Melacak Jejak Douwes Dekker di Malang

Jumat, September 07, 2012
Simpang tugu Desa Taman Kuncaran.
Naskah dan foto: ABDI PURMONO


SEPOTONG kabar baik datang dari Belanda. Lokasi kebun Sumber Duren yang saya cari selama sepekan bisa diketahui dari surat elektronik yang dikirim Nico van Horn, petugas arsip di KITLV atau Koninklijk Instituut voor Taal en Volkenkunde (Lembaga Studi Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda), Leiden.

“Soember Doeren adalah nama sebuah perkebunan kopi yang dimiliki oleh Handelsvereeniging Amsterdam, 15 kilometer ke selatan dari (pusat kota kecamatan) Dampit. Perkebunan juga memproduksi karet dimulai pada 1891,” demikian ditulis van Horn kepada saya pada Selasa pagi, 7 Agustus 2012.

Kabar dari Leiden mendorong saya membentangkan peta Kabupaten Malang di atas meja. Hampir dapat dipastikan, Sumber Duren berlokasi di Desa Taman Kuncaran, Kecamatan Tirtoyudo. Kepastian lokasi dikonfirmasikan oleh Suyitno, sang camat.

“Mas, saya sudah cek dan benar ada Sumber Duren di sana. Itu nama perkebunan seperti yang Sampean cari, tapi soal Douwes Dekker-nya kami tidak tahu. Silakan langsung dicek saja ke sana, Mas,” kata Suyitno.


Sumber Duren penting dicari karena bertalian dengan sejarah Ernest Francois Eugene Douwes Dekker alias Danudirdja Setiabudhi, salah seorang pendiri Indische Partij, partai politik pertama di Hindia Belanda (berdiri di Bandung, 25 Desember 1912) dan pahlawan nasional, pernah menjadi pengawas Kebun Soember Doeren. 

Pada Rabu pagi, 8 Agustus, saya ke Taman Kuncaran. Butuh waktu 1,5 jam untuk menjangkau kantor desa yang terpaut jarak sekitar 50 kilometer dari pusat kota Malang.

Tanpa disangka, Sekretaris Desa Taman Kuncaran Untung Slamet langsung menyambut. Ia memang sudah menunggu. Ia bilang sudah dipesan oleh Suyitno untuk menemani berkeliling desa. Padahal, saya tak meminta apa pun pada Suyitno kecuali informasi seputar Sumber Duren.

“Kalau tak ditemani, nanti Sampean bisa nyasar-nyasar dan kebingungan. Lokasinya masih jauh dari sini,” kata Untung, yang ditemani H. Sukarto, Kepala Dusun (Kamituwo) Taman Gilang. “Tapi kalau soal Douwes Dekker, kami sama sekali tidak tahu dan baru tahu sekarang. Informasi baru ini membuat kami ikut senang karena bisa menjadi nilai tambah sejarah bagi desa kami.”

Desa seluas 676 hektare itu berada di kaki Gunung Semeru, gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa yang menjulang setinggi 3.676 meter dari permukaan laut. Pucuk Semeru yang berpasir kelabu serasa begitu dekat. Sepanjang 2011-2012 Semeru sudah beberapa kali meletus. Desa-desa di bawahnya, termasuk Taman Kuncaran, menerapkan kesiagaan tingkat satu hingga sekarang.

Pagi itu Semeru tampak tenang dan berwibawa. Pucuk-pucuk pinus bergoyang-goyang dibelai angin. Hawa sejuk menyegarkan. Hamparan sawah hijau menyehatkan mata. Gemericik air bikin hati serasa damai. Air di saluran irigasi lancar mengalir hingga ke kali. Kebun kopi ada di mana-mana. Aroma kopi dan cengkeh yang dijemur di banyak tempat semerbak.


Boleh dibilang, mayoritas penduduk Taman Kuncaran sudah makmur bila dilihat dari bangunan rumah-rumah warga yang permanen dan besar. Semua rumah beratap genteng berwarna merah bata. Sebagian rumah bergaya kolonial dan memiliki mobil.

Untung memberitahu, dari 1.130 keluarga (berpopulasi 4.010 jiwa), tercatat ada 21 persen atau 238 keluarga miskin. Seluruh keluarga mendiami lahan desa seluas 30 hektare. Sisa lahan berupa sawah seluas 126 hektare, ladang 240 hektare, dan kebun kopi 282 hektare.

“Alhamdulillah, ini berkah dari alam, terutama dari kebun-kebun kopi. Tempat kami merupakan salah satu sentra produksi kopi terbesar dan terbaik di Jawa Timur. Dari zaman Belanda sampai sekarang, semua produk biji kopi dijual di Dampit sehingga lebih dikenal sebagai kopi Dampit. Padahal, asalnya dari desa kami,” kata Untung.  

Desa Taman Kuncaran terdiri dari dua dusun, Krajan dan Taman Gilang. Untung dan Sukarto menemani berkeliling dari kantor desa di Krajan hingga ke ujung Taman Gilang dengan melintasi jalanan beraspal bagus sampai jalan makadam berbatu dan menanjak.

Sisa kejayaan Perkebunan Wonokoyo masih berbekas pada beberapa infrastruktur sarana irigasi dan dam yang dulunya diduga merupakan saluran pembuangan limbah pengolahan kopi. Saluran ini berada di RT 06/RW 03 Dusun Krajan dan sebagian tertutup sawah.

Kantor Perkebunan Wonokoyo terletak di RT 02/RW 01 Dusun Krajan. Persisnya di lapangan desa seluas hampir satu hektare. Di tengah lapangan masih didapati sisa pondasi pabrik yang tertutup rerumputan. Di sisi utara masih tersisa tembok pembatas setinggi semeter.

Di sekeliling lapangan terdapat deretan rumah penduduk dan SDN Taman Kuncaran II. Sekolah dasar ini dulunya merupakan gudang penyimpanan barang-barang bekas pabrik atau tempat bersalen.

Kantor Desa Taman Kuncaran sendiri menempati bekas jalan ke loji atau kompleks perumahan karyawan. Loji kini menjadi deretan rumah warga. Bekas tangsi atau markas kompeni kini menjadi pabrik singkong yang tak lagi berproduksi.

Peta Desa Taman Kuncaran.

Sedangkan kebun-kebun milik Perkebunan Wonokoyo tersebar di Dusun Taman Gilang. Letak dusun ini lebih tinggi. Lahan desa didominasi sawah dan kebun atau ladang. Sisa-sisa bekas pabrik penggorengan kopi ada di sini. Sebuah tiang semen berdiameter satu meter dan setinggi dua meter masih tegak di sebuah ladang, persis di depan kandang kambing.

Di sekitarnya terdapat saluran pembuangan limbah yang sudah tertutup bebatuan. Sedikit pondasi pabrik ditumbuhi rumput dan semak. Sebuah bekas kolam penampungan air atau tandon tertutup tanaman air. Kolam dipenuhi air. Di sekelilingnya tumbuh bermacam tanaman, seperti kopi, pisang, dan pepaya.

“Semua reruntuhan pabrik dan infrastruktur sarana lainnya sudah tertutup tanah, tertutup bangunan rumah maupun sawah dan ladang,” ujar Sukarto menimpali.

Namun, sayangnya, Untung dan Sukarto masih menggeleng saat ditanya tentang EFE Douwes Dekker. Mereka pun membawa saya menjumpai Hartono Kamsun di RT 02/RW 01 Dusun Taman Gilang. Pria sepuh kelahiran 1910 ini seorang guru sekolah dasar sejak 1967 hingga 1995. “Mbah Hartono ini selalu jadi rujukan kami kalau mau tahu sejarah desa,” kata Untung.

Setahu dan seingat Hartono, Desa Taman Kuncaran menempati wilayah Perkebunan Wonokoyo. Pada 29 Desember 1948 berdiri Desa Wonokoyo dan perkebunan tak ada lagi. Desa ini berganti nama jadi Taman Kuncaran pada 29 Desember 1949.

Perkebunan Wonokoyo dibangun dan dikelola Belanda sejak akhir dekade 1800-an dengan komoditas kopi dan karet—kini karet sudah habis. Waktu itu baru ada sekitar 150 keluarga. Jumlah ambtenaar dan pegawai negeri Belanda kurang dari 50 orang, ditambah belasan orang Cina.

Di masa jayanya, Perkebunan Wonokoyo mempunyai lima kebun: Sumber Gandik, Sumber Angkrik, Sumber Petheng, Sumber Duren, dan Sumber Gilang.

“Saya ikut babat alas saat pembukaan kebon Sumber Gandik. Saya ikut perkebunan kira-kira selama 13 tahun dari usia sekitar 7-8 tahun,” kata Hartono.

Kebun Sumber Angkrik dan Sumber Petheng khusus ditanami kopi. Sumber Gandik ditanami karet dan kopi. Pabrik penggilingan kopi dipusatkan di Sumber Gilang dan Sumber Gandik. Bekas tapak pabrik penggilingan kopi di Sumber Gandik terdapat di selatan lapangan desa sekarang—di bekas kebun Sumber Gandik pula berdiri kantor Desa Taman Kuncaran. Sedangkan Sumber Duren (dikenal juga dengan nama Kebon Tengah) khusus sebagai kebun karet. 

Lapangan Desa Taman Kuncaran.

“Pusat pemerintahan desa itu ada di Sumber Gandik, yang mencakup lapangan desa. Lapangan dulu tempat orang-orang Belanda main tenis lapangan dan badminton. Di sana juga ada kantor dan tempat bersalen (gudang penyimpanan barang-barang). Fungsinya dulu mirip alun-alun.”

Perkebunan Wonokoyo dibumihanguskan oleh pejuang saat terjadi Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948. Usai perang, Perkebunan Wonokoyo dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia pada 1950-an dan kemudian menjadi tanah persil atau menjadi obyek landreform yang dibagi-bagikan ke penduduk.

Kemudian, Kebun Sumber Gandik, Sumber Angkrik, Sumber Petheng, dan Sumber Duren disatukan menjadi Dusun Krajan. Sedangkan kebun Sumber Gilang seluas 299 hektare menjadi Dusun Taman Gilang.

Dan, tamatlah riwayat Perkebunan Wonokoyo. Karet habis, kopi bertahan. Pertambahan jumlah manusia dan tingginya kebutuhan lahan untuk permukiman berdampak buruk pada kelestarian belantara dan satwa hutan, seperti hilangnya harimau jawa. 

Sejak zaman Belanda sampai dinasionalisasi, semua komoditas perkebunan dari Taman Kuncaran dijual di pasar kecamatan Dampit dengan cikar, gerobak kayu yang ditarik sapi. Dampit berada di jalur transportasi utama yang menghubungkan wilayah Kabupaten Malang dengan Kabupaten Lumajang. Alhasil, sebagai contoh, kopi dari Kabupaten Malang lebih dikenal dengan sebutan “kopi dampit”, bukan “kopi tirtoyudo”. Produksi dan kualitas kopi dari Taman Kuncaran mencapai puncak kejayaan hingga 1980-an.

Namun, sama dengan Untung dan Sukarto, Hartono pun tidak pernah tahu cerita EFE Douwes Dekker alias Tuan Kidang pernah menjadi ambtenaar atau pegawai negeri sebagai pengawas kebun Sumber Duren. Hartono lebih banyak hidup dan bergaul di Sumber Gandik sehingga tak punya kesempatan untuk mengetahui kejadian di luar wilayah kebun tempat ia bermukim. Lagi pula, penduduk tak bebas keluyuran di luar kebun kecuali dapat izin dari pengelola kebun.

Hartono Kamsun

Sebaliknya, yang diingat Hartono hanya “Tuan Pol” dan “Tuan Munte” yang paling dikenal penduduk sebagai ambtenaar Perkebunan Wonokoyo. Mereka dikenal ramah dan dermawan terhadap penduduk.

Tuan Pol dan Tuan Munte suka berkeliling perkebunan untuk mengawasi pekerjaan buruh dengan “seragam kebangsaan” yang berupa kostum kolonial jas tutup dipadu celana panjang warna putih lengkap topi bundar khas atribut pemilik onderneming. Tongkat tak lupa dibawa. Tongkat berfungsi untuk menusuk-nusuk tanah yang baru digarap tapi belum ditanami.  

“Tuan Pol dan Tuan Munte sangat baik. Tapi mungkin itu terjadi setelah perlawanan Douwes Dekker atas perlakuan orang-orang Belanda lainnya terhadap pribumi,” ujar dia.

Sebagai guru, Hartono sangat mengetahui sejarah EFE Douwes Dekker alias Danudirdja Setiabudhi. Hartono menyebut ia orang hebat yang berani membela pribumi dari kekejaman pemerintah kolonial. Hartono pun tahu kemudian Douwes Dekker menjadi salah seorang pendiri Indische Partij dan kemudian ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

“Wah, sepertinya harus ada penelitian lebih lanjut dan serius tentang keberadaan beliau di sini. Penduduk di sini tahunya kisah tertembaknya Kapten de Kock,” kata Hartono.

Kapten de Kock yang disebut Hartono adalah komandan tentara Belanda yang tewas dalam sebuah pertempuran di Bukit Banjar Patoman—perbatasan antara wilayah kecamatan Dampit dan Tirtoyudo tapi lebih dekat ke Taman Kuncaran—pada 24 Februari 1949 melawan Pasukan Gerilya Istimewa atau Pasukan Untung Suropati atau PUS 18.

Selain beranggotakan pejuang asli Indonesia, PUS 18 juga diperkuat beberapa prajurit Jepang yang ikut membela Indonesia pasca Jepang menyerah tanpa syarat pada tentara Sekutu. Salah seorang prajurit Jepang yang jadi anggota TNI masih hidup di Kota Batu. Ia adalah Rahmat Shigeru Ono. Kisah Ono pernah dimuat di majalah Tempo edisi 28 November–4 Desember 2011.

Kisah EFE Douwes Dekker di Taman Kuncaran memang perlu diteliti lebih mendalam. Jangankan kisah Douwes Dekker, riwayat Sumber Duren pun sulit ditelusuri.

Surat elektronik kedua dari van Horn yang saya terima pada Rabu, 8 Agustus, bisa dijadikan bukti penguat.

“Di arsip nasional di Den Haag tidak ada file tentang Soember Doeren. Di koleksi IISG/NEHA di Amsterdam tidak ada laporan tahunan, di perpustakaan nasional tidak ada. Mungkin ada data di dalam notulensi direksi HVA, Handelsveeniging Amsterdam, yang dititipkan pada National Archief di Den Haag. Tapi koleksi tentang Soember Doeren belum ditemukan,” begitu ditulis van Horn.

Foto kiriman Nico van Horn/KITLV

SAYA menyurati KITLV karena masih penasaran. Lima hari sebelum ke Taman Kuncaran, saya lebih dulu “tersesat” di Kecamatan Kalipare. Tapi saya malah bersyukur karena bisa berkenalan dengan orang-orang penggila kopi di sebuah dusun terpencil.

Kampung kecil itu dikelilingi kebun tebu. Berlokasi di selatan, sekitar 60 kilometer dari pusat kota Malang, Dusun Sumberledek makin terasa hening saat warga berdiam di rumah untuk menghindari sengatan sinar matahari. 

Hanya Poni, 44 tahun, dan dua perempuan tua yang tampak sibuk memarut singkong di teras rumah. Mereka menyambut hangat kedatangan saya pada Jumat, 3 Agustus 2012. Berselang lima menit, kening mereka berkernyit setelah diberitahu tujuan saya ke Sumberledek.

Mereka tak pernah tahu nama kebun kopi Sumber Duren yang, konon, pernah jadi tempat bagi salah seorang pendiri Indische Partij sekaligus pahlawan nasional, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker alias Danudirja Setiabudi, bekerja sebagai pengawas kebun.

Poni bersama kedua putrinya.

“Kampung ini dulunya memang bekas pabrik kopi. Tapi kami tak tahu apakah kampung kami ini dulunya bernama kebun kopi Sumber Duren. Kami juga tak kenal orang yang Sampean ceritakan," kata Poni. 

Poni lalu mengajak ke rumahnya. Melewati dapur, dia membawa saya ke belakang rumah yang teduh oleh tanaman jati, pisang, melinjo, dan talas. Poni menunjuk dua bidang dinding bata bersiku menyerupai huruf L setebal 60 sentimeter, panjang masing-masing sekitar 5 meter, serta setinggi 1,5 meter jika dilihat dari dapur dan tinggi 2,5 meter jika dilihat dari luar dapur. Dinding di sisi kanan rumah tertutup oleh tanaman merambat.

Beberapa warga ikut nimbrung. Poni lantas memanggil Pairin alias Pak Wek, sesepuh kampung berusia 80 tahun. Pairin datang bersama cucunya, Arif Prasetiawan dan Kriswanto, dan langsung mengajak ke rumahnya. Menurut Arif dan Kriswanto, biasanya Pairin tak gampang menerima orang yang belum dikenal. Di rumah telah berkumpul Rani, sang istri berusia 75 tahun, serta anak dan menantu. Keluarga Pairin tak kenal Douwes Dekker.

Pairin bercerita, menurut legenda, nama Sumberledek bermula dari kata ledek atau sinden, penghibur tuan-tuan Belanda. Suatu ketika, sinden dan rombongan pemusik mandi di sumber air dan mendadak mereka hilang begitu saja. “Itu legenda di sini.”

Pairin sudah banyak lupa. Seingatnya, Putukrejo dulu merupakan perkebunan karet, cokelat, dan kopi, yang kemudian berstatus sebagai tanah persil setelah Belanda diusir Jepang. Di era 1930 hingga masa penjajahan Jepang, lahan kebun kopi Putukrejo terluas, dengan merek kopi andalan Sari, Kawilo, Kentjis, dan Besta.

“Dari dulu sampai sekarang orang kampung sini, terutama keluarga saya, penggila kopi. Saya bisa puasa yang lainnya, tapi tak bisa puasa ngopi,” kata Pak Wek, yang mengaku sanggup menghabiskan sepuluh gelas kopi sehari.

Di belakang rumah Poni.

Lupa nama pabrik, tapi Pairin ingat hampir setiap hari bekerja membersihkan rumput (njombret) di kebun sejak usia 8 tahun sampai masuknya balatentara Jepang ke Putukrejo. Pairin lalu minggat ke kota dan kembali ke Sumberledek setelah Jepang hengkang karena kalah perang.

“Saat itulah pabrik kopi ini hancur karena waktu itu, menurut Pak Wek, terjadi aksi bumi hangus oleh Jepang. Orang kampung pun ikut menghancurkan bangunan untuk diambil batunya buat bangun rumah,” Kriswanto menimpali.

Sisa-sisa pabrik kopi masih bisa dilihat dari beberapa tembok seperti di belakang rumah Poni. Beberapa rumah pun memanfaatkan lantai pabrik yang tebal. Rumah Pairin dulunya tempat perendaman dan penggorengan kopi. Kolam perendaman kopinya berukuran 15 x 5 meter.

Arif dan Kriswanto kemudian mengajak saya ke sisa tandon air sekaligus tempat mandi para sinyo. Lokasinya lebih tinggi dari rumah Pairin dan warga lainnya. Dulu, dari sinilah sumber air dialirkan ke bangunan pabrik.

Para sinyo mandi satu kali dalam sepekan. Tempat pemandian itu terbuka tanpa atap, berbentuk persegi empat berukuran 10 x 10 meter dengan tembok setebal 50 sentimeter dan setinggi semeter. Meski sudah hancur, masih bisa terlihat bahwa kamar mandi itu disekat jadi dua ruangan—mirip sauna atau tempat orang berendam dalam air hangat.

Sekitar 200 meter dari tempat pemandian, terdapat kantor dan rumah karyawan Belanda—oleh orang kampung disebut sebagai besaran, istilah yang merujuk pada pembesar-pembesar kebun. Lokasi itu kini menjadi pemukiman dengan 12 rumah warga. “Dulu juga ada kandang kuda tapi sekarang sudah jadi sekolahan,” kata Kriswanto.

Kriswanto dan Arif Prasetiawan

Arif dan Kriswanto menegaskan warga Sumberledek takkan membongkar sisa-sisa bangunan pabrik. Seingat mereka, Sumberledek belum pernah diekspos oleh media massa sehingga mereka sangat berharap di Sumberledek pernah berdiam Douwes Dekker walau mereka tak tahu sejarahnya. “Biar kampung kami tak sepi, mana tahu bisa jadi desa wisata sejarah,” Arif menimpali.

Arif dan Kriswanto makin yakin kampung mereka benar pernah didiami Douwes Dekker karena sekitar 1,5 kilometer dari Putukrejo ada sebuah bernama Sekolah Dasar Boedi Oetomo di Tlogosari, Kecamatan Donomulyo. Kini sekolah dasar itu berubah jadi SDN Tlogosari 1. Putukrejo dan Tlogosari bertetangga.

Nama Sumberledek diketahui tanpa sengaja saat saya bertanya pada Sukali, 85 tahun, warga Desa Kalipare, Kecamatan Kalipare. Sukali dan dua warga sedang memangkas pohon ketapang di tepi jalan penghubung kecamatan Kalipare dan Donomulyo.

Sebelum ke Sumberledek, saya ke Desa Arjowilangun, Kalipare, dengan tujuan serupa. Semua warga yang ditanya mengaku tak tahu nama kebun itu. “Di sini memang Dusun Duren, tapi kami tak pernah tahu ada kebun kopi Sumber Duren di sini,” kata seorang ibu berusia 60 tahun yang sedang ngaso bersama keluarganya di teras rumah.

Maksud hati dari Arjowilangun ke Kaliasri. Namun, masih setengah jalan, saya sempatkan bertanya pada Sukali dan kawan-kawan. Sukali menegaskan di Kalipare tak ada kebun kopi. Ia pun menyebut ada kebun kopi di Kaliasri, dan desa-desa di Donomulyo. “Tapi, kalau pabrik besarnya, seingat saya ada di Sumberledek, masih di Kalipare,” kata Sukali.

SDN Tlogosari 01, Kecamatan Donomulyo.

Keterangan Sukali membuat semangat bugar kembali. Setelah ditelusuri baru diketahui Sumberledek masuk wilayah Desa Putukrejo dan berbatasan langsung dengan Tlogosari di Kecamatan Donomulyo.

Sumberledek belum tentu benar pernah didiami Douwes Dekker, tapi setidaknya memberi harapan bagi penelusuran lebih lanjut. Harapan itu makin menguat setelah Camat Tirtoyudo Suyitno menginformasikan di wilayah kerjanya ada dusun bernama Sumberduren, Desa Tamankuncaran.

“Kebetulan, menurut kepala Desa Tamankuncaran, sebulan lalu sempat direncanakan akan dibangun monumen perjuangan. Kabarnya di sana pernah ada perwira Belanda yang tewas. Namanya ada Dekker-Dekker-nya gitu. Tapi untuk pastinya silakan Sampean langsung cek ke sana saja, Mas.”

Tirtoyudo dikenal sebagai sentra produksi kopi bersama Dampit, Ampelgading, dan Sumbermanjing Wetan, sehingga daerah ini disingkat dengan nama “Amstirdam”, namun kopi Dampit yang paling dikenal. 

Dan anggap saja nama Amstirdam sebagai pelesetan kreatif warga Malang selatan yang memang pelafalannya nyaris sama dengan nama ibu kota Kerajaan Belanda, Amsterdam. Karena faktanya kopi Dampit berasal dari kecamatan tetangga, dan biar tetangganya tidak cemburu karena kopinya dilabeli "merek pesaing", maka ganti saja namanya jadi "kopi amstirdam". Bukankah nama ini terkesan lebih keren dan lebih bernilai komersial alias marketable kan?


Sialnya, saya tak hafal jalan pulang gara-gara jalan ke Sumberledek begitu berliku. Alhasil, ketimbang kesasar, saya memutuskan pulang ke pusat kota Malang dengan memutar lewat wilayah Kecamatan Donomulyo, dari Desa Tlogosari lalu ke Desa Tempursari, dan bertemu jalan utama kabupaten yang baru diaspal. 

Biar tambah jauh, yang penting selamat. ABDI PURMONO



CATATAN:

Isi artikel yang saya buat di atas hanya sedikit dikutip dalam tulisan berjudul Tuan Kidang di Kaki Semeru, halaman 64-65 majalah Tempo Edisi Khusus Kemerdekaan 20-26 Agustus 2012: Ernest Douwe Dekker, Inspirasi bagi Revolusi Indonesia.


Share this :

Previous
Next Post »
7 Komentar
avatar

Boss, saya orang asli Donomulyo, tepatnya Desa Purworejo. Saya juga penyuka sejarah, terlebih tentang rekam jejak Belanda di desa saya. Mudah2an ini ada kaitannya dengan jejak Douwes Dekker yang anda cari. Menurut saksi sejarah (alm ayah dan ibu saya), dulu beliau suka bercerita, lebih tepatnya ndongeng buat kami anak2nya, tentang Kebon Kopi dan Kebon Karet mulai dari belakang rumah saya sampai dengan Tumpakrejo, Putuk rejo dan Arjowilangun milik wong londo. Jadi kebon kopi dan karet ini memang sangat sangat luas boss, sekarang bahkan sudah menjadi beberapa desa dan Kecamatan (Kalipare dan Donomulyo). Tetapi apakah perkebunan yang sangat luas itu dulunya merupakan satu juragan/ maskapai, ataukan dipecah2 menjadi beberapa pemilik. Nah di desa saya, tepatnya dusun Karangrejo (dulu jaman londo namanya Karang anyar), adalah merupakan perkampungan/ perumahan para Meneer Belanda yang menjadi petingggi di perkebunan tersebut. Sedangkan agak ke utara sedikit dari Karangrejo ada namanya kampung empat (sampai sekarang masih bernama kampung empat). Di kampung empat ini dulu berdiri pabrik karet Belanda, yang bekasnya sampai sekarang masih ada. Bahkan pada jaman Belanda Jalanan di kampung empat ini sudah beraspal dan sampai tahun 80-an kondisi jalan aspal tersebut masih cukup baik, mengingat kampung empat berada di pedalaman desa dan sampai tahun 80-an tidak banyak orang di sana yang mempunyai kendaraan. Di dekat kampung empat ini di lereng gunung sari ada sebuah sumber besar. Apakah dahulunya daerah situ bernama sumber duren, masih perlu penelusuran. Coba boss telusuri juga museum2 di Den Haag atau Leiden barangkali ada dokumen tentang perkebunan dan pabrik di daerah Karanganyar (sekarang Karangrejo) masuk desa Purworejo Kecamatan Donomulyo. Ayah saya pernah cerita, ketika dia kecil suka ikut ibunya ke Karanganyar jualan tape. Dan saat pulang melewati perumahan Belanda, ayah saya kecil sering dicegat sinyo Belanda dan diusilin oleh mereka. Eyang buyut saya sendiri adalah perantauan dari Mataram (Jogja) yang babat hutan di perbatasan sebelah selatan Kebon Kopi pada akhir 1800-an. Mohon dibantu mencari referensi ya boss, sebenarnya sejak kapan Belanda mulai membuka perkebunan di Karanganyar dan sekitarnya. Siapa tahu Douwes Dekker dulu sempat di Karanganyar menjadi pengawas Perkebunan Kopi atau Karet. Semuanya ini agar dapat memperkaya kazanah sejarah Malang selatan yang masih sangat minim. Juga kalau bisa tentang sejarah Belanda menduduki Donomulyo pada waktu agresi II tahun 48. Yang ayah saya ingat, adalah waktu Belanda datang ke Donomulyo, bertepatan ayah saya menikahi ibu saya di pengungsia. Matus nuwun

Balas
avatar

Pak Har, terima kasih untuk komentarnya. Informasi dari Anda sangat berharga, tapi maaf saya bukan peneliti sejarah alias sejarawan. Saya kira sejarah pembukaan perkebunan-perkebunan Belanda di Malang selatan tak terpaut jauh periodenya. Sebagai langkah awal, bisa dilacak dulu dari sejarah perkebunan Belanda di Indonesia. Mengenai hal ini saya kira masih banyak referensi yang bisa dirujuk, ya minimal di mesin pencari.

Maaf bila saya tak bisa banyak membantu. Sekali lagi terima kasih untuk komentarnya. Informasi dari Anda tentu berguna bagi sejarawan dan peminat sejarah.

Saran saya, tuliskan saja sejarah kampung Anda yang Anda ketahui secara lisan. Soal akurat tidak akurat, bukan hal terpenting karena yang mau penting ditulis dulu.

Balas
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang. - Hapus
avatar

Bos, knapa gak di lacak di daera kampung sya, yaitu di desa jogomulyan, dusun ardirjo, soalnya di daera tersebut juga bekas perkebunan kopi dan karet, dan menurut dongeng orang tua tua dulu di sana perna ada penjajahan pada jaman revolosi juga banyak pembunuhan , dan di sana yang sya tau juga ada loji loji tempat penggilingan kopi dan dadak karet contohnya loji tersebut terletak di dusun, sidodadi, ardirjo, sumbermanggis dan banjarsari kepatihan.

Balas
avatar

Halo mas Abel, tidak apa2 mas..terima kasih sudah berkunjung diblog saya, semoga sehat-sehat juga untuk mas Abel. Iya mas saya Maret kemarin lulus dari Unbraw, walaupun sdh tdk di LPM Mimesis tapi banyak pelajaran yg diperoleh, salah satunya menyempatkan mengisi blog. Saya membaca beberapa artikel diblog mas Abel.. yg tentang kopi, mencari Douwes Dekker menarik kabupaten Malang banyak kisah dan sejarah. Mas Abel ada rekomendasi kah untuk menulis tentang pariwisata di kabupaten Malang? karena sepertinya mas Abel sudah berkelana wilayah kab.Malang, saya belum mengenal wilayah kab Malang dibandingkan rumah saya dikota Malang, berikut juga sejarah2 seperti di blog mas Abel...terima kasih

Balas
avatar

Bos.. saya warga Karangrejo donomulyo. Benar bos dulu ada pabrik kopi dikarang rejo utara. bekas jalan aspal yang dibuat belanda juga masih ada sisa bekasnya.info orang orang tua kopi dulu di kirim dari karang rejo ke umbuldawe kaliasri melalui bentangan kawat.

Balas
avatar

@tumpakrejotumpaklawang

Terima kasih Mas sudah mau mampir. Terima kasih untuk tambahan informasinya. Semoga Mas pun menuliskan riwayat kampung sendiri.

Balas