Dange Enak Dilupakan Jangan

Rabu, Mei 23, 2018

FOTO: Abdi Purmono

Camilan dange terlanjur identik sebagai kudapan khas Kota Palu meski dange juga dapat ditemukan di daerah lain di Sulawesi Tengah dan daerah lain di Pulau Sulawesi dengan nama berbeda.

HASUDUNGAN bersama dengan Ochan dan Ucu mendatangi seorang penjual dange di Pantai Taman Ria, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Waktu mendekati pukul 23.00 Indonesia bagian tengah, Minggu, 6 Mei 2018. Mungkin saat yang tepat untuk menikmati kuliner khas tersebut.

Tiga sekawan itu masih ceria. Mereka tekun memperhatikan Fatimah membuatkan dua porsi dange pesanan Ochan. Ochan senyum-senyum menyaksikan Ucu rajin bertanya kepada sang penjual. Sedangkan Hasudungan terus saja memotret. Ucu dan Hasudungan menghentikan aksi setelah Ochan membayar Rp 10 ribu untuk dange yang dipesannya.

Fatimah mengatakan kudapan berbahan baku utama sagu itu sebenarnya bukan kudapan khas Kota Palu. Dange bisa juga ditemukan di Kabupaten Donggala, tempat asal Fatimah, yang berjarak satu jam berkendaraan dari Palu. “Tapi di sini kan sudah telanjur dianggap sebagai makanan khas Palu,” kata Fatimah.

Pernyataan Fatimah diamini Reny Septiani, mahasiswa Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Tadulako.

Gadis yang juga aktivis konservasi hutan mangrove ini mengatakan di beberapa kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah juga ada kudapan yang sama seperti dange. Hanya, nama sebutannya berbeda, seperti tawarotavarohinole, dan tabaro. Di Palu biasa disebut dengan nama tabaro dange.  

“Kata tabaro dari bahasa suku Kaili, artinya sagu. Di Makassar juga ada dange,” kata Reny, 23 tahun.

Para pedagang mulai menjual tabaro dange di Pantai Taman Ria biasanya pukul 17.00 sampai 23.00 Wita. Pada Sabtu malam dan Minggu bisa sampai tengah malam.

Bahan baku utama dange adalah sagu yang dicampur gula merah dan parutan kelapa. “Kalau varian lain mungkin sebutannya pancake,” ujar Reny.

Sagu gampang didapat di Palu dan daerah lain di Sulawesi Tengah, bahkan di banyak daerah lain di Pulau Sulawesi serta kawasan Indonesia Timur lainnya. 

Pembuatan dange masih tradisional. Adonan sagu dicampur parutan kelapa, dipanggang menggunakan belanga yang diletakkan di atas tungku. Belanga dan tungku dibuat dari tanah liat.

Lihat videonya: Jajanan 2: Dange Enak Dilupakan Jangan.

Sumber panas berasal dari pembakaran kayu. Kayu dipakai sebagai bahan bakar karena dipercaya bisa membuat dange terasa lebih enak. Hal ini juga yang diakui Fatimah. Di Palu, dange disantap dengan tambahan isi gula merah. Ada juga rasa ikan yang pedas. Ya, pilihan isi disesuaikan dengan selera pembeli.

Seluruh proses pembuatan dange sederhana dan dilakukan terbuka, sehingga pembeli bisa langsung menyaksikannya. Jangan khawatir, para penjual pasti ramah melayani dan sabar menjelaskannya bila ditanya.

Anda yang mengaku pencinta kuliner sangat patut memasukkan dange dalam daftar kuliner buruan bila mengunjungi Palu. Di waktu puasa Ramadan begini, penjualan dange meningkat seturut banyaknya warga kota yang ngabuburit di Taman Ria dan sepanjang Jalan Cumi-Cumi. ABDI PURMONO (Palu)



Catatan:

Tulisan yang Anda baca ini merupakan naskah asli buatan saya yang kemudian saya kirim ke kantor redaksi Tempo di Jakarta dan kemudian menjadi tulisan yang berjudul Menikmati Semilir Pantai dan Legitnya Dange, Kuliner Khas Dange. Redaksi Tempo hanya mengubah judul asli dan sedikit mengubah paragraf awal. 

Share this :

Previous
Next Post »