Senjakala Samurai Tua

Rabu, Februari 29, 2012
Majalah TEMPO Edisi 28 November – 4 Desember 2011

Rahmat Shigeru Ono, 1 Januari 2002.
Foto-foto: ABDI PURMONO

Rahmat Shigeru Ono, mantan serdadu Jepang pembela Republik, memilih Jawa Timur sebagai kampung halaman barunya.

MATA dan telinga lelaki tua itu nyaris tak berfungsi. Kepada Tempo yang menyambangi ruang tamunya di Desa Sidomulyo, Batu, Jawa Timur, dua pekan lalu, ia menjulurkan tangannya untuk bersalaman ke arah yang salah. Sedangkan tangan kirinya pendek, hanya sebatas siku. Dia juga meminta tamu berbicara lebih keras.

Nama aslinya Sakari Ono, lahir di Hokkaido, Jepang, 92 tahun lalu. Usia tak mampu membendung semangatnya bercerita tentang pengalaman hidup, terutama Perang Kemerdekaan 1945-1949. Kisah ini dituturkan dalam buku Mereka yang Terlupakan: Memoar Rahmat Shigeru Ono karya Eiichi Hayashi, yang menceritakan kisah tentara Jepang yang membelot ke Republik. 

Mengutip data Yayasan Warga Persahabatan, Hayashi menyebutkan ada 903 bekas tentara Jepang yang membela Indonesia dalam Perang Kemerdekaan. Sebanyak 243 di antaranya meninggal dalam perang, 288 hilang, dan 45 pulang ke Jepang. Sisanya, sekitar 36 persen, memilih Indonesia sebagai rumah baru.


Penggalian kisah samurai pembela Merah Putih ini berawal dari ketika Hayashi, 27 tahun, menjalani program belajar bahasa Indonesia selama satu bulan di Malang, Jawa Timur, pada Agustus 2004. Panitia mengajaknya menemui seorang Jepang tua di Batu, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Malang. Mengetahui tamunya dari kampung halaman, si kakek langsung menceritakan kisah hidupnya dalam bahasa ibu. “Sebenarnya waktu itu saya tidak mengerti karena beliau berbicara terlalu cepat,” ujar Hayashi melalui surat elektronik. “Dia berbicara berjam-jam, sampai saya mengantuk.”

Namun setumpuk buku harian milik Ono menarik perhatiannya. Saat kembali ke Jepang, Hayashi mendalami fotokopian catatan berhuruf kanji kuno tersebut. Lembar-lembar itu berisi kisah hidup si kakek selama jadi prajurit, baik saat membela Negeri Matahari Terbit maupun Indonesia. Kisah ini tidak pernah ada dalam sejarah kedua negara. Sejak itu Hayashi bolak-balik menemui Ono sampai 80 kali, dan mantan serdadu Jepang lain, baik yang masih hidup maupun makamnya. Hasilnya ditulis dalam tiga buku yang terbit di Jepang sejak 2007 sampai 2010.

Rahmat Shigeru Ono, 16 November 2011.

MATA tua yang terhalang katarak itu menerawang. Kejadian demi kejadian terbentang bak potongan-potongan film, yang dideskripsikan Ono dengan detail berurutan. Ceritanya mengalir dengan bantuan buku harian. Sakari mengganti nama jadi Shigeru untuk menyulitkan Sekutu mencari sisa-sisa tentara Jepang di Nusantara. Seperti desertir Jepang lain, dia mendapat nama Indonesia ketika mendaftar ke markas tentara Indonesia di Bandung, Desember 1945. Dia juga masuk Islam. Komandannya memberi hadiah berupa sarung, baju, dan kopiah. “Rasanya aneh waktu itu, tapi kami senang sudah jadi orang Indonesia,” ujarnya dua pekan lalu. Logat Jepang masih kentara di setiap ucapannya.

Perang tidak hanya membuatnya kehilangan lengan kiri, tapi juga sahabat sekaligus mentor, Ichiki Tatsuo. Lahir di Taraki, Jepang, pada 1906 dan tinggal di Indonesia sejak 1920-an, Tatsuo sempat jadi Pemimpin Redaksi Asia Raya, koran tempat Rosihan Anwar bekerja. Dalam Perang Kemerdekaan, dia komandan Ono di Pasukan Gerilya Istimewa, kelompok yang terdiri atas 28 eks serdadu Jepang dan berulang kali membuat Belanda kocar-kacir. Abdurrahman, panggilan Tatsuo, tewas tertembus peluru kompeni di perbatasan Turen dan Wajak, Malang, 3 Januari 1949. Pada 1956, Presiden Sukarno mendirikan monumen di makam Tatsuo di Kuil Seisyo, Minato, Tokyo. Di sana tertulis kalimat dari Sang Proklamator: Kemerdekaan itu bukannya untuk satu bangsa akan tetapi untuk seluruh bangsa yang ada di muka bumi ini.

Perang yang membuatnya kehilangan tangan kiri berakhir setelah pengakuan kedaulatan, Desember 1949. Ono meninggalkan militer dengan pangkat letnan dua, dan kembali ke pekerjaan yang digelutinya sejak kecil, bertani. Dia tinggal di Batu, tak jauh dari Pasuruan, tempat dinas terakhirnya sebagai Wakil Komandan Pasukan Untung Suropati 18.

Karena usianya sudah kepala tiga tapi masih jomblo, teman-teman sibuk menjodohkannya. Targetnya Darkasih, 22 tahun, janda tanpa anak yang baru ditinggal mati suaminya. Usaha pertama ditolak. “Mungkin karena tangan kiri saya tidak ada, dikira tidak bisa cari makan,” ujar Ono terkekeh. Tak putus asa, dia kembali melamar Darkasih dan menikah pada 1950. Pasangan itu dianugerahi enam anak, plus 13 cucu dan empat cicit. Sang istri meninggal pada Juni 1982.

Dia mendapat uang pensiun dari negara barunya, tapi tak mencukupi bahkan untuk sekadar membeli rokok. Waktu itu dia perokok berat, sampai dua bungkus saban hari. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Ono menanam padi, sayur, dan buah di lahan milik mertua. “Saya tidak mau kalah dengan petani yang punya dua tangan,” katanya sembari mengepalkan tinju. Entah karena keseringan memacul satu tangan atau bawaan lahir, tulang tangannya terlihat lebih besar daripada orang kebanyakan.

Lima belas tahun jadi petani, dia mengadu nasib di Jakarta dan bekerja di perusahaan Jepang. Di Ibu Kota, pada 1970, dia hampir kehilangan nyawa. Dia menumpang becak saat keluar dari Hotel Indonesia, sembari membawa sepatu yang terbungkus kotak dan kertas. Ketika melewati pertokoan Sarinah di Jalan M.H. Thamrin, perampok merobek perut dan merampas bungkusan yang dikira berisi uang itu. Darah mengucur dan dia melihat usus menyembul. Beruntung, warga sigap membawanya ke rumah sakit. “Rasanya ajaib saya masih hidup,” katanya.

Pada tahun yang sama, Ono pindah ke Amuntai, Kalimantan Selatan. Dia berbisnis rotan dan mengirimnya ke Jepang. Dia memilih pensiun sepuluh tahun kemudian, dan kembali bertani di Batu. Beberapa tahun belakangan, kondisinya sudah terlalu lemah untuk mengayunkan pacul. Dia juga absen dari undangan upacara 17 Agustus di Istana Merdeka, yang dihadirinya sejak 1982. Papi, panggilannya, cuma sesekali sibuk mengecek kebun apel, dan lebih banyak menghabiskan waktu menonton—atau lebih tepatnya mendengar—televisi. Saluran favoritnya kantor berita Jepang, NHK. Namun dia masih kuat berpuasa Ramadan. Anak-anaknya sering kena semprot jika tidak membangunkannya saat sahur.


Jiwa Jepang tidak luntur meski tinggal di tanah Jawa selama tujuh dasawarsa. Dia bisa menyanyikan Kimigayo, lagu kebangsaan Jepang, tanpa salah. Ono-san sering mengenakan chanchanko—semacam kimono yang menyerupai jaket—saat menyambut tamu. Juga menyukai sayur kegemaran masyarakat Negeri Matahari Terbit: lobak. 

Sewaktu masih berkebun dulu, sayur yang disebut daikon dalam bahasa Jepang itu selalu dia tanam, meski tahu tidak laku dijual dan tak digemari keluarga. Lobak dia tanam untuk dimakan sendiri. Kesukaan lain adalah umeboshi, buah plum yang diasinkan dan berasa asam.

“Saya tidak suka Indonesia yang sekarang, korupsinya makin banyak,” ujar peraih bintang veteran dan gerilya dari Sukarno ini. Batuk pria sepuh itu sejenak menghentikan obrolan. Dia lalu menyeruput minuman kesukaannya, kopi susu, yang juga jadi menu wajib untuk disuguhkan kepada setiap tamu. Dia terus nyerocos, bertanya kapan korupsi bisa diberantas habis, lalu dengan penuh semangat bercerita tentang pentingnya pendidikan antikorupsi untuk siswa sejak sekolah dasar.

Ono teringat alasan yang menghalanginya naik kapal untuk pulang ke Negeri Sakura: memenuhi janji Jepang memberi Indonesia kemerdekaan. “Ini tidak sesuai dengan tujuan proklamasi.” Mata yang nyaris buta itu kembali menerawang....


Serdadu Jepang Berpeci Hitam

Hampir seribu serdadu Jepang menolak kembali ke negaranya setelah Perang Dunia II. Mengusung Merah Putih dalam perang kemerdekaan melawan Belanda.

BANDUNG, 15 Agustus 1945, merupakan titik balik hidup Shigeru Ono. Di sebuah barak militer, prajurit berpangkat sersan itu berkumpul dengan rekannya sesama tentara Jepang, seraya membahas satu hal yang teramat penting: bom atom telah meluluhlantakkan basis angkatan darat di Hiroshima dan angkatan laut di Nagasaki, dan ini membuat posisi mereka dalam Perang Asia Timur Raya terdesak. 

Monumen Perdamaian Hiroshima
Minggu, 6 Agustus 2006.

Buku Mereka yang Terlupakan: Memoar Rahmat Shigeru Ono karya Eiichi Hayashi lalu melukiskan kebingungan yang meliputi para serdadu tatkala mendengar Kaisar Hirohito menyerah tanpa syarat. 

Semua terpukul, apalagi setelah para serdadu yang berasal dari Korea langsung membangkang. Pikiran melakukan harakiri sebagai jalan keluar heroik atas kegagalan menjalankan tugas sempat melintas, tapi Shigeru Ono akhirnya memilih jalan yang mengantarnya ke dunianya kini.

Mengukuhkan niatnya, Shigeru Ono kemudian menitipkan sebuah amplop berisi potongan rambut dan kukunya, plus surat, kepada seorang rekannya yang bakal pulang ke Jepang. Ya, selembar surat yang menyatakan dia sudah mati kepada keluarganya. Sampai di sini, pembaca Mereka yang Terlupakan: Memoar Rahmat Shigeru Ono mendapatkan kesan: Shigeru Ono yang dulu telah mati, dan kini hanya ada Shigeru Ono yang baru. Menanggalkan seragam militer Jepang, ia—kini orang memanggilnya Rahmat, nama barunya—bersarung, berkopiah, bertempur di bawah komando kapten Sugono bersama para pemuda pejuang kemerdekaan di Bandung.

Buku itu sebenarnya bercerita tentang sosok yang sama tapi hidup dalam dua kondisi berbeda: Perang Pasifik (1942-1945) dan Perang Kemerdekaan (1945-1949). Shigeru Ono, anak petani dari Pulau Hokkaido, mulai terlibat dalam pertarungan akbar ini ketika ia lulus dari sekolah angkatan darat dan mendaftar untuk diterjunkan ke daerah-daerah selatan. Ia bertempur di Saigon dan Singapura, sampai kemudian tersangkut di bagian barat Jawa untuk menghancurkan pasukan Belanda. Seusai Perang Pasifik 1945, ia beserta sejumlah kawan yang tergabung dalam Pasukan Gerilya Istimewa lantas menjadi ancaman bagi serdadu Belanda di kaki Gunung Semeru.

Taman Perdamaian Nagasaki 
Minggu, 3 Januari 2008
Dalam pengantarnya, sejarawan Asvi Warman Adam meletakkan serdadu Jepang seperti Shigeru Ono dalam kelompok zanryu nihon hei atau prajurit yang tinggal di belakang. Dengan kata lain, ia merupakan bagian dari pasukan Jepang. Mungkin karena inilah, kesaksian Ono tidak meliputi hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hubungan Indonesia-Jepang sekarang, seperti kekejaman kempetai, penderitaan berkepanjangan jugun ianfu, dan eksploitasi tak terperi terhadap para romusha.

Kita tentu saja menyambut bantuan Ono dan kawan-kawannya sesama zanryu nihon hei menghajar pasukan Belanda. Kendati begitu, Mereka yang Terlupakan merupakan catatan memoar yang selalu diliputi oleh subyektivitas penulis atau tokohnya. Dan adalah hak keduanya untuk memilih-menyeleksi kejadian yang bakal ditulisnya. Namun, harus diingat, kredibilitas seorang penulis dibangun atas obyektivitasnya melihat masalah. REZA MAULANA, ABDI PURMONO (Malang) 


http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/11/28/BK/mbm.20111128.BK138324.id.html


Eiichi Hayashi dan Rahmat Shigeru Ono, Kamis, 24 Maret 2011.


Ini penuturan tertulis Eiichi Hayashi yang diberikan kepada saya. Saya salin ulang seperti aslinya di luar konten di atas: 

Saya berasal dari Prefektur Mie, Jepang.

Tujuan saya menulis buku ini bukanlah ingin mengajak semua orang untuk berpikir bahwa bekas tentara Jepang yang tidak kembali adalah pahlawan. Saya juga tidak ingin mendiskriminasikan mereka sebagai orang terbuang.

Maksudnya saya ingin menulis sejarah, bagaimana seorang pelaku sejarah yang biasa, maksud saya bukanlah seseorang yang terkenal. Saya merasa Indonesia sangat menghargai pelaku-pelaku sejarah. Contohnya, di setiap kota saya selalu menemukan nama jalan yang diambil dari tokoh-tokoh penting zaman perjuangan.

Saya ingin mengangkat kehidupan pelaku sejarah biasa yang juga tidak biasa karena berasal dari penjajah yang kemudian hidup dalam masyarakat marginal.

Tepat 7 tahun yang lalu, yaitu tanggal 14 Agustus 2004, saya mendapat kesempatan belajar bahasa Indonesia selama sebulan di Malang. Pada saat ikut program tersebut saya diajak berkunjung ke rumah orang tua di Desa Sidomulyo, Kota Batu.

Awalnya saya tidak percaya ada orang Jepang yang sudah tua tinggal di desa tetapi ternyata memang ada. Ada kakek pakai baju chanchanko, tidak ada tangan kiri, kepalanya botak tiba-tiba berbicara bahasa Jepang dengan sangat sempurna dan bercerita tentang zaman perang.

Sebenarnya waktu itu saya tidak bisa mengerti cerita beliau sama sekali karena beliau ceritanya terlalu cepat. Pertama kali mendengar, saya harus mendengar berjam-jam sampai saya mengantuk.

Tetapi kemudian saya sangat tertarik tentang kakek itu sehingga jika ada waktu senggang saya beberapa kali berkunjung ke rumah kakek itu dan mendengar cerita selanjutnya.

Ketika mau pulang ke Jepang saya pinjam fotokopi buku catatan sehari-hari beliau. Catatan sehari-hari itu ditulis tangan oleh kakek itu pada zaman revolusi Indonesia dan pakai huruf kanji kuno jadi susah membaca. Tetapi setelah saya pulang ke Jepang saya memakai kamus dan membaca semua.

Saya kaget karena di situ ada hal-hal yang belum pernah saya pelajari di pendidikan sekolah. Ketertarikan saya bertambah besar. Selanjutnya saya mencoba membaca buku-buku tentang sejarah Jepang-Indonesia tapi tidak bisa ketemu informasi baik, karena ketika kalah perang, kebanyakan tentara Jepang membakar dokumentasi sendiri atau diambil oleh tentara Sekutu.

Setelah tahu itu, saya sering ke Indonesia untuk wawancara kakek itu dan akhirnya terbit tiga buku tentang sejarah bekas tentara Jepang yang tidak kembali dalam bahasa Jepang.

Tetapi ketika tahun kemarin mendapat kesempatan satu tahun penelitian dari JSPS (Japan Society for the Promotion and Science), saya ada kesempatan diskusi bersama mahasiswa-mahasiswa di Indonesia, saya merasa bahwa di Indonesia sejarah mereka tidak pernah diberitahu secara formal. Bahkan dari beberapa buku sejarah anak sekolah zaman Jepang sangat sedikit informasinya.

Sekali lagi saya ingin menyatakan bahwa saya sama sekali tidak ada pikiran untuk menganggap mereka seorang pahlawan Indonesia karena dari hasil penelitian, saya mendapat kesimpulan ada beberapa bekas tentara Jepang yang dengan berbagai alasan malah bergabung dengan kelompok-kelompok separatis Indonesia.

Pada tahun 1980-an mereka para bekas tentara Jepang yang tidak kembali seolah benar-benar terlupakan oleh masyarakat Jepang. Dan akhirnya awal tahun 1990-an, setelah perang dingin usai dan beberapa perubahan di masyarakat dunia juga mempengaruhi nasionalisme Jepang. Hal ini menimbulkan munculnya ideologisasi yang menyatakan bahwa Jepang berperang untuk membebaskan Asia.

Tetapi tidak sedikit juga yang merasa bahwa mereka hanya daso-nihon-hei atau orang-orang yang desersi.

Buku ini bertujuan untuk menampilkan sosok seorang bekas tentara Jepang sehingga dapat menjadi referensi dan sebuah sudut pandang baru tentang keberadaan bekas tentara Jepang yang tidak kembali di Indonesia.

Penulis: Eiichi Hayashi
Penerbit: Ombak, Yogyakarta, 2011
Tebal: 179 halaman
Buku ini bercerita tentang Rahmat Shigeru Ono yang lahir di Furano, Hokkaido, pulau paling utara di Jepang pada tahun 1919 sebagai anak nomor 3 di rumah petani. Sejak kecil beliau membantu pekerjaan rumah karena ayahnya sibuk kerja.

Pada tahun 1939 beliau ikut ujian masuk militer dan lulus dengan nilai tertinggi. Lalu pendidikan di sekolah militer dan naik pangkat, beliau masuk Pulau Jawa pada tahun 1942.

Pada tahun 1943 beliau berdinas di markas besar di Bandung.

Pada 15 Agustus 1945 Jepang menyerah. Desember tahun yang sama beliau lari ke pihak Indonesia dan berpindah tugas ke divisi Jawa Timur.

Ketika 29 bekas tentara Jepang yang tidak kembali berkumpul dan bersatu sebagai Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) pada tahun 1948, Pak Ono juga ikut. Namun ketika memperbaiki senjata api beliau harus diamputasi tangan kirinya.

Pada tahun 1949 sebagian prajurit PGI ikut Pasukan Untung Suropati (PUS) 18 di Malang. Pak Ono menjadi wakil komandan. Pada tahun 1950, Ono-san keluar dari kemiliteran Indonesia, menikah dan menjadi petani dengan hidup sederhana dan kekurangan.

Selama 1945-1958 hubungan negara Jepang dan Indonesia terputus. Ono-san juga belum jadi warga negara Indonesia meskipun mendapat banyak penghargaan dari TNI. Pak Ono resmi dinyatakan sebagai WNI baru pada tahun 1962.

Kebanyakan teman-teman Pak Ono mulai bekerja di perusahan-perusahan Jepang di kota besar. Pak Ono baru tahun 1965 ke Jakarta dan masuk kantor salah satunya. Tetapi karena kantornya jatuh (bangkrut) sehingga Pak Ono ganti beberapa kantor dan untuk kerja sering ke Jakarta, Surabaya, Kalimantan, dan Batu.

Pada tahun 1974 pertama kali pulang ke Jepang karena ada urusan kerja, tetapi waktu itu ayah dan ibu beliau sudah meninggal.

Istri Pak Ono meninggal tahun 1982 dan dia juga pensiun setelah tahun 1990.

Sekarang beliau tetap sehat dan hidup di rumah di Desa Sidomulyo bersama 4 anak, 10 cucu, 6 cicit.

Setiap tanggal 17 Agustus beliau memakai baju TNI dengan bintang gerilya dan ikut acara di Kota Batu.

Karena sudah zamannya berubah bekas tentara Jepang yang tidak kembali di Indonesia sudah tinggal dua orang, Pak Ono dan Pak Eiji Miyahara (Ketua Yayasan Warga Persahabatan) di Jakarta.

Menurut data Yayasan Warga Persahabatan, 903 bekas tentara Jepang yang ikut perang kemerdekaan Indonesia. Lalu sebanyak 324 orang di antaranya tetap memilih tinggal di Indonesia setelah zaman revolusi. Generasi pertama sudah hampir habis dan sekarang zaman genarasi kedua dan ketiga.

Karena ada undang-undang imigrasi Jepang yang lebih mudah kerja di Jepang untuk keturunan Jepang sampai hari ini ada banyak generasi kedua dan ketiga ke Jepang.

Namun penelitian atau nonfiksi kehidupan mereka belum lengkap dan kurang menurut saya. Mudah-mudahan buku yang kali ini terbit dari (penerbit) Ombak (Yogyakarta) membantu keturunan Jepang mendapat identitas mereka dari sejarah generasi pertama dan muncul sejarawan atau journalist mengkaji tentang sejarah bekas tentara Jepang yang tidak kembali dan keturunannya.

Arigatou!




Share this :

Previous
Next Post »
13 Komentar
avatar

Sebuah kisah perjuangan yang patut diteladani dan diacungi jempol. Semoga ini menjadi inspirasi anak bangsa untuk tetap berjuang di dunia kekinian.
Orang Jepang saja bangga mengaku sebagai Bangsa Indonesia, mengapa para pribumi tidak?

Khairul Anam

Balas
avatar

Merinding membaca kisah diatas, orang asing aja mati2an berjuang demi Indonesia ... eh orang Indonesia sendiri mati2an juga menghancurkan indonesia .. ckckck.. contohnya tuh...koruptor!!

Balas
avatar

Saudara Anam dan Kak Ratna, terima kasih untuk komentarnya.

Kita memang harus tetap kritis terhadap negeri sendiri sebagai bukti kita masih mencintai negeri ini, meski sang pengurus negeri entah di mana, antara ada dan tiada.

Balas
avatar

negara semestinya menghargai para pejuang kemerdekaan..terharu membaca kisah nyata seperti ini semoga jadi inspirasi semua anak muda jaman sekarang

Balas
avatar

Ini adalah bukti, Sejarah adalah Misteri. seperti kata orang, Sejarah diatur oleh orang yang menang. jadi yang menang akan memunculkan presepsi yang buruk thdp pelaku yang kalah perang.

Balas
avatar

kalo kisahnya dijadikan film kayaknya seru tuh..

Balas
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang. - Hapus
avatar

Rina, tengkyu ya komentarnya. Negara sudah berusaha mengharga jasa para pejuang, tapi belum maksimal dan optimal. Yang terpenting lagi, jalankan negeri ini sesuai dengan cita-cita dan tujuan proklamasi.

Buat Anonim:

Ada masanya sejarah negeri kita didikte oleh "sang pemenang" sehingga banyak kisah sejarah yang sebenarnya keliru, salah, dan ngawur.

Amak Abdul Rachman:

Sebenarnya ada film yang pembuatannya terinspirasi dari kisah-kisah veteran tentara berdarah Jepang. Sayangnya, konon, film itu dilarang beredar di Indonesia karena dianggap melecehkan harkat-martabat bangsa kita. Padahal, ini masih bisa diperdebatkan kok. Judulnya MERDEKA, para pemerannya dari Indonesia dan Jepang. Tokoh utama perempuannya Lola Amaria.

Balas
avatar

Buat Rina, Anonim, dan Amak Abdul Rachman, terima kasih ya sudah mampir dan berkomentar.

Balas
avatar

Cerita yg sngt mengharukan.
Salute buat bapak rahmat shigeru ono.
Pejuang merah-putih asal jepang.

Balas
avatar

Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'un..
beliau baru saja meninggal hari senin 25 /08/2014... beliau tetangga saya.. lahummul fatihah.... aamiin.. beliau selalu berpesan kpd generasi muda indonesia :BERANTAS KORUPSI, BERANTAS KORUPSI, DAN BERANTAS KORUPSI"

Balas
avatar

Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'un..
beliau baru saja meninggal hari senin 25 /08/2014... beliau tetangga saya.. lahummul fatihah.... aamiin.. beliau selalu berpesan kpd generasi muda indonesia :BERANTAS KORUPSI, BERANTAS KORUPSI, DAN BERANTAS KORUPSI"

Balas