Menghadang Diabetes dengan Ubi Ungu

Kamis, Juli 05, 2018
Foto-foto: ABDI PURMONO

 Umbi ini mengandung antosianin yang bisa memperbaiki kondisi kondisi kadar gula darah dan sensitivitas insulin.

SUDAH tiga bulan ini Akbar Setyo Pambudi dan empat kawannya tak melihat kulit ubi jalar ungu sebagai penghuni keranjang sampah. Penelitian lima mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang, ini menunjukkan kulit umbi tersebut mengandung antosianin, yang dapat diolah menjadi obat diabetes melitus.

“Limbahnya itu justru jadi bahan baku yang melimpah untuk dimanfaatkan di bidang medis dengan cara diekstraksi,” kata Akbar, mahasiswa jurusan keteknikan pertanian, kepada Tempo, Jumat pertengahan Juli lalu. Bersama Yani Rahmawati, Ajeng Nawangwulan, Nabillah Hisyam, dan Kinanti Mahmud Pradita, ia mencoba menyarikan antosianin dari kulit ubi jalar ungu.

Antosianin pigmen merah-ungu dari golongan flavonoid yang terdapat pada tanaman sayuran dan buah, seperti murbei, arbei, dan bilberi. Pada ubi jalar ungu (Ipomea batatas L.), antosianin lebih banyak terdapat di kulit ketimbang dagingnya. Ekstrak antosianin itulah yang diolah menjadi obat untuk diabetes melitus tipe 2.

Diabetes salah satu “pembunuh” yang paling berbahaya di dunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi penderita diabetes mencapai 366 juta orang pada 2030, dan 90 persen dari penderita mengidap diabetes tipe 2. Di Indonesia saja sekitar 7,6 juta orang menderita penyakit ini. Dokter spesialis penyakit dalam Tri Juli Edi Tarigan mengatakan diabetes tipe 2 dipengaruhi oleh faktor gaya hidup, pola makan, dan polusi yang terakumulasi.

“Ada juga pengaruh keturunan, tapi memang lebih banyak berhubungan dengan gaya hidup,” kata dokter dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Diabetes muncul karena penurunan adenosin monophosphate protein kinase (AMPK). Hal itu menyebabkan gangguan pada glucose transporter (GLUT), yang menjadi pintu masuk glukosa ke dalam darah. Akibatnya, penyerapan glukosa di otot berkurang dan muncul resistansi atau penurunan fungsi insulin sehingga produksi glukosa darah melonjak (hiperglikemia).

Padahal insulin, hormon yang diproduksi oleh sel beta di dalam pankreas, berperan merangsang penyerapan glukosa ke dalam sel otot. Pada penderita diabetes, fungsi sel beta untuk mensekresi insulin menjadi kurang sensitif. Dalam kondisi ini diperlukan senyawa yang dapat menurunkan kadar gula darah dengan meningkatkan sensivitas insulin dan meregerenasi sel beta pankreas. Antosianin dalam kulit ubi jalar ungu bisa melakukan itu.

Laporan riset yang dikerjakan Akbar dan koleganya menyebutkan antosianin bisa memperbaiki kondisi kadar gula darah dan sensitivitas insulin dengan mengaktifkan AMPK. Proses ini diikuti oleh peningkatan sekresi GLUT 4, yang dapat meningkatkan penyerapan glukosa ke dalam jaringan melalui mekanisme insulin-proses yang bisa dibantu dengan antosianin.

Dalam 100 gram kulit ubi jalar ungu terdapat 110-210 miligram antosianin. Namun antosianin adalah senyawa yang rentan. “Perlu ada pengolahan khusus karena antosianin akan rusak akibat proses termal, seperti proses ekstrasi,” tulis tim peneliti dalam laporannya.

Mereka menggunakan metode microwave assisted extraction untuk “memerah” antosianin dari kulit ubi jalar ungu. Proses ini memakai gelombang mikro pada frekuensi 0-3-300 gigahertz dalam bentuk radiasi non-ionisasi elektromagnetik. Dengan metode ini, senyawa yang labil terhadap panas bisa diekstrak dengan efektif. Prosesnya pun lebih singkat ketimbang saat menggunakan teknik konvesional dengan pelarut. “Dengan metode ini, senyawa antosianin dapat bertahan dari kerusakan,” kata Yani, yang berasal dari jurusan gizi kesehatan.

Berdasarkan hasil riset pada tikus yang dikondisikan menderita diabetes, Akulugu dapat menurunkan gula darah. Sensitivitas insulin pun meningkat. Menurut Yani, kesehatan tikus yang diterapi dengan Akulugu membaik, sama seperti kondisi hewan serupa yang tidak mendapat perlakuan apa pun. “Perlu ada penelitian lebih lanjut mengenai kapan dan berapa lama AMPK dapat diaktifkan, karena informasi yang tersedia masih terbatas,” kata Yani.

Meski masih dalam tahap uji laboratorium, tim peneliti telah membuat larutan Akulugu yang dikemas dalam botol berukuran 100 militer dengan komposisi ekstrak antosianin dan madu. Dosisnya dua-tiga sendok teh, diminum setelah makan. Namun larutan itu tidak cocok digunakan oleh pasien diabetes yang memiliki riwayat iritasi lambung karena punya efek samping nyeri pada perut. “Keterangan pada kemasan dan botol Akulugu adalah hasil pengujian pada tikus yang kami asumsikan cocok bagi manusia dan itu menjadi rencana kami ke depan untuk penelitian lebih lanjut,” kata Akbar.

Tri menyambut baik riset ekstraksi antosianin untuk dipakai dalam pengobatan penyakit diabetes. “Obat-obat yang sekarang dipakai dulu juga berawal dari riset dengan bahan herbal,” katanya. Hingga saat ini belum ada obat resmi dari ekstrak antosianin untuk mengobati diabetes. Pengobatan diabetes dengan memakai ekstrak antosianin pun sangat terbatas. Kalangan medis hanya merekomendasikan pada pasien obat atau herbal yang sudah terbukti efektif. “Di pasar bisa saja beredar beragam ekstrak untuk obat, tapi kami butuh bukti sahih dan lebih baik menunggu riset selesai semua, lolos uji, dan mendapat pengesahan dari otoritas kesehatan,” katanya.

Tri mengatakan antosianin selama ini juga dikenal sebagai senyawa dengan efek antioksidan. Namun Tri mengatakan pemberian antioksidan pada pasien diabetes juga belum dirutinkan. “Hasilnya kontroversial dan data keamanan jangka panjangnya belum ada. Jadi butuh riset lagi,” ujarnya.

Profesor M. Rasjad Indra, yang membimbing riset tersebut, mengatakan perlu dilakukan uji klinis pada manusia untuk memastikan efektivitas, keamanan, dan gambaran efek samping akibat obat. “Akulugu berpotensi dikembangkan menjadi obat karena hasil uji praklinis pada tikus dianggap berhasil,” kata Pembantu Dekan II Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ini.

Fadia, Kepala Produksi Repoeblik Telo, perusahaan yang menyuplai bahan baku limbah kulit ubi ungu untuk tim Akbar, mengatakan riset Akulugu itu menaikkan citra umbi. Ubi ungu itu kini tak lagi sekadar bahan pangan. Perusahaannya, menurut Fadia, menghasilkan limbah kulit ubi ungu 100 kilogram. “Penelitian itu juga mengurangi beban penanganan limbah kulit ubi jalar ungu,” kata Fadia, yang menyatakan pihaknya bersedia membantu riset Akbar dan kawan-kawannya.

Akulugu, yang bakal dipatenkan, rencananya akan dibuat dalam bentuk tablet dan kapsul karena lebih praktis dan ekonomis. Namun riset lanjutan jelas tak bisa dilakukan peneliti sendirian. Rasjad mengatakan pengembangan obat hingga bisa dipasarkan bisa memakan waktu lebih dari 10 tahun dengan biaya yang besar. “Untuk melanjutkan ke fase uji klinis, kami butuh dukungan pemerintah dan kalangan industri,” katanya.

Mahardika Satria Hadi, Abdi Purmono (Malang), Gabriel Wahyu Titiyoga



Ubi Jalar Ungu


Masyarakat Indonesia mengenal ubi jalar ungu (Ipomea batatas L.) sebagai bahan pangan. Dengan produksi mencapai 2,1 juta ton, menurut data Badan Pusat Statistik, Indonesia adalah produsen ubi ungu terbanyak ketiga di dunia. Sebanyak 89 persen produksi ubi jalar menjadi bahan pangan sementara, sisanya dipakai untuk industri saus dan pakan ternak.


Proses ekstraksi antosianin dari kulit ubi ungu


1.   Kulit ubi ungu dicuci bersih. Dikeringkan dengan pengering kabinet 12 jam.
2.   Dihaluskan dan diayak menjadi tepung kulit ubi ungu.
3.   Dicampur asam tartarat dan etanol 96 persen. Lalu “adonan” diaduk dengan magnetic stirrer.
4.   Pemisahan ekstrak dan bubuk kulit ubi ungu.
5.   Disaring kemudian dikentalkan dengan rotary evaporator.
6.   Dilarutkan dalam air destilasi.
7.   Akulugu jadi.





CATATAN:  

Laporan Akulugu dipublikasikan di rubrik Ilmu dan Teknologi Majalah TEMPO Edisi 28 Juli-3 Agustus 2014, halaman 76-77, dengan judul yang sama. 



Share this :

Previous
Next Post »