HUMAN Mandiri Berdikari dan Tidak Menomorsatukan Keuntungan

Jumat, November 24, 2017
Pembacaan Deklarasi HUMAN oleh Dwidjo Utomo Maksum. Sumber foto: HUMAN/Kediripedia.com. 

PUKUL lima sore lebih sepuluh menit. Syam Terajana gegas berdiri di atas panggung. Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo ini meniup harmonika dan melantangkan ujaran-ujaran dalam langgam irama dan aksentuasi mirip seorang dukun sedang merapal mantra.

Berselang lima menit, pria bernama tulen Syamsul Huda M. Suhari itu memanggil 19 koleganya di AJI satu per satu untuk naik ke atas panggung hingga semua orang di atas panggung berjumlah 20 orang. Mereka berasal dari 15 kota; empat orang di antaranya berasal dari Kota Padang, Sumatera Barat, dan dua orang berasal dari Kota Malang, Jawa Timur.

Berikutnya Dwidjo Utomo Maksum dari Kota Kediri tampil ke depan untuk membacakan pernyataan pembentukan Himpunan Media Alternatif Nusantara (HUMAN). Usai dibaca, resmilah mereka menjadi deklarator HUMAN.

Pendeklarasian HUMAN dilakukan di atas panggung utama Festival Media AJI. Festival ini diadakan di Grha Soloraya, Kota Solo, Jawa Tengah, Kamis petang, 23 November 2017. Deklarasi HUMAN disaksikan Ketua Umum AJI Indonesia Suwarjono dan staf sekretariat AJI Indonesia, sejumlah anggota dan pengurus AJI Kota, serta pegiat pers kampus dan jurnalisme warga.

Acara pendeklarasian HUMAN berlangsung sederhana, lucu, dan seru tanpa menggerus maksud dan tujuannya yang esensial.

HUMAN didirikan untuk mewadahi sekaligus sebagai jaringan bagi media yang dikelola secara mandiri dan tidak melulu berorientasi pada keuntungan bisnis. Sikap dasar HUMAN beranjak dari keprihatinan terhadap kondisi media arus utama atau mainstream yang cenderung lebih menomorsatukan kepentingan pragmatis untuk mencetak laba sebanyak-banyaknya hingga mengabaikan independensi dan profesionalitas.

“Dari interaksi dan keprihatinan yang sama, sejumlah jurnalis menginisiasi lahirnya media online yang berusaha menarik kembali fungsi pers sebagai penampung dan penyalur aspirasi masyarakat. Ini merupakan tindakan alternatif untuk menjaga marwah media massa,” demikian penggalan deklarasi yang dibacakan Dwidjo, pendiri media siber Kediripedia.

Secara pribadi, Dwidjo menegaskan HUMAN bukanlah pesaing yang berniat dan ingin menggembosi organisasi sejenis, seperti Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) yang mayoritas penggagasnya juga anggota AJI.

HUMAN tidak menafikan upaya sejumlah jurnalis, khususnya jurnalis anggota AJI, yang bergiat membangun dan mengembangkan media siber atau online media menjadi perusahaan pers besar dengan model media kapitalis. Media begitu memang harus tetap tumbuh. Namun, menggarap media berbasis konten unik dan inspiratif seperti yang dilakukan oleh para penggagas HUMAN, juga menjadi keharusan agar pers tetap berada pada koridornya yang hakiki.

“Media alternatif merupakan bentuk perlawanan konstruktif terhadap kehidupan pers di Tanah Air yang serba formalitas,” kata Dandhy Dwi Laksono, salah seorang deklator yang juga pendiri Indonesia Biru.

Kehadiran HUMAN diharapkan makin mewarnai keberagaman media, mampu mengembangkan media yang aktif menyuarakan aspirasi pihak-pihak yang berkondisi marjinal, terpinggirkan dan terabaikan. Spirit ini tertera sebagai slogan HUMAN: yang tak berdaya juga perlu media; yang tak bersuara juga perlu media; yang tak berkuasa juga perlu media; yang tak berdana juga perlu media, serta yang tak sama juga perlu media.

Kendati merupakan media alternatif, Syofiardi Bachyul Jb dari Jurnalis Travel menekankan bahwa seluruh media pers anggota HUMAN tetap harus memahami Undang-Undang Pers, mematuhi Kode Etik Jurnalistik, serta mampu menghasilkan produk jurnalistik yang sesuai dengan etos kerja kewartawanan.

Suwarjono mengapresiasi pembentukan HUMAN karena spiritnya sejalan dengan visi dan misi AJI. Ia pun berminat untuk mengembangkan sendiri media alternatif dan bergabung di HUMAN.

“Supaya informasi mengenai daerah saya juga bisa terpublikasi secara luas karena sulit mengandalkan media nasional untuk menyuarakannya,” kata Suwarjono.


Berikut ini salinan lengkap Deklarasi HUMAN:

Pertumbuhan dan perkembangan media massa arus utama yang terus mewabah seperti cendawan di musim basah melahirkan sejumlah risiko terpinggirkannya nilai perjuangan dan kemanusiaan. Fungsi media yang salah satunya menjadi medan inspirasi, tergerus kepentingan pragmatis. Situasi ini memang tidak bisa dihindari. Tapi tentu saja perlu keseimbangan agar varian media tetap saling mendukung dan melengkapi.

Dari interaksi dan keprihatinan yang sama, sejumlah jurnalis di seluruh wilayah Indonesia menginisiasi lahirnya media siber atau media online yang berusaha menarik kembali fungsi pers sebagai penampung dan penyalur inspirasi aspirasi masyarakat. Ini merupakan tindakan alternatif untuk menjaga marwah media massa.

Banyak kawan seperjuangan yang membangun media siber rintisan agar menjadi perusahaan besar dengan capaian model media kapitalis. Dan itu tentu juga harus tumbuh. Tapi menggarap media berbasis konten unik dan inspiratif adalah suatu keharusan agar pers tetap selamat.

Dalam sejumlah perjumpaan, para pengelola media siber alternatif sepakat berhimpun dalam suatu wadah agar spirit yang dipilih terus terjaga dan profesionalitas kian terasah. Wadah tersebut bernama HUMAN (Himpunan Media Alternatif Nusantara).

Kami berharap kehadiran HUMAN bisa mendorong keberagaman media dan menjadi wadah berkembangnya media yang menyalurkan dan menginformasikan suara-suara dan kondisi masyarakat yang terabaikan.

Yang tak berdaya, juga perlu media.
Yang tak bersuara, juga perlu media.
Yang tak berkuasa, juga perlu media.
Yang tak berdana, juga perlu media.
Yang tak sama, juga perlu media.

Solo, Kamis, 23 November 2017

Hormat kami,

Deklarator HUMAN

      1.      Syofiardi Bachyul Jb (www.jurnalistravel.com, Padang)
      2.      Aries Munandar (www.peladangkata.com, Pontianak)
      3.      Furqon (www.gangsiput.com, Yogyakarta)
      4.      Dwidjo Utomo Maksum (www.kediripedia.com, Kediri)
      5.      Eko Widianto (www.terakota.id, Malang)
      6.      Abdi Purmono (www.batikimono.com, Malang)
      7.      Syamsul Huda M. Suhari (www.degorontalo.com, Gorontalo)
      8.      Yuafriza Ocha (www.mentawaikita.com, Padang)
      9.      Firmansyah (www.sudutruang.com, Bengkulu)
    10.    Dedek Hendry (www.liveindonesia.id, Bengkulu)
    11.    Hendra Makmur (www.tulistangan.com, Padang)
    12.    Fika Rahma (www.duniamelancong.com, Medan)
    13.    Eliza Gusmeri (www.seniberjalan.com, Batam)
    14.    Novi Abdi (www.inibalikpapan.com, Balikpapan)
    15.    Anton Muhajir (www.balebengong.id, Denpasar)
    16.    Aidil Ichlas (www.sumbarkita.com Padang)
    17.    Frino Bariarcianur Barus (www.artspace.id, Bandung)
    18.    Dandhy Dwi Laksono (www.indonesiabiru.com, Jakarta)
    19.    M. Ramond Eka Putra Usman (www.kilasjambi.com, Jambi)
    20.    Oki Hajiansyah (www.pojoksamber.com, Lampung) ABDI PURMONO



Share this :

Previous
Next Post »