Pencari Emas di Tengah Kota Malang

Sabtu, Januari 14, 2012
Kamis, 30 Agustus 2007 
Lokasi: Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, 30 Agustus 2007
Foto-foto: ABDI PURMONO

Pak Yono, 78 tahun, masih kuat bekerja berat. Dulunya ia bekerja serabutan seperti menjadi kuli bangunan, menjual sayur-sayuran, dan menjual makanan ikan hias.

Ketimbang menganggur dan ogah merepotkan kelima anaknya yang sudah berkeluarga, apalagi sang istri sudah lama meninggal, Pak Yono kemudian menjadi pencari emas di sungai-sungai yang ada di Kota Malang dan sekitarnya. Sudah setahun setengah ia bekerja ngendang (mendulang) emas, dengan belajar dari tetangganya di kawasan Gadang, Kota Malang.

Saat ditemui, Pak Yono dibantu cucunya, Eko (20), lulusan SMP. Eko tinggal di Desa Banyumulyo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Ia baru 15 hari ikut kakeknya. Pak Yono sengaja mengajak cucunya agar Eko tak mengganggur atau jadi "sampah" masyarakat. "Cari kerja susahnya minta ampun, Mas. Daripada dia jadi penganggur, mendingan kerja apa saja asal halal dan tak merugikan orang lain," kata Pak Yono.

Ada sekitar 20-an orang pencari emas seperti dirinya. Mereka tinggal di Malang dan sekitarnya. Pak Yono dan teman-teman menyadari bahwa Malang bukanlah tempat yang tepat untuk mencari emas mentahan layaknya di pertambangan emas di Kalimantan.

Itulah sebabnya Pak Yono dan kawan-kawan berpencar mencari emas di sungai-sungai yang dekat dengan permukiman penduduk, khususnya yang berdekatan dengan tempat-tempat kos mahasiswa. Jika hasilnya nihil, Pak Yono biasanya pergi mencari emas di sungai-sungai di wilayah Kabupaten Malang, yang lokasinya tidak jauh dari wilayah kota.

Dalam sebulan, Pak Yono bisa mendapatkan 3-4 kali emas, dengan berat rata-ra antara 0,5 gram sampai 1 gram. Emasnya berupa cincin, anting, atau perhiasan kecil wanita lainnya. Ia tak pernah mendapatkan emas lebih dari 3 gram. Tapi ia sering pula tak mendapatkan emas dalam beberapa bulan.

Kalau sudah begitu, ketimbang pulang dengan tangan hampa, Pak Yono dan kawan-kawan mencari benda berharga apa saja yang laku dijual. Maka, mereka pun mengumpulkan paku-paku, tembaga, kuningan, perak, potongan besi. Paku-paku, misalnya, dijual per 3 minggu sekali ke pasar barang bekas di Comboran, Kota Malang, sebanyak 10-15 kilogram. Per kilogram Rp 12 ribu.

Harga segitu tak sebanding dengan harga emas 1 gram. Satu gram emas Rp 120 ribu. Jika mendapat emas, rasa capek setelah bekerja seharian, bisa reda seketika. Dengan emas 1 gram saja, berarti Pak Yono punya uang untuk memenuhi kebutuhan hidup selama 6-8 hari.

"Saya ini bukan pemboros. Tidak merokok. Cucu saya pun saya minta begitu. Kalau ada sisa uang, ya usahakan ditabung buat bekal melanjutkan sekolah," ujar bapak tua yang gemar bercanda ini. "Hidup ini sudah susah, Mas, tapi jangan sampai kita pun susah untuk tersenyum dan tertawa." ABDI PURMONO



Share this :

Previous
Next Post »