyah (www.sudutruang.com, Bengkulu)
    10.    Dedek Hendry (www.liveindonesia.id, Bengkulu)
    11.    Hendra Makmur (www.tulistangan.com, Padang)
    12.    Fika Rahma (www.duniamelancong.com, Medan)
    13.    Eliza Gusmeri (www.seniberjalan.com, Batam)
    14.    Novi Abdi (www.inibalikpapan.com, Balikpapan)
    15.    Anton Muhajir (www.balebengong.id, Denpasar)
    16.    Aidil Ichlas (www.sumbarkita.com Padang)
    17.    Frino Bariarcianur Barus (www.artspace.id, Bandung)
    18.    Dandhy Dwi Laksono (www.indonesiabiru.com, Jakarta)
    19.    M. Ramond Eka Putra Usman (www.kilasjambi.com, Jambi)
    20.    Oki Hajiansyah (www.pojoksamber.com, Lampung) ABDI PURMONO



AJI Helat Festival Media VI dan Kongres X di Solo

Jumat, November 24, 2017 Add Comment


SOLO — Aliansi Jurnalis Independen menggelar Festival Media AJI di Grha Soloraya, Kota Solo, Jawa Tengah, pada Kamis-Jumat, 23-24 November 2017. 

Pelaksanaan festival mengawali pelaksanaan Kongres X AJI di Hotel Sunan, 24-27 November, di kota yang sama. Acara pembukaan dihadiri Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara.

Dalam sambutan pembuka festival, Kamis kemarin, Ketua Umum AJI Indonesia Suwarjono mengimbau masyarakat untuk tetap mempercayai media arus utama di tengah kemunculan begitu banyak media sosial yang turut menyajikan informasi.

Saat ini publik sedang menyaksikan perang informasi yang disajikan media mainstream dan media sosial. Masyarakat sedang berada dalam revolusi digital yang luar biasa.

“Namun, bagaimana kita menyikapinya, kita berharap media mainstream tetap jadi sumber informasi yang paling dipercaya masyarakat,” kata Suwarjono.

Menurut Jono, panggilan karib Suwarjono, media mainstream dianggap memiliki kredibilitas untuk mencari fakta lapangan yang disertai kemampuan untuk melakukan konfirmasi dan verifikasi jurnalistik terhadap informasi, data, dan fakta yang diperoleh. Kemampuan melakukan verifikasi inilah yang menjadi pembeda utama antara pelaku jurnalistik dan pengguna media sosial.

“Dalam konteks itulah, kami (AJI) dan kita bersama mengambil tanggung jawab untuk menggiatkan literasi media bagi masyarakat,” ujar Jono.

Dalam acara yang sama, Menteri Rudiantara meminta kepada masyarakat untuk berani memerangi penyebaran kabar dusta alias hoax dan berita palsu (fake news) mulai hulu hingga hilir. “Untuk itu, kami di Kominfo terus melakukan sosialisasi supaya masyarakat mendapatkan konten yang sehat, bebas dari hoax,” kata Rudiantara.

Ia menjelaskan, upaya itu diekspresikan dengan melakukan pengetatan di hilir berupa pengetatan akses, lalu pengetatan di hulu melalui kerja sama dengan komunitas pelaku media mainstream, media alternatif, dan pegiat media sosial, seluruh strata di masyakat sehingga nantinya masyarakat kian mampu memilih dan memilah konten-konten yang tersaji di dunia maya, khususnya konten yang beredar melalui media sosial.

Kementerian Komunikasi, kata Rudiantara, sedang menggencarkan literasi media berupa aksi cyber creation yang melibatkan semua pemangku kepentingan seperti lembaga pemerintah, lembaga swasta, lembaga swadaya masyarakat, dan perguruan tinggi.

“Peran serta masyarakat begitu penting sehingga pemerintah harus melibatkan masyarakat. Setiap tahun programnya bergerak di beberapa kota di seluruh kota untuk disosialisasikan,” ujar Rudiantara.

Ketua Festival Media AJI 2017 Adib Muttaqin Asfar mengatakan, festival media menjadi agenda tahunan AJI yang menjadi ajang untuk mempertemukan kalangan media dan jurnalis dengan masyarakat. Pelaksanaan Festival Media AJI bertujuan untuk memantau perkembangan media, kebebasan berekspresi, dan demokrasi di Indonesia. Festival Media AJI tahun ini bertema “Jurnalisme Damai,Jurnalisme Keberagaman.”

Festival Media AJI tahun ini terasa lebih meriah karena 38 AJI Kota turut berpartisipasi. Sedikitnya 500 anggota AJI hadir di Solo. Festival serupa sebelumnya diikuti 20 AJI Kota. “Sekarang lebih terasa meriah karena acaranya digandeng dengan Kongres AJI,” kata Adib yang juga anggota AJI Kota Solo.

Selain bagi anggota AJI, festival media itu dan semua rangkaian acara terbuka bagi jurnalis non-AJI, pegiat jurnalisme warga (blogger), dosen, mahasiswa dan pelajar, serta masyarakat umum.

Kemeriahan itu tampak dalam rangkaian seminar, pelatihan, lomba, dan pemutaran film. Panitia pelaksana menyediakan 44 lapak bagi AJI Kota serta beberapa media lokal dan nasional yang menjadi peserta festival. Setiap peserta bebas berkreasi untuk menjadikan lapaknya kelihatan keren.

Beberapa media nasional juga menjadi narasumber dalam seminar dan pelatihan. Seminarnya, antara lain bertema “Jurnalisme di Era Revolusi Industri Keempat. Menurut Jono, seminar ini mengulas arah media di tengah gempuran digitalisasi.

“Festival Media AJI tahun ini mengetengahkan tren media terkini yang semakin berkembang misalnya terkait robot jurnalisme, data jurnalisme, reportase VR, dan sebagainya,” kata dia.

Selain itu, tiga perusahaan raksasa digital (Facebook, Google, dan Twitter) mengambil bagian dalam sejumlah workshop literasi digital. Mereka bicara bagaimana masyarakat bijak bermedia sosial serta pemanfaatannya untuk penyebaran informasi atau peliputan berita. Karena itu, Fesmed menyajikan workshop melawan hoax, petunjuk berinternet sehat dan aman, hingga social media hack.

Sebelum Fesmed dimulai, panitia menggelar dua acara masing-masing di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Universitas Negeri Solo (UNS) alias Universitas Sebelas Maret, pada Selasa-Rabu, 21-22 November. Di UMS diadakan pelatihan monotize online media dan science journalism. Sedangkan di UNS diadakan kuliah umum jurnalisme data.

Batikimono mencatat, Fesmed di Solo merupakan festival media keenam yang diadakan AJI sejak 2012. Berikut daftar pelaksanaan Festival Media AJI:

No.

Tempat
Waktu


1

Bandung

15-16 September 2012
2
Yogyakarta
28-29 September 2013
3
Surabaya
16-17 Mei 2014
4
Jakarta
14-15 November 2015
5
Pekanbaru
19-20 November 2016
6
Solo
23-24 November 2017

Adapun pelaksanaan Kongres X dimulai Jumat sore ini, seusai pelaksanaan Fesmed.

Menurut Jono, selain agenda pemilihan ketua umum dan sekretaris jenderal baru, dalam Kongres juga dibahas sejumlah isu jurnalistik. Hal penting yang dibahas, antara lain, tentang kekerasan terhadap pers yang frekuensinya meningkat dalam setahun terakhir.

“Kami mencatat, tahun ini kekerasan terhadap pers berjumlah 78 kejadian. Jumlah ini luar biasa karena tahun-tahun sebelumnya hanya sekitar 40-an kejadian,” ujar Jono, yang sedang menikmati “masa persiapan pensiun” sebagai Ketua Umum AJI Indonesia.

Yang lebih memprihatinkan lagi, kasus-kasus kekerasan terhadap pers banyak menggantung penyelesaiannya dan malah tidak diproses secara hukum. Umumnya, kata Jono, kekerasan terhadap pers yang tidak diproses secara hukum karena korban menerima permintaan maaf dari pelaku kekerasan.

Tiada efek jera bagi pelaku kekerasan terhadap pers, terlebih lagi bila pimpinan institusi tempat pelaku bekerja berkomunikasi dengan pemilik media untuk meminta penghentian pemberitaan kekerasan tersebut dan mengajak berdamai.

Idealnya, Jono menegaskan, harus ada efek jera bagi pelaku kekerasan terhadap pers. Permintaan maaf tetap diterima, tapi tindak kekerasannya juga tetap diproses secara hukum. “Hal itu akan kami bahas di dalam Kongres ini,” kata Jono.

Sejauh ini, baru ada dua anggota AJI yang mendeklarasikan diri untuk maju sebagai calon ketua umum, yakni Abdul Manan (Tempo) dan Syofiardi Bachyul (The Jakarta Post).

Suwarjono dan Arfi Bambani saat memberi sambutan setelah terpilih menjadi ketua umum dan sekretaris jenderal AJI Indonesia dalam Kongres IX di Bukittinggi, Sumatera Barat, Minggu, 30 November 2014. Foto: ABDI PURMONO

Pendirian Aliansi Jurnalis Independen diawali dengan kumpul bareng sekitar 150 orang yang terdiri dari wartawan, kolumnis, dan cendikiawan. Mereka mengikuti acara Silaturahmi Wartawan Indonesia di Wisma Tempo Sirnagalih, Bogor, Jawa Barat, pada 6 Agustus 1994.

Sehari kemudian, 7 Agustus tahun yang sama, sebanyak 58 orang peserta silaturahmi menandatangani deklarasi AJI. Santoso menjadi sekretaris jenderal dan Ahmad Taufik (wafat di Jakarta, 23 Maret 2017) menjadi ketua presidium.

Berikut rekapitulasi pelaksanaan Kongres AJI. Kecuali data Kongres IX dan Kongres X, data Kongres AJI lainnya didapat dari buku Semangat Sirnagalih: 20 Tahun Aliansi Jurnalis Independen yang diterbitkan AJI Indonesia pada 2014.

No.

Tempat
Waktu

Terpilih

1

Gedung Realino, Yogyakarta

7-8 Oktober 1995

Satrio Arismunandar (sekretaris jenderal), Santoso (ketua presidium)
2
Wisma Hijau, Cimanggis, Depok, Jawa Barat
25-26 Oktober 1997
Lukas Luwarso (ketua), Dadang RHS (sekretaris), Roy Pakpahan (bendahara)
3
Hotel Santika, Surabaya, Jawa Timur
3-5 Desember 1999
Didik Supriyanto (sekretaris jenderal, 1999-2001)
4
Graha Santika, Semarang, Jawa Tengah
9-11 November 2001
Ati Nurbaiti (ketua umum), Solahudin (sekretaris jenderal)
5
Wisma Hijau, Cimanggis, Depok, Jawa Barat
17-20 Oktober 2003
Eddy Suprapto (ketua umum), Nezar Patria (sekretaris jenderal)
6
Pusat Pendidikan dan Latihan Lautan Berlian, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat
25-27 November 2005
Heru Hendratmoko (ketua umum), Abdul Manan (sekretaris jenderal)
7
Hotel Sanur Beach, Denpasar, Bali
28-29 November 2008
Nezar Patria (ketua umum), Jajang Jamaludin (sekretaris jenderal)
8
Hotel Aryaduta, Makassar, Sulawesi Selatan
1-3 Desember 2011
Eko Maryadi (ketua umum), Suwarjono (sekretaris jenderal)
9
Hotel Grand Rocky, Bukittinggi, Sumatera Barat
27-29 November 2014
Suwarjono (ketua umum), Arfi Bambani (sekretaris jenderal)
10
Hotel Sunan, Solo, Jawa Tengah
24-26 November 2017


Kecuali kongres ke-9 dan kongres ke-10, data delapan kongres lainnya bersumber dari buku Semangat Sirnagalih: 20 Tahun Aliansi Jurnalis Independen yang diterbitkan AJI Indonesia pada 2014. ABDI PURMONO