Janganlah Pasrah, Harimau Jawa Belum Punah?

Minggu, Oktober 01, 2017

Seekor kucing besar yang diduga antara harimau jawa atau macan tutul terekam kamera jebakan di dalam Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Provinsi Banten, yang dirilis Balai TNUK pada 25 Agustus 2017.

Status punah perlu ditinjau ulang untuk kemudian semua pemangku kepentingan bekerja sama demi masa depan harimau jawa dan perbaikan kondisi hutan-hutan di Pulau Jawa.

PARA aktivis lingkungan yang tergabung dalam Tim Pembela dan Pencari Fakta Harimau Jawa (TPPFHJ) meyakini harimau jawa belum punah. Opini bahwa kucing besar bernama ilmiah Panthera tigris sondaica itu telah punah merupakan opini yang pesimistis dan justru mengancam eksistensi harimau jawa.

Foto kemunculan seekor kucing besar yang mengarah pada sosok macan tutul (Panthera pardusyang dirilis Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) pada 25 Agustus 2017 sebaiknya disikapi positif bahwa foto tersebut bisa jadi petunjuk sekaligus harapan besar terkait keberadaan harimau jawa.

“Kita jangan gampang bersikap pasrah dan menyerah terkait lodaya (nama lokal bahasa Sunda untuk harimau jawa),” kata Sofyan, aktivis yang aktif di Badan Pekerja Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) yang juga pegiat TPPFHJ, kepada saya, Sabtu, 30 September 2017.

Menurut Sofyan, kendati telah dinyatakan punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada 1973, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 1989, dan World Wildlife Fund (WWF) pada 1996, serta beberapa peneliti hewan karnivora besar, tidak harus serta-merta menyurutkan optimisme untuk mengetahui keberadaan harimau jawa. Apalagi sudah cukup banyak data dan informasi yang mengindikasikan masih hidupnya harimau jawa.   

Sikap optimistik itu mengemuka dalam acara talkshow “Mendialogkan Kembali Harimau Jawa dan Masa Depan Hutan Jawa” yang diadakan di Kedai Jatam, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jakarta, Jumat, 29 September 2017.

Dalam acara yang sama, peneliti harimau jawa Didik Raharyono menyampaikan, sebaran habitat macan loreng—sebutan karib dari masyarakat tepian hutan Jawa untuk harimau jawa—bukan hanya di Taman Nasional Merubetiri, tempat terakhir harimau jawa terlihat, tapi juga di banyak hutan lainnya di Pulau Jawa.

Sejak 1997 Didik melakukan pengumpulan data dan informasi harimau jawa secara terstruktur. Pengumpulan data dan informasi harimau jawa diawali dengan ekspedisi Pendidikan Lingkungan untuk Kelompok Pecinta Alam (PL Kapal). Didik dan kawan-kawan tidak hanya menunggu, tapi juga menjemput informasi dari berbagai sumber.

Menelusuri hutan-hutan, memasang kamera penjebak, mengumpulkan bukti, sampai mendengarkan dengan tekun aneka cerita dan kesaksian orang-orang menjadi bagian dari proses panjang untuk membuktikan keberadaan sang raja hutan Jawa. Semua data dan informasi tersebut terdokumentasi dengan apik; mulai dari feses, gip jejak kaki, bulu/rambut, kulit, taring, kuku, maupun foto-foto cakaran serta rangkaian kalimat dari pelbagai sumber.

“Kita selama ini terkungkung, terjebak dalam opini punah, di mana opini punah ini menyebabkan semua data, informasi, dan bukti yang kami kumpulkan dan mengarah pada keberadaan harimau jawa hanya dianggap sebagai rumor, sebagai sebuah kemustahilan dan sering dikaitkan dengan klenik,” kata Didik.

Menurut Direktur Peduli Karnivor Jawa itu, berbagai argumentasi kerap dikeluarkan beberapa “ilmuwan yang pesimistis” untuk menepis bukti-bukti yang ia ajukan tanpa mau berusaha melakukan penelitian ilmiah lebih lanjut terhadap keberadaan sruni atau lareng, sebutan lain harimau jawa. Mereka justru tidak berani saat ditantang untuk membuat pernyataan terbuka mengenai kepunahan si macan gembong.

Para aktivis yang berswadaya mengumpulkan dan menyajikan informasi keberadaan harimau jawa kerap mendapat respons negatif berupa argumentasi yang menyudutkan dan menganggap hasil kerja mereka tidak pernah ada alias percuma.

Didik menuturkan, “Setiap infomasi tentang harimau jawa dari mana pun datangnya sangatlah berharga. Masyarakat pinggiran hutan jelas memiliki pengetahuan lebih dalam membedakan spesies. Apalagi para pemburu. Mereka bisa membedakan spesies didasarkan atas harga, demikian juga si pembeli. Enggak mungkin penjual atau pembeli bertransaksi dengan barang yang salah.”

Pernyataan Didik tadi mengonfirmasi beragam informasi keberadaan harimau jawa di banyak tempat. Sebagai contoh, pada 2012 ia memperoleh tentang seorang pemburu yang mendapatkan harimau jawa di Jawa Timur, serta informasi penangkapan harimau jawa pada 2014.

Untuk membuktikan masih ada-tidaknya harimau jawa tidak melulu harus mengandalkan foto. Berbagai temuan yang ada sekarang sudah lebih dari cukup untuk dijadikan dasar analisis. Selain meneliti rambut lewat tes asam deoksiribosa nukleat alias deoxyribonucleic acid (DNA), analisis dapat juga dilakukan terhadap jejak kaki yang ukurannya mengarah pada harimau jawa, yakni besar jejak melebihi 14x16 sentimeter, atau bekas cakaran berukuran lebih dari 180 sentimeter pada pohon di hutan dengan ketinggian hingga dua meter dari permukaan tanah.

Sumber: Didik Raharyono
Didik mencontohkan salah satu foto bekas cakaran harimau jawa di hutan Merubetiri tahun 1997, dengan ketinggian hingga 2 meter dari permukaan tanah. Foto ini dianggap Didik paling detail sebagai penunjuk bekas aktivitas harimau jawa. Hingga sekarang belum ada pihak yang berani menyanggah bekas cakaran itu milik harimau jawa.

“Belum ada yang berani menyanggahnya karena mereka tidak mau menelitinya. Padahal hasil penelitian sudah pernah kami serahkan kepada beberapa otoritas keilmuan,” ujar Didik.

Dari perjalanan panjang yang dilakukan TPPFHJ diketahui keberadaan harimau jawa teridentifikasi di hutan-hutan Jawa Barat (Ciamis, Gunung Ciremai, Garut Selatan, dan Tasikmalaya), Jawa Tengah (Gunung Slamet, Pegunungan Dieng-Banjarnegara, Blora), serta Jawa Timur (Gunung Lawu, Gunung Semeru, Bojonegoro, Gunung Argopuro, Gunung Raung, Merubetiri, dan Alas Purwo).

Didik menekankan, hal utama dalam melindungi dan menyelamatkan harimau jawa adalah menghilangkan asumsi punah. Apabila penilaian subjektif ini ada di kepala pemegang kebijakan atau orang-orang yang berwenang, maka bisa menghambat upaya pihak-pihak yang ingin membuktikan keberadaan harimau jawa seperti kesulitan mengakses data dan informasi yang diperlukan dari pihak pemegang kebijakan dan wewenang tersebut.

Karena itu, pengerahan tim TNUK untuk melacak keberadaan harimau jawa sangat patut diapresiasi sebagai langkah awal untuk dikembangkan ke wilayah-wilayah lain yang terindentifikasi menjadi habitat harimau jawa. Upaya ini pun didukung Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Sebagai top predator, keberadaan harimau jawa dapat menentukan keberlanjutan hutan-hutan di Pulau Jawa. Kondisi hutan-hutan saat ini mengalami tekanan degradasi yang luar biasa. Hutan Gunung Slamet, misalnya, sekarang mengalami tekanan akibat pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geotermal. Pembukaan hutan untuk pembangunan energi bersih seolah melegalkan perusakan dan mengabaikan dampak buruk yang bisa ditimbulkan, mulai mengganggu fungsi hidrologi sampai risiko terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, serta terganggunya habitat harimau jawa.

Hasil penelitian yang dilakukan Didik dipublikasikan melalui laman Peduli Karnivor Jawa dan dijabarkan dalam buku Berkawan Harimau Bersama Alam yang diterbitkan Komunitas Pecinta Alam Pemerhati Lingkungan (Kappala) Indonesia dan The Gibbon Foundation pada 2002.

Siti Maimunah, salah seorang peserta Ekspedisi Harimau Jawa 1997, juga mengingatkan kondisi Taman Nasional Meruberitiri yang saat ini mengalami gangguan eksploitasi tambang emas. Status punah bagi harimau jawa bisa saja jadi salah satu alasan menurunkan status kawasan hutan untuk kemudian melegalkan aktivitas penambangan yang merusak fungsing-fungsi ekologis kawasan.

Pada akhirnya, seperti dikatakan Melir dari Lingkar Yogyakarta, peserta talkshow sepaham bahwa harimau jawa masih ada. Bukti-bukti yang disampaikan Didik Raharyono kian menguatkan keyakinan itu. Mereka sangat berharap bisa bahu-membahu dengan para pemangku kepentingan sesuai dengan keahlian masing-masing untuk bersama-sama berupaya melindungi dan menyelamatkan harimau jawa dan habitatnya.

Sehubungan dengan keyakinan itu, mereka meminta status kepunahan harimau jawa ditinjau ulang. Opini punah justru mengancam keberadaan harimau jawa lantaran membuat publik, terutama para pemangku kepentingan, bisa bersikap tidak peduli atau apatis dan pasif. 

Kata Sofyan, keyakinan itu akan mereka tindaklanjuti dengan melakukan talkshow serupa di Yogyakarta pada 8 Oktober nanti, serta diagendakan bisa digelar di Surabaya, Malang, dan Jember. Setelah itu baru dilakukan ekspedisi pencarian harimau jawa di TNUK pada akhir Desember tahun ini bersama para aktivis pecinta alam, seperti ekspedisi yang dilakukan di Merubetiri pada 1997 dan Gunung Slamet pada 1999.

“Doakan, Mas, semua rencana itu berjalan lancar. Yang terpenting nantinya publik paham dulu untuk kemudian tetap optimistik bahwa harimau jawa belum punah,” ujar Sofyan. ABDI PURMONO

Share this :

Previous
Next Post »