Maestro Topeng Malang tanpa Ketenaran

Rabu, Februari 11, 2015
Taman Krida Budaya Jawa Timur, Kota Malang, Oktober 2003.
Foto: Dokumentasi Keluarga

DERU sepeda motor trail di sebuah bengkel memecah keheningan kampung Jatimulyo. Beberapa pemuda setempat sibuk membahas perbaikan sepeda motor. Di luar bengkel, banyak mahasiswa berlalu-lalang dari dan ke kampus Politeknik Negeri Malang.

Mereka tak tahu di Jatimulyo bermukim seorang maestro wayang topeng terakhir di Kota Malang bernama Munawi alias Mbah Wi. Semasa berhayat, Munawi dikenal sebagai seniman tari wayang topeng Malang gaya Gunungsari.

“Saya denger cerita dari orangtua di kampung sini memang ada penari topeng, tapi tak tahu Mbah Munawi itu seorang maestro. Kami ikut bangga juga, Mas,” kata seorang pemuda yang sedang membeli rokok di warung, Sabtu siang, 24 Januari 2015.


Sudjono pun sama sekali tak menyangka sang ayahanda seorang maestro topeng Malangan. Ditemui di rumahnya di Jalan Senggani 8A, RT 03 RW 03, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Sudjono mengatakan sepanjang hayat sampai wafat, sang ayahanda tiada pernah pernah bercerita membesar-besarkan dirinya sebagai seorang seniman topeng. Paling banter Munawi cerita tentang nostalgia keluarga, masa kecil, masa remaja, dan sampai jadi penari.


"Juga obsesi Bapak terhadap kesenian topeng di Malang. Intinya, kesenian topeng jangan sampai punah. Tapi saya dan saudara-saudara lainnya tak tahu bila Bapak sudah sekelas maestro,” kata Sudjono, 53 tahun, putra keenam dari delapan anak pasangan Munawi dan Wasiah.



Mbah Munawi (1916-2015)
Foto: Lembaga Kesenian Indrokilo
Mbah Munawi alias Mbah Wi wafat di usia 98 tahun pada Selasa, 20 Januari 2015, pukul 19.15 WIB. Menurut Sudjono, kesehatan ayahnya merosot setelah Wasiah meninggal pada 2012 dalam usia 84 tahun. Rasa kehilangan yang begitu mendalam mendera hari-hari Munawi. Tubuh Munawi yang ramping pun kian rapuh. Sejak itu Sudjono dan saudara-saudara lainnya membatasi kegiatan Munawi di luar rumah, terlebih Munawi mengalami sakit tenggorokan cukup parah sebelum meninggal. 

“Kalau ada yang mau belajar seni topeng, ya langsung ke rumah. Bapak sudah tak bisa bebas ke mana-mana karena usianya sudah uzur sekali, hampir seratus tahun. Tapi kalau sudah bicara tari topeng, Bapak sangat antusias, kelihatan sangat sehat,” kata dia.

Seingat Sudjono, Munawi aktif di luar rumah di awal-awal dekade tahun 2000. Sebelumnya, sepanjang 1990-an, Munawi nyaris vakum dari semua kegiatan tari sampai kemudian Hani Ristanti Sri Rahayu dari Dinas Pendidikan Kota Malang mengajak Munawi terlibat dalam proyek pendidikan dan latihan seni tari topeng Malang yang dibiayai Yayasan Kelola pada 2003.

Munawi kembali menganggur begitu proyeknya selesai. Ia lebih banyak menunggu tamu yang ingin belajar tari atau orang yang membutuhkan kisahnya untuk bahan pembuatan skripsi. Di masa itu lingkungan tempat tinggal Munawi masih lapang, belum dipadati rumah penduduk sehingga Munawi masih leluasa mengajarkan gerakan-gerakan tari di sekitar rumah.


Sudjono ingat, pada 1980-an, pemerintah Kelurahan Jatimulyo pernah meminjamkan peralatan gamelan lengkap kepada Munawi. Ia diminta untuk menggiatkan tarian tradisional, khususnya seni wayang topeng Malang, dengan melatih kaum muda yang berhimpun dalam Karang Taruna setempat.


Tapi rencana ini tak berjalan mulus karena justru kaum mudanya tidak antusias. Apalagi hingga wafat Munawi tidak mempunyai sanggar seperti empu topeng lainnya yang bermukim wilayah Kabupaten Malang, yakni Karimun dengan Padepokan Seni Topeng Asmorobangun alias Padepokan Panji Asmorobangun di Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji; M Soleh Adi Pramono dengan Padepokan Seni Mangun Dharma di Dusun Kemulan, Desa Tulusbesar, Kecamatan Tumpang, Bardjo Djiono dengan Sanggar Tari Galuh Candra Kirana di Desa Jambuwer, Kecamatan Kromengan, serta Mbah Item dengan Padepokan Sri Margo Utomo di Dusun Glagahdowo, Desa Pulungdowo, Kecamatan Tumpang.



KORAN TEMPO, Kamis, 29 Januari 2015
“Bapak saya menguasai tarian tradisional Jawa, khususnya tari topeng. Bapak lebih banyak cerita dan membanggakan karakter klono, tapi saya heran kok Bapak dibilang sebagai maestro tari topeng gaya Gunungsari,” kata Sudjono.

Lahir dari keluarga petani pada 1916 di Jatimulyo, Munawi tidak berminat ke sawah. Menurut Sudjono, sejak kecil Munawi suka berpenampilan necis dan menonton pertunjukkan kesenian tradisional, terutama wayang. Suatu ketika Munawi menonton pagelaran wayang topeng. Seusai pertunjukan pemimpin grup tari menghampiri Munawi kecil. Ia disebut berbakat jadi seorang penabuh gamelan dan penari. Pujian itu membuat minat Munawi pada kesenian makin membesar dan ia pun mulai belajar memainkan gamelan dan menari.


Sayangnya, Sudjono tak tahu siapa nama guru tari pertama Munawi. Yang ia ingat, Munawi ternyata memang sangat berbakat. Hampir semua kemampuannya hasil belajar sendiri alias otodidak. Munawi muda mahir memainkan semua perangkat gamelan, terutama kendang, memahat topeng (nyungging), dan kemudian lebih menekuni tarian. Hanya sedikit sekali seniman yang memiliki kemampuan-kemampuan seperti ini. Dari yang sedikit itu, antara lain, Karimun di Dusun Kedungmonggo.


Sudjono menduga, karena kemampuannya di atas rata-rata seniman lain, Munawi kemudian disebut empu atau maestro topeng Malang dan lebih khusus lagi untuk gaya Gunungsari. Ia pun menduga, Munawi pantas disebut penari topeng spesialis gaya Gunungsari karena seusai dengan karakter dan postur tubuhnya.


Sedikitnya pengetahuan Sudjono dan saudara-saudaranya tentang kiprah Munawi menyisakan sesal. Seharusnya anak-anak Munawi ikut mendorong sang ayah membuat sanggar dan mendokumentasikan kegiatan sang ayah untuk bisa diwariskan ke anak-cucu. Sudah begitu, tak satu pun anak Munawi mewarisi kemampuannya.


Namun untunglah, Ivan, seorang cucu Munawi yang kini murid kelas 2 SMP Negeri 18 Malang, menyukai seni karawitan dan aktif mengikuti kegiatan seni di sekolahnya. Wajar bila Ivan dekat dengan sang kakek. Ivan kini berguru karawitan pada Ki Sumantri, seniman senior karawitan sekaligus penjaga dan perawat barang koleksi Museum Empu Purwa, Kota Malang.


“Setahu saya, gestur tubuh Gunungsari halus dan luwes. Lagi pula, postur tubuh ayah saya memang tak cocok untuk gaya Klono karena tubuh ayah ramping dan tinggi badannya sedang-sedang saja,” kata Sudjono.

Julukan maestro bagi Munawi terang-benderang disampaikan Yongki Irawan, penasihat Lembaga Kesenian Indrokilo, Malang. Lembaga ini giat meneliti topeng Malang.


Memahat atau menyungging topeng,
Minggu, 26 Oktober 2008

Foto: ABDI PURMONO
Menurut Yongki, selama ini publik nyaris cuma mengenal Karimun di Pakisaji sebagai maestro topeng Malang (baca: Perginya Maestro Topeng Malang). 

Padahal, masih ada beberapa tokoh yang setia menekuni seni tradisi sampai akhir hayatnya. Mereka luput dari perhatian pemerintah dan masyarakat, serta tidak teramati oleh peneliti dan sepi dari pemberitaan media massa. “Mereka sebenarnya bisa menjadi sumber ilmu pengetahuan,” kata Yongki kepada saya.

Yongki mencontohkan Kadam yang wafat dalam usia 75 tahun pada Kamis, 31 Juli 2014. Mulai aktif sejak 1956, seniman tandak ludruk Marhaen ini pernah tampil 15 kali di Istana Negara dan menjadi salah seorang seniman kesayangan Presiden Soekarno. Seperti nasib kebanyakan seniman tradisi, Kadam yang piawai berperan sebagai tokoh transjender, hidup dalam serba kekurangan, terlebih setelah tak ada lagi yang mengajaknya mentas.

“Karena kegiatan teater tradisional masa itu semakin surut. Padahal, kemampuan Pak Kadam (di panggung akrab dikenal sebagai Mak Kadam) menari dan menyanyi masih mumpuni,” kata Yongki.


Kata dia, tunjangan pemerintah selama ini lebih terfokus kepada seniman yang masih produktif dan mengabaikan nasib seniman tua tidak diperhatikan. Seniman yang dianggap tak memiliki sanggar lebih terabaikan.


Munawi senasib. Yongki menegaskan, sebenarnya sudah aktif berkesenian sejak 1927 atau saat berusia 11 tahun. Tanpa banyak diketahui orang, Munawi pun pernah terlibat membina Sanggar Tribuana.
“Itu bukan sanggar miliknya. Mbah Munawi tidak membuat sanggar mungkin karena tidak ada orang yang memotivasinya,” ujar Yongki.

Hani Ristanti menambahkan bahwa dia mengajak Munawi kembali aktif menari topeng setelah Munawi vakum berkegiatan selama bertahun-tahun. Sekitar tahun 2000 Munawi diangkat sebagai sesepuh topeng di sanggar miliknya itu atas saran Soetopo (almarhum), penilik kebudayaan Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, dan Karimun. "Saya angkat atas saran Pak Topo dan Mbah Karimun," dalam pesan pendeknya, Rabu sore, 11 Februari 2015.

Semasa itu Sanggar Tribuana masih beralamat di Jalan Muharto, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Pada 2008 Sanggar Tribuana dipindah ke Perumahan Puri Cempaka Putih III/BE 20, Kelurahan Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang.

Sanggar yang didirikan pada 8 Oktober 1992 itu aktif berkegiatan sampai sekarang. Nama Sanggar Tribuana cukup moncer di jagat kesenian. Sanggar Tribuana pernah berkegiatan di banyak tempat di Kota Malang, seperti balai kota, Taman Krida Budaya Jawa Timur, Gelanggang Olahraga Ken Arok, Stadion Gajayana, Lapangan Rampal, perhelatan Malang Tempo Doeloe, serta pusat perbelanjaan di Surabaya dan Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta. Beberapa kegiatan Sanggar Tribuana juga ditayangkan di televisi.

Bahkan, masih menurut Hani, Sanggar Tribuana juga acap muncul di acara-acara penting seperti menyambut kedatangan Presiden Republik Indonesia, Menteri Pendidikan, Menteri Pariwisata, dan Hari Ulang Tahun Kota Malang. "Sutradara/koreografernya saya sendiri," demikian ditulis Hani.

Sabtu, 15 November 2008
Foto: ABDI PURMONO
Prestasi Sanggar Buana berbuah manis. Pada 2003, misalnya, Sanggar Tribuana masuk sepuluh besar Provinsi Jawa Timur kegiatan seni wayang topeng. Untuk prestasi sejenis, Sanggar Tribuana masuk lima terbaik tingkat nasional. 

Baiklah. Kita kembali ke Yongki yang merasa amat prihatin sekaligus gregetan melihat nasib banyak seniman senior. Yongki berpendapat, pemerintah seharusnya aktif memantau dan membantu keuangan Munawi dan seniman tradisi lainnya. Semasa hidup, Munawi bekerja sebagai pemungut barang bekas alias ngrombeng dan bertani untuk menghidupi keluarganya. 

"Pemerintah," Yongki menegaskan, "jangan hanya ngurusin seniman-seniman muda yang masih produktif. Itulah sebabnya saya bersama Lembaga Kesenian Indrokilo berusaha membantu mereka semampu yang bisa kami lakukan."

Cerita Yongki dibenarkan Sudjono. Ia menimpali, “Kami, anak-anaknya yang ikut membiayai kehidupan Bapak. Setahu saya memang hampir tak ada perhatian dan bantuan dari pemerintah, tapi Bapak tidak berkecil hati."

Dalam kesusahan dan kondisi fisik yang kian renta, Munawi masih sangat piawai dan gesit menarikan gaya Gunungsari kendati sudah sangat lama absen mentas. Tubuhnya boleh ringkih, tapi begitu diminta memeragakan gerakan Gunungsari, gerakan tubuhnya masih sangat lincah dan energik.


“Karena itu pula kami tak ragu-ragu menyebut mereka sebagai maestro. Ukuran maestro bagi kami adalah umur beliau-beliau itu yang sudah uzur, tapi masih mau memberi ilmu tari dan karawitan bagi generasi penerus. Meski sudah uzur, tapi mereka masih sangat energik,” Yongki memaparkan alasannya menyebut Munawi dan Kadam sebagai maestro.


Dalamnya pengetahuan dan kemahiran Munawi membuat dirinya dicari banyak murid yang ingin belajar tari topeng, khususnya topeng Gunungsari. Banyak juga seniman tradisi senior yang usianya lebih muda dari Munawi, antara lain Soleh Adi Pramono dan Chattam Amat Redjo, rajin menyambangi Jatimulyo.


Kecintaan Munawi dan Kadam yang teramat besar menjadi alasan bagi Lembaga Kesenian Indrokilo menganugerahkan penghargaan pada 26 Mei 2012.

Eko Ujang
Foto: Dokumen Pribadi
Eko Ujang Kusnan Dariadi juga pernah diajari menari oleh Munawi. Penari berusia 41 tahun ini pernah berguru tari di Padepokan Panji Asmorobangun di Kecamatan Pakisaji pada 1991; Sanggar Tari Galuh Candra Kirana di Kecamatan Kromengan tahun 1992, dan pernah belajar tari di Padepokan Seni Mangun Dharmo di Kecamatan Tumpang. Pada 2003 ia sempat mengikuti workshop tari di bawah bimbingan Munawi.

Bagi Eko, berdasarkan pengalamannya, musik dan kendangan pengiring gaya tari topeng Malang hampir sama. Perbedaannya terletak pada langgam atau gaya gerakan. Gaya Tumpang (Padepokan Seni Mangun Dharmo dan Padepokan Sri Margo Utomo) lebih kalem dibanding gaya Malang selatan, yakni Kedungmonggo dan Jambuwer. Gaya Kedungmonggo lebih gagah dan gaya Jambuwer lebih dinamis.


Sejujurnya alumni Jurusan Bahasa Inggris Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing (STIBA) Malang itu mengaku lebih menyukai gaya Kedungmonggo. Tarian yang diajarkan Mbah Karimun lebih gampang dipelajari lantaran tariannya sudah ditata atau direkonstruksi sehingga lebih banyak dipelajari di lembaga pendidikan, seperti di Universitas Negeri Malang dan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. 


Mbah Karimun wafat pada 14 Februari 2010 dalam usia 91 tahun. Semasa hidup, Karimun tercatat sebagai dosen luar biasa Jurusan Tari STKW Surabaya

Ia mencontohkan gerak singget sebagai pembeda nyata dari beberapa gaya tari yang ia pelajari. Singget adalah pembatas atau sekat gerak satu ke gerak yang lain. Gaya Kedungmonggo lebih jelas pada bentuk tangan dan jarinya.


“Gaya Kedungmonggo banyak diajarkan di lembaga pendidikan sehingga mudah dipelajari. Jadi wajar bila Mbah Karimun lebih terkenal dari Mbah Munawi meski kemampuan mereka sebenarnya setara," kata Eko, yang pernah magang menari di Sanggar Tari Didik Nini Thowok, Yogyakarta, selama tiga bulan.


Sedangkan tari topeng Malang ala gaya Jambuwer ditandai permainan sampur saat singget. Gerak tari lebih banyak pengulangan. Tari topeng gaya Jambuwer belum direkonstruksi seperti gaya Kedungmonggo. Banyak penari di Jambuwer sudah sepuh. Gaya Jambuwer mirip dengan gaya tari yang diajarkan Munawi.


Gebyak Topeng Malem Senin Legian
Ahad, 17 Januari 2010
Foto: ABDI PURMONO
“Malah, untuk tari Gunungsari, singget Mbah Munawi lebih rumit karena teknik atau gaya menarinya belum direkonstruksi sehingga masih terbuka untuk dikembangkan,” 
kata dia.

Begitu pun Eko setuju Munawi disebut maestro karena kesetiaan dan konsistensinya pada kesenian tradisi begitu besar. “Mungkin karena tak punya sanggar saja yang membuat Mbah Munawi tidak 
punya murid tetap.”

Kepala Program Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) Profesor Djoko Saryono pun menyetujui penyandangan predikat maestro bagi Munawi.


Djoko mendefinisikan maestro seni adalah seniman atau pekerja kreatif yang sudah menghasilkan puncak karya yang diakui masyarakat dan bermafaat bagi kesenian dan kebudayaan. Maestro seni menjelma menjadi standar capaian berkesenian atau berkebudayaan; karya mereka menjadi ukuran perkembangan dan memberi dasar perkembangan selanjutnya.


“Karya mereka memiliki tempat yang jelas khas dalam kesenian,” kata Djoko, Guru Besar Bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UM.


Djoko menyebut lima syarat bagi seorang seniman bisa disebut maestro, yakni mendapat pengakuan dari masyarakat; mempunyai karya puncak yang menjadi tonggak pencapaian seni; memiliki kontribusi signifikan dalam bidang kesenian; memiliki kesetiaan berkarya dan menjaga dunia seni, serta menjadi rujukan dan tolok ukur kemajuan kesenian. 


Berdasarkan kelima syarat tadi, Djoko menyimpulkan, "Mbah Munawi layak menyandang predikat maestro. Beliau punya kesetiaan berkarya dan menjaga topeng Malang dengan penuh empati dan simpati, dengan kesanggupan melepaskan kepentingan transaksional ekonomis." ABDI PURMONO



Share this :

Previous
Next Post »