Siluet dan Rembulan

Selasa, Juli 19, 2016
Tabloid SUARA USU No. XII/VIII/1997

REMBULAN tampak cemerlang keemasan. Emanasinya kudus dan syahdu. Karenanya siluet tersipu-sipu merayu. Rasai-rasai menggurat pada rupanya yang kuyuh. Terpekur dalam sekunar bintang yang redup. Terguncang-guncang di atas kirab mega yang biru kelam.

Pada Pembuat Anggur siluet berkata lirih. “Rabbi, aku mengadu padamu. Sepotong senja tersisa buatku hari ini. Lihatlah tulipku, layu memendam rasa perih. Tangkainya terluka memerah darah. Al-Lathif, aku menghadap tidak hanya di saat-saat aku cinta pada-Mu. Namun juga di kalan aku tidak cinta dan tidak mengerti tentang-Mu. Di saat-saat seakan-akan mau berontak terhadap qadir-Mu. Mengapa Kau cipta para Sulaima, ya, Al-Hakim? Aku berharap musim semi lekas tiba. Fajar akan segarkan mawar perdanaku yang baru merekah. Puspa-puspa melati menebar aroma mewangi. Rumput-rumput baru keramas dengan bulir-bulir embun yang cerlang, terhampar bagai altar hijau. Itu semua mampu Kau atur sempurna. Tetapi Rabbi, mengapa Kau diam?”

Pembuat Anggur tetap diam di mihrab keagungannya.

Seolah mendapat restu dari Pembuat Anggur, rembulan tersenyum: segaris sinis, segores remeh, sekilas muak, sekulum jumawa, selarik bijak. Ragam maknanya berbau madu, anggur juga racun.

Siluet kembali bergumam, “Al-Azhim, Kau lihat betapa manis senyum rembulan. Dia mewujud selaku Sulaima-Sulaima-Mu. Luruh, tertekuk aku dibuatnya. Tapi lantaran dia pula tulipku meradang. Mawarku lampai. Melatiku menguning bacin. Altar hijauku jadi kusam. Begitupun kuakui, terpendam rindu dendam jauh di dasar kalbuku. Ya, Rabbi, adakah sepotong senja buatku esok hari? As-Syahid, adakah waktu tersisa mampu dewasakan aku dan rembulan? Kami karya sempurna-Mu. Semoga Kau satukan kami dalam kekudusan dan kesyahduan anugera cinta-Mu. Semoga.”

Kali terakhir, siluet memadah doa. “Rabbi, andai kiranya kehampaan jiwaku merupakan sebuah renungan anyar tentang rahasia-Mu, jebloskanlah aku lebih dalam pada kehampaan itu supaya aku lebih tekun mencari artinya. Kelak tiba waktunya Kau berikan setangkai lili putih lewat malaikat maut-Mu, akan kudekap erat ia dengan tulus dan ikhlas. Rabbi, maafkan aku.”

Dan, siluet lalu bersama angin. ***


Catatan:

Prosa liris berjudul Siluet dan Rembulan saya selesaikan pada 17 Juni 1995 atau bertepatan dengan 16 Muharram 1416 Hijriah, lalu ditayangkan di tabloid Suara USU Nomor XI/VIII/1997. Pers mahasiswa Suara USU berdiri pada 1 Juli 1995 dan merupakan satu-satunya unit kegiatan mahasiswa yang mengelola bidang penerbitan dan pers di kampus Universitas Sumatera Utara.

Ide dan proses kreatif pembuatan prosa liris itu dipengaruhi beberapa bahan bacaan saya, antara lain karya-karya Muhammad Iqbal. Iqbal adalah seorang penyair, sekaligus filsuf, ahli hukum, pemikir politik, dan reformis muslim. Iqbal lahir di Sialkot, Pakistan, 22 Februari 1873, dan wafat di Lahore, Pakistan, 21 April 1938.

Buku berjudul Musyawarah Burung karya Faridu’d-Din Attar dan Pergolakan Pemikiran Islam, buku berisi catatan harian Ahmad Wahib, yang diterbitkan Pustaka LP3ES Indonesia (cetakan keempat, Agustus 1993), turut pula mempengaruhi pembuatan prosa liris itu. ABDI PURMONO

Share this :

Previous
Next Post »