Mata, Dokter Mata, dan Sesal yang Percuma

Senin, Juli 03, 2017 2 Comments

Kacamata kepunyaanku. Foto: ABDI PURMONO 

Jaga dan sayangi mata agar tidak menyesal kemudian bila penglihatan terganggu. Bila gangguan mata mengharuskan ke dokter mata, maka jadilah pasien yang kritis.  

SAYA pernah menganggap berkacamata itu keren justru saat mata saya sehat-sehat saja, masih tajam dan cerlang. Saya pun sempat mengidamkan berkacamata.

Suatu ketika, sekitar 4 tahun lalu, mata saya bermasalah. Tulisan di buku yang saya baca tampak buram atau kabur. Saya pun mengadu ke dokter mata. Setelah diperiksa, sang dokter mengatakan saya harus memakai kacamata baca alias kacamata plus karena sudah waktunya bagi orang seusia saya. Saya dinyatakan mengalami rabun dekat atau hipermetropi.

Bagi saya, faktor usia bukan alasan yang memuaskan untuk diterima begitu saja. Lalu saya katakan bahwa saya sering melihat orang yang berusia lebih tua dari saya dan hobi membaca matanya sehat-sehat saja. Kenapa bisa begitu?

Si dokter rupanya tidak komunikatif. Ia hanya memberikan penjelasan singkat dengan menyebut kebiasaan seseorang saat membaca tak lebih sebagai “bonus” dan dalam kasus saya lebih ditentukan oleh faktor usia.

Saya pun tidak menuruti saran dokter agar memesan kacamata plus lantaran saya belum puas. Saya tidak percaya begitu saja.

Lalu saya pergi ke dokter mata di Klinik Mata Malang (Malang Eye Clinic) yang berlokasi di Jalan Dr Cipto, Kelurahan Rampal Celaket, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Komunikasi dengan dokter kedua ini berlangsung interaktif dan menyenangkan. Tapi saya tidak ingat nama dokternya.

Tanpa terlalu banyak basa-basi sang dokter menanyakan kebiasaan saya saat membaca dan gejala gangguan kesehatan mata yang saya alami. Saya suka membaca sambil tiduran di sofa meski tempatnya terang dan sering berlama-lama di depan komputer. Akibatnya, lama-lama area mata saya sering terasa panas dan kepala pusing. Begitu yang saya ungkapkan.

Sang dokter merespons pengakuan saya dengan melakukan pemeriksaan visus (tajam penglihatan). Saya diminta duduk di kursi dan kemudian disuruh membaca huruf yang tertera dalam snellen chart, poster yang berfungsi untuk mendeteksi tajam penglihatan seseorang. Perintah serupa saya alami saat mengikuti ujian untuk mendapatkan surat izin mengemudi.

Setelah itu dokter menjelaskan tanda-tanda umum kerusakan pada mata, antara lain tidak bisa melihat dengan jelas dalam jarak tertentu baik melihat benda hidup dan benda mati. Semua benda yang dilihat membayang dan samar-samar.

Tanda lain, orang yang mengalami gangguan penglihatan sering memicingkan mata seperti mata silau. Benda memang terlihat jelas saat mata dipicingkan, tapi sebenarnya justru mata dipaksa bekerja lebih keras melebihi kemampuannya.

Tanda berikutnya adalah membaca dan menonton televisi jadi terpaksa sangat dekat.

Dokter pun menjelaskan lagi, tanda-tanda kerusakan mata itu sangat dipengaruhi lima kebiasaan buruk saat membaca:

1. Membaca sambil tiduran. Saat tiduran, objek bacaan justru semakin dekat dengan wajah dan memaksa mata bekerja lebih keras melebihi kemampuannya.

2. Terlalu dekat layar televisi saat menonton. Ukuran televisi ikut menentukan jarak pandang. Semakin gede ukuran layar televisi, maka seharusnya makin jauh jarak menonton.

3. Membaca di tempat gelap atau remang-remang.

4. Membaca terlalu dekat. Jarak ideal membaca buku atau koran, misalnya, sekitar 30 sentimeter.

5. Terlalu lama di depan layar komputer sehingga berdampak negatif terhadap kesehatan mata, seperti mata berair dan cepat lelah.

Penjelasan sang dokter begitu gampang dicerna dan menyenangkan. Apalagi dokternya tetap sabar dan tidak pelit memberitahu saya tentang jenis gangguan mata, yaitu:

1. Rabun jauh atau miopi (myopia). Gangguan rabun jauh biasanya faktor keturunan. Penderita rabun jauh dibantu dengan menggunakan kacamata minus—orang biasa menyebut mata minus.

2. Rabun dekat (hipermetropi). Orang yang dengan kerusakan mata seperti ini dibantu dengan kacamata plus.

3. Katarak, yaitu bagian keruh pada lensa mata yang biasanya bening sehingga daya pandang buram seperti berkabut. Lensa mata adalah bagian transparan di belakang pupil (titik hitam di tengah bagian mata yang gelap).
Katarak tidak menyebabkan rasa sakit dan termasuk penyakit yang sangat umum terjadi pada manusia. Katarak biasanya dialami orang yang sudah tua atau orang yang menderita diabetes.

4. Rabun senja atau rabun ayam (nyctalopia). Orang yang mengalami rabun senja kesulitan melihat jika kekurangan sumber cahaya pada sore hari saat matahari tenggelam. Namun rabun senja tidak bisa dibantu dengan penggunaan kacamata.                                                   
5. Silindris. Penderita mata melihat semua benda berbayang menjadi dua dan oleh karenanya membutuhkan kacamata berbentuk silinder supaya pandangannya lebih fokus.

Alhasil, singkat cerita, saya memang divonis mengalami rabun dekat sehingga dan disarankan berkacamata plus. 

Dan yang pasti saya agak menyesali dulu pernah mengidamkan berkacamata dan sekarang terpenuhi. Sungguh saya merasakan banyak kenikmatan yang berkurang dalam perkara baca-membaca, pandang-memandang. 

Contoh, kacamata pertama saya hancur dilindas ban kendaraan angkutan kota di Bogor. Kacamata kedua patah di Jakarta. Akibatnya, saya sangat kesulitan membaca pesan yang masuk ke gawai (gadget) sampai pernah saya meminta tolong pada orang lain untuk membacakan pesan tersebut. 

Begitu pula kesulitan saat melakukan hobi memotret maupun bermain catur tanpa berkacamata. Kelancaran kerja dan aktivitas lain saya nyaris bergantung penuh pada kacamata, seolah-olah kacamata sudah jadi berhala. 

Tapi pada akhirnya saya harus berdamai dengan diri sendiri untuk tidak terus bersesal hati dengan tetap berusaha menjaga baik-baik mata saya agar tidak makin parah. Percuma saja menyesalinya.

Jadi, sebenarnya ada dua hal penting yang ingin saya sampaikan. Pertama, jangan percaya begitu saja penjelasan dokter. Bertanyalah apabila merasa ragu atau belum puas. Gunakanlah sebaik-baiknya hak kita sebagai pasien.

Hak-hak pasien dilindungi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen sebagaimana tertera pada Pasal 4. Hak pasien pun diatur dalam Pasal 52 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, serta tercantum dalam Pasal 32 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

Kedua, sayangilah mata kita supaya tetap sehat seperti dengan memperbanyak makan buah dan sayur, terutama buah-buahan berwarna merah dan wortel, serta mengindari kebiasaan buruk yang berdampak makin kerasnya kerja mata.

Demikian catatan ini. Semoga bermanfaat bagi Anda yang membacanya. ABDI PURMONO

Kuasai Bahasa Asing dengan Ilmu Laduni (2)

Senin, Juni 12, 2017 Add Comment
Pondok Pesantren Nurur Riyadlah di Desa Alas Tengah Timur, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. (Naskah dan foto-foto: ABDI PURMONO)

Pesantren Nurur Riyadlah tidak mengajarkan metode penguasaan bahasa Arab dengan alasan bahasa Arab merupakan induk dari segala bahasa di dunia.

SEMUA penjelasan para santri senior Nurur Riyadlah dibenarkan Kiai Haji Ahmad Sholeh. Perlu diketahui, sebelum menunaikan ibadah haji, Kiai Sholeh bernama asli Kusnadi Sholeh. Sampai sekarang masyarakat setempat dan sekitarnya mengenal Kiai Sholeh dengan sapaan karib Kiai Kusnadi atawa Gus Sholeh.

Gus Sholeh mengaku banyak "alumni" Nurur Riyadlah lancar berbahasa Inggris karena rajin mengamalkan doa dan ajarannya. Ia menjamin bahasa yang sudah dikuasai tidak akan lupa lagi. "Wah, kalau itu sih rahasia," katanya, menjawab pertanyaan saya tentang doa-doa yang dia berikan.

Ia memastikan, apa yang dia ajarkan murni ilmu laduni. Ilmu ini dia ajarkan sebelum mendirikan Pesantren Nurur Riyadlah pada 1994. Ia lebih dulu mendirikan perguruan silat Trisakti. Saat itu santri Nurur Riyadlah masih sangat sedikit dan mulai bertambah di tahun kedua. Santri Nurur Riyadlah kini berjumlah 150-an orang, sebagian besar bocah remaja dari desa setempat.

Cukup sulit bagi Gus Sholeh mengajarkan dan mengembangkan ilmu laduni. Banyak orang yang mencurigai kegiatan di pesantrennya. Ada yang menuduh dia melakukan penipuan dan segala macam cemooh.

Namun, pelan-pelan makin banyaklah orang yang mendatangi pesantrennya. Niat dan tujuan orang yang datang pun macam-macam semisal meminta penyembuhan atau sekadar didoakan supaya gampang dapat jodoh.

Nurur Riyadlah, menurut Gus Sholeh, mempunyai dua unit kegiatan, yakni pendidikan dan kebatinan. Unit pendidikan mencakup pendalaman kitab kuning, pengajian rutin tiap malam Jumat, dan pengajaran ilmu-ilmu umum di madrasah. Sedangkan kegiatan kebatinan meliputi seni bela diri pencak silat Trisakti, penguasaan bahasa asing dengan cara membuka pintu batin, dan istigasah.

Kusnadi Sholeh alias KH Ahmad Sholeh alias Gus Sholeh
Dari kegiatan-kegiatan itu, pengajaran penguasaan bahasa asing yang sekarang paling diminati banyak orang. Peminatnya muslim dan nonmuslim. Dengan ilmu laduni yang dia miliki, Gus Sholeh ingin membantu santri bahasa menemukan kembali bibit bahasa yang sesungguhnya sudah dimiliki sejak manusia berusia empat bulan.

"Waktu masih bayi empat bulan, sebenarnya setiap orang sudah menguasai semua bahasa tapi tidak bisa diucapkan lantaran tidak dibiasakan sejak kecil kecuali bahasa ibu. Dengan ilmu laduni, saya ingin membantu orang-orang yang kesulitan mempelajari atau menguasai bahasa asing. Gampangnya, dengan ilmu laduni, saya ingin membantu orang-orang menembukan kembali bibit bahasa yang hilang itu dengan cara membuka pintu batinnya," kata pria kelahiran 12 Maret 1963 itu.

Tidak dibutuhkan alat bantu apa pun semisal video, kaset bahasa asing, laboratorium bahasa, apalagi mendatangkan native speaker, untuk bisa menguasai bahasa asing tertentu. Peminat cukup melewati tiga tahapan ritual.

Dimulai dengan tahap pembukaan dengan metode ijazah. Biasanya Gus Sholeh akan melakukan pengisian ilmu kepada santri dengan cara merapal doa tertentu. Doanya rahasia. Berselang lima menit santri diberikan selembar kertas berhuruf Arab yang merupakan bacaan salawat ditambah beberapa doa.

"Di tahap pertama," ia menjelaskan, "kami membantu membuka pintu atau mata batin dengan ijazah. Ijazahnya bukan seperti punya anak sekolahan, tapi selembar kertas yang sudah Anda terima kemarin. Isi kertas itu harus dibaca berulang-ulang alias berwirid. Kalau yang ikut paket hemat, lamanya dua jam, lebih sedikit juga tidak apa-apa. Sedangkan yang memilih paket instan Rp 1,5 juta, lamanya maksimal 45 menit."

Dalam tahap pembukaan, santri juga harus menjalani ritual penarikan bibit bahasa. Seperti yang saya alami sendiri, santri dipancing oleh satu atau dua orang santri senior Nurur Riyadlah dengan percakapan dalam bahasa tertentu. Awalnya dicampur aduk dan dilakukan berulang-ulang. Tahap ini bertujuan membiasakan santri mendengar dan mengucapkan kata-kata dari bahasa tertentu.

Usai melakukan penarikan bahasa, santri memasuki tahap pemisahan. Tahap kedua ini bertujuan agar santri fokus pada pilihan bahasa yang dikehendaki sehingga mencapai kemampuan berbicara dan menulis.

Teorinya, menurut Gus Sholeh, dalam dimensi ruqyah, pada saat memasuki tahap pertama belum bisa mengendalikan rasa; mau ngomong dalam bahas Inggris, tapi yang keluar bahasa India. Misalnya begitu.

Khusus bagi santri yang memilih paket eksklusif, diharuskan mandi untuk menyempurnakan pembukaan aura. Jelas bukan mandi sembarang mandi. Mandi ini langsung dipimpin Gus Sholeh. Air yang diguyurkan diberi doa-doa. Istilahnya, mandi untuk membuka aura.

Namun santri perempuan tidak diharuskan mandi kecuali yang bersangkutan tidak keberatan dan harus ditemani kerabatnya. Mandinya di kamar mandi santri yang pintunya terbuka sehingga siapa pun, termasuk saya, dapat melihatnya. Total, untuk ritual dalam paket instan alias paket eksklusif menghabiskan waktu maksimal sekitar 3 jam.

Sedangkan tahap penyempurnaan arti dilakukan sendiri oleh santri, dengan berbekal petunjuk mengamalkan doa penyempurnaan arti sebagaimana sudah ditulis di atas.

Pada prinsipnya, kata Gus Sholeh, santri yang menjalani setiap tahapan ritual sejatinya sudah menemukan bahasa yang dicari namun tidak langung mahir. Kemahiran bisa diasah dengan giat berlatih secara teratur dan berkesinambungan.

“Sebenarnya,” Gus Sholeh menuturkan, “saya hanya memberi petunjuk dan doa-doa untuk mengunci dan mempercepat proses penguasaan bahasa dengan ilmu laduni yang saya miliki. Tapi tetap saja kemauan, kesabaran, dan ketekunan berlatih jelas akan sangat membantu si santri menguasai bahasa yang dipilih. Makin rajin dan giat, maka makin cepat bahasa itu dikuasainya. Sarana untuk upaya itu bisa didapatkan di pasar atau toko buku, seperti video, kaset, kamus, dan buku-buku bahasa asing. Ya, kalau bisa ngomong langsung dengan penutur aslinya.”

Soal panjang-pendeknya masa tahapan, menurut Gus Sholeh, intinya terletak pada keikhlasan melakukan wirid. Motivasinya bukan pada target karena memang Gus Sholeh bukan sedang memprogram ilmu, melainkan memberi jalan, membuka mata batin untuk cepat menguasai bahasa asing yang dimaui.

"Seperti yang saya bilang tadi, manusia itu sejak lahir sudah menguasai bahasa asing. Karena gak dibiasakan bahasa asing itu hilang kecuali bahasa ibu di tempat ia lahir dan dibesarkan. Nah, di sini kami tidak memprogram ilmu, melainkan memudahkan orang menguasai bahasa asing yang dikehendaki. Istilahnya, bibit bahasanya sudah ada, tinggal dipancing dan diamalkan saja," ia mengulang penjelasan.

Ilmu laduni yang diajarkan Gus Sholeh tidak gratis. Santri tinggal memilih dua paket program. Paket istimewa—santri senior seperti Rabat dan Andik menyebutnya paket eksklusif, dibandrol Rp 1,5 juta. Sedangkan paket biasa alias paket hemat Rp 350 ribu. Kedua paket itu memiliki tiga prosesi tadi, hanya ditambah mandi pembukaan aura bagi yang memilih paket eksklusif.

Mengenai biaya itu, buru-buru Gus Sholeh menukas bahwa ia tidak bermaksud mengkomersialkan ilmu laduni yang dia miliki. Ia pun lebih senang menyebut ongkos itu dengan istilah mahar.

"Kalau saya mau mengkomersialkan ilmu laduni, tentu saya sudah buka cabang di mana-mana, seperti yang diminta banyak orang. Saya tidak mau. Lebih baik saya berkunjung ke daerah-daerah sesuai undangan yang saya terima. Sedang istilah ongkos tidak tepat. Sebaiknya disebut mahar. Mahar ini kami pakai untuk membiayai pengembangan pesantren. Jadi, sama sekali tidak ada maksud membisniskan ilmu yang saya miliki," Gus Sholeh menegaskan.

Nurur Riyadlah ramai dikunjungi peminat bahasa asing mulai Jumat sampai Minggu. Jumlah peminat yang datang dalam tiga hari itu mencapai seratusan orang. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Kebanyakan berasal dari daerah-daerah di Pulau Jawa. Latar belakang profesi peminat pun serbaneka.

Bahkan, menurut Rabat, Andik, dan beberapa santri senior lainnya, Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Djaja Suparman, serta seorang bekas menteri yang juga tokoh nasional sangat populer yang masih masih aktif hingga sekarang juga pernah mendatangi Nurur Riyadlah dengan tujuan serupa. Si bekas menteri era Presiden Abdurrahman Wahid itu datang lebih dulu, sekitar pukul 2 pagi di bulan Maret 2005. Sedangkan Djaja datang sehabis salat Isya di bulan April tahun yang sama. 

Menariknya, menurut cerita mereka, sebelum Djaja datang, tiga puluhan prajurit Komando Distrik Militer dan Komando Rayon Militer setempat sudah lebih dulu tiba di lokasi. Dari ujung jalan masuk pesantren sepanjang dua kilometer sudah dijaga beberapa personel intelijen berpakaian preman. Ada yang mengenakan sarung dan berkopiah.

Tapi tiada seorang pun santri senior itu yang mengingat tanggal kedatangan kedua tokoh.

Satu hal penting diketahui, Gus Sholeh tidak mengajarkan metode penguasaan bahasa Arab seperti nahwu dan sharaf, serta perlengkapan paramasastra Araba lainnya seperti balaghah, ma'ani, bayan, dan mantiq.

Makanya, seperti yang saya saksikan dan dengarkan, saat santri melakukan penarikan bahasa, hampir tak satu pun kata dalam bahasa Arab terdengar. Ketika Sukiarno mengucapkan dua kata Arab, Zainullah langsung menghentikan penarikan dan meminta Sukiarno untuk tidak mengulanginya.

Gus Sholeh punya alasannya. Pengajaran bahasa Arab sengaja dikesampingkan dulu karena bahasa Arab adalah induk dari segala macam bahasa di dunia. "Jadi bahasa asing yang dipelajari orang-orang sebenarnya anak-cucunya bahasa Arab," kata dia.

Apabila penguasaan bahasa Arab yang dulu diajarkan, maka bahasa asing lain tidak keluar. Karena itu pula wirid dan segala doa yang dilafazkan dalam tiga tahap tidak menggunakan bahasa Arab. Gus Sholeh menyebutnya sebagai kalam suryani, bahasanya para malaikat.

"Karena kalam suryani, maka orang nonmuslim bisa mengikuti program penguasaan bahasa asing dan sudah banyak orang nonmuslim yang ke sini. Apalagi bahasa itu bersifat universal yang bisa dipelajari oleh siapa pun. Dan sudah menjadi fitrahnya bahasa bahwa setiap orang ketika berusia empat bulan sudah ditiupkan kemampuan berbahasa."

Umumnya, menurut Gus Sholeh, orang-orang yang mendatangi Nurur Riyadlah ingin menguasai bahasa Inggris dan Mandarin. 

Selain menerima santri, Gus Sholeh acap melawat ke luar kota untuk mengajarkan ilmu laduni dalam program penguasaan bahasa asing. Ia menceritakan pengalamannya di Medan dan Pekanbaru, seperti beberapa daerah lain. Pada 5 Oktober 2004, misalnya, ia diundng karyawan PT Sampoerna di Palembang untuk mengajarkan hal serupa.

Gus Sholeh bersyukur karena peminatnya bertambah banyak kendati tanpa publikasi. Dari penjelasan para peminat yang datang diketahui bahwa mereka datang berdasarkan informasi dari orang-orang yang sudah berhasil menguasai bahasa asing sepulang dari Nurur Riyadlah.

"Informasi mengenai pesantren ini menyebar lewat gethok tular. Ini merujuk pada keterangan orang-orang yang ke sini," kata Gus Sholeh yang mengaku tak tahu jumlah orang yang berhasil menguasai bahasa asing. "Mereka itu kan tak harus melapor."

Soal metode yang dipakai Gus Sholeh tidak dipersoalkan para peminat. Sukiarno dan Tito Pinandita, misalnya, mengaku tidak memedulikan metode yang dipakai Gus Sholeh. Mereka datang dengan niat berikhtiar. “Apa salahnya saya mencoba,” begitu kata Sukiarno. Tito pun sependapat.

Lalu, bagaimana cara ia memperoleh ilmu laduni? 

Gus Sholeh mengaku mendapatkan ilmu laduni setelah melakukan riyadlah alias tirakat atawa bertapa di sebuah pantai sejak berusia tujuh tahun. Kebiasaan bertirakat ia warisi dari sang ayah, Kiai Djauhari. Semula, bapak dan anak ini bertirakat untuk melancarkan usaha.

Saat berusia 12 tahun, Gus Sholeh memberikan bertirakat sendiri di tepi laut. Pada satu hari ia bertemu dengan Nabi Khidir, yang dalam agama Islam dikenal sebagai gurunya Nabi Musa. Nabi Khidir kemudian mengajarinya beberapa ilmu, termasuk ilmu laduni.

“Inilah ilmu yang dirahasiakan oleh Allah. Setiap makhluk Allah sudah ditentukan semuanya dari mulai rezeki, umur, jodoh, dan ilmunya. Semuanya sudah tersedia, tinggal kita saja yang mampu atau tidak menggali ilmu itu,” ujar Gus Sholeh.

Beranjak remaja, kemampuan Gus Sholeh kian meningkat. Ketika remaja seusianya asyik bermain, Gus Sholeh sudah mampu menyembuhkan pelbagai penyakit dengan cara memindahkannya ke tubuh binatang. Bahkan, dengan ilmu laduni, Gus Sholeh bisa membuka pintu batin manusia.

Berkat ilmunya itu pula Gus Sholeh mampu menguasai banyak bahasa asing, serta ilmu-ilmu keterampilan, seperti komputer, beladiri, dan seni. "Tapi kebanyakan yang datang ke sini mau lancar berbahasa asing biar bisa jadi TKI (tenaga kerja Indonesia) di luar negeri atau menjadi pemandu wisata seperti Rabat."

Rabat yang namanya disenggol sang guru menimpali bahwa ia dan kawan-kawannya gratis belajar di Nurur Riyadlah. Ia tidak harus mengajarkan kitab kuning pada santri junior karena ia lebih memilih jurusan bahasa. Karena itu pula ia ditugasi Gus Sholeh untuk melayani orang-orang yang mau belajar menguasai bahasa asing.

Nah, pembaca sekalian, demikianlah akhir tulisan panjang saya ini. Terserah pada Anda sekalian apakah mau percaya atau tidak percaya pada ilmu laduni yang diajarkan di Pondok Pesantren Nurur Riyadlah. ABDI PURMONO

CATATAN:

Tulisan yang lebih ringkas dimuat di Rubrik Agama Majalah Tempo Nomor 19, Edisi 4-10 Juli 2005, halaman 44-45.

Menurut informasi dari seorang kawan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, kegiatan pengajaran ilmu laduni untuk melancarkan penguasaan bahasa asing masih berlangsung hingga sekarang.







Kuasai Bahasa Asing dengan Ilmu Laduni (1)

Senin, Juni 12, 2017 Add Comment
Santri Pesantren Nurur Riyadlah sedang mengaji kitab kuning. (Naskah dan foto-foto: ABDI PURMONO)

Ilmu laduni digunakan untuk membantu orang-orang menguasai bahasa asing dengan cara membuka pintu batin dan “menarik” bibit bahasa yang diyakini sudah tersimpan dalam hati setiap orang.

SELEPAS melintasi hamparan tanaman tembakau, saya tiba di Pondok Pesantren Nurur Riyadlah pada Minggu sore, 26 Juni 2005. Ini merupakan kunjungan kedua karena ditugasi kantor tempat saya bekerja.

Kunjungan pertama saya ke pesantren yang berlokasi di Desa Alas Tengah Timur, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, itu terjadi pada Rabu petang, 1 Juni tahun yang sama. Saya datang bersama lima orang kawan dari Kota Medan, Sumatera Utara.

Sebenarnya, justru dari mereka itulah saya tahu pondok pesantren yang berlokasi sekitar 98 kilometer dari pusat kota Malang dan berarti pondoknya sudah terkenal sehingga membuat saya penasaran pula.

Saat tiba, saya melihat beberapa santri bersarung meriung di bawah kerindangan dua pohon mangga. Dua orang santri yang mengenali saya bergegas menyambut. Mereka tersenyum begitu mengetahui maksud dan tujuan kedatangan saya: ingin melancarkan bahasa Jerman, bahasa asing yang saya pelajari di SMA dua puluhan tahun silam.

“Mas, langsung saja ikut wirid bersama Mas yang di dalam ruangan itu,” kata Rahmat Bakhtiar alias Rabat, salah seorang santri senior. Ia menunjuk bangunan sederhana yang di bagian atas pintu masuknya tertera tulisan ‘Kantor Ponpes’. Rabat dan kawan-kawan menyebut kami sebagai santri bahasa.

Kami menuju ke sana. Rabat memasuki satu dari ruangan kecil yang bertirai kain lusuh. Di ruang tamu sudah menunggu seorang pria kerempeng berkemeja lengan panjang hijau dan bercelana hitam. Kami pun berkenalan.

Namanya Sukiarno. Ia lahir di Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Sempat tinggal di Kebumen, Jawa Tengah, tempat asal ayahnya, dan kemudian menetap di Pekanbaru, Riau, bersama istri dan anaknya.

Pria 38 tahun itu baru saja pulang dari Tanzania, Afrika Timur. Di Tanzania ia bekerja di perusahaan tambang yang berkantor pusat di Houston, Amerika Serikat. “Saya cuma bekerja tiga bulan. Sekarang sudah habis kontrak dan langsung ke sini. Jadi, saya belum pulang ke rumah,” kata dia di awal perkenalan.

Sukiarno bergaul dengan orang-orang asing selama bekerja di perusahaan tambang. Namun ia tak lancar berbahasa Inggris sehingga kesulitan berkomunikasi. Dari seorang temannya di Jakarta, Sukiarno mendapat informasi Nurur Riyadlah sebagai tempat alternatif untuk mempelajari bahasa asing secara instan dan murah.

“Ya, niat saya ingin melancarkan kemampuan berbahasa Inggris dalam waktu yang tidak terlalu lama biar saya bisa melamar bekerja di perusahaan asing,” ujar jebolan SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) Stabat ini, seraya bersiap menunaikan salat Magrib.

Rabat memanggil kami. Di dalam ruangan berukuran 8 meter persegi yang difungsikan sebagai ruang tidur sekaligus salat itu Rabat menunjukkan dua lembar foto ukuran 6R. Dalam foto terlihat jelas bekas Panglima Komando Strategis Angkatan Darat dan Komandan Sekolah Staf Komando TNI Letnan Jenderal (Purnawirawan) Djaja Suparman sedang berbincang dengan pendiri sekaligus pengasuh Nurur Riyadlah, Kiai Haji Ahmad Sholeh, dan beberapa santri.

Rabat menyerahkan dua keping cakram padat (compact disc) berisi contoh dasar pelogatan 12 bahasa, yang hanya bisa didengarkan. Saya dan Sukiarno diminta membayar Rp 20 ribu, kemudian menerima selembar kertas berisi doa-doa dalam tulisan Arab dan Indonesia. Kami disuruh berwirid selama dua jam.

Rabat mengajak kami berpindah ke sebuah ruangan kelas tempat belajar para santri. Posisinya tepat bersebelahan dengan kantor pesantren. Ruang kelas di areal kantor pesantren ada tiga, yang seluruhnya dibangun menyatu dan disekat dengan tembok batu. Warna bangunannya putih dan semua kusen pintu dicat hijau muda. Bagian atas bangunan kelas terbuka lebar dan diberi kawat-kawat berjala.

Rabat meminta kami berwirid dengan membaca tulisan di kertas. Ia memandu kami sebentar dan menyerahkan dua botol air mineral merek Alamo kemasan 600 mililiter. Ia melepas label salah satu botol.

“Ini untuk menandakan botol pertama dan botol kedua. Yang logonya saya sobek ini botol kedua dan tolong disimpan dulu. Air di botol pertama yang diminum duluan selama wirid. Air dalam botol-botol ini sudah diberi doa khusus oleh Kiai Sholeh,” Rabat menjelaskannya dalam logat Madura nan kentara. Kami mengangguk.

Wirid diawali dengan tawasul (doa berangkai melalui beberapa tokoh wali dan ulama) dengan membaca basmallah dan surah Al-Fatihah sebanyak tujuh kali, lalu minum air pertama. Bacaan ini dihadiahkan kepada Nabi Rasulullah Muhammad SAW, Nabi Khidir, Nabi Ilyas, Nabi Sulaiman, Syekh Abdul Qadir Jailani, Kiai Haji Kusnadi Sholeh (nama asli Kiai Haji Ahmad Sholeh), abi wa ummi (ayah dan ibu), Amya Unur, Husunil Umna, Buyunil Umro, dan Ongsiola.

Sebelum Fatihah dibaca, saya dan Sukiarno diminta lebih dulu menyebut nama-nama tadi secara berurutan. Misalnya begini: Rasulullah SAW, bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahirrabil alamin, dan seterusnya. Jadi, untuk setiap nama disertai pembacaan surah Al-Fatihah. 
Kusnadi Sholeh alias KH Ahmad Sholeh alias Gus Sholeh
Selesai membaca Fatihah 11 kali kami pun diminta mengucapkan doa pembuka yang berbunyi fuh amanurullah ya hamlan amun, nun... nun... nun... disambung dengan menarik napas dalam-dalam, ditahan sesanggupnya, lalu dilepaskan dengan mulut terbuka seraya mendesiskan lafal nun panjang. Sepintas ritual ini mirip dengan kegiatan olah napas.

Setelah itu kami pun membaca fuh amanurrulah ya hamlan amun berulang-ulang selama dua jam. Jika waktunya tiba, kami diminta menutup wirid dengan membaca artinya: ya, Allah, hamba mohon datangnya bahasa asing dengan sempurna...

Jangan bayangkan perwiridan berlangsung kaku. Menurut Rabat, bacaan wirid boleh dikeraskan atau sekadar dibaca di dalam hati. Wirid dapat dilakukan sambil merokok, diselingi minum, sambil tiduran, dan... jalan-jalan. “Kalau sambil beraktivitas, ya sebaiknya membacanya di dalam hati. Kalau dikeraskan, nanti Sampean dikira orang gila. Tapi biar afdol-nya sebaiknya diam di tempat,” Rabat mengingatkan sebelum wirid dimulai.

Berbeda dengan Sukiarno yang berwirid diam di tempat, saya berwirid di sebuah warung langganan para santri. Ditemani dua santri bocah, saya berwirid sambil makan malam. Suasana desa gelap dan sepi. Saya tetap berwirid di dalam hati sambil menyorongkan sesendok makanan.

Usai berwirid pada 19.10 WIB, kami ngobrol bareng beberapa santri yang duduk-duduk di kantor pesantren. Rabat mengatakan program penguasaan bahasa asing tersedia dalam dua paket. Paket murah alias paket biasa bermahar Rp 350 ribu dan mahar paket eksklusif Rp 1,5 juta.

Prosesi penguasaan bahasa asing kedua paket tak banyak berbeda. Wirid paket biasa berlangsung 2 jam. Sedangkan lama wirid paket eksklusif maksimal 45 menit. Dalam paket eksklusif, peminat dari luar pesantren—disebut santri lepas—langsung disuruh mandi untuk menyempurnakan pembukaan aura setelah ritual wirid tuntas.

Itulah perbedaan paling mencolok dibanding dengan paket biasa.

Selain itu, hasil dari ritual penguasaan bahasa asing itu bisa dirasakan dan diketahui dua minggu setelah mondok di Nurur Riyadlah. Sedangkan hasil dari paket biasa baru bisa didapat setelah dua bulan.

Dijelaskan begitu, mendadak Sukiarno berubah pikiran. Kepada Rabat dia meminta diikutkan dalam paket eksklusif. Dengan mantap ia berucap, “Tidak apalah saya sudah lewati wirid 2 jam di paket biasa. Niat saya sejak pulang dari sana (Tanzania) memang mau cepat-cepat menguasai bahasa Inggris biar enak bergaul dengan orang bule.

Rabat dan santri lain hanya tersenyum. Mereka manggut-manggut mirip gerakan pompa angguk tua milik Pertamina yang ada di Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau; pompa angguk di Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, dan pompa angguk di Pangkalansusu, Provinsi Sumatera Utara.

Saya mengikuti Rabat mengantar Sukiarno ke rumah istri kedua Gus Sholeh, panggilan akrab Kiai Sholeh. Setelah menunggu tujuh menit, Gus Sholeh keluar dengan berpakaian kaus dalam ala Jackie Chan di film Drunken Master. Ia berkupluk putih. Rabat sibuk mematut-matut diri, merapikan sarungnya yang awut-awutan, lalu permisi.

Sukiarno kembali menyampaikan permintaannya. Gus Sholeh setuju. “Kalau begitu, sehabis ini Sampean langsung saja ikut tahap penarikan,” ujarnya.

Tangannya meraih dua botol air mineral. Botol pertama dikosongkan dan diisi lagi sampai penuh. Gus Sholeh membuka kedua tutup botol dan mendekatkan mulut botol ke mulutnya. Gus Sholeh berkomat-kamit. Ia mengaku membaca salawat ditambah doa khusus. Ritual itu berlangsung kurang dari sepuluh menit.

Ditemani seorang santri, selanjutnya Sukiarno diajak ke sebuah kamar santri yang berada di pojok dan cukup tersembunyi. Kamarnya kecil, berukuran 9 meter persegi, tidak berasbes, dan pintunya yang reot harus diganjal dengan pot bunga putih berbahan plastik yang di dalamnya berisi rajangan tembakau dan kertas rokok. Suasana kamar remang-remang.

Zainullah, si santri, memakai kaos dalam putih seperti yang dikenakan gurunya; berkupluk dan memegang tasbih cokelat. Semula ia menyangka saya pun mau ikut penarikan bibit bahasa.

Setelah saya mengatakan hanya mengikuti “paket hemat”, Zainullah berkata dengan ramah, “Silakan dilinting, Mas. Merokok saja. Biar saya selesaikan penarikan ini. Sampean boleh menonton sampai habis, memotret juga boleh, mau tidur pun tidak apa-apa. Pokoknya, dienakin saja, Mas.”

Zainullah lantas memandu Sukiarno dengan didahului penjelasan panjang lebar. Ia acap menyelipkan frasa pokoknya untuk menekankan beberapa hal yang disampaikan.

“Mas silakan ikuti apa yang saya ucapkan, tapi tidak sama pun tidak apa-apa. Pokoknya Mas jangan takut salah, jangan mencari-cari kata yang Mas tahu artinya. Pokoknya keluarkan saja kata-kata bahasa asing yang ada di hati. Coba Mas imajinasikan seolah-olah Mas sedang berbicara dalam bahasa Inggris, India, Cina, Jerman, dan lain-lain. Tidak berurutan juga tak apa-apa... Ya, kedengarannya nanti bahasanya asal-asalan, persis kayak bayi baru belajar ngomong. Kalau mau menguasai pengucapan yang benar beserta artinya, nanti ada tahapannya sendiri. Mas mengerti kan? Ada pertanyaan sebelum kita mulai? Kalau tak ada pertanyaan, kita mulai, ya... Pokoknya Mas lepaskan saja kata-kata yang di hati, terserah dari bahasa mana.”

Penjelasan Zainullah mengingatkan saya saat menjadi anggota teater kampus, 1994-1995 (semester akhir). Dalam teori teaternya Stanislavsky, dramawan tersohor Rusia, dikenal istilah if (andai).

Seorang pemula sering terjebak pada keadaan “masih menjadi diri sendiri” sehingga kerap gagal memerankan karakter tokoh di dalam naskah. Gerakannya menjadi mekanis.

Kembali pada Zainullah dan Sukiarno. Zainullah sangat sabar membimbing Sukiarno yang kerepotan mengeluarkan kata-kata. Kadang Sukiarno terdiam cukup lama. Kalau sudah begitu, lagi-lagi, Zainullah memberi petunjuk dan sugesti pada Sukiarno, dengan mendekatkan mulutnya ke telinga Sukiarno.

“Keluarkan semua kata-kata yang di hati, jangan cari kata dan pikirkan artinya... Mau berteriak, mau marah, mau omong sambil tertawa, silakan. Bayangkan diri Mas sedang berbicara dalam bahasa tertentu...” kembali Zainullah mengingatkan.

Pelan-pelan Sukiarno mengeluarkan “bahasa Tarzan”, yang menurut logatnya merupakan campuran bahasa Mandarin, Inggris, Jerman, India, Jepang, dan Italia. Lama-lama ucapannya makin cepat dan tidak artikulatif. Anehnya, Zainullah makin kesenangan. “Ya, terus, terus, terus.... Bagus, bagus.... keluarkan terus; jangan sampai berhenti. Kalau capek, minum dulu... Ya, ya, itu bahasa India...”

Secara fonetik, sungguh sukar menuliskan kata-kata yang diucapkan. Sekilas samar-samar seperti terdengar kata-kata was-wis-wus-wes-wos, bahat-bahat sukria, buon giarno, italiano, haiya... und, dunk, moshi-moshi, dier, kurma (dalam bahasa Jepang berarti mobil), ich, yes, no, fung tse, long tse... muse gracias, buenos dias, bonjour, dan macam-macamlah. Saya pun tak tahu artinya karena urutannya tidak keruan begitu dan memang itu pula yang diminta pemandu.

Saking bersemangatnya, Zainullah dan Sukiarno pun berkeringat. Sukiarno sesekali mereguk air yang sudah diberi rapalan doa. Zainullah kadang menggerakkan tubuhnya persis orang mendapat momen transendental. Tangannya merentang, tangan kanan menjentikkan jempol dan jari tengah hingga mengeluarkan bunyi tak dua kali, pertanda ritual dimulai kembali.

Dalam keremangan malam itu saya sempat tertidur dan baru terjaga ketika Zainullah dan Rabat menepuk-nepuk bahu. “Mas, bangun. Sekarang giliran Sampean ikut penarikan...” kata Zainullah. Sedangkan wajah Sukiarno tampak seperti orang habis dihipnotis.

“Bagaimana rasanya, Mas? Apa Sampean tahu dan sadar dengan yang Sampean ucapkan tadi?” tanya saya pada Sukiarno.

Sukiarno membalas, “Tadi saya merasa dada saya sesak, kayak ada yang mengganjal. Tapi setelah saya mengeluarkan kata-kata itu, dada saya terasa plong. Soal kata-kata tadi, saya tak tahu artinya tapi saya merasa yang ucapkan itu dalam bahasa Inggris, Mandarin, India, Jerman, Perancis, dan lain-lain. Semula pikiran saya mencoba cari-cari kata dan artinya, tapi gak nyambung, makanya saya sempat berhenti beberapa kali. Nanti Anda rasakan sendiri.” Ia tersenyum.

Kami balik ke kantor pesantren dan kami menjumpai tujuh pria yang datang dengan mengendari mobil SUV (sport utility vehicle) berpelat merah. Belakangan kami ketahui mereka berasal dari Sumedang, Jawa Barat. Hanya saja mereka enggan menyebutkan pekerjaannya.

“Biasanya orang-orang yang ke sini malu menyebutkan latar belakang pekerjaannya, Mas,” Rabat membisikkan. “Kami saja biasanya tidak bertanya sampai sejauh itu. Kadang nama saja tidak kami tanyakan. Tahunya mereka datang dari mana, itu saja. Habis ritual, ya, pulang.”

Dari tujuh orang itu, empat orang di antaranya sudah tua, berjenggot, berbaju takwa, dan mengenakan peci haji. Sedangkan yang muda lebih trendi, dengan membawa tas kulit hitam dan berkemeja.

Bersama mereka saya menjalani ritual penarikan seperti yang dilakukan Sukiarno. Sebenarnya waktunya lebih lama. Namun, lantaran peserta yang tua tersengal-sengal napasnya, sedangkan sebagian pria muda tampak malu-malu, akhirnya ritual itu terpaksa dihentikan walau Andik Priyo Kunarbowo, santri senior yang menjadi koordinator ustad pemandu bahasa asing sekaligus menjadi tangan kanan Gus Sholeh, sudah berusaha sabar dan telaten memandu mereka.

“Prinsip tahap penarikan ini sebenarnya sederhana, kok. Peserta cuma diminta mengeluarkan atau mengucapkan kata-kata sambil mengimajinasikan style masing-masing penutur bahasa. Tapi terkadang peserta yang datang jauh-jauh sering tak mau meneruskan karena masih kecapekan,” ujar Andik.

Jebolan Universitas Islam Malang itu menguraikan, lama-pendeknya masa berwirid di awal tahap pertama merupakan masa untuk mengukur keikhlasan sang pembelajar. Keikhlasan yang dimaksud adalah niat dan tujuan mempelajari metode penguasaan bahasa asing versi Nurur Riyadlah.

“Ada yang datang ke sini untuk ngetes, ada pula yang benar-benar ingin mempelajarinya. Tapi itu terserah mereka saja. Kami di sini hanya membantu membuka pintu batin mereka,” katanya kepada saya seusai meladeni tanya-jawab dengan tujuh pria asal Sumedang. Mereka kemudian pamit pulang ke ke daerah asalnya meski malam sudah larut, sekitar pukul setengah satu pagi.

Masa penarikan yang terpaksa dipendekkan itu justru menguntungkan saya lantaran sempat menyaksikan Sukiarno dimandikan langsung oleh Gus Sholeh. Sebelum dimandikan, air di dalam bak diberi doa-doa tertenu yang bunyi dan artinya tidak disampaikan Gus Sholeh dengan alasan rahasia. Mandi selama kurang dari 10 menit ini ditujukan untuk menyempurnakan pembukaan hijab (tirai penutup) batin.

Walau sudah dinihari, ada delapan tamu yang datang dalam dua kelompok berbeda. Tiga pemuda kemudian berkumpul di kantor pesantren. Kami berkenalan. Mereka mengaku mahasiswa dari Surabaya.

Saya dan Sukiarno tidur sekamar di satu dari dua kamar mungil yang ada di kantor pesantren. Menjelang subuh Sukiarno terbangun, ambil air wuduk, dan menunaikan salat Subuh. Sehabis salat ia mengamalkan doa pemisah, dengan didahului dengan melafazkan basmallah 21 kali, disusul meminum air di botol kedua. Selanjutnya prosesinya sama dengan tahap pertama, hanya jumlah bilangan basmallah yang berbeda—di tahap pertama basmallah dibaca tujuh kali.

Sehabis itu Sukiarno membaca Fatihah yang ditujukan pada 11 nama yang sudah disebut di atas, disusul membaca fuh amanurullah ya hamlan amunnun... nun... nun... tarik napas dalam dan lepaskan perlahan dengan mulut terbuka. Setelah itu, Sukiarno melafazkan doa pemisah, yakni hindimu hundifar selama tiga menit—semua petunjuk ada di selembar kertas berisi tahapan doa dan wirid.

Supaya lebih jelas, berikut penjelasan Andik Priyo Kunarbowo. Peserta paket biasa (Rp 350 ribu) yang sudah melewati tahap pembuka tinggal sekali membaca fuh amanurullah ya hamlan amun. Sebaiknya diamalkan setiap sehabis salat atau minimal sehari sekali, dengan durasi tiga menit atau sesanggupnya.

Sedangkan doa hundimu hundifar diamalkan selama tiga hari sesuai waktu habisnya tahap pembuka. Misalnya, selesai pukul 12 malam, ya hitungan tiga hari dimulai dari waktu itu. Tuntas tiga hari peserta diminta mengamalkan bacaan hundimu hundifar penuh 100 persen atau seingatnya selama dua bulan, dengan durasi 3 menit. Lebih dari 3 menit juga tidak apa-apa. 

“Sesanggupnya saja. Idealnya tiga menit, tapi kurang dari itu, lebih dari tiga menit atau lupa, juga tak apa-apa. Hanya saja, harus diingat, cepat-lambatnya hasil dari proses ini tergantung dari kerajinan, ketekunan, dan kesabaran peserta mengamalkan doa-doa,” Andik menerangkan.

Setelah tiga hari tadi, bacaan fuh amanurullah ya hamlan amun dan hundimu hundifar ditutup dengan doa yang berintikan permohonan disempurnakan bahasa asing yang dikehendari. Misalnya kepingin lancar bahasa Rusia, maka doanya, “Ya, Allah mohon kesempurnaan bahasa Rusia.

Setelah dua bulan, maka santri bahasa diperkenankan membaca doa amalan penyempurnaan arti: ya hu’ binuri dzati washifati ya hamlan wajhi fil wujudi ya ruhan nur ya nurorrah ruh, ruh, ruh (Ya Allah, hamba mohon kesempurnaan bahasa.... dan artinya dengan sempurna)—ruh, ruh, ruh diucapkan sama dengan membaca nun, nun, nun. Doa ini dibaca dalam wirid. Usai salat dan wirid, santri diminta memadah doa pembuka tiga kali, yakni fuh amanurullah ya hamlan amun...

Tetapi, Andik menukas, bagi santri bahasa yang memilih paket eksklusif, hundimu hundifar tak perlu dibaca, melainkan langsung masuk tahap ketiga, yakni penyempurnaan arti sesuai bahasa asing yang dikehendaki. Doanya sama dengan yang di atas.

Setelah dua minggu (bagi peserta paket eksklusif/instan) atau dua bulan (bagi peserta paket biasa) diharuskan meminta izin sebelum mengamalkannya, sekaligus untuk mengecek kemampuannya dalam berbahasa asing yang dipilih. Cara mengeceknya, Gus Sholeh mengajak santri bahasa bercakap-cakap.

Mandi pembuka aura santri bahasa.
Andik menyarankan, “Jika sempat sebaiknya murid atau santri jalan itu harus menyediakan sebotol air mineral kemasan 600 mililiter merek apa saja, kemudian dibawa ke sini. Jika tak sempat, bisa lewat telepon. Caranya, tutup botol dibuka dan lalu dekatkan ke gagang telepon. Nanti dari jauh Kiai Sholeh memberi doa-doa.”

Namun, Andik mengingatkan lagi, sesungguhnya metode penguasaan bahasa asing itu haruslah disertai dengan belajar lagi di rumah atau di mana saja bila ada kesempatan. Semisal dengan menambah kursus, mendengarkan kaset, atau langsung berbicara dengan native speaker alias penutur asli bahasa asing.

“Ya, sebaiknya amalan yang sudah didapat ditambah lagi dengan ketekunan belajar. Cara dan medianya macam-macam. Misalnya rajin buka kamus, mendengar conversation dari kaset yang biasa dijual di toko-toko buku, dan sebaiknya langsung ngomong saja dengan native speaker. Kami di sini hanya membantu membuka pintu batin atau pintu hati. Setidaknya, jika selama ini Anda kesulitan mencerna atau menangkap pelajaran bahasa asing, bisa menjadi lebih mudah dan cespleng,” ujar lajang yang mengaku fasih berbahasa Inggris itu.

Senin pagi, 27 Juni 2005. Pesantren Nurur Riyadlah kedatangan sembilan calon santri (empat perempuan, lima pria). Mereka tidak datang bersamaan. Empat orang di antara mereka lebih dulu menyelesaikan wirid selama dua jam. Dapat dipastikan, mereka datang dengan niat dan tujuan serupa.

Tito Pinandita, misalnya, mengaku datang ke Nurur Riyadlah untuk menghilangkan kegagapannya berbahasa Inggris. “Saya datang ke sini agar bisa fasih dan mengerti bahasa Inggris, demi memudahkan penyusunan tesis,” ujar pria Sukabumi yang menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Sewaktu saya berpamitan pulang ke Malang, muncul dua orang calon santri bahasa. Rambut si cewek disemir pirang kecokelatan. Yang cowok sibuk memencet tuts Nokia 9300 yang berbodi montok. Menurut supir yang mengantar, mereka bekerja di sebuah biro iklan. ABDI PURMONO

Cuplik dan Sandi Pantang Bersusah Hati

Selasa, Juni 06, 2017 Add Comment
Bu Cuplik dan Pak Sandi di Jalan Mertojoyo, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Minggu, 4 Juni 2017. (Foto: ABDI PURMONO)

Mereka menolak mengemis karena mereka merasa masih mampu bekerja untuk menafkahi diri dan anak-anak mereka. Pantang pula bagi mereka untuk menyerah dan bersusah hati.

Kawans,

Saya sering melihat pasangan suami-istri ini berjalan keliling sambil mendorong gerobaknya di daerah Kelurahan Merjosari, Kota Malang, Jawa Timur.

Kalau mereka berjalan, jalannya sering tak lurus, bisa serong ke kanan, serong ke kiri. Ini karena mereka penyandang tunanetra. Sang suami sama sekali tak bisa melihat. Sedangkan mata kanan sang istri tak ada lagi. Tinggal mata sebelah kiri yang berfungsi, itupun tidak sempurna fungsinya.

Mereka lebih sering terlihat berhenti dan berjualan di Jalan Mertojoyo, Kelurahan Merjosari, persis di pojok kanan toko Alfamidi dan dekat kampus Universitas Gajayana.

Tiga-empat kali saya membeli buah dan jajanan lain dari mereka tanpa menawar apabila berpapasan. Sekian lama mengetahui mereka, baru tadi sore saya menyempatkan diri bertanya tentang mereka saat saya hendak membeli buah dan takjil. Mereka tidak mengenali saya.

Sang istri bernama Cuplik Elvirawati, 43 tahun; si suami bernama Sandi, 40 tahun. Ibu Cuplik asli warga Kelurahan Dinoyo, Kota Malang. Pak Sandi berasal dari Desa Luwihaji, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Bu Cuplik bekerja sebagai tukang pijat. Suaminya tidak bekerja kecuali berjualan. Dan mereka punya dua anak laki-laki yang masing-masing berumur 3 dan 6 tahun. Anak tertua sekolah di TK Dharmawanita.

Waktu saya temui Bu Cuplik agak murung. Setelah saya ajak ngobrol santai, barulah mereka memberitahu bahwa Senin, 5 Juni 2017, mereka harus melunasi sita hutang Rp 700.000 pada sebuah koperasi. Semula mereka berutang Rp 1 juta untuk membiayai sekolah anak.

Mereka menolak mengemis karena mereka merasa masih mampu bekerja untuk menafkahi diri dan anak-anak mereka. Pantang pula bagi mereka untuk menyerah dan bersusah hati.

Saya tak menjanjikan apa pun pada mereka. Tapi saat itu juga saya berniat membantu mengurangi kesusahan mereka semampu saya bersama beberapa teman meski mereka tidak meminta apa pun.

Sekiranya ada Sedulur yang mau bantu, bisa langsung ke rumah kontrakkan mereka di Jl. MT Haryono Gang VI-C No. 831. Pak Sandi pakai nomor 0856-4686-6017 (nomor telepon ini dicatat di sobekan kertas yang sudah lusuh). ABDI PURMONO


Bu Cuplik dan Pak Sandi di Jalan Joyo Raharjo, Kelurahan Merjosari, Kota Malang, Sabtu, 21 Mei 2016. (Foto: ABDI PURMONO)



CATATAN:
Catatan ini pertama kali saya buat dan poskan di akun Facebook milik saya Minggu, 4 Juni 2016 (8 Ramadan 1438 Hijriah), pukul 19.27 WIB.


Mengenal Jurnalisme Investigasi

Rabu, April 12, 2017 Add Comment
Ilustrasi jurnalisme investigasi dalam film Spotlight (2015). Sumber: Google

Jurnalisme investigasi bertujuan membongkar kejahatan dan menunjuk pelakunya.

ISTILAH investigasi sering serampangan dipakai oleh media massa terlebih oleh koran atau majalah yang terbit di daerah. Merujuk pengalaman, pemaikaian istilah investigasi lebih ditujukan untuk mendongkrak gengsi dan reputasi, atau malah untuk gagah-gagahan belaka.

Padahal liputan penyelidikan (investigative reporting) tidak segampang itu. Dalam praktiknya terbukti liputan penyelidikan lebih berat ketimbang rata-rata pekerjaan jurnalisme sehari-hari lantaran wartawan investigasi tidak bekerja berdasarkan agenda peliputan reguler.

Ambil contoh laporan panjang yang dilakukan koran terbitan Surabaya dan Malang. Harian Surya edisi Jumat, 3 Oktober 2003, menurunkan laporan panjang di rubrik Malang Raya yang berjudul Warga Batu sulit air di gelimang sumber air—penulisan judul asli demikian. Surya mewartakan kesulitan warga Kota Batu mendapatkan air justru di daerah yang sebenarnya memiliki sumber air melimpah. Memang sebuah ironi. Ini kenyataan yang menyerupai kiasan “bagai ayam semaput di lumbung padi.”

Dalam pengantarnya redaksi Surya menyebutnya laporan investigasi oleh M. Taufiq Zuhdi, wartawan gres. Penabalan istilah investigasi untuk laporan itu tidak tepat.

Sebenarnya Surya sudah mempunyai rubrik Liputan Khusus yang terbit hampir saban hari. Temanya beragam, namun kebanyakan berhubungan dengan isu-isu korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Kalau tak salah ingat, koran Malang Post juga sempat melakukan hal serupa selama tahun 2002, yang dimuat di halaman 2. Diberi nama “News Indepth” (perhatikan ejaannya). Malang Post mencoba menyoroti berbagai persoalan yang dinilai aktual dan faktual dalam tulisan sepanjang setengah bahkan pernah satu halaman. Lepas dari kualitas penulisannya, isu yang diangkat Malang Post lumayan menarik.

Antara lain, isu penyeragaman batik yang diwajibkan bagi setiap sekolah dasar (Sabtu, 7/9); rebutan aset antara Pemerintah Kabupaten Malang dan Pemerintah Kota Batu (Jumat, 13/9); relokasi pedagang buku di Jalan Majapahit alias Blok M (Senin, 23/9 dan Selasa, 31/12); televisi lokal (Senin, 30/9), serta maraknya peristiwa pencurian kendaraan bermotor (Senin, 7/10).

Lepas dari kualitasnya, apa yang dilakukan Surya dan Malang Post lebih cocok disebut in-depth reporting. Artinya, berita yang dibuat tidak benar-benar menyajikan penelusuran dan penyelidikan wartawan, melainkan semata mengungkap, mengorganisasikan, dan menganalisis fakta-fakta yang telah diketahui banyak orang dan tidak dirahasiakan lagi.

Yang membedakan investigative reporting dari in-depth reporting adalah motif dan tujuan peliputan. Pada investigative reporting, seorang atau lebih wartawan memutuskan untuk melakukan liputan investigasi lantaran mengendus adanya pelanggaran atau penyelewenangan yang merugikan kemaslahatan masyarakat, namun sengaja hendak ditutup-tutupi, serta ketidakberesan ini memang dianggap layak dan penting untuk diketahui masyarakat.

Mantan pemimpin redaksi majalah Tempo, Goenawan Mohamad, menyebut investigative reporting sebagai jurnalisme “membongkar kejahatan”. Jurnalis yang baik, akan mencoba mempelajari dokumen-dokumen bersangkutan dan membongkar tindak kejahatan di belakangnya. Majalah Tempo sendiri sudah menambahkan rubrik Investigasi setelah terbit kembali pada 6 Oktober 1998.

Adanya pelanggaran hukum bukan menjadi unsur utama dalam in-depth reporting. Tujuan in-depth reporting lebih terfokus untuk mengangkat suatu masalah secara mendalam, seperti masalah anak jalanan, pengangguran, dan nasib petani yang tak kunjung ceria. In-depth reporting biasanya disajikan dalam bentuk feature dalam satu tulisan atau lebih, sebagaimana dicontohkan Kompas lewat rubrik Fokus.

Investigative reporting bermula dari suatu anggapan atau kecurigaan bahwa something is wrong, that someone has done something wrong, yang biasanya bersumber dari informasi rahasia atau berdasarkan pengamatan seorang reporter yang jeli. Sedangkan in-depth reporting umumnya berasal dari suatu diskusi rapat redaksi yang memutuskan untuk menulis suatu laporan yang mendalam dan utuh mengenai suatu hal supaya dapat dimengerti secara lebih objektif.

Liputan penyelidikan terlanjur identik dengan pembongkaran kasus-kasus besar, semisal korupsi miliaran rupiah, skandal tokoh sekelasa menteri dan presiden, serta sindikat narkotika. Padahal, sebenarnya jurnalisme investigasi juga bisa diterapkan untuk hal-hal yang tidak terlalu besar tapi penting dan terlebih bila menyangkut kepentingan publik yang sengaja dirahasiakan.

Ada tujuh tahapan yang diperlukan dalam melakukan investigative reporting.

Pertama, smelling a story. Seorang wartawan patut curiga dan mencium adanya ketidakberesan yang pantas diketahui publik. Setelah itu penentuan subjek; apa memang layak diselidiki, apakah menyangkut kepentingan umum, seberapa besar magnitude-nya, menarik perhatian masyarakat atau tidak, bagaimana feasibiliti-nya, serta apakah didukung atasan—karena menyangkut dukungan dana, waktu, dukungan moral, penyediaan tempat (space) buat tulisan hasil investigasi. Dalam tahap ini perlu pemastian apakah liputan itu mau dikerjakan oleh perseorangan atau tim. Biasanya laporan investigasi merupakan hasil kerja tim. Apabila dikerjakan tim, lazimnya ditentukan pembagian tugas dan wewenang, serta penanggung jawab (project officer).

Tahap berikutnya adalah perencanaan (planning), mencakup semua aspek yang mungkin timbul. Lebih baik didahului dengan diskusi maupun adu pendapat (brainstorming). Jika oke, maka dibuatlah outline. Outline merupakan kerangka dari apa yang akan diselediki, diawali dengan suatu hipotesis atau asumsi dasar dari persoalan yang dipilih. Hipotesis sangatlah penting untuk membantu wartawan memfokuskan dirinya dalam suatu investigasi. Pun dalam outline disebutkan rencana pembagian tulisan. Misalnya apakah perlu pembuatan sidebars atau boks untuk memudahkan penulisan dan sekaligus memudahkan pembaca, disertai uraian singkat rencana isi masing-masing bagian.

Outline hendaknya disertai rencana waktu pengerjaan serta penentuan narasumber, termasuk narasumber cadangan jika sumber utama gagal diperoleh. Jika investigasi dikerjakan keroyokan, maka dalam outline diuraikan secara jelas pembagian kerjanya.

Berikutnya melakukan riset kepustakaan dan riset lapangan. Riset sebenarnya sudah bisa dilakukan sebelum perencanaan. Riset amat diperlukan agar selain membantu menguasai permasalahan, seorang wartawan terbantu mengetahui dan memilah mana sumber primer, mana sumber skunder. Riset juga akan memperkaya hasil laporan dengan data-data yang diperlukan, bisa bersumber dari kepustakaan, klipingan, atau dari internet.

Setelah semuanya mantap, baru turun ke lapangan. Sekalipun sudah menguasai permasalahan, seorang wartawan atau tidak akan mampu bekerja becus jika tidak menguasai keterampilan jurnalistik—news gathering dan news writing—termasuk teknik wawancara dan menembus narasumber.

Yang selalu perlu diingat, sang wartawan harus terus-menerus melakukan melakukan check, double check, dan triple check terhadap informasi dan data yang diperoleh di lapangan. Barulah setelah semua informasi tergali, tinggal menulis. Tulisan mesti otoritatif, objektif, nonpartisan, fair, impartial, serta tentu saja yang manusiawi dan enak dibaca.

Untuk mempermudah seorang investigator dalam mengatur sistematika pekerjaannya, Direktur Philippines Center for Investigative Journalism, Shella Coronel, membagi proses investigasi ke dalam dua kali tujuh bagian. Bagian pertama merupakan bagian penjajakan dan pekerjaan dasar. Sedangkan bagian kedua sudah berupa penajaman dan penyelesaian investigasi.

Bagian pertama terdiri: petunjuk awal (first lead), investigasi pendahuluan (initial investigation), pembentukan hipotesis (forming an investigative hypothesis), pencarian dan pendalaman literatur (literature search), wawancara para pakar dan sumber-sumber ahli (interviewing experts), penjejakan dokumen-dokumen (finding a paper trail), serta wawancara sumber-sumber kunci dan saksi-saksi (interviewing key informants and sources).

Bagian kedua terdiri: pengamatan langsung di lapangan (first hand observation), pengorganisasian file (organizing files), wawancara lebih lanjut (more interview), analisis dan pengorganisasian data (analyzing and organizing data), penulisan (writing), pengecekan fakta (fact checking), pengecekan pencemaran nama baik (libel check).

Begitupun, secara umum ada beberapa teknik yang biasa dipakai seorang investigator. Pertama, riset dan reportase yang mendalam dan berjangka waktu panjang untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan hipotesis.

Kedua, pencarian jejak dokumen (paper trail) yang berupa upaya pelacakan dokumen publik maupun pribadi untuk mencari kebenaran-kebenaran untuk mendukung hipotesis. Ketiga, wawancara yang mendalam dengan pihak-pihak yang terkait dengan investigasi baik para pemain langsung maupun mereka yang bisa memberikan background terhadap topik investigasi.

Keempat, pemakaian metode penyelidikan polisi dan peralatan anti-kriminalitas, termasuk melakukan penyamaran (undercover). Sedangkan alat-alat bisa termasuk kamera tersembunyi atau perekam. Kelima, pembongkaran informasi yang tidak diketahui publik maupun informasi yang sengaja disembunyikan.

Jelaslah, investigative reporting itu njelimet banget. Teori dan praktik sama-sama merepotkan sehingga dibutuhkan orang-orang pilihanm buka tipe memble, untuk dipercaya menjadi wartawan investigasi.

Wartawan investigasi harus siap fisik dan mental. Betapa besar tantangan dan risiko yang harus diterima dan dihadapi wartawan investigasi; berbeda dengan wartawan yang biasa mengerjakan laporan reguler. Wartawan penyelidik lebih sering menjadi target ancaman, jebakan, pelecehan, penipuan, dan tuntutan pencemaran nama baik. Belum lagi ancaman diputus pacar, bosan, rusaknya perkawinan, lama membujang, frustrasi, rekan kerja yang sirik, bos yang rewel, redaktur yang penakut, dan macam-macam.

Asyiknya, disadari atau tidak, dalam bekerja, seorang wartawan investigasi bisa mirip seorang peneliti, atau hakim atau detektif, atau seorang filsuf, sekaligus.


CATATAN

Disampaikan dalam Pendidikan dan Latihan Jurnalistik Tingkat Dasar se-Malang yang diadakan Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Universitas Merdeka, Malang, Kamis, 9 Oktober 2003.