Berkah dari Keripik Buah

Jumat, September 07, 2012
Moh. Djayadi, Pemilik Usaha Dagang Jayadi, Kota Batu.
Foto-foto: ABDI PURMONO

JUMADI dan dua temannya mencermati ratusan kemasan keripik buah di Toko Vigour di Desa Mojorejo, Kecamatan Junjrejo, Kota Batu. Jajanan lain dilirik. Mereka sedang mencari oleh-oleh pulang ke Yogyakarta.

Mata Jumadi terpaku pada kemasan keripik bergambar semangka, belimbing, dan wortel. Ia terheran karena keripik apel dan keripik nangka yang selama ini paling terkenal sebagai oleh-oleh makanan ringan. 

“Di sini kok malah banyak pilihan keripik buahnya. Semangka dan wortel kan tidak biasa dijadikan keripik. Semangka pasti yang paling sulit dijadikan keripik, ya, karena kandungan airnya sangat besar. Kreatif sekali pembuatnya,” kata Jumadi pada Kamis siang, 28 Juni 2012.


Sedikitnya ada 11 buah yang diolah jadi keripik oleh Usaha Dagang (UD) Jayadi, produsen pemegang merek dagang Vigour. Kesulitan mengolah semangka jadi keripik diakui Moh. Djayadi, sang produsen. Lagi pula, semangka bukan buah populer untuk dijadikan keripik.

UD Jayadi menjadi pelopor keripik semangka dengan citarasa gurih, renyah, dan tetap berwarna merah. Djayadi baru saja mendapat pesanan keripik semangka dari Sulawesi. Djayadi membeli semangka sebanyak 2 ton yang setelah diolah hanya jadi sekitar 105 kilogram keripik.

“Tapi, sekarang sudah ada yang bikin keripik semangka walau tak sebanyak produksi saya,” kata Djayadi.

Selain semangka, masih ada keripik apel, nangka, labu, wortel, pisang, salak, rambutan, nanas, mangga, melon, dan belimbing. Dari semua buah, tentu saja tetap apel yang jadi keripik andalan. Maklum saja, apel merupakan maskot Kota Batu.

Mengupas apel sebelum diolah jadi keripik.
Dalam sehari, sebagai contoh, Djayadi mampu mengolah tiga kuintal nangka menjadi keripik seberat 60 kilogram. Dari 2,5 kuintal apel jadi keripik sebanyak 22 kilogram. Dan dari 3 kuintal nanas jadinya 43 kilogram keripik.

Keripik buatan UD Jayadi sudah merambah ke Jakarta, Surabaya, Denpasar, Sumbawa, Balikpapan, dan Batam. Keripik yang dikirim rata-rata sebanyak 15 koli per bulan. Ada permintaan pengiriman dari luar negeri, tapi ditolak karena usaha keripik buah sangat tergantung musim. Sedangkan berbisnis dengan pihak asing harus menggunakan kontrak untuk mampu mengirim barang secara rutin. Jika gagal, bisa digugat.

Keripik yang dijajakan di dua Toko Vigour—satu toko lagi di Pertokoan Batu Galleria, Jalan Diponegoro—dikemas dalam kemasan 50 gram, 100 gram, 200 gram, 250 gram, 500 gram, dan 1 kilogram. Harganya merentang dari Rp 3.500 untuk keripik labu dan pisang kemasan 50 gram hingga Rp 115.000 untuk keripik semangka dan melon kemasan 1 kilogram. Semua produksi UD Jayadi sudah mengantongi sertifikat halal dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) dan Majelis Ulama Indonesia.

Omzet penjualan tiap bulan rata-rata Rp 350 juta atau Rp 4,2 miliar per tahun, hampir naik tiga kali lipat dari omzet Rp 1,5 miliar lima tahun silam.

Djayadi sangat mensyukuri perkembangan usahanya sejak didirikan pada pertengahan 2005. Kunci kesuksesan yang diraih Djayadi bersumber dari keahlian dia membuat sendiri mesin pembuat keripik. Ia menguasai seluk-beluk permesinan sejak kecil hingga kemudian menjadi pengusaha bengkel.

Lahir di Kasembon, Kabupaten Malang, 3 Maret 1963, Djayadi harus pindah sekolah dasar empat kali, baru lulus. Djayadi kecil tak melanjut ke SMP karena orangtuanya sangat miskin.   

Dalam kurun 1978-1983, Djayadi bekerja apa saja di Pasar Batu, jadi buruh kasar di pabrik kayu milik orang Cina, dan bekerja di bengkel pagar milik orang Arab yang masih berkerabat dengan almarhum aktivis HAM Munir. Djayadi disukai juragannya karena rajin, tekun, dan cepat menguasai pekerjaan. “Sebulan saya bekerja di pabrik orang Arab, saya sudah bisa bikin pagar,” Djayadi mencontohkan.

Pada masa 1983-1987 ia membuka bengkel sendiri untuk layanan perbaikan mobil, pengelasan, hingga pembuatan peti buah. Pada 1988 ia merantau ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Di sini dia membuka bengkel.

Bosan di sana, pada 1990 Djayadi balik ke Batu—waktu itu masih kecamatan di Kabupaten Malang. Ia membuka Biro Teknik Gaya, yang melayani jasa pemasangan instalasi listrik dan konstruksi. Namun ia kekurangan modal. Akhirnya ia terpaksa terpaksa melego sepeda motor Suzuki FR tahun 1973 seharga Rp 175 ribu.

“Padahal, sepeda motor itu satu-satunya harta saya yang paling berharga di tahun 1990 itu. Tapi kalau tak dijual, usaha saya tak bisa jalan,” kata bapak lima anak itu.

Keputusan menjual sepeda motor kesayangan berbuah manis. Usahanya berkembang pesat. Ia banyak menerima order dari PLN. Tapi Djayadi tetap merasa tak puas.

Sejak kecil Djayadi suka bereksperimen untuk menambah keterampilan. Usaha bengkel terus jalan, Djayadi menekuni keterampilan membuat mesin mainan anak-anak dan industri rumah tangga seperti oven dan vacuum di Balai Latihan Kerja di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Sejumlah mainan anak-anak yang ada di obyek wisata Jatim Park dan Water Park Lumajang dibuat oleh Djayadi.

Saat mengerjakan proyek Water Park Lumajang ia terinspirasi membuat keripik buah dan sayuran. Selama 8 bulan di Lumajang, Djayadi acap melihat banyak buah-buahan yang dijual murah. Ide membuat keripik buah sendiri makin menguat sejak ia sering memperbaiki mesin-mesin pembuat keripik milik pelanggannya sepanjang tahun 2000-an.  

“Saya tak cuma memperbaiki, tapi juga mempelajari seluk-beluk mesin tersebut. Dari situ saya dapat ide membuat mesin sendiri yang kualitasnya lebih bagus dan kuat. Tapi resep bikin keripik tetap saja mereka rahasiakan.”

Bermodal sekitar Rp 60 juta, pada 2005 Djayadi merintis usaha pembuatan keripik buah. Sebenarnya, kata Djayadi, ada banyak pilihan usaha. Namun, usaha keripik buah dipilih agar istrinya, Hasnawati, punya pekerjaan di rumah. Lagi pula keripik buah gampang ditangani perempuan.

Usaha keripik buah Djayadi tak berjalan mulus. Ia mengalami kegagalan hampir 100 kali. Selama setahun usahanya macet karena mesin buatannya tak berfungsi optimal. Djayadi nyaris putus asa dan menutup usahanya jika ia lupa nasihat orangtuanya tentang kejujuran, kerja keras, dan pantang menyerah. Akhirnya ia berhasil memperbaiki mesin itu. Mesin baru mampu mengolah 50 kilogram buah.

Awalnya, proses produksi dikerjakan berdua saja dengan sang istri setelah anak-anak pergi sekolah dan saat anak-anak mereka sudah tidur malam. Usaha mulai berjalan, Djayadi merekrut tiga karyawan pemasaran. Namun nasib kurang mujur. Barang habis, uang tak didapat. Djayadi mengaku, saking apesnya, ia pernah cuma dapat hasil penjualan sebesar Rp 1.500 saja!

“Karyawan saya sampai minta keluar karena merasa tak enak digaji terus. Saya tolak dengan alasan masih ada subsidi silang dari usaha perbengkelan dan usaha lain yang saya jalani, seperti jual-beli mobil. Tapi mereka tetap minta keluar,” Djayadi mengenang.

Djayadi menolak kalah. Usaha diserahkan ke Hasnawati. Mereka pun giat mengikuti sejumlah pameran dan mulai sering memasang iklan. Brosur pun diperbanyak. Alhasil, usahanya kembali bergairah. Djayadi membuka gerai di Pertokoan Batu Galleria. Awalnya ia membuka toko di rumahnya yang berada di gang sempit Jalan Pattimura, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, ditutup dan dijadikan sebagai pusat produksi saja. Namun, untuk pengupasan buah dilakukan di sebuah desa di pinggiran Kota Batu dan di Tumpang, Kabupaten Malang. Seturut perkembangan usaha, Djayadi buka gerai lagi di Desa Mojorejo.

Pengemasan keripik nangka di UD Jayadi.
Keripik merek Vigour mulai dikenal luas. Dari volume usaha hanya 50 kilogram, kini UD Jayadi mampu mengolah 2-3 kuintal buah saban hari. Kini 30 orang bekerja padanya.

Tak hanya keripiknya yang kian terkenal, tapi Djayadi pun banyak menerima order membuat mesin pembuat keripik—tak lagi sekadar memperbaiki. Ia juga mulai kedatangan banyak tamu, dari rombongan peneliti sampai mahasiswa. Djayadi jadi sering keluar Batu untuk memenuhi undangan memberi pelatihan.

“Saya pernah didatangi tim dari BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). Waktu itu saya tak tahu apa itu BPPT. Saya juga dapat banyak masukan dari tamu-tamu saya agar membuat brosur usaha dan semua strategi bisnis. Tapi saya tak mengerti. Internet saja saya tak tahu kok. Untung ada yang bantu-bantu,” kata dia.  

Ketekunan dan kerja keras mengalirkan sejumlah penghargaan ke Djayadi; antara lain dari IPB Bogor (2009), penghargaan UKM sebagai produsen makanan sehat dari Deputi Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (2007), Piaga Bintang 1 Keamanan Pangan dari BPOM (2009), serta juara kedua kategori perintis dari Gubernur Jawa Timur (2009).

Sesungguhnya, sampai sekarang Djayadi tak pernah merasa sebagai perintis atau pelopor. Sebutan ini datang dari orang-orang, termasuk para pelaku UKM yang pernah ia pimpin dalam wadah Asosiasi Oleh-oleh Kota Batu. Kesuksesannya pun membuat seorang konglomerat berminat membeli semua aset usaha Djayadi untuk kemudian dikelola sendiri dengan tetap memperkerjakan Djayadi.

“Orangnya sangat terkenal, tapi saya tak usah sebut nama. Saya sampai diundang oleh beliau ke Jakarta. Tapi saya terpaksa menolak karena masih ingin berusaha sendiri. Toh dari kecil saya sudah terbiasa hidup susah dan bekerja keras. Begitu pun saya masih menghormati beliau dan menghargai niat baiknya.”

Djayadi ingin memperbesar skala usahanya. Ini keinginan lama yang dipendam sejak 2007. Semua kegiatan produksi ingin disatukan di satu lokasi yang luas, lengkap dengan fasilitas pengolahan limbah. Namun, antara keinginan dan kekuatan fulus tak sejalan. Djayadi menghitung, keinginannya bisa terwujud jika ia punya duit sekitar Rp 5 miliar atau naik Rp 2 miliar dari hitungan lima tahun silam.

“Untuk sementara, rasanya tak mungkin (keinginannya terwujud). Jangankan dapat uang sebanyak itu, utang saya saja masih segunung. Sekarang saya fokus saja ke usaha yang sudah berjalan.”

Alhasil, keinginan memperbanyak jenis keripik buah merupakan keinginan yang paling realistis untuk dikerjakan.

Keripik buah merek Vigour merupakan satu dari 62 industri keripik—tak hanya keripik buah, tapi juga keripik tempe dan keripik sayuran—berskala UKM yang ada di Kota Batu. Sayangnya, tak ada data rinci dan spesifik tentang industri keripik buah. Padahal, industri keripik di Kota Batu bertambah secara signifikan dalam tiga tahun terakhir.

Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Batu, M. Chori, berdalih ketiadaan data karena instansi yang ia pimpin sedang menata pendataan dari cara manual ke digital.

Dinas Koperasi memberi fasilitas pendukung di bidang sumber daya manusia, permodalan, dan pasar kepada pelaku UKM. Di bidang SDM, Dinas Koperasi mengadakan pelatihan-pelatihan tentang kegiatan pariwisata berbasis pertanian. “Pertanian menjadi potensi terbesar kami yang terus digenjot Pemerintah Kota Batu untuk mendatangkan turis sebanyak-banyaknya,” kata Chori.

Produk pertanian diolah lebih serius dan benar agar lebih bernilai ekonomi dan meningkatkan pendapatan warga. Warga didorong untuk mau mendirikan industri berskala UKM dengan produk andalan aneka keripik, utamanya keripik apel.

Pelatihan-pelatihan disesuaikan dengan kemampuan anggaran yang bersumber dari APBD Kota Batu dan APBD Provinsi Jawa Timur. Dari APBD Kota Batu disalurkan Rp 1,5 miliar untuk pelatihan-pelatihan UKM, sekitar Rp 300 juta dialokasikan untuk pelatihan dan pengadaan peralatan pengolahan keripik buah.

Dari sisi permodalan, sejak 2009 digulirkan kredit berbunga 3 persen per tahun. Rata-rata tiap kelompok mendapat kredit Rp 50 juta. Kelompok-kelompok ini tersebar di desa-desa dan diharapkan mereka mampu mandiri dan menjadi motor penggerak perekonomian desa.

Selain bersumber dari anggaran pemerintah, Dinas Koperasi pun menggandeng PT Telkom, yang bersedia mengucurkan dana CRS pada 2011 sebesar hampir Rp 900 juta untuk semua pelaku UKM.

Nah, kata Chori meyakinkan, kebijakan yang paling dirasakan positif dan merangsang gairah industri UKM adalah kemudahan dalam proses perizinan dan pemberlakuan bebas pungutan untuk proses perizinan pendirian usaha mulai 2010.

Ketika semua sudah berjalan, Dinas masih membantu mencarikan pasar bagi produk-produk industri UKM, seperti mengikuti pameran-pameran di luar Batu. ABDI PURMONO


Catatan:
Artikel ini dimuat di lembar sisipan Jawa Timur Majalah Tempo edisi 9-15 Juli 2012, halaman IV, yang berjudul Berkah Bisnis Keripik Buah

Share this :

Previous
Next Post »