Balai Besar KSDA Jawa Timur Mulai Menghitung Stok Karbon

Minggu, Maret 24, 2024

Air terjun Gunung Baung dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Baung terlihat dari Kedai Baung pada Minggu, 1 Oktober 2023. Foto: ABDI PURMONO 

Pelatihan penghitungan stok karbon jadi salah satu cara mitigasi perubahan iklim. 

SEBANYAK 30 orang tekun menyimak penjelasan cara menghitung stok karbon di dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Baung. Hitungannya rumit, tapi menyenangkan karena mereka mendapat pengetahuan baru. 

Semua sampel diambil dengan penuh kehati-hatian dan teliti. Tiap sampel yang diambil mewakili karakteristik TWA. Pengambilan masing-masing sampel harus memenuhi prosedur standar operasi atau standard operating procedure (SOP), seperti menggunakan sarung tangan supaya supaya semua sampel yang diambil, yaitu tanah, air sungai, dan lumpur, dalam kondisi steril. 

“Hitung-hitungan pengukuran biomassa pada sampel air sungai saja, misalnya, sangat ribet. Semua sampel harus benar-benar steril. Hitungan bobot tiap sampel harus presisi karena semua itu nantinya dibawa ke laboratorium khusus untuk dihitung kandungan mikroba di masing-masing plot sampel atau plot contoh,” kata Nizam alias Oyik, seorang peserta pelatihan, kepada saya, Sabtu malam, 23 Maret 2024. 

Secara administratif, TWA Gunung Baung berada di Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Lokasinya persis di belakang Kebun Raya Purwodadi. Nama taman wisata ini merujuk pada nama Gunung Baung, gunung setinggi 501 meter di atas permukaan laut. 

Baca juga: Meriung di Camping Ground Gunung Baung, Menikmati Lingkungan Asri dan Lestari

Lokasi pelatihan persisnya dilaksanakan di zona pemanfaatan seluas 7 hektare yang dikelola Baung Canyon. Luas zona pemanfaatan hanya 3,6 persen dari 195,5 hektare luas TWA Gunung Baung. 

Oyik bersama 29 peserta mengikuti pelatihan internal atau in house training penghitungan stok karbon yang diselenggarakan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Timur itu pada 17-19 Februari 2024. Hanya Oyik warga setempat, peserta lainnya merupakan staf teknis dan pejabat fungsional dalam jajaran BBKSDA Jawa Timur. 

Seluruh peserta dipandu oleh Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Malang Kurniatun Hairiah, Ketua Program Studi Kehutanan Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutai Timur Liris Lis Komara, dan Pengendali Ekosistem Hutan Balai Besar KSDA Jawa Timur Tulus Pambudi. 

Materi teori yang diberikan antara lain ilmu dasar karbon, metode pengukuran stok karbon dengan analisis vegetasi, metode pengukuran karbon dengan penginderaan jauh, dan analisis data. Namun, para peserta pelatihan lebih diarahkan untuk mengetahui praktek pengukuran stok karbon yang mencakup praktek pembuatan petak ukur permanen (PUP), praktek sampling bawah tanah, praktek sampling permukaan tanah, dan praktek sampling di atas tanah. 

“Pelatihan penghitungan stok karbon itu berbiaya mahal. Biayanya bisa mencapai sekitar Rp 6 juta per peserta. Makanya saya dan kawan-kawan peserta lainnya merasa beruntung karena kami ikutnya gratis,” ujar Oyik, yang juga seorang pegiat pendakian dan ekowisata.

Pemandangan dari anjungan di Baung Canyon yang menghadap Gunung Baung, Pasuruan, Jawa Timur, 1 Oktober 2023. Foto: ABDI PURMONO
 

Kepada saya, Kepala BBKSDA Jawa Timur Nur Patria Kurniawan mengatakan, pelatihan menghitung stok karbon di TWA Gunung Baung merupakan proyek percontohan pertama di wilayah Jawa Timur yang diselenggarakan oleh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). 

Sekarang, kata Nur Patria, seluruh sampel yang diambil sedang diproses oleh tim Liris Lis Komara di STIPER Kutai Timur. Selanjutnya hasilnya bagus, penelitian serupa akan diterapkan di Pulau Sempu, cagar alam seluas 877 hektare yang berada di selatan Kabupaten Malang, dan kawasan konservasi yang dikelola BBKSDA Jawa Timur. 

“Kami berencana, nantinya setiap pengelola kawasan konservasi segera melakukan pengukuran stok karbon sehingga dalam tahun ini kami sudah bisa mengeluarkan stok karbon dari dalam kawasan konservasi yang kami punya,” kata Nur Patria.

Baca juga: BBKSDA Jawa Timur Mulai Menghitung Stok Karbon di Kawasan Konservasinya

Balai Besar KSDA Jawa Timur menaungi 26 kawasan konservasi, dengan luas keseluruhan 30.928 hektare. Kawasan konservasi ini terdiri dari 20 cagar alam; tiga suaka margasatwa (Dataran Tinggi Yang seluas 14.177 hektare, Pulau Bawean seluas 3.831 hektare, dan Pulau Nusa Barung seluas 6.100 hektare), serta tiga taman wisata alam (Gunung Baung, Kawah Ijen seluas 92 hektare, dan Tretes seluas 10 hektare). 

Menurut Nur Patria, ada tiga alasan TWA Gunung Baung dijadikan lokasi proyek percontohan pertama penghitungan karbon. Pertama, TWA Gunung Baung mempunyai tipe tutupan yang beragam, serta vegetasi yang lengkap dibandingkan dengan kawasan konservasi lain di Jawa Timur. 

Kedua, TWA Gunung Baung punya izin usaha pariwisata yang diberikan kepada PT Multi Agro Forestindo, pengelola Baung Canyon, serta izin pemanfaatan air untuk masyarakat dan pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM). 

Ketiga, “TWA Gunung dikelilingi oleh permukiman dan pabrik sehingga menjadi kontrol nilai total serapan carbon stock (kandungan karbon),” ujar Nur, mantan Kepala Balai Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur. 

Selanjutnya Nur Patria pun menjelaskan, pelaksanaan pelatihan internal tersebut bertema besar tentang mitigasi perubahan iklim yang berhulu pada program Forestry and other Land Use (FOLU) Net Sink 2030. Kebijakan ini diamanatkan di dalam Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon untuk Pencapaian Target Kontribusi yang Ditetapkan secara Nasional dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca dalam Pembangunan Nasional. 

Pada Pasal 3 ayat (4) disebutkan bahwa pengurangan emisi gas rumah kaca atau GRK utamanya didukung oleh sektor kehutanan dan lahan sebagai penyimpan karbon dengan pendekatan carbon net sink (penyerapan karbon bersih) yang mengacu pada jumlah penyerapan emisi karbon lebih banyak dari jumlah emisi karbon yang dilepaskan atau setidaknya tingkat serapan dan pelepasan emisi karbon dalam kondisi seimbang. 

Program FOLU Net Sink 2030 menggunakan empat strategi utama, yaitu menghindari deforestasi; konservasi dan pengelolaan hutan lestari; perlindungan dan restorasi lahan gambut; serta peningkatan serapan karbon. Targetnya cukup ambisius: menghasilkan karbon negatif 140 juta ton pada 2030.

Berdasarkan Keputusan Menteri LHK Nomor 168 Tahun 2022, target tersebut akan dicapai melalui 15 aksi mitigasi Indonesia's FOLU Net Sink 2030, yaitu pengurangan laju deforestasi lahan mineral; pengurangan laju deforestasi lahan gambut dan mangrove; pengurangan laju degradasi hutan-hutan lahan mineral; pengurangan laju degradasi hutan lahan gambut dan mangrove; pembangunan hutan tanaman; pengelolaan hutan lestari; rehabilitasi dengan rotasi; rehabilitasi non-rotasi; restorasi gambut dan perbaikan tata air gambut; rehabilitasi mangrove dan aforestasi pada kawasan bekas tambang; konservasi keanekaragaman hayati; perhutanan sosial; introduksi replikasi ekosistem, ruang terbuka hijau, dan ekoriparian; pengembangan dan konsolidasi hutan adat, serta pengawasan dan penegakan hukum dalam mendukung perlindungan dan pengamanan kawasan hutan. ABDI PURMONO

Tonton juga: Ayo Kunjungi Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Baung

Share this :

Previous
Next Post »