Catatan Kecil tentang Kuliner Aceh di Kota Malang

Kamis, Oktober 19, 2017
Mie Aceh spesial tumis dan teh tarik. Foto-foto: ABDI PURMONO 

Masakan Aceh umumnya menggunakan kombinasi rempah-rempah yang biasa terdapat pada masakan India dan Arab. Penjualnya kebanyakan berasal dari Kabupaten Pidie.

SETAHU dan seingatku, di Kota Malang terdapat lima-enam warung atau kedai yang menyajikan kuliner khas Aceh, terutama makanannya yang berupa mie dan nasi goreng. 

Warung-warung itu dimiliki dan dikelola orang Aceh sendiri maupun orang non-Aceh yang berasal dari Sumatera Utara, jiran Provinsi Aceh.

Warung yang murni dimiliki dan dikelola orang Aceh antara lain Warung Mie Aceh dan Teh Tarek Bang Ahmad (ejaan sesuai tertulis di spanduk usaha), disingkat Warung Bang Ahmad. Karena lafal kebanyakan orang, akhirnya kata Ahmad” bermetamorfosis jadi kata “Amad”. 

Warung Bang Ahmad atau Bang Amad ini berlokasi di Jalan Raya Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, kira-kira 50 meter sebelum Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) bila dicari dari arah pusat kota Malang atau sekitar 250 meter setelah Terminal Sengkaling jika dicari dari arah pusat kota Batu dan Kampus III UMM.

Ahmad yang berasal dari Kabupaten Pidie beristrikan perempuan asal Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Perlu diketahui, umumnya penjual mie aceh berasal dari wilayah Pidie, kabupaten yang beribu kota Sigli. Masakan Aceh umumnya menggunakan kombinasi rempah-rempah yang biasa terdapat pada masakan India dan Arab.

Saya menjadi salah satu saksi perkembangan usaha Bang Ahmad di Kota Malang. Usahanya diawali tahun 2010 di Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun. Pada 2011 berpindah di tepi Jalan Raya Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, jalanan yang menanjak dan agak berkelok di seberang gapura SMK PGRI 3 Tlogomas. Karena tempatnya tidak strategis dan pernah kemalingan, Bang Ahmad dipindah ke tempat yang sekarang.

Saya juga jadi salah satu saksi perkembangan usaha kuliner Pakcik Abin. Saya kenal pengelolanya, Deddy Susilo, sejak usaha mereka berumur seminggu. Usaha kuliner ini dikelola satu keluarga bermarga Nasution, salah satu marga suku Mandailing, marganya calon menantu pria Presiden Joko Widodo. Mereka berasal dari Kecamatan Tanjungpura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Salah satu pria dari keluarga Nasution ini pernah jadi kiper dan merupakan teman seangkatan bekas kiper tim nasional Markus Horison alias Apek.

Kedai Pakcik Abin diawali dengan usaha warung tenda mungil di Jalan Bendungan Sigura-gura pada 2005, semasa tepian jalan dan arus lalu lintas dari kampus Institut Teknologi Nasional (ITN) sampai Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim tidak seramai dan sepadat sekarang. Lokasinya persis di sebelah Kafe IT, yang kini ditempati penjual nasi lalapan. Mereka mengandalkan menu Melayu, meski juga mengandalkan mie dan kopi aceh, serta bandrek.

Usaha Pakcik Abin lalu digeser di dekat situ dan masih di tepi Jalan Bendungan Sigura-gura sampai kemudian “berbiak” membuka cabang di Jalan Borobudur. Pakcik Abin juga sempat berjualan nasi gurih, nasi lemak, dan makanan Melayu lainnya di Jalan Soekarno-Hatta, depan Politeknik Negeri Malang, serta sempat juga buka usaha serupa di Jalan Jakarta.

Usaha Pakcik Abin terus berkembang sampai kemudian membuka kedai terbesar di Jalan Terusan Kendalsari, Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru, yang dekat kantor Kecamatan Lowokwaru dan SMA Negeri 7 Malang.

Pakcik Abin “kantor pusat” itu gampang dicari dari Jalan Cengger Ayam. Menu yang tersedia di Pakcik Abin ini lebih banyak, tidak lagi menjadikan menu Melayu dan mie aceh sebagai andalan utama. Salah satu menu andalan di sini adalah gulai kepala ikan kakap yang, sebagai contoh saja, sangat digemari sohib saya Fajar Agastya.

Banyaknya menu di Pakcik Abin Kendalsari tentu berbeda banget dengan jumlah menu yang tersedia di Pakcik Abin Sigura-gura dan Borobudur, juga Pakcik Abin di Jalan Raya Sulfat, Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing—yang di Sulfat merupakan waralaba (franchise) grup Pakcik Abin.

Pakcik Abin dan Wak Edoy di Jalan Siguragura, 22 Oktober 2017.
Belakangan, Pakcik Abin “melahirkan” Kedai Wak Edoy, yang dikelola adik kandung pendiri Pakcik Abin. Kedai Wak Edoy hampir sepenuhnya mengandalkan menu Melayu-Medan seperti soto medan, sayur daun ubi tumbuk, kopi medan (kopi dari daerah Sidikalang), dan es kolding (kolak dingin). 

Wak Edoy berlokasi di Jalan Bunga Coklat, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, serta satu lagi di Jalan Sigura-gura. Wak Edoy di Jalan Sigura-gura satu lokasi dengan Pakcik Abin juga. Wak Edoy buka dari pagi sampai siang, setelah itu giliran Pakcik Abin buka dari sore sampai malam. 

Selain Pakcik Abin dan Bang Ahmad, sempat bermunculan warung sejenis. Sebagian tak bertahan lama. Beberapa yang saya ketahui masih bertahan dan atau sempat eksis ada di Jalan LA Sucipto, dekat Stasiun Blimbing; depan kampus UIN Maulana Malik Ibrahim, dan di tepi Jalan Joyoagung dan dekat Perumahan Joyogrand di Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru.

Sedangkan yang terbaru adalah Warung Kopi Aceh Sanger di Jalan Bunga Coklat. Lokasinya masih berdekatan dengan Kedai Wak Edoy. Warung ini mengandalkan minuman sanger yang merupakan campuran kopi hitam, susu kental dan gula. Tekstur dan rasanya mirip dengan kafelate dan kapucino (saya tulis sesuai pelafalan caffe latte dan cappucino) Warung Sanger juga menyediakan menu makanan khas Aceh pula.

Warung Sanger berusia lebih tua dari Dapur Tanah Rencong (DTR) di Jalan MT Haryono, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, dekat pertigaan Jalan Gajayana. DTR belum berumur sebulan, sedangkan Warung Sanger berdiri sejak Februari 2016. Dapur Tanah Rencong antara lain menyediakan sate dan gulai, ikan bakar, dan kerang rebus, serta tentu saja menu khas Aceh. Kalau menu ikan bakar ada di banyak kuliner suku lain.

Sedangkan kerang rebus tidak murni khas Aceh karena di Kota Medan, misalnya, banyak penjual kerang rebus. Saya salah satu penggemar kerang rebus yang cara makannya kerang rebus dicocolkan ke dalam mangkuk berisi bumbu kacang-nanas.

DTR sendiri awalnya bernama Warung Tanah Rencong, yang lokasinya di antara Apotek Kimia Farma dan Warung Tahu Campur Cak Uri Kumis. Warung Tanah Rencong menempati lantai pertama. Sedangkan di lantai dua merupakan Masjid Al-Mukhlis. Tidak sampai 1,5 tahun, Warung Tanah Rencong tutup dan ganti nama jadi DTR.

Masih di kawasan Jalan MT Haryono, persisnya di Jalan Mertojoyo, Kelurahan Merjosari (kini jalan satu arah di seberang Mall Dinoyo City) pernah ada warung kuliner khas Gayo—suku Gayo mendiami dataran Provinsi Aceh bagian tengah. Wilayah tradisional suku Gayo mencakup Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues.

Gayo boleh kesohor dengan dengan kopinya, tapi umur warung Gayo yang dikelola mahasiswa Gayo itu hanya bertahan kurang dari setahun.

Nah, dari semua warung penyedia menu khas Aceh yang saya sebutkan tadi, ada satu langganan saya sejak 2002, yaitu Warung Mie Aceh Bang Ja’far. Lokasinya di Jalan Gajayana, Kelurahan Dinoyo, persis di sebelah jalan masuk Gang II dan bertetangga dengan Toko Kue Mbak Wiwik.

Boleh dikata, Bang Ja’far pelopor warung mie Aceh. Tapi, tak lama kami berteman, ia pulang ke kampungnya di Lhokseumawe—dulu ibu kota Kabupaten Aceh Utara sebelum ibu kota Aceh Utara dipindah ke Lhoksukon—karena keluarganya jadi korban gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Sejak itu sangat lama tiada kabar Bang Ja’far sampai akhirnya saya dapat kabar ia meninggal di Jayapura, Papua. Warung yang ditinggal Bang Ja’far kini menjadi warung Minang.

Nah, begitulah catatan yang bisa saya buat. Tapi, tolong jangan tanyakan pada saya mana tempat yang lebih yahud untuk menikmati kuliner Aceh itu dan atau mana makanan Aceh yang paling enak di antara tempat-tempat makan itu.

Saya sadar saya bukan pakar kuliner atau pakar gourmet, apalagi kritikus makanan. Lagi pula, perkara selera tidaklah bisa dipaksakan; mengenai selera tidaklah bisa diperdebatkan (de gustibus non est disputandum). Sebagai satu contoh, kalau mau tahu cara terbaik menikmati dan menghayati repotnya membuat makanan lezat, silakan tonton film kartun drama Ratatouille

Kalau ada kekeliruan dan kekurangan, sudilah dikoreksi dan dilengkapi. Terima kasih. ABDI PURMONO


Catatan:

Tulisan serupa yang lebih pendek pertama kali saya tuliskan di akun Instagram pribadi saya pada siang hari ini, Kamis, 19 Oktober 2017.

Share this :

Previous
Next Post »