Jelang Ramadan di Masjid Taj Mahal Malang

Senin, Maret 20, 2023

 


Masjid Salman Al Farisi di Dusun Karangampel, Desa Karangwidoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, Senin, 20 Maret 2023. Foto-foto: ABDI PURMONO

BELASAN perempuan berjalan pelan meninggalkan Masjid Salman Al Farisi seusai mengikuti pengajian yang dipandu Ustad Deden Ferry pada Senin pagi, 20 Maret 2023. 

Di saat bersamaan, puluhan santri putra Islamic Boarding School (IBS) Al Hamra berlarian ke kamar masing-masing saat jam rehat belajar.  Sekelompok santri tampak meriung di sebuah gazebo di halaman sekolah, yang bersebelahan dengan lapangan basket. 

Masjid Salman Al Farisi dan IBS Al Hamra berada dalam satu kompleks seluas hampir 2 hektare yang dikelola Yayasan Assunnah Husnul Khotimah. Secara resmi, pihak yayasan menyebutnya sebagai Kompleks Masjid Salman Al Farisi. 

“Kami tidak libur sekolah di awal Ramadan nanti. Pas pertengahan Ramadan baru boleh pulang ke rumah keluarga. Nanti dijemput orangtua ke sini,” kata seorang murid. 

Kompleks Masjid Salman Al Farisi berada di Jalan Raya Karangampel RT 08 RW 02, Desa Karangwidoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. 

Juru Bicara IBS Al Hamra Abdul Fattah Yasin Tsalis alias Ustad Tsalis mengatakan, pihak sekolah baru meliburkan seluruh santri saat masuk pekan ketiga Ramadan 1444 Hijriah hingga sepekan Lebaran. Selama dua pekan (hari pertama sampai ke-15) Ramadan, seluruh santri diarahkan untuk lebih intensif berinteraksi dengan al-Qur’an. 

“Sekitar seminggu sebelum Ramadan, kami mengadakan bakti sosial berupa pembagian sembako bagi warga setempat yang membutuhkan. Sedangkan selama Ramadan, biasanya kami melakukan tadarus, menyelesaikan hafalan Qur’an, dan khataman,” kata Ustad Tsalis kepada saya.

Baca juga: Menengok Masjid Apung di Teluk Palu

SMP IBS Al Hamra beroperasi sejak 2019 dan untuk sementara menerima santri putra saja. Jumlah santri di pondok pesantren modern ini sekitar 200 orang campuran kelas 1 sampai kelas 3. Jumlah mayoritas santri berasal dari Jawa Timur, yaitu Surabaya, Malang, Sidoarjo, dan Gresik. Selebihnya berasal dari Kalimantan dan Papua.  

Jadwal kegiatan harian santri diatur mulai pukul 03.30 pagi sampai pukul 9 malam atau diawali dengan salat tahajud dan ditutup dengan kegiatan muhasabah (introspeksi) malam bersama musyrif (pengasuh) selama 30 menit mulai pukul 20.30 WIB. 

Padatnya kegiatan harian bertujuan supaya terbentuk generasi muslim unggulan dengan fondasi akhlak Al-Qur’an. Di IBS Al Hamra saat ini ada 10 santri yang mampu jadi penghafal Al-Qur’an (hafiz) dalam tempo kurang dari tiga tahun. “Itu lebih cepat dari target 3 tahun masa sekolah,” ujar Tsalis. 


Sejatinya, nama IBS Al Hamra turut terangkat oleh kepopuleran Masjid Salman Al Farisi. Namun, nama resmi masjid seluas 1.600 meter persegi ini pun tidak begitu dikenal masyarakat. Carilah nama Masjid Taj Mahal, kemungkinan besar masyarakat di Desa Karangwidoro umumnya dan khususnya penduduk Dusun Karangampel, bisa langsung mengenali Masjid Salman Al Farisi. 

Tsalis mengakui, masyarakat memang lebih mengenal nama Taj Mahal sebagai julukan Masjid Salman Al Farisi. Masjid ini mulai dibangun oleh Yayasan Assunnah Husnul Khotimah pada 2012 di atas lahan 1,8 hektare. Pembangunannya selesai dan mulai digunakan pada medio 2017. 

Julukan Masjid Taj Mahal bagi Masjid Salman Al Farisi merujuk pada kemiripan fasad (muka bangunan) masjid dengan fasad mausoleum (bangunanan makam nan luas dan megah) di Agra, Uttar Pradesh, India. 

Situs Warisan Budaya Dunia yang ditetapkan oleh UNESCO pada 1983 ini juga berfungsi sebagai masjid bernama sama. Tentu saja, kaliber bangunan Masjid Taj Mahal di Malang tiada sebanding dengan Taj Mahal yang asli. 

“Masjidnya memang lebih dulu dibangun. Sekolahnya dibangun belakangan saat masjidnya viral disebut masyarakat sebagai Masjid Taj Mahal. Jadi, kepopuleran masjid ikut menaikkan nama sekolah,” kata Tsalis, alumni Politeknik Negeri Malang. 

Baca juga: Oase Ramadan di Hamamatsu

Kompleks Masjid Salman Al Farisi dikelilingi ladang jeruk, berlatar gugusan Gunung Putri Tidur—julukan bagi gabungan Gunung Kawi (2.551 meter di atas permukaan laut/mdpl), Gunung Butak (2.686 mdpl), dan Gunung Panderman (2.045 mdpl). 

Lokasi kompleks terpisah cukup jauh dari permukiman penduduk bertujuan supaya santri bisa lebih fokus menjalani pendidikan di IBS Al Hamra. Namun, pergaulan dengan masyarakat sekitar tetap dipelihara semisal dengan melakukan bakti sosial. 

Pembangunan masjid didahulukan dengan tujuan menjadikan masjid sebagai ikon dan mercusuar dakwah agama Islam bagi masyarakat dan santri. Selain digunakan untuk pelaksanaan salat lima waktu, Masjid Taj Mahal juga dipakai sebagai tempat untuk pelaksanaan salat tarawih dan pengajian di bulan suci Ramadan. 

Kompleks Masjid Salman Al Farisi memang milik Yayasan Assunnah Husnul Khotimah, tapi pengelolaannya dikerjasamakan dengan Pengurus Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang. Makanya, pengajian Pengurus Ranting Muhammadiyah Karangwidoro rutin dilakukan. Sebulan sekali diadakan pengajian khusus bersama para wali santri. 

“Masjid kami terbuka bagi masyarakat sekitar yang ingin melaksanakan salat maupun kegiatan keagamaan Islam lainnya. Melakukan iftar (buka puasa) dan salat tarawih bersama boleh dilakukan di sini,” ujar Tsalis. 

Baca juga: Nuansa Ramadan di Nagoya dan Toyohashi

Masjid Salman Al Farisi mempunyai tujuh menara dan lima kubah. Empat kubah berukuran kecil dan satu kubah berukuran besar (kubah utama). Interior masjid gabungan unsur modern dan tradisional. Ada empat pilar dan pada tiap pilar terpasang lampu tempel bercorak klasik. 

Bagian mihrab (tempat imam) terbuat dari marmer berkombinasi warna cokelat tua dan abu-abu. Dinding bagian depan dilapisi marmer warna cokelat muda. Jendela dan pintu terbuat dari kusen kayu jati. Kaca hias jendela berwarna merah marun dan cokelat, berpadu serasi dengan interior lainnya. 

“Bagian luar memang mirip dengan bangunan Taj Mahal, tapi bagian dalamnya berbeda sama sekali,” kata Tsalis. 

Tsalis mengaku tidak tahu alasan arsitektur masjid dibuat mirip dengan Taj Mahal. Pihak Yayasan Assunnah Husnul Khotimah mempercayakan urusan desain masjid pada sebuah tim. 

Pembangunan masjid membutuhkan lebih dari empat tahun. Lamanya pembangunan dikarenakan keunikan bentuk masjid dan banyak detail yang menuntut ketelitian tinggi saat penggarapan. 

Ustad Deden Ferry (ketua yayasan), Tsalis, dan unsur yayasan lainnya baru menyadari kemiripan Masjid Salman Al Farisi dengan Taj Mahal setelah mulai ramai diperbincangkan masyarakat, terutama lewat media sosial, saat masuk tahap penyelesaian akhir pada 2016. 

Pihak yayasan tidak keberatan dan justru sangat berharap penyebutan Masjid Taj Mahal bisa mengundang masyarakat untuk memakmurkan masjid itu. 

Sebelum IBS Al Hamra berdiri dan lingkungan masjid masih terbuka tanpa pagar, hanya dikelilingi ladang tebu (sebelum berubah jadi kebun jeruk), Masjid Salman Al Farisi sangat ramai dikunjungi warga, baik yang ingin melaksanakan salat maupun melakukan wisata religi. Pada bulan Ramadan, banyak warga yang menghabiskan waktu untuk ngabuburit atau melaksanakan salat tarawih berjemaah.  

Baca juga: Lebaran di Shizuoka

Kini, setelah kompleks masjid dipagari karena sudah dihuni pengurus yayasan dan para santri, Masjid Salman Al Farisi tidak bebas lagi dikunjungi. Setiap orang masih boleh masuk ke sana dengan meminta izin lebih dulu pada petugas sekuriti. Jangan khawatir, petugas sekuritinya sangat ramah kok.

Tsalis memastikan tiada larangan bagi setiap muslim yang ingin salat di Masjid Salman Al Farisi. Takmir masjid pun membolehkan masyarakat melakukan ngabuburit atau ikut salat tarawih berjemaah di sana. 

“Untuk buka puasa, biasanya ada sumbangan dari para wali santri,” kata Tsalis, menutup pembicaraan. ABDI PURMONO

Share this :

Previous
Next Post »