Inilah Kembaran Monumen Pahlawan Revolusi

Minggu, September 30, 2018

Monumen Tugu Sudjono di Afdeling 35 Kebun Bandar Betsy, Nagori Bandar Betsy II, Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, Senin, 10 September 2018. Foto-foto: ABDI PURMONO

KEHENINGAN melingkupi perkebunan karet di Afdeling 35 Kebun Bandar Betsy, Nagori (Desa) Bandar Betsy II, Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, Senin siang, 10 September 2018.

Teriakan burung gagak dan kicauan burung lainnya terdengar pelan. Sayup-sayup terdengar lenguhan sapi-sapi yang digembalakan di kelindapan pohon-pohon karet muda. Sesekali sepeda motor warga melintas menderu di jalanan aspal desa yang tak mulus.

Saat itu saya sedang mengunjungi Monumen Tugu Sudjono yang berdiri di lahan seluas setengah hektare dalam lingkungan Afdeling 35. Monumen Tugu Sudjono saya jangkau dengan menempuh jarak sejauh sekitar 150 kilometer dari pusat Kota Medan dan menghabiskan waktu sekitar 3,5 jam.

Salah seorang warga yang mengaku bernama Paiman dan sedang menjaga sapi-sapi, sekitar 300 meter dari monumen, mengatakan keberadaan tugu saat ini tidak mendapat perhatian serius. Kondisinya cenderung tidak terawat dan minim fasilitas umum. Padahal, setahu Paiman, Monumen Tugu Sudjono sudah dijadikan sebagai objek wisata sejarah sejak 2016 oleh Pemerintah Kabupaten Simalungun.

Menurut Paiman, Monumen Tugu Sudjono baru diperhatikan dan ramai dikunjungi saat diadakan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober. Pembersihan dilakukan seminggu atau tiga-empat hari sebelum hari pelaksanaan upacara. Halaman luas tugu dibersihkan dan dirapikan. Lingkungan toilet yang biasanya kotor dibersihkan. Toilet lagi dicat lagi biar enggak kusam.

Tentu saja bangunan monumen dan patung-patungnya turut dibersihkan dan dicat ulang. Bila ada bagian patung yang cacat langsung diperbaiki. 

Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila biasanya diikuti unsur Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Kodam I Bukit Barisan, kepolisian, forum pimpinan daerah Kabupaten Simalungun, pihak perkebunan dan karyawan, serta organisasi kemasyarakatan pemuda, dan warga setempat. Gubernur Sumatera Utara lebih sering menjadi inspektur upacara.

Sehabis upacara biasanya dilanjutkan dengan penampilan fragmen maupun drama tentang Peristiwa Bandar Betsy. Drama ini melibatkan sejumlah seniman dan warga setempat.

“Kalau pas hari peringatannya, tempat ini jadi ramai orang dan kendaraan. Habis upacara, ya sepi lagi seperti sekarang. Paling orang-orang yang suka sejarah seperti Abang yang datang ke sini,” kata Paiman.

Saring membenarkan keterangan Paiman. Setahu warga Bandar Betsy I ini, kondisi Monumen Tugu Sudjono lebih terawat saat masih ditangani pihak PTPN III. Pembersihan rutin dilakukan karyawan kebun. Sedangkan kondisi tidak terawat justru kelihatan saat pengelolaan monumen diambil alih oleh Pemerintah Kabupaten Simalungun.

Seingat Saring, pernah sekitar Oktober 2017 toilet monumen dirusak orang. Semua daun pintu berbahan alumunium hilang. Instalasi pipa air dipreteli. Plafon dan asbes dua bilik toilet—masing-masing untuk pria dan wanita—jebol. Sedangkan lantai keramik dikotori tahi sapi.

“Tapi, sekarang saya dengar kondisi toiletnya sudah lebih bagus mungkin karena mulai rutin dirawat sejak sering dikeluhkan warga. Kondisi monumennya kan sudah Abang lihat sendiri,” kata Saring.

Baca juga: Di Simalungun Ada Kembaran Monumen Pancasila Sakti.

Saya mengamati, kondisi monumen saat ini cukup terawat. Rerumputan dipangkas rapi. Warna monumen, terutama warna patung-patung, tampak masih baru. Kondisi toilet juga agak mendingan.

Berdasarkan catatan sejarah, Sudjono adalah nama prajurit TNI Angkatan Darat berpangkat Pembantu Letnan Satu (Peltu) yang tewas dalam upaya mempertahankan areal perkebunan Bandar Betsy dari perebutan paksa sekitar 200 orang anggota Barisan Tani Indonesia (BTI), organisasi sayap Partai Komunis Indonesia, pada 14 Mei 1965.

Saat itu Sudjono bertugas sebagai petugas pengamanan PNP Karet IX Bandar Betsy (sekarang PT Perkebunan Nasional III). Massa BTI mengeroyok Sudjono dengan menggunakan peralatan tani seperti cangkul, golok, dan arit. Sudjono tewas di tempat dengan bersimbah darah. Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Peristiwa Bandar Betsy.

Pemerintah menganugerahkan penghargaan berupa kenaikan pangkat dari sebutan Peltu Sudjono menjadi Letnan Dua (Anumerta) Sudjono dan menggelari Sudjono sebagai Pahlawan Pembangunan. Pemerintah juga membuatkan monumen perjuangan yang menyerupai Monumen Pahlawan Revolusi alias Monumen Pancasila Sakti alias Monumen Lubang Buaya di Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, DKI Jakarta.

Kedua monumen tidak kembar identik. Ada beberapa perbedaan antara Monumen Tugu Sudjono dengan Monumen Lubang Buaya. Di Bandar Betsy, patung Sudjono ditempatkan di depan patung tujuh Pahlawan Revolusi (Jenderal Ahmad Yani, Letnan Jenderal Suprapto, Letnan Jenderal MT Haryono, Letnan Jenderal Siswondo Parman, Mayor Jenderal Pandjaitan, Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Pierre Tendean) yang berbaris dari kiri ke kanan.

Total, ada delapan patung di Monumen Tugu Sudjono. Di tembok monumen dipasang ornamen Garuda Pancasila.

Tugu Sudjono dibangun pada 1970-an. Pada 1997 dibuat monumen dengan tambahan patung 7 Pahlawan Revolusi. Sejak bertahun-tahun lamanya akses jalan ke sana masih mengandalkan jalan provinsi Medan-Pematang Siantar, lalu berbelok ke kiri melewati pos timbangan Dolokmerangir di Kecamatan Dolok Batunanggar, Kabupaten Simalungun, hingga melewati kota kecil Serbalawan, di kecamatan yang sama.  

Bertahun-tahun lamanya akses jalan dari Serbalawan sampai lokasi Tugu Sudjono sering rusak parah dan baru diperbaiki jelang Peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

Meski sudah dijadikan objek wisata sejarah, keberadaan Monumen Tugu Sudjono tidak gencar dipromosikan. Tidak ada kegiatan berskala nasional apa pun di sana kecuali Peringatan Hari Kesaktian Pancasila berskala provinsi. Pengelolaannya terkesan tidak serius, yang antara lain ditandai dengan ketiadaan ketiadaan kantor maupun pos khusus bagi pengelola maupun penjaga monumen.

Alhasil, wajar saja jika keberadaan Monumen Tugu Sudjono bagai antara ada dan tiada. Hanya segelintir wisatawan yang mengunjunginya. Beberapa warga mengatakan, yang paling sering mengunjungi adalah rombongan pelajar dan mahasiswa penempuh studi sejarah. 

Tugu Sudjono lebih banyak tidak diketahui publik dan lebih sering terlupakan, serta baru diingat menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Ia jelas kalah populer dibanding kembarannya di Lubang Buaya. ABDI PURMONO


Share this :

Previous
Next Post »