Segar Manis Jeruk Dau di Malang

Minggu, Agustus 19, 2018
Foto-foto: ABDI PURMONO

PELANCONG yang memasuki Kota Malang kini mempunyai alternatif pilihan destinasi wisata alam yang tak jauh dari pusat kota.

Dengan mengendarai kendaraan pribadi dan melintasi jalan beraspal sejauh 10 kilometer ke arah barat, mereka bisa menjangkau Desa Wisata Jeruk di Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Jika langit cerah, dari desa ini pelancong bisa memandang Gunung Semeru, Gunung Arjuna, dan Gunung Kawi.

Selain bisa menikmati kesegaran alam dataran tinggi 800 sampai 1.200 meter di atas permukaan laut, pelancong mencicipi kesegaran dan manisnya java baby atau jeruk peras pacitan, valencia (teksturnya mirip jeruk baby tapi berasa campuran manis-kecut), keprok punten 55, dan siam pontianak. Namun, tanpa membedakan jenisnya, jeruk-jeruk itu lazim disebut jeruk dau sehingga jadi merek dagang tersendiri seperti halnya nama apel malang maupun apel batu.

Tonton video: Desa Wisata Jeruk Dau di Malang.

“Mayoritas wisatawan yang ke sini bertujuan untuk belanja jeruk baik di makan di tempat seperti lewat atraksi petik jeruk maupun untuk dibawa pulang. Sekarang makin banyak wisatawan luar Malang yang ke sini,” kata Bambang Soponyono, sang kepala desa. 

Menurut Bambang, seluruh varietas jeruk itu merata ditanam di lahan 750 hektare di seluruh Kecamatan Dau, tapi lahan jeruk di Selorejo yang terluas, yakni sekitar 230 hektare dari sekitar 286 hektare luas Desa Selorejo.

Hal senada disampaikan Diono, salah seorang petani. Menurutnya, jeruk dau paling terkenal karena lokasi Selorejo paling dekat dengan pusat kota Malang, ditambah penyebarluasan informasi jeruk dau lewat media massa dan media sosial.

Diono tidak hanya menjual jeruknya di kios Belik Biru tapi juga menjual jeruk lewat wisata petik jeruk di kebunnya. Diono tidak mematok jumlah wisatawan dilayani. Per orang pun boleh petik jeruk dengan membayar tiket masuk Rp 20 ribu per orang dan tiap kilogram jeruk manis keprok yang dipetik dipatok Rp 8 ribu. Kalau rombongan bisa dapat diskon tiket masuk antara Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu per orang.

Diono biasa melayani rombongan berisi 10-20 orang yang ingin mencicipi serunya petik jeruk. Rombongan wisatawan lebih sering dilayani saat musim liburan sekolah. Pengunjung diberi informasi seputar teknik bertanam jeruk, memetik, hingga cara memakan jeruk yang benar. Di lokasi wisata petik jeruk yang lebih luas, biasanya disediakan pemandu.

“Saya kadang-kadang jadi pemandunya langsung bila rombongannya besar. Soal jumlah, saya bebas saja. Enggak harus pakai janjian lewat telepon juga enggak apa-apa. Silakan langsung ke sini. Seorang pun yang mau petik jeruk saya layani,” kata Diono.

Baca juga: Bila Kucur Rindu Hutan.

Banyaknya wisatawan mengunjungi Selorejo biasanya kelihatan terutama pada masa liburan sekolah bulan Juni dan akhir pekan sepanjang musim panen Juni-Desember.

Jeruk dau sudah jadi merek ikonik Kabupaten Malang meski sentra jeruknya juga ada di Kecamatan Karangploso, Kecamatan Wajak, dan Kecamatan Poncokusumo.

Kepopuleran jeruk dau yang menarik minat Robert Ardyan dan keluarga datang jauh-jauh dari Kabupaten Pasuruan hanya untuk merasakan sensasi petik jeruk hingga menimbangnya sendiri. Foto hasil kunjungannya kemudian dibagikan lewat akun Instagram miliknya.

“Saya orang yang terjebak dalam Instagram. Pemotretan di kebun jeruk ceritanya itu,” ucap Robert sembari terbahak. 

Berdasarkan penjelasan sejumlah warga, jeruk dau Selorejo mulai dikenal sejak masyarakat setempat merintis desa wisata jeruk pada 2011. Perintisnya Sulawi dan Sulaiman. Kini, akses jalan menuju Selorejo makin bagus. Banyak rumah besar warga yang menandai peningkatan perekonomian desa berkat bisnis pembudidayaan jeruk. 

Selorejo kemudian menjadi satu dari 17 desa wisata baru yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan pada 2016-2017. Bupati Malang Rendra Kresna menyatakan akan terus menambah jumlah desa wisata tiap tahun sebagai bagian program pengembangan pariwisata berbasis partisipasi masyarakat dan keunikan potensi lokal. ABDI PURMONO



Catatan:

Artikel serupa editan Tempo berjudul Segarnya Alam dan Jeruk Dau di Desa Wisata Jeruk Malang, Senin, 20 Agustus 2018.

Share this :

Previous
Next Post »