Becak Siantar Terancam Punah

Selasa, Januari 19, 2010
Turis bergaya di halaman Hotel Siantar
Naskah dan Foto: ABDI PURMONO

BECAK sudah lama dikenal di Indonesia. Ambil contoh di Sumatera Utara. Di provinsi ini ada tiga kota yang memiliki transportasi becak yang khas. Becak di “Kota Salak” Padang Sidempuan bermesin Vespa 1970-an. Becak bermotor Yamaha 1970-an mudah dijumpai di Kota Rantau Prapat.

Sedangkan becak yang lebih khas dan unik dibandingkan di Sidempuan dan Rantau ada di Pematang Siantar, kota yang berjarak 128 kilometer dari Medan ke arah selatan. Di kota ini pula wakil presiden ketiga Indonesia, Adam Malik (almarhum), lahir pada 22 Juli 1917.

Disebut khas dan unik lantaran becak di Siantar bermesin sepeda motor BSA yang berusia puluhan tahun dan sudah langka. Sepeda motor ini buatan Inggris dan dijadikan alat berperang oleh tentara Inggris di Pulau Jawa pada Perang Dunia II. Rata-rata usianya telah mencapai 60 tahun. Motor-motor becak itu ada yang buatan 1941, 1948, 1952, 1953, 1954, 1955, dan 1956.

Kartiman dan istri.

Begitulah yang diingat Kartiman, salah seorang pentolan penarik becak di Siantar, yang juga mantan ketua Group Motor Tua Pematang Siantar (GMTS). “Kalau tak salah, sekarang jumlahnya tinggal sekitar 400-an buah,” katanya.

Kapan masuknya becak ke Pematang Siantar agak sukar dipastikan. Menurut Kartiman, sarana angkutan roda tiga itu dirintis oleh P. Siahaan pada 1956, dengan becak bermotor (betor) berkekuatan 125 cc, bermerek Frans Barnet, Alpino, Filler, KK, dan SAF. Sayangnya becak generasi pertama ini tak bertahan lama.

Berada pada ketinggian 400 meter di atas permukaan laut, dengan permukaan tanah yang berbukit-bukit, menyebabkan jalan-jalan di kota seluas 79,97 kilometer persegi ini menanjak dan menurun. “Waktu itu jalanan malah masih berbatu koral dan sering berlumpur. Sudah begitu betor tak sanggup mengantar penumpang sampai ke jalan-jalan kecil seperti gang karena jalannya sempit dan jelek. Karena tak mampu mengatasi tantangan tersebut, makanya lalu diganti,” pria 62 tahun itu memaparkan.

Baru di era 1960-an jalanan kota berpenduduk 240.831 juta (Sensus Penduduk 2000) ini diramaikan becak bermesin Triumph, Ariel, Norton, BSA, AJS, dan Machles. BSA yang paling menonjol dari keenamnya. Motor tua ini dibawa almarhum Baren Purba dan Situmorang dari Jawa. Juli Purba (68), seorang penarik becak di Siantar, pun senada dengan Kartiman. Pada masa itu pula lahir organisasi abang becak pertama, yakni Persatuan Becak Mesin Siantar (PBMS).
Maskot Kota Pematang Siantar.
Masing-masing pemilik becak bersaing menampilkan kelebihan becaknya, mulai dari mesin hingga aksesoris. Alhasil, dengan penyebab dan alasan masing-masing, satu demi satu becak berguguruan. Yang bertahan cuma betor BSA 500 cc (1941 dan 1948) dan BSA 350 cc (1952, 1953, 1954, 1955, dan 1956). Lambat laun motor BSA kian langka.

Kelangkaan itu membuat onderdil atau suku cadangnya sudah tidak lagi dijual di pasar. Perawatannya kian sulit. Karena langka, motor BSA menjadi collector items yang menarik dan mahal. Banyak motor BSA di Siantar menjadi buruan kolektor motor antik dari Jakarta. BSA 1952 milik Kartiman pernah ditawar seharga Rp 30 juta.

“Belum mau saya jual karena harganya tidak cocok. Jangankan untuk Indonesia, seingat saya, betor BSA di Siantar yang khusus membawa penumpang umum ini satu-satunya di dunia,” katanya, tanpa menyebut angka penawaran yang pasti.

Becak Siantar semula berbentuk bak sampan, kayak becak mesin di Medan sekarang. Bentuk tempat duduk penumpang yang letaknya di sebelah kiri setinggi satu meter berisi dua orang, hanya terbuat dari terpal. Pada sisi kanan dan kirinya diberi besi penyangga dan bisa dilipat-lipat. Perombakan terjadi di awal 1970-an. Selain menggunakan pelat-pelat besi membentuk tempat duduk dan penutup payung hujan, di bagian depan menggunakan dinding kaca. Di bagian bawahnya diberi tempat pijakan kaki.

Sedangkan ban di sebelah tempat duduk dibuat penutupnya sebagai penahan rembesan tanah atau lumpur. Di bagian belakang tempat duduk disediakan bak kecil “berpagar” pelat besi bagi barang-barang bawaan penumpang, seperti belanja sayuran.

Tapi, sekarang ini pengadaan suku cadang betor BSA merupakan hasil modifikasi atau perombakan dari suku cadang motor lain, semisal Honda. Mulai dari platina, karburator, busi, tidak ada lagi yang asli. Semuanya hasil dari pembubutan di bengkel-bengkel yang secara khusus mau melayani kebutuhan suku cadang penarik becak.

“Jumlahnya (ada) enam. Di Jalan Kampung Banten, Jalan Tombang, Jalan Pahlawan, Jalan Rami, dan Jalan Singosari. Selagi masih ada las bubut, becak Siantar masih bertahan dan saya sendiri belum mau pensiun dari membecak,” pria Jawa yang beristrikan perempuan Batak ini menegaskan. Ia mengaku sudah membecak sejak 1962.

Semua penarik becak di Siantar bisa jadi montir karena umumnya juga menjadi pemilik langsung. Hanya sedikit becak yang disewakan ke orang lain. Mereka terbiasa memperbaiki becak di rumah masing-masing tanpa harus ke bengkel. Perlu diketahui, dulunya sebagian besar tukang becak di Siantar adalah veteran, sehingga pernah enam organisasi penarik becak dilebur ke dalam Karyawan Betjak Veteran RI (Karbevsi), tapi kemudian bercerai lagi, dengan masing-masing kepengurusan. Kini sebagian penarik becak menjadi anggota Koperasi Becak Nasional (Kobenas).

Repro dokumentasi foto becak milik Pak Kartiman.
Walau sudah banyak onderdil yang tidak asli lagi, keaslian motor BSA masih tampak, misalnya, dari tangki mesin berisi 12 liter dengan logo BSA, stang (kemudi) berkrom, speedometer BSA (yang sudah tidak berfungsi), velg, lampu bulat, sayap depan dan belakang.

Penampilan betor BSA memang tampak garang. Itu luarnya. Penumpang yang naik di dalamnya bisa merasa nyaman karena pegas motor begitu kuat tapi lembut. Penumpang akan merasa duduk di “kursi goyang”. Dengan tempat duduk yang terbuat dari busa, penumpang tak perlu kuatir kesakitan bila becak melintasi jalan berlubang. Hanya telinga saja yang mungkin terganggu karena suara mesinnya keras dan bulat, meraung-raung. Suara mesin ini juga yang masih asli dari betor BSA.

Keunikan becak Siantar BSA kemudian menjadi ciri khas dan daya tarik bagi wisatawan, walau berangsur-angsur tersingkir oleh kehadiran mobil penumpang (mopen) yang beroperasi hingga larut malam. Belakangan ini, setelah mopen kota bebas memasuki wilayah yang selama ini menjadi lahan penarik becak, penghasilan mereka per hari jauh merosot, dari Rp 40 ribu menjadi Rp 25 ribu.

Terdesak oleh mopen menjadi alasan penarik becak di Siantar mendesak wali kota Pematang Siantar supaya menertibkan mopen kota yang beroperasi tanpa batas waktu. Sudah beberapa kali mereka berunjuk rasa, tapi keadaan belum banyak berubah seperti yang diharap. Sudah langka, terancam pula. ABDI PURMONO


CATATAN:
Naskah asli berjudul “Becak Siantar Terancam Punah” kubuat sepulang mudik dari Medan, Simalungun, dan Pematang Siantar. Naskah itu kemudian diedit oleh redaktur dan muncul di rubrik Nusa Koran Tempo edisi Kamis, 19 Desember 2002, halaman 11, dengan judul Becak Siantar, Barang Langka Penarik Wisatawan




Share this :

Previous
Next Post »