Mengademkan Badan di Coban Jahe

Rabu, November 20, 2019
Suasana di lokasi Coban Jahe, Dusun Begawan, Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Foto-foto: ABDI PURMONO

KOTA-KOTA di Provinsi Jawa Timur dilanda musim kemarau panjang. Hujan tidak turun merata di bulan November ini. Surabaya dan Malang, misalnya, dipanggang suhu lebih dari 33 derajat Celsius tiap hari.

Jadi, wajar jika banyak warga Jawa Timur memilih berwisata alam ke sejumlah lokasi air terjun di Malang, seperti yang dilakukan Rizal dan seorang temannya. Kedua mahasiswa ini bermain siram-siraman di aliran air terjun Coban Jahe, Dusun Begawan, Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.

Mereka sengaja ke Coban Jahe untuk mendinginkan badan karena suhu di Kota Malang tempat mereka berkuliah semester satu di Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya sedang sangat panas.

“Sebagai mahasiswa pendatang kami juga penasaran ingin melihat objek wisata air terjun yang tidak ada di tempat kami. Saya dari Situbondo dan kawan saya ini dari Surabaya,” kata Rizal kepada saya, Minggu, 17 November 2019.

Setelah itu mereka berfoto-foto dengan latar air terjun setinggi 45 meter. Begitu pula yang dilakukan pengunjung lainnya. Mayoritas pengunjung datang berombongan.

Lokasi Coban Jahe dekat dengan pintu masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Malang ke arah timur, dengan waktu tempuh maksimal 1 jam bermobil dan 45 menit bersepeda motor. Akses jalan ke sana sudah cukup baik. Jalan desa sudah beraspal dan dilebarkan. Hanya jalan dari ujung desa ke lokasi yang masih berupa jalan tanah.

Menurut Hadi Suyitno, penanggung jawab pengelolaan Coban Jahe, objek wisata Coban Jahe berada dalam kawasan hutan produksi kepunyaan Perhutani Unit II Jawa Timur Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Malang, yang secara teknis dalam kewenangan pengelolaan oleh Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Sukopuro, Kecamatan Jabung.

Pengelolaan objek wisata Coban jahe dikerjasamakan Perhutani dengan Lembaga Kemitraan Desa Pengelola Hutan (LKDPH) Pandansari Lor sejak 2012 dan kemudian resmi dibuka buat wisatawan mulai 2014.

“Sekarang perkembangannya di sini menggembirakan walau jumlah pengunjung kami tidak sebanyak dari objek coban (air terjun) yang lebih dulu populer di Malang,” kata Hadi.

Rata-rata tiap pekan ada 700-an orang yang mengunjungi Coban Jahe. Jumlah pengunjung terbanyak datang di akhir pekan, Sabtu dan Minggu, dengan kisaran pengunjung antara 300 sampai 400 orang. 

Tiket masuk Rp 10 ribu per orang. Anak-anak usia di bawah lima tahun bebas tiket. Parkir sepeda motor Rp 2 ribu dan mobil Rp 5 ribu.

Hadi mengklaim tiket masuk ke Coban Jahe lebih murah dibanding objek wisata air terjun yang lebih dulu populer dan juga dikelola Perhutani, seperti Coban Rondo dan Coban Pelangi.   

Bukan hanya air terjun dan tamannya yang bisa dinikmati pengunjung. Pengelola juga menyediakan rumah pohon dan lokasi perkemahan. Waktu Tempo ke sana, ada sekitar 5 rombongan berbeda, termasuk rombongan Pramuka, yang berkemah dan melakukan kegiatan outbound.

Kata Hadi, di sana juga ada sebuah gua yang lubang masuknya sempit sehingga hanya boleh dimasuki oleh penelusur gua profesional yang tentu saja harus membawa perlengkapan khususnya.

Saat ini pengelola Coban Jahe sedang mematangkan rencana menyiapkan kegiatan arung jeram.




Kisah Tragis dari Nama Coban Jahe

OBJEK wisata alam Coban Jahe mulai populer di wilayah Malang Raya. Wilayah ini mencakup tiga daerah administratif, yaitu Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu.

Namun, nama belakang air terjun setinggi 45 meter itu sejatinya tidak dipungut dari nama tanaman jahe, tanaman berkhasiat obat bernama ilmiah Zingiber officinale.

Berdasarkan cerita Menurut Hadi Suyitno, penanggung jawab pengelolaan Coban Jahe, nama belakang objek wisata yang dapat dijangkau dalam tempo 45 menit dengan bersepeda motor itu diambil dari kata pejahe, yang dalam bahasa Jawa berarti meninggal dunia.

“Kisah latar belakang lokasi ini memang menyedihkan, terkait sejarah perjuangan para pejuang kita dulu,” ujar Hadi.

Mengutip cerita dari leluhurnya, Hadi menyampaikan bahwa lokasi lokasi hutan dan air terjun seluas 1 hektare itu dulunya jadi tempat pembantaian gerilyawan Indonesia oleh pasukan Belanda pada 1948.

Sebanyak 38 pejuang yang bersembunyi di sana ketahuan oleh tentara Belanda dan kemudian ditembaki dari atas bukit. Semua prajurit gugur dan mereka dimakamkan di taman makam pahlawan (TMP) yang berlokasi sekitar 500 meter sebelum masuk Coban Jahe. TMP ini ditandai dengan sebuah Tugu Makam Kali Jahe. ABDI PURMONO






Share this :

Latest
Previous
Next Post »