Di Malang, SMK Singosari Rakit Esemka Rajawali

Sabtu, Januari 07, 2012
Salah satu protipe mobil Esemka di SMK Negeri 1 Singosari.
Foto: TEMPO/ABDI PURMONO

JUM'AT, 06 JANUARI 2012 | 12:09 WIB

TEMPO.COMalang - Sekolah Menengah Kejuruan  Negeri (SMKN) 1 Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, saat ini sedang mengerjakan perakitan (assembling) sebanyak 12 unit mobil Esemka Rajawali kabin ganda. 

Menurut koordinator assembling line, Hariyono, perakitan mobil berkategori sport utility vehicle (SUV) itu merupakan kelanjutan dari pelaksanaan Program Pembelajaran Kewirausahaan Kreatif Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 2010. 

Program tersebut dikerjakan sejumlah SMK, termasuk SMK Negeri 2 Surakarta yang saat ini sedang melejit karena mobil Kiat Esemka yang dijadikan mobil dinas oleh Wali Kota Surakarta Joko Widodo. "Awalnya kami kebagian tugas menggarap Esemka Digdaya 5.1i kabin ekstra (extra cabin)," kata Hariyono, Jumat, 6 Januari 2012.

Esemka Digdaya sempat dipamerkan di Jakarta pada 2010 dan mendapat banyak apresiasi dari pejabat tinggi. Namun Hariyono tidak tahu mengapa Esemka Digdaya tidak dikembangkan lebih lanjut. Hal itu diakui Hariyono sangat mengecewakan. 

Hariyono menduga mobil Esemka Rajawali dikembangkan karena performanya lebih disukai calon pembeli. Mobil kategori SUV berkabin ganda cocok untuk keluarga dengan desain yang sporty. Mobil tersebut juga tak kalah dibandingkan mobil sejenis yang beredar di pasaran. Fisik Esemka Rajawali mirip kombinasi Daihatsu Terios dan Toyota Fortuner.

Harga Esemka Rajawali lebih murah, yakni Rp 170 juta sampai Rp 180 juta. Kepastian harga menunggu keputusan dari Kementerian Pendidikan. Namun Hariyono menaksir harganya akan dipatok Rp 160 juta per unit.

Diakui Hariyono, Esemka Rajawali masih dalam taraf percobaan dengan menggunakan mesin Mitsubishi berkapasitas 2.000 cc dan suku cadang merek Fudi dari Cina. Pada tahap berikutnya Esemka Rajawali akan menggunakan mesin suku cadang pabrikan sendiri, yang dibiayai Kementerian Pendidikan.


Kepala Hubungan Masyarakat SMK Negeri 1 Singosari, Agus, menjelaskan sekolah mereka sebenarnya lebih berkonsentrasi mengerjakan 200 mesin untuk didistribusikan ke SMK lain yang mengerjakan badan truk mini bak terbuka (pikap). 


Agus mengatakan SMK Negeri 1 Singosari menekuni pengerjaan SUV sejak 2009 hingga 2010. Kendala pengerjaan SUV lebih sulit dibanding membuat pikap. Di antaranya kesulitan mendatangkan komponen SUV dari Cina. Kalau dibeli dalam kondisi utuh juga sulit masuk ke Indonesia karena dianggap barang impor mobil jadi. Harganya pun lebih mahal. Karena itu diputuskan membeli dalam bentuk komponen terurai yang kemudian dirakit menjadi mobil utuh. 


Agus mengatakan perakitan SUV semula ditujukan untuk pelatihan bagi guru pembimbing dan murid-murid, khususnya murid kelas XI (kelas 2) dan kelas XII (kelas 3) Jurusan Otomotif dan Elektronik. Perakitan bukan bertujuan komersial seperti ramai dibicarakan sekarang. “Ternyata kesulitan membuat SUV lebih dari yang kami bayangkan,” ujar Agus.


Pasarnya pun tak seprospektif dibanding pasar pikap. Padahal pikap lebih gampang dibuat dengan biaya lebih rendah dibanding SUV. Itu sebabnya Kementerian Pendidikan melalui Direktur Pembinaan SMK menggencarkan program baru pembuatan mini truk (pikap).


Ihwal Esemka Digdaya yang tak dikembangkan lebih lanjut, menurut Agus, mobil kabin ekstra berkapasitas penumpang dua orang itu bisa dibuat untuk dipasarkan di daerah Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu) yang bertopografi berbukit-bukit dan bermedan berat. 


Diharapkan tiga pemerintah daerah Malang Raya, khususnya Kabupaten Malang dan Kota Batu, bersedia memberi perhatian dan dukungan nyata untuk terlibat mengembangkan Esemka Digdaya. Sebab SUV bak terbuka didukung produsen minyak pelumas Amerika Serikat untuk teknologi lubrikasinya. 
ABDI PURMONO

http://www.tempo.co/read/news/2012/01/06/124375696/Di-Malang-SMK-Singosari-Rakit--Esemka-Rajawali

Share this :

Previous
Next Post »