Balai Besar KSDA Sumut Benahi Objek Wisata Tinggi Raja

Rabu, Juli 10, 2019
Pintu masuk Cagar Alam/Taman Wisata Dolok Tinggi Raja, Minggu, 2 Juni 2019. Foto: ABDI PURMONO

Objek wisata Tinggi Raja belum tereksplorasi dan terekspos dengan baik, serta kekurangan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dunia wisata.

SELAMA ini penyuka jalan-jalan ke objek wisata mata air panas di Indonesia lebih kenal Gunung Patuha di Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Gunung Patuha populer berkat kawah putihnya yang lazim disebut sebagai Kawah Putih Ciwidey di ketinggian 2.434 meter di atas permukaan laut.

Objek wisata sejenis ada di Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Penduduk setempat dan para pehobi kegiatan alam bebas biasa menyebutnya sebagai Kawah Putih Tinggi Raja atau Kawah Biru Tinggi Raja. 

Nama itu nama umum. Resminya bernama Cagar Alam Dolok Tinggi Raja, yang sebagian kawasannya telah berubah status jadi Taman Wisata Alam (TWA) Dolok Tinggi Raja pada 2018. Tinggi Raja masuk dalam wilayah kerja Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara. Objek wisata ini sangat populer pada dekade 1980 dan 1990, tapi sekarang tidak lagi. 

Kepala BBKSDA Sumatera Utara Hotmauli Sianturi mengakui Tinggi Raja kalah populer dibanding Kawah Putih Ciwidey. Padahal, keberadaan Tinggi Raja sebagai kawasan konservasi sudah dilindungi raja-raja Simalungun sejak 1924 atau sejak Pemerintah Hindia Belanda berkuasa.

“Objek wisata Tinggi Raja belum tereksplorasi dan terekspos dengan baik. Makanya, sekarang kami ingin melakukan banyak pembenahan dan mencoba menerapkan pengelolaan seperti di Ciwidey,” kata Hotmauli kepada saya, Rabu sore, 26 Juni 2019. 

Luas kawasan Tinggi Raja 167 hektare, yang 4 hektare di antaranya merupakan kawasan Kawah Putih, mata air panas beraroma belerang. Secara administratif pemerintahan, Tinggi Raja berlokasi di Desa Dolok Merawa, Kecamatan Silau Kahean, dan berbatasan dengan Desa Dolok Tinggi Raja di kecamatan yang sama.

Menurut Hotmauli, Kawah Putih Tinggi Raja berlokasi di pelosok Kabupaten Simalungun dan terpaut jarak hampir 90 kilometer—tergantung pilihan rute perjalanan—dari pusat Kota Medan, dengan kualitas jalan yang tak seluruhnya bagus sehingga menyulitkan pengunjung ke sana.

Saat ini, sebagian besar sarana jalan ke Tinggi Raja dari arah Medan-Lubuk Pakam-Galang-Bangun Purba-Dolok Silau sudah beraspal mulus. Selebihnya masih berupa jalan makadam. Jalan dibangun Pemerintah Kabupaten Simalungun pada 2018. Para pengunjung dari Medan sangat dianjurkan melewati rute ini karena waktu tempuhnya lebih cepat, sekitar 2,5 jam bersepeda motor dan 2 jam bermobil.



Saya bersepeda motor sendirian ke Tinggi Raja pada Minggu, 2 Juni 2019. Ini kunjungan kedua dan sekaligus jadi perjalanan nostalgia ke sana setelah kunjungan pertama 3-6 Desember 1995 atau hampir 24 tahun silam. Saking lamanya enggak ke sana, saya keliru mengambil rute perjanalan. Saya menempuh rute lewat Kebun Silau Dunia di Kecamatan Bintang Bayu, Kabupaten Serdang Bedagai.

Itu sebetulnya rute memutar. Akibatnya, saya tiba di Tinggi Raja dalam waktu hampir 5 jam. Selama 3 jam saya merasakan guncangan besar-kecil di jalan makadam, kesasar beberapa kali, dan blusukan enggak keruan di kebun sawit dan perkarangan belakang rumah penduduk.

Masuk Tinggi Raja cuma bayar Rp 5 ribu. Namun, perlu diingatkan, pengunjung jangan galau saat mengetahui ketiadaan fasilitas di lokasi tujuan. Kata Hotmauli, baru tahun ini pihaknya berencana membangun pondok peristirahatan, toilet, jamban, kamar mandi, tempat ibadah, warung, dan area parkir.

Tonton video: Pesona Kawah Putih Tinggi Raja.
   
Dia juga berangan-angan membangun jembatan gantung untuk menghubungkan lokasi sumber air panas dan belerang dengan Sungai Bah Balaklak—biasa juga disebut Sungai Bah Barakbak—di bawahnya.

Aliran air panas belerang membentuk hamparan dan tumpukan kapur berwarna dominan putih, hijau muda, dan cokelat di bagian atas sungai. Tumpukan yang sama juga membentuk stalaktit atau batangan kapur berujung runcing yang menggantung di tebing sungai. Stalaktit umum ditemukan di langit-langit gua.   

Aliran air panas belerang membuat suhu air sungai jadi sejuk-panas, makanya lokasi ini menjadi favorit pengunjung untuk mandi-mandi.

Keinginan membangun jembatan gantung juga ditujukan supaya pengunjung tidak lagi mendekati dan menginjak-injak Kawah Putih. Pijakan pengunjung justru merusak sumber-sumber mata air panas yang muncul di banyak titik.

“Kami ingin bangun, tapi dananya belum ada. Kami sedang usahakan lobi ke beberapa pihak,” kata Hotmauli, perempuan Batak yang juga Ketua Pengurus Provinsi Indonesia Karate-do (Inkado) Sumatera Utara 2017-2022. 

Foto-foto terkait: Pesona Kawah Putih Tinggi Raja yang Tak Kalah dengan Ciwidey.

Selain masalah ketiadaan sarana dan prasarana, pungutan liar masih jadi masalah paling dikeluhkan para pengunjung.

Ongkos masuk Tinggi Raja memang murah sekali, hanya Rp 5 ribu. Duitnya untuk bayar parkir saja. Tapi, di sejumlah titik warga melakukan pencegatan sepeda motor dan mobil pengunjung untuk menarik restribusi. Saat tiba di lokasi, sejumlah pemuda setempat meminta ongkor parkir lebih dari Rp 5 ribu untuk sepeda motor dan Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu untuk mobil, plus tiket masuk antara Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu.

Ongkos tersebut belum termasuk “tarif jasa” pemandu selama berada di dalam lokasi. Pemandunya pria-pria muda yang biasa berkumpul di sebuah warung. Pengunjung bisa kena tarif mahal jika tidak menegosiasikan lebih dulu tarifnya.

“Pemalakan itu hanya ulah segelintir preman. Tapi itu jadi pekerjaan rumah kami untuk membina dan melibatkan masyarakat supaya mereka memiliki kesiapan menyambut para wisatawan demi kemajuan hidup mereka sendiri,” kata Hotmauli. 

Untuk mencegah pungutan liar, saat ini sedang dibangun kantor resor KSDA dan gapura penanda kawasan wisata Tinggi Raja. Nantinya dibuatkan pos pendaftaran pengunjung sekaligus tempat pengunjung membayar retribusi resmi. 

Hotmauli sangat berharap dukungan dan bantuan dari banyak pihak untuk membenahi segala kekurangan. Dia memastikan Pemerintah Kabupaten Simalungun mendukung penuh rencana pembangunan sarana dan prasarana dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Semua rencana besar itu juga dikoordinasikan dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. ABDI PURMONO



Artikel terkait hasil editan redaktur di Jakarta:



Share this :

Previous
Next Post »
1 Komentar
avatar

Saya pertama ke ringgi raja 1984 masih kuliah, 2019 ingin bawa keluarga tp banyak biaya macam2 termasuk di jalan, wisata yg sungguh bagus kalau bisa di benahi dgn benar malah lebih bagus dr kawah putih di Bandung.... 👍

Balas