PBNU Berharap Polemik tentang Nasab dan Gelar Habib Dihentikan

Kamis, April 18, 2024
Majalah TEMPO Edisi 8-14 April 2024.

Lebih banyak habib yang berakhlak terpuji dibanding habib yang ngawur

MALANG — Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan Kiai Haji Ahmad Fahrur Rozi berharap polemik mengenai nasab Bani Alawi atau zuriah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam. 

Polemik itu sudah berjalan setahun lebih dan menimbulkan sikap-sikap diskriminatif dan rasialisme terhadap semua kuturunan Arab. Ketua Umum PBNU Kiai Haji Yahya Cholil Staquf sudah menyerukan supaya polemik berkepanjangan itu distop. PBNU berpandangan polemik mengenai nasab maupun gelar habib sudah mengarah jadi politisasi suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA. 

“Kami berharap polemik ini segera mereda. Jangan sampai dijadikan alat untuk rasisme dan memecah belah sesama umat Islam. Karena saat ini jadi ramai di beberapa grup WA (Whatsapp) saling caci maki dan menjadi rasisme kebencian kepada semua keturunan Arab. Ini berbahaya,” kata Fahrur Rozi lewat pesan tertulis kepada saya, Rabu, 17 April 2024. 

Baca juga: PBNU Taiwan Menghalau Radikalisme Islam

Gus Fahrur, sapaan karib Fahrur Rozi, sengaja menghubungi Tempo untuk merespons liputan khusus Idul Fitri tentang obral gelar habib yang dipublikasikan Majalah Tempo edisi 8-14 April 2024.

Fahrur menilai liputan khusus itu sudah memenuhi prinsip keberimbangan atau cover both side berita sehingga seluruh isinya sangat bisa dipahami. Walakin, kata dia, judul sampul majalahnya saja yang mengesankan gelar habib memang diperjualbelikan dan jadi kontroversial. Padahal pelakunya oknum sehingga perbuatannya tidak bisa disamaratakan kepada seluruh keturunan Arab. 

Fahrur berpendapat, polemik tersebut berpangkal pada hasil penelitian karya peneliti asal Banten, Imaduddin Utsman, yang tertuang dalam buku berjudul Terputusnya Nasab Habib kepada Nabi Muhammad pada Mei 2023. Pengasuh Pondok Pesantren Salafi Nahdlatul Ulum Cempaka, Kabupaten Tangerang, ini meminta nasab Bani Alawi dibatalkan lantaran tiada kitab yang mengkonfirmasi keberadaan Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa Arrumi. Dengan kata lain, Imaduddin tidak mengakui nasab Bani Alawi ataupun Wali Sanga (Wali Songo) sebagai keturunan Nabi Muhammad. 

Baca juga: Pers Waras dan Tayangan Hiburan Berkualitas

Fahrur menjelaskan, argumentasi Imaduddin yang menolak nasab Bani Alawi atau Ba’alawi pada intinya hanya soal tidak tercatat dalam kitab sezamannya. Hal ini tiada dasarnya menurut ilmu fikih. 

Syarat penetapan nasab dalam kitab fikih empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) cukup hanya syuhroh wal istifadhoh, yakni telah masyhur secara luas dalam masyarakat di sebuah wilayah tanpa ada bantahan maupun sanggahan dari ulama yang otoritatif yang dibenarkan secara syariah, sebagaimana jelas tertulis dalam pelbagai manuskrip, kitab dan telah diakui oleh masyarakat setempat berdasarkan fenomena yang terjadi di zaman Rasulullah SAW, bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhu menisbahkan diri mereka kepada kabilah-kabilah dan datuk-datuk mereka. 

Namun, Nabi Muhammad tidak menuntut mereka untuk menghadirkan bukti-bukti atas kebenaran nasab tersebut. Sebaliknya, Nabi Muhammad menjadikan informasi yang telah populer atau istifadhoh secara turun-temurun ihwal keabsahan nasabnya sebagai patokan selama tiada yang menganulirnya, dan berbagai hukum pun dibangun atas dasar ini. 

Tonton juga: Pecinan dan Kampung Arab di Kota Manado  

“Andai saja Pak Imaduddin dan kawan-kawan berhenti pada kesimpulan penelitian saja tanpa provokasi, maka saya paham dan persoalannya menjadi sederhana. Bagaimanapun, mengafirmasi dan menegasi sesuatu adalah hak individu yang patut dihargai. Toh, mayoritas habaib Alawiyyin juga tidak menikmati status kezuriahan. Banyak dari mereka berprofesi seperti umumnya rakyat Indonesia, sebagai dokter, tentara, polisi, pengusaha, dan lain-lain,” kata Fahrur. 

Padahal, Ketua Ikatan Gus-Gus Indonesia (IGGI) itu menukas, hanya segelintir habib yang menikmati dan menyalahgunakan status sebagai keturunan Nabi Muhammad. Ulah buruk segelintir habib ini berdampak pada mayoritas habib yang mulia budi pekerti dan ilmunya. Habib berakhlak baik ini ikut dirundung oleh pihak-pihak tertentu walau mereka tidak menikmati privilese sama sekali. 

Fahrur membenarkan adanya segelintir habib yang akhlaknya bermasalah, seperti tercermin dari ceramah-ceramahnya yang kontroversial, penuh ujaran kebencian, cenderung suka menyombongkan gelar habib, dan bergaya hidup mewah. Habib model begini biasanya suka mendakwahkan pada jemaahnya agar meniru akhlak Nabi Muhammad, tapi justru ucapan dan tindak tanduknya sendiri tidak mencerminkan akhlakul karimah alias akhlak yang terpuji. 

Fahrur setuju habib berakhlak buruk diproses saja secara hukum. Silakan dipenjara bila terbukti bersalah. Tapi, jangan kemudian nasabnya dinistakan dan habib-habib berakhlak mulia pun ikut dihujat. 

“Jangan akibat ulah satu-dua habib, misalnya, habib-habib lain yang akhlaknya bagus diperlakukan sama, divonis dalam satu paket sebagai gerombolan pendusta, penipu, penjual agama, penjual nasab, Yahudi, antek penjajah, dan aneka cacian serta kata kotor lainnya yang bermuatan SARA. Itu adalah kezaliman, kemungkaran dan kejahatan kepada nasab mulia keturunan Rasulullah SAW,” katanya. 

Baca juga: Turun Gunung untuk Membersihkan Masjid

Menurut Fahrur, Nahdlatul Ulama percaya ada nasab habib yang tersambung pada Nabi Muhammad. Di kepengurusan harian PBNU Periode 2022-2027 terdapat sembilan habib dari berbagai daerah di Indonesia. 

Polemik tentang nasab dan gelar habib sebenarnya bukan hal baru. Fahrur merujuk pada pernyataan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kiai Haji Hasan Basri yang dipublikasikan di salah satu edisi harian Terbit tahun 1993, yakni “Tidak ada lagi anak keturunan Rasulullah di Indonesia, bahkan di dunia. Keturunan Rasulullah sudah dinyatakan terputus karena tidak adanya lagi keturunan Hasan dan Husein.” 

Pernyataan Hasan Basri dikritik keras oleh Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Ketua Umum PBNU masa itu. Gus Dur terang-terangan membela para habib. Namun, polemik ini berkepanjangan hingga dua tahun lebih lamanya. 

“Kita menghormati keluarga keturunan Rasulullah SAW itu ada dasarnya dalam al-Qur’an dan hadis. Mari saling menghormati satu sama lainnya, menghormati sebagai sesama anak bangsa untuk berjuang bersama-sama membangun Indonesia,” kata Fahrur, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur, Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. 

Baca juga: Kuasai Bahasa Asing dengan Ilmu Laduni (1)

Fahrur berpesan kepada semua habib supaya mawas diri dan berhati-hati dalam melontarkan pernyataan dan berperilaku. Habib harus mampu mendakwahkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamiin, menjadi rahmat bagi alam semesta. 

Habib jangan menyalahgunakan privilese dengan menyombongkan nasab, tapi justru memperbanyak tindakan mulia seperti diteladankan Nabi Muhammad, para sahabat Nabi, dan para ulama pendahulu. 

“Jangan menjadi (habib yang) kontroversial di masyarakat. Mereka harus menjadi contoh untuk mewarisi keteladanan ilmu, dakwah dan akhlak mulia Rasululullah SAW yang bijaksana, santun dan lembut sebagai rahmat bagi alam semesta. Ingatlah, derajat kemuliaan manusia di sisi Allah SWT (subhanahu wa ta'ala) bukanlah terletak pada nasab maupun gelar habib, melainkan ketakwaan manusia pada Allah SWT,” kata Fahrur. 

Baca juga: Kuasai Bahasa Asing dengan Ilmu Laduni (2)

Terakhir, Fahrur memberikan pesan khusus kepada Rabithah Alawiyah, lembaga pencatat garis keturunan Rasul yang berdiri pada 1928 di Indonesia, untuk lebih aktif mengawasi dan membina anggota-anggotanya supaya tidak terjadi peristiwa-peristiwa yang meresahkan dan mencoreng nama baik habib di masyarakat. 

Rabithah Alawiyah harus lebih berani bersikap tegas terhadap oknum habib yang ceramah-ceramahnya sering bersifat kontroversial dan banyak menimbulkan kegaduhan di masyarakat. ABDI PURMONO

Share this :

Previous
Next Post »