Harimau Jawa Masih Tersisa di Ranu Tompe?

Kamis, Oktober 17, 2013
Foto-foto: ABDI PURMONO

BANYAK literatur yang menyatakan harimau jawa (Panthera tigris sondaica) sudah punah antara dekade 1950-an dan 1980-an. 

Namun keberadaan harimau jawa dianggap masih misterius bila dihubungkan dengan sejumlah pengakuan warga yang bermukim di tepi hutan-hutan Pulau Jawa yang mengaku pernah melihat sang raja hutan.

“Kesaksian warga itu sebenarnya memberi harapan pada kita bahwa harimau jawa belum benar-benar punah meski peluang untuk bisa menjumpainya sangat kecil,” kata Toni Artaka, Koordinator Ekspedisi Eksplorasi Ekologi Ranu Tompe Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kepada saya, Rabu, 16 Oktober 2013.

Harapan itu bersambung dengan penemuan bekas cakaran (marking) hewan karnivora di pohon pampung atau pohon katesan (Macropanax dispermus) pada Rabu, 9 Oktober lalu. Bekas cakaran di posisi 140 sentimeter dari permukaan tanah. Panjang cakaran dan jarak antarkuku terluar pada bekas cakaran berukuran lebih dari 13 sentimeter, melebihi ukuran sekitar 19 cakaran yang membekas di banyak pohon lainnya.


Berdasarkan literatur yang diketahui Toni, karakter cakaran sebesar itu dimiliki harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan harimau jawa. Sedangkan ukuran cakaran macan tutul jawa (Panthera pardus melas) kurang dari 13 sentimeter.


Selain itu, tim juga menemukan banyak jejak tapak kaki (foot print), tahi (faeces) satwa karnivora berukuran besar. Mahmudin Rahmadana, rekan Toni, mengaku baru pertama kali melihat tahi hewan pemakan daging yang besarnya melebihi rata-rata ukuran tahi macan tutul. Diameter kotoran itu antara 3,6 sampai 3,8 sentimeter dengan panjang rata-rata 6 sentimeter.


“Saya sudah pernah lihat kotoran macan tutul sekitar sepuluh kali, tapi baru kali ini lihat yang berukuran besar. Bisa jadi kotoran ini berasal dari macan tutul dewasa berukuran besar dan bisa jadi itu kotoran harimau,” kata Mahmudin.

Kepala Balai Besar TNBTS Ayu Dewi Utari mendukung pernyataan anak buahnya. Menurut Ayu, sampai saat ini belum ada literatur sahih yang memastikan kepunahan harimau jawa. Sebaliknya, banyak warga yang mengaku pernah melihat “macan loreng”, sebutan lokal warga tepian hutan untuk harimau jawa. “Sebagai dugaan, kami kira sah-sah saja bila kita menduga harimau jawa masih ada. Apa dan bagaimana harimaunya, di mana lokasinya, itu membutuhkan penelitian ilmiah yang intensif dan komprehensif,” kata Ayu.


Andi Iskandar, Koordinator Lapangan JICA-RECA (Japan International Cooperation Agency-Restoration of Ecosystems in Conservation Areas) di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, yang mengikuti ekspedisi mengatakan, dibutuhkan pembuktian ilmiah dan pembuktian otentik untuk memastikan keberadaan harimau jawa di Ranu Tompe. Bukti ilmiah harus berdasarkan hasil analisa laboratorium terhadap kotoran, bulu, deoxyribonucleid acid atau DNA.


“Tapi sebagai bahan informasi awal, bekas cakaran sebesar itu bisa menjadi pintu masuk untuk penelitian ilmiah terhadap harimau jawa di Ranu Tompe atau di seluruh kawasan TNBTS. Tidak ada yang mustahil di jagat penelitian ilmiah. Contoh, badak sumatera saja ternyata ditemukan di hutan Kalimantan Timur,” kata bekas aktivis Fauna & Flora Internasional (FFI) Indonesia itu.


Andi mengusulkan, untuk mendapatkan data jumlah macan tutul yang sahih, sekaligus untuk mengetahui keberadaan harimau jawa, Balai Besar TNBTS perlu mengadakan ekspedisi lanjutan dengan memasang perangkap kamera (camera trap), seperti yang dipraktikan untuk mengetahui keberadaan macan tutul di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, serta keberadaan badak sumatera di belantara Kalimantan Timur.


Pemasangan kamera pengintai itu tetap harus disertai dengan pengamatan langsung terhadap tanda berupa bekas cakaran, jejak tapak kaki, kotoran, dan identifikasi jenis pakan.


Agus Kusmawanto, mahasiswa Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Universitas Gadjah Mada (UGM), mengingatkan Balai Besar TNBTS perlu meningkatkan patroli dan riset. Tujuannya, selain untuk meningkatkan pengamanan, penelitian diintensifkan untuk menangkap detail lokasi jelajah populasi.


Agus dilibatkan dalam ekspedisi bersama tiga rekannya sesama aktivis mahasiswa pecinta alam Silvagama Fakultas Kehutanan UGM, yaitu Sonny Martha Pradana, Ari Tri Sewaras Hati, dan Novitasari Ratna Dewi. Mahmudin senior mereka. Untuk diketahui saja, bekas Wali Kota Solo yang kini menjadi Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo alias Jokowi, merupakan alumni Silvagama angkatan kedua sejak Silvagama berdiri pada April 1978.


Adapun ekspedisi mencari Ranu Tompe digelar sepanjang 4-13 Oktober 2013, berubah dari jadwal 2-11 Oktober. Ini merupakan ekspedisi besar pertama sejak TNBTS berdiri pada 1982. 


Selama ini tercatat TNBTS mempunyai enam danau, yakni Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan, Ranu Tompe, dan Ranu Pakis atau Ranu Kuning. Keenam danau terbentuk akibat aktivitas vulkanik gunung-gunung di dalam kawasan TNBTS, terutama oleh aktivitas vulkanik Gunung Bromo dan Gunung Semeru. 


Namun, sebelum ekspedisi diadakan, keberadaan Ranu Tompe masih misterius dan tak seorang pun di Balai Besar TNBTS pernah melihat wujudnya dari dekat kecuali dari peta kawasan.


Saya yang diajak mengikuti ekspedisi merasakan betapa berat medan ke Ranu Tompe. Ada lima lembah yang harus dilewati. Lembah kedua dari titik keberangkatan atau lembah keempat dari Ranu Tompe, misalnya, begitu curam dan sempit dengan kemiringan 75-80 derajat. Empat lembah lainnya berlereng 40-50 derajat.


Tim ekspedisi butuh empat hari untuk mensurvei jalur. Hari pertama tim pendahulu hanya sampai separuh jalan dan balik ke basecamp di Ranupani. Baru di hari kedua tim bisa ke Ranu Tompe dengan masa tempuh sekitar 6 jam untuk menuntaskan jarak sekitar 2,5 kilometer—1,75 kilometer garis lurus—dari titik keberangkatan. 

Perjalanan tersendat-sendat karena tim berkali-kali harus berhenti untuk membaca peta dan kompas sebelum menebas tanaman untuk membuka jalur. ABDI PURMONO


Berita terkait:







Share this :

Previous
Next Post »