Cinta Terlarang Julian dan Benda

Minggu, Februari 28, 2010
Sumber: Pixabay.com

RINAI gerimis mempercemat malam. Jam dua puluh lima belas. Nyala lampu di dalam Gedung Utama TBSU (Taman Budaya Sumatera Utara) dipadamkan. Penonton bersiap menjadi saksi satu pergelaran drama tradisional oleh Teater Patria, Medan. Tetapi, sebentar. Sabar. 

Sewaktu lampu masih murup, kita lihat selembar kain putih ditantung di tubir panggung. Perhatikan aksara dan angka yang rapi disusun: "Pergelaran Drama Tradisional Daerah Sumatera Utara 'Tunggal Panaluan', 23 Agustus 1996. Jam 20:00 WIB. Kanwil Depdikbud Provinsi Sumatera Utara Dalam Upaya Pengembangan Taman Budaya Provinsi Sumatera Utara 1996/1997." 

Lalu, cocokkan dengan tulisan di kertas undangan—kebetulan saya peroleh dari Hesti, gadis manis berjilbab, siswi SMUN 5 Medan. Hasilnya persis sama. Yang jadi pertanyaan, kesenian daerah (drama tradisional) atau TBSU-kah yang sesungguhnya ingin dikembangkan? Aneh, siapa yang peduli terhadap drama tradisional? Siapa yang peduli terhadap sebuah spanduk?

Maaf, tulisan dalam spanduk tadi terasa tolol, atau malah terasa cerdik. Ah, seperti di mana-mana, di jalanan Kota Medan masih ada kalimat tolol dan ada kalimat cerdik yang menempel di kain warna-warni menyolok. Meriah. Dan ketika penonton diminta (atau diimbau) mengisi barisan tempat duduk di depan, saya merasa geli. Dan terus terang, saya juga khawatir, jangan-jangan pertanyaan dan tulisan ini terasa naif, tolol, tak cerdik. Dan baiklah, kita balik ke lakon (naskah/sutradara: Amiruddin A.R.) ini.

Lakon ini berkisah tentang dua anak raja yang kembar berlainan jenis kelamin, Panaluan dan Benda. Mereka saling kasmaran. Hubungan mereka menjadi “gosip resmi” dan bahan ngerumpi bagi rakyat. Tentu saja hubungan mereka ditentang raja lantaran dinilai mencemarkan nama baik keluarga kerajaan, terlebih melanggar adat. Tapi, cinta itu buta. Hubungan mereka show must go on alias jalan terus. Raja tak kuasa memisahkan mereka.

Raja pun murka. Panaluan diusir dari istana, Benda mencari. Mereka saling mencari dan bertemu di hutan. Mereka melakukan hubungan sebadan yang berakibat fatal: mereka lengket pada sebuah pohon.

Namanya orangtua, kehilangan dua orang anak membuat raja dan istri diselubungi duka nan mendalam. Dengan dibantu anggota keluarga, para datuk dan rakyat, raja beserta istri mencari anaknya ke dalam rimba. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan mereka ketika mendapati keduanya lengket di pohon, cuma mampu berteriak minta tolong dan ampun. Mulajadi Nabolon sudah menakdirkan nasib mereka begitu, sehingga siapa pun yang berusaha menolong akan mengalami nasib serupa.

Selanjutnya, atas permintaan raja, tukang ukir membuatkan tongkat dari kayu sejenis, yang berukiran keadaan Panaluan, Benda, dan lainnya. Oleh raja, tongkat tersebut dinyatakan sebagai tongkat kerajaan dan diberi nama Tunggal Panaluan.

Kemudian, lampu di panggung dipadamkan. Gelap. Ternyata lakon selesai (?). Sebenarnya tidak.

Penampilan Teater Patria mungkin akan lebih muda dipahami (dan dimaklumi) apabila dipadang sebagai suatu proses. Sebagai sebuah peristiwa, kegiatan pementasan (teater) pada dasarnya memang demikian. Ada semacam dinamika yang akan terus bergerak di dalamnya.

Jadi, sebenarnya sebuah pementasan belumlah “pola pamungkas” betapa pun ia kerap kali ditengok sebagai “hasil akhir”, karena pertunjukkan drama acapkali bersifat di sini dan kini (hit en nunc). Paling tidak, dalam konteks teater adalah sebuah proses, ada janji yang ditawarkan Teater Patria.

Dengan kisah yang begitu sederhana, dari segi cerita, penampilan Teater Patria cenderung terasa seperti sebuah “tontonan tujuh belas Agustusan”. Tak ada konflik berarti, apalagi sebuah bangunan cerita yang membawa pesan moral yang sublim bermuatan renungan filosofis. Kisah hanya beberan cerita seadanya, tanpa kedalaman dan penjelajahan imajinatif atas tema.

Untuk para remaja yang tampaknya sengaja dimobilisasi dengan harapan menjadi publik teater di masa depan, dan peminat teater yang pemula, termasuk saya, lakon ini pantas ditonton. Hitung-hitung buat perbandingan dalam menggeladi teknik bermain drama. Mumpung lakon ini konvensional.

Bahwa kisah diakhiri dengan penyesalan dan rasa berdosa yang percuma dari Panaluan dan Benda, rupanya hal itu tidak ditelusuri lebih jauh untuk dijadikan simpul yang menawarkan sebuah pesan (message) tentang ketidakberdayaan manusia berhadapan dengan garis nasibnya. Semestinya tema itu dapat dikembangkan lebih dalam dengan menyodorkan diskusi mengenai kenisbian manusia, atau dengan menghadirkan dialog kemanusiaan.

Saya pun jadi teringat Gus Dur. “Manusia tak sepenuhnya bisa diprogram. Ia hanya bisa ditakdirkan,” Kalau ingatan saya tak bengkok, demikian ia pernah berkata.

Kendati begitu, tetap ada yang menarik dari pementasan itu. Diam-diam, walau masih terasa wagu, sebenarnya Teater Patria berusaha membawa semangat teater rakyat. Ini tak cuma tampak pada pilihan tema, tetapi juga pada pilihan bentuk ucap (bahasa), musik, dan tari. Semua nyaris bernuasa Batak Taput. Khusus untuk bahasa yang dipakai dan tari yang digerakkan, keduanya condong masih berperan sebagai kolase-kolase. Bahasa Batak yang diucapkan dapat dimafhumi mengingat penonton yang tidak tahu dan tidak mengerti bahasa Batak pasti jauh lebih banyak. Dari sudut komunikasi, hal ini sangat membantu penyampaian pesan. Sementara tari, aspek teateralnya belum tergarap penuh.

Bagaimana hasil akhir penjelajahan itu, Teater Patria masih harus membuktikan lebih lanjut dengan karya-karya yang lebih segar dan jenial. Waktu yang tersedia tak cukup memadai untuk dijadikan titik tolak final dari sebuah pertunjukkan. Apalagi berbagai kelemahan elementer dari sebagian besar dari 18 pendukungnya masih membayangi. Ini sangat jelas terlihat dari pengaturan komposisi yang terkesan ragu-ragu dan sadar ruang yang lemah sehingga panggung terasa sesak. Vokalisasi pun perlu diperhatikan.

Dengan semangat yang diperlihatkan para kru, kemauan berlatih dan mencoba terus menerus, ditambah dinamika para muda pendukungnya, bukan mustahil Teater Patria akan menemukan bentuk ungkap yang baru yang lebih menarik, dan meraih sukses. Riuhnya suitan dan tepuk tangan bukan berarti tanda eulogia (pujian) untuk sebuah kesuksesan. Boleh jadi, suitan dan tepuk tangan itu muncul dari ketidakmengertian penonton, yang justru membuat ketidaknyamanan dalam mengapresiasi sebuah repertoar.

Di samping itu, terima kasih perlu kita sampaikan kepada (almarhum) Bapak M. Marpaung, pimpinan Opera Batak “Pir Tondi Matogu”, yang meringkas-ceritakan lakon ini. Kepada TBSU dan para seniman yang “berwisma” di dalamnya, kita berharap tak hanya “menunggu Godot”. Dan, memang, dunia teater adalah persoalan sikap.

Buat semuanya, horas! ABDI PURMONO


CATATAN:
Tulisan ini dimuat di harian WASPADA Medan edisi Jumat, 6 September 1996.

Share this :

Previous
Next Post »