Perkenalkan, Pisang Unik dari Pasuruan

Kamis, Juni 27, 2013
Pisang kates 
Foto-foto: ABDI PURMONO

Kebun Raya Purwodadi di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, sedang meneliti pisang kates (Musa acuminata x Musa balbisiana) yang mereka koleksi. 

Pisang kates sebenarnya sudah ditanam sebagai koleksi sejak 1972 bersama ratusan spesimen pisang lainnya. Kebun raya yang bernaung di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bidang Ilmu Pengetahuan Alam itu mempunyai koleksi pisang sebanyak 214 spesimen, 103 kultivar dari tiga jenis induk silangan, satu marga, dan dua masih sp.

Menurut peneliti pisang Kebun Raya Purwodadi (KRP) Lia Hapsari, Pisang kates menjadi salah satu pisang kultivar kebanggaan KRP. Bentuknya sangat unik dan tidak ditemukan di luar Pasuruan. Pisang kates sering berbuah tapi tak pernah diekspos dan luput dari perhatian peneliti sehingga informasi ihwal pisang kates nyaris tak ada. “Dulu ditanam sebagai koleksi saja, ya untuk dilihat-lihat begitu,” kata Lia kepada saya pada Kamis, 27 Juni 2013.

Penelitian pisang kates dimulai 2010. Selain untuk kepentingan sains, penelitian juga ditujukan untuk mengetahui potensi pisang kates sebagai pisang unggulan Pasuruan. Hingga kini Lia baru bisa memaparkan deskripsi morfologi (penampakkan fisik) pisang kates.

Alumni Jurusan Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor itu menjelaskan, pisang kates kultivar pisang dengan karakteristik morfologi yang sangat unik dan berbeda dibanding pisang pada umumnya. Keunikan terlihat dari buahnya.

Buah pisang kates tidak bersisir dan tidak berbiji. Buah pisang kates tumbuh soliter dengan bentuk membulat dengan ujung tumpul, bukan memanjang. Bentuknya menyerupai buah pepaya sehingga boleh disebut juga dengan nama pisang pepaya (papaya like-banana).

Pohon pisang kates berpostur sedang hingga besar dengan tinggi mencapai 3 meter. Batangnya semu berwarna hijau berlapis lilin tebal. Tandan pisang kates berukuran kecil hingga sedang dengan buah-buah soliter yang tersusun melingkar tak beraturan dan longgar.  

Kulit buah tebal berlapis lilin, berwarna hijau saat muda dan kuning lemon saat matang. Daging buah yang sudah matang berwarna krem hingga kuning dan berasa manis tanpa aroma. Pisang Kates dapat dikonsumsi baik sebagai pisang buah maupun pisang olahan. “Masyarakat dari daerah asal pisang kates lebih menyukai makan pisang kates dalam kondisi segar,” ujar Lia.

Pisang kates berasal dari wilayah Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Lia belum pernah menjumpai kultivar serupa di daerah lain di Indonesia.

Tapi pisang kates diketahui masih satu grup dengan pisang pitogo dari Filipina. Morfologi pisang kates dan pisang pitogo mirip. Bedanya, pisang pitogo sudah menjadi kultivar populer yang dibudidayakan secara komersial di Filipina dan telah dikenal penduduk Hawaii dan sekitar Kepulauan Pasifik.  

“Setelah penelitian morfologinya,” kata Lia, “akan diteliti kandungan nutrisi dan gizi pisang kates agar bisa menjadi pisang unggulan Pasuruan dan Indonesia untuk selanjutnya bisa dibudidayakan secara komersial.”

Menurut Lia, KRP mengusulkan dan mengajak Pemerintah Kabupaten Pasuruan bekerja sama untuk mendaftarkan pisang kates sebagai kultivar lokal Pasuruan ke Kementerian Pertanian untuk mendapat perlindungan varietas tanaman (PVT) lokal.

Berdasarkan ketentuan Menteri Pertanian Nomor: 01/Pert/SR.120/2/2006 tentang Syarat Penamaan dan Tata Cara Pendaftaran Varietas Tanaman, pendaftaran varietas lokal hanya bisa dilakukan oleh pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota) atau lembaga yang ditunjuk atau dibentuk sesuai lokasi sebaran geografis varietas lokalnya. 

Sedangkan selaku wakil LIPI di Pasuruan, KRP hanya memegang otoritas keilmuan. ABDI PURMONO  



Share this :

Previous
Next Post »