Siapa Mau Jadi Gelandangan di Jepang?

Kamis, Desember 17, 2009
Dekat kampus Universitas Sophia, Distrik Chiyoda, Tokyo, 18 November 2005.
Naskah dan Foto: ABDI PURMONO

MUSIM dingin (fuyu) sedang berlangsung di Jepang. Kuteringat perjalanan ke beberapa kota di sana, termasuk perjalanan di musim semi (haru), musim panas (natsu), dan musim gugur (aki).

Total, seingatku sepanjang kurun 2005-2008, sudah 28 kota yang kukunjungi di sejumlah prefektur. Prefektur sederajat dengan provinsi. Kota-kota itu antara lain Ishigaki (kota paling ujung di selatan Kepulauan Okinawa), Osaka, Kyoto, Nagoya, Hiroshima, Toyohashi, dan Nagasaki. Kebanyakan perjalanan kutempuh dengan kereta api, hanya ke Okinawa yang naik pesawat ditambah naik speedboat untuk menjangkau beberapa pulau di sana.

Aduh, ongkos pesawat dari Nagoya ke Naha (Ibu Kota Prefektur Okinawa) selama sekitar dua jam penerbangan justru jauh lebih mahal ketimbang ongkos Nagoya-Denpasar atau Tokyo-Jakarta.

Perjalanan di musim dingin yang paling menarik bagiku. Bukan karena dingin dan salju putih yang bisa membekukan jari-jari dan membuat bibir mengatup rapat serapat-rapatnya, serta mengingatkanku pada drama Korea Selatan ternama, Winter Sonata, melainkan kesempatan bisa melihat gelandangan alias tunawisma di negeri berpenduduk sekitar 127 juta jiwa itu. Jadi, jangan dikira di Jepang yang makmur nihil gelandangan. 

Bedanya, jika di negara berkembang macam Indonesia orang gelandangan adalah mereka yang benar-benar melarat dan terabaikan, gelandangan di Jepang justru mereka yang tergolong makmur untuk ukuran negeri kita.

Pemerintah Jepang semula malu-malu mengakui adanya gelandangan, apalagi warga yang hidup beratap langit diekspos. Soalnya, boleh jadi, sebelum era 1990-an, Jepang suka “menyombongkan” diri dengan mengatakan fenomena gelandangan hanya ada di negara-negara seperti Amerika Serikat. 

Toyohashi, Prefektur Aichi, 17 Januari 2006
Lha, Amerika Serikat saja diejek, apalagi negara-negara berkembang dan terbelakang. Tapi Pemerintah Jepang sekarang lebih terbuka dan realistis menerima fenomena gelandangan yang jumlahnya cenderung meningkat, dan sangat serius mengurusi mereka.

Aku belum mendapatkan data terbaru dan akurat. Merujuk pada data 2004 dan 2005, jumlah gelandangan pada 2000 ditaksir berlipat 4 ribu kali. Mereka yang semula masuk dalam kelompok “kerah putih” (bukan karyawan klerek atau buruh) akhirnya juga berumah di dalam gubuk kardus. Padahal, satu dekade ke belakang, gelandangan Jepang didominasi buruh konstruksi.

Gambaran lebih jelas dapat dirujuk dari hasil survei 2003 yang dilakukan Departemen Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Pemerintah Jepang (Kosei Rodo Sho). Survei terhadap 2.000 gelandangan ini dilakukan dalam kurun Januari-Februari 2003, dengan metode wawancara.

Gelandangan di Jepang per 2003 tercatat sebanyak 25.296 orang atau cuma berkisar 0,019 persen dari seluruh populasi penduduk Jepang. Mayoritas mereka berada di dua wilayah prefektur (sederajat provinsi), yakni Osaka dan Aichi, serta di Tokyo, Ibu Kota Jepang.

Di Prefektur Osaka terdapat 7.757 gelandangan, yang 6.603 orang di antaranya tinggal di Kota Osaka. Sebagian dari mereka bisa dilihat di Taman Kastil Osaka (baca: Sebuah Kastil di Belantara Beton). Sebanyak 6.361 orang gelandangan menyebar di seluruh wilayah Tokyo dan sekitarnya (mirip Jakarta dengan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Kota megapolitan Tokyo saja dihuni 5.500 tunawisma yang tersebar di 23 distrik.
Taman Kastil Osaka di Distrik Chuo-ku, 9 Mei 2006
Sedangkan Prefektur Aichi mempunyai 2.121 gelandangan, yang 1.788 orang di antaranya hidup di Kota Nagoya. Selebihnya mereka menyebar di sejumlah kota seperti Kawasaki (829 orang), Kyoto (624 orang), Fukuoka (607 orang), Yokohama (470 orang), dan Kitakyushu atau Kyushu Utara (421 orang).

Oh ya, sekadar tahu, Fukuoka dijuluki Hakata bi jin atawa beautiful women alias kota dengan banyak perempuan cantik dan modis dengan mode busana mutakhir. Rambut mereka umumnya dicat. Di Fukuoka pula kumelihat deretan warung layaknya warung yang biasa kita lihat di pinggir kali, tapi di sana lebih bersih dan rapi. Yang dijual ramen, jajanan mi kuah yang rada-rada mirip dengan mi kocok bandung.

Nasib boleh sama, tempat tinggal berbeda-beda. Sebanyak 40,8 persen gelandangan betah tinggal di taman kota (koen), 23,3 persen suka menetap di bantaran sungai yang lapang, 17,2 persen nongkrong dan tidur di trotoar jalan, 5 persen memilih kelayapan di stasiun kereta api (eki), dan sisanya (13,7 persen) hidup menyebar di macam-macam tempat.

Di saat musim dingin begini, banyak gelandangan yang berpindah tempat di sekitar eki karena tempatnya lebih hangat. Sempat kujumpai sejumlah gelandangan di Stasiun Kereta Api Tokyo (Tokyo Eki). Di tempat seramai eki tentu agak sulit menandai gelandangan.

Biasanya mereka membentuk kelompok kecil beranggotakan 3-5 orang, dengan pembagian tugas yang jelas. Aku merasa beruntung saat memergoki seorang gelandangan tua yang mengintip-intip dan mengulik lobang uang di dua mesin penjualan otomatis di Stasiun Kereta Api Tokyo. Kebetulan, mesin swalayan (jido hanbaiki atau vending machineyang menyediakan aneka minuman dalam kaleng dan botol plastik ini berada di tempat yang tidak terlalu ramai dilewati orang.

Fukuoka, 5 Januari 2008
Ada pula yang bertugas mengamati lubang keluarnya uang di mesin penjualan tiket kereta api (kenbaiki), dengan harapan mana tahu ada recehan yang nyangkutYang perempuan biasanya ditugasi membeli makanan. Biasanya yang dibeli onigiri, yakni nasi kepalan nan pulen dan hangat yang biasanya berisi irisan ikan tuna, serta dibalut lembaran nori (rumput laut) kering. Onigiri berharga murah, tapi mengenyangkan.

Jika tidak terlalu dingin, banyak gelandangan yang ngetem di taman. Saban hari aku selalu melewati taman Morishita, salah satu taman kecil di Shizuoka-shi (Kota Shizuoka). Seperti yang kusaksikan pada Rabu, 14 Januari 2006, ada seorang gelandangan yang enak-enakan tidur di tengah kerimbunan tanaman perdu.


Sepintas, dari luar tanaman itu bergerombol rapat, tapi sesungguhnya 
bolong di tengahnya karena dijadikan ranjang semalam atau sekadar berbaring malas-malasan. Ditilik dari penampilannya, kayaknya di bukan seorang gelandangan murni. Dia berkaca mata, berpakaian rapi, dan rambutnya mulai memutih. Sambil tidur-tiduran dia membaca sebuah buku. Kecuali kepala, seluruh badannya tertutupi selimut tebal. Tak jauh dari posisinya terdapat sepeda motor 50 cc.

Masih di koen itu, aku acap menjumpai seorang tua ubanan, berpakaian lusuh, dan loyo kalau berjalan, yang suka menggendong seekor kucing cokelat gemuk dan menggemaskan. Di sekitarnya masih ada lima ekor kucing besar. Entah dari mana duitnya, tapi yang jelas si Pak Tua rajin memberi makan kucing-kucingnya dengan makanan kaleng, dengan meletakkan tiga piring di bawah payung dan kotak kardus. Pak Tua juga punya sepeda yang lebih bagus kondisinya ketimbang sepeda yang kupakai untuk pergi-pulang sekolah.


Di tempat terpisah masih di Kota Shizuoka, sejumlah gelandangan membangun gubuk di bantaran atau tepatnya di bawah jembatan Sungai Abe (Abekawa). Tidak seperti gelandangan di Jakarta, misalnya, gelandangan di Sungai Abekawa ini memiliki perabotan rumah tangga yang nyaris komplet dan hampir seluruhnya serba otomatis, plus sepeda bagus.
Di bantaran Sungai Abe, Shizuoka, 3 Januari 2006
Fenomena gelandangan itu tercermin dalam hasil survei tadi. Para gelandangan di Jepang rata-rata berusia 55,9 tahun; dengan perincian 55-59 tahun (23,4 persen), 50-54 tahun (22 persen), 60-64 tahun (20,3 persen). Mayoritas dari mereka memilih menetap di satu tempat (84,1 persen), selebihnya nomaden.

Yang menarik, agaknya, mereka jadi homeless bukan murni keinginan sendiri. Kebanyakan karena terpaksa dengan pelbagai alasan dan latar belakang. Sekitar 30,7 persen responden menjadi gelandangan kurang dari setahun. Sebanyak 25,6 persen hidup menggelandang selama 1-3 tahun. Yang baru jadi gelandangan selama 3-5 tahun sebanyak 19,7 persen. Yang sudah jadi gelandangan selama 5 tahun lebih banyak lagi, yakni 76 persen.


Mayoritas dari mereka hidup dengan mengandalkan dari memulung (73,3 persen), dengan penghasilan per bulan rata-rata 10.000 sampai 30.000 yen (35,2 persen) dan 30.000 sampai 50.000 yen (18,9 persen). Jika dirupiahkan dengan kurs Rp 100 per yen, maka penghasilan itu setara dengan Rp 1 juta hingga Rp 3 juta dan Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per bulan.


Terungkap pula, sebelum jadi gembel, kebanyakan mereka bekerja di bidang konstruksi (55,2 persen), selebihnya bekerja di sektor pertanian dan pembuatan macam-macam produk. Mereka sempat menjadi pekerja tetap (39,8 persen) dan pekerja tidak tetap (36,1 persen).


Menjadi homeless bukanlah pilihan sejati. Logikanya, siapa sih yang sudi jadi gelandangan? Sebanyak 35,6 persen responden mengaku jadi gelandangan karena lapangan kerja tiada. Menariknya lagi, 32,9 persen mengaku hidup menggembel karena bangkrut dalam berusaha atau kehabisan tabungan. Lalu 18,8 persen orang jadi gembel karena tua dan sakit-sakitan, sementara mereka tak ingin jadi beban keluarganya sehingga minggat dari rumah dan atau karena hidup sebatang kara.

Mayoritas dari mereka pernah menikah (53,4 persen) dan mempunyai keluarga. Tapi, tak disebutkan alasannya, 77,1 persen responden sudah tidak pernah kontak lagi dengan keluarga mereka.


Karena hidup tak teratur, maka banyak gembel yang kesehatannya jelek. Sebanyak 47,4 persen gelandangan mengaku penyakitan, dan 68,4 persen dari mereka mengaku belum mendapat pengobatan.


Di salah satu taman di Kota Fujieda, Prefektur Shizuoka, 17 Januari 2006

Untunglah Pemerintah Jepang sangat perhatian dan peduli, tak gemar pamer angka statistik. Karena sistem kesejahteraan sosial di negaranya sudah sangat prima, maka 33,1 persen gembel rajin bertandang ke kantor kesejahteraan sosial untuk konsultasi sekaligus mendapatkan bantuan. Ada yang memilih menginap di tempat penampungan umum (38,7 persen). Yang berminat mengasah keterampilan agar dapat mandiri (38,9 persen) mendatangi pusat-pusat latihan kemandirian yang fungsinya mirip balai latihan kerja di Indonesia.

Yang mengaku masih sering mendapatkan bantuan kesejahteraan sebanyak 24,5 persen. Sedangkan 72,9 persen gelandangan pernah mendapatkan bantuan pangan, semisal makanan gratis, serta bantuan barang-barang rumah tangga dan pakaian.


Karena pada dasarnya tak seorang pun sudi jadi gelandangan, kaum tunawisma Jepang sesungguhnya kepingin mandiri. Keinginan ini tercermin dari 49,7 persen orang yang ingin bekerja lagi. Begitu pun, 13,1 persen responden masih rela menjalani hidup beratap langit, berdinding kardus, dan menggelandang ke sembarang tempat yang disukai.


Kesimpulannya, gelandangan di sana tidak mengemis dan nasibnya jelas masih lebih baik dan terurus meski kebanyakan dari mereka malu diurus negara karena tak ingin menjadi “sampah” yang merepotkan masyarakat. Kontras sekali dengan di negeri kita, yang pemerintahnya suka membanggakan angka statistik penurunan jumlah orang miskin, padahal faktanya belum tentu begitu.


Aku jadi teringat pada kisah film Langitku Rumahku yang digarap Slamet Rahardjo Djarot dan sang sutradara diganjar sebagai sutradara terbaik pada Festival Film Indonesia 1990. Tapi, konon, peredaran film itu sempat dihalang-halangi rezim Orde Baru. ABDI PURMONO

Share this :

Previous
Next Post »