Calang, Setelah Amuk Gelombang

Senin, November 24, 2008


TEMPO 50/XXXIII 07 Februari 2005


















Foto-foto: ABDI PURMONO


Calang nyaris musnah dihajar gempa dan tsunami.

OMBAK belum mau berdamai ketika kami akhirnya tiba di Teluk Calang, siang itu. Delapan jam kapal diguncang gelombang garang, sepanjang pelayaran Lamno-Calang. Begitu menjejakkan kaki di hamparan pantai berpasir lumpur kecokelatan, bau anyir lamat-lamat menyongsong indra penciuman. Bau mayat yang mulai membusuk.... Di bibir pantai, dua anggota marinir menyapa ramah dalam logat Jawa medok

Tapi, astaga! Calang yang kami lihat ternyata melampaui bayangan paling buruk. Kota ini nyaris tak berbekas. Sejumlah warga bercerita, tsunami itu menerjang dengan ketinggian 15 meter, menggempur Calang dari tiga penjuru. Gelombang raksasa itu menghumbalang dari arah Teluk Rigah, Teluk Calang, dan Teluk Lhok Leubu. Semua bangunan bertekuk lutut. Yang tinggal hanya sebuah rumah milik tauke Nyek Beng. Rumah putih bertingkat di seberang posko marinir itu kini menjadi gudang penyimpanan logistik.

Hari itu, 10 Januari 2005, lima anggota tim sukarelawan Tempo bersama lima personel Green Camp dan dua anggota Flora Fauna International (FFI) tiba di Calang. Sebelumnya kami menempuh sembilan jam perjalanan dari Ulee Lheue, Banda Aceh, ke Lamno. Total 17 jam lebih waktu dibutuhkan untuk melayari Samudra Hindia di pesisir barat Aceh. Padahal, jika lewat darat, jarak 110 kilometer Banda Aceh-Calang maksimal ditempuh dalam tiga jam.

Kapal motor Arung Samudera 033, yang disewa Jaringan Sukarelawan Kemanusiaan (JRS), hanya berkekuatan 23 PK. Kapal berkapasitas 12 penumpang itu ditumpangi 25 orang, ditambah empat awak kapal. Tapi nakhoda meyakinkan, ia biasa membawa penumpang dan barang melebihi kapasitas. Ia pun mengaku sangat mengenal "karakter" Samudra Hindia.

Menurut Bupati Aceh Jaya, Zulfian Ahmad, hingga akhir bulan lalu Calang dan enam kecamatan lainnya masih terisolasi. "Jalan yang menghubungkan keenam kecamatan rusak berat, sehingga menyulitkan distribusi bantuan," kata bupati yang kini berkantor di tenda milik marinir bersama seorang sekretaris dan dua asistennya itu. Zulfian selamat dari amukan tsunami karena pada saat kejadian, 26 Desember, ia berada di Jakarta.

Ia baru bisa masuk Calang sehari kemudian, menggunakan kapal cepat sewaan. Ia membawa puluhan kardus mi instan, yang langsung ludes dilahap warganya tanpa dimasak. Pada Selasa 28 Desember ia ke Banda Aceh dan pulang membawa 12 ton beras. Beras ini pun habis dalam sehari. Pikirannya bertambah kalut ketika mendapat kepastian: istri dan keempat anaknya tewas bersama ribuan penduduk.

Bupati menaksir, 70 persen dari 11.500 warga Calang tewas direnggut tsunami. Pengungsi di seluruh Aceh Jaya diperkirakan sekitar 37 ribu orang. Jumlah pengungsi sebanyak ini bercampur dengan sekitar 13 ribu orang yang bukan pengungsi. Adapun penduduk Aceh Jaya sekitar 87 ribu jiwa. Korban di Calang pun tidak semuanya korban langsung.

Karena prasarana hancur, pasokan kebutuhan macet. Ribuan penduduk di pedalaman terpaksa berjalan kaki mencari bantuan ke Calang. "Kami butuh 20 ton beras per hari," kata Zulfian kepada Tempo, saat itu. Satuan marinir adalah tim pertama yang tiba di Calang pada 2 Januari 2005. Satu batalion marinir diangkut KRI Teluk Ratai-509. Kebetulan, Krueng Sabee adalah tempat kelahiran Komandan Korps Marinir, Mayjen Safzen Noerdin, 53 tahun silam.

Ikut di dalamnya 14 personel Satuan Siaga Bencana Palang Merah Indonesia (Satgana PMI) Kabupaten Malang, Jawa Timur, dengan membawa ambulans, truk, pikap, dan jip kanvas, masing-masing satu unit. Esoknya tiba 54 personel IOF. Ada 950 marinir yang ditugaskan ke daerah-daerah di pantai barat, terutama Meulaboh, Calang, dan Lamno. Karena anggota tetap kurang, 289 dari 750 personel bintara dari Komando Pendidikan Angkatan Laut Surabaya dikerahkan. Dari jumlah personel TNI AL sebanyak itu, 151 orang bertugas sebagai tenaga kesehatan.

Selain tim kesehatan TNI AL, ada juga tim kesehatan dari sukarelawan sipil, seperti Satgana PMI Kabupaten Malang dan German Emergency Doctors (GED). Beranggotakan tiga orang, tim sukarelawan Jerman ini sudah bertugas sejak 7 Januari dan membangun pos di Bukit Carak, sedikit di atas Calang. Mereka tidak saja mengurusi pasien tapi juga ikut mendrop bantuan.

Saat itu tim Satgana membuat pos di dekat pantai Teluk Calang, berseberangan dengan tenda kami. Tim ini dibagi dua: tujuh orang bertugas mengurus jenazah dan tujuh orang menangani kesehatan. Jumlah ini tentu tak sebanding dengan 4.500 pengungsi. Mudji Utomo, koordinator Satgana PMI Kabupaten Malang, mengaku kewalahan dengan jumlah personel yang sedikit, terlebih untuk mengevakuasi jenazah.

Di Calang, seluruh distribusi bantuan diserahkan marinir ke pemerintah setempat. "Kami tak mau terjadi fitnah, makanya distribusi bantuan biar diurus Pak Bupati dan asistennya," kata Brigjen (Marinir) Djunaidi Djahri, Komandan Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana Alam TNI AL di pantai barat Aceh. "Kami mengurus keamanan saja."

Kurangnya tenaga sukarelawan sangat terasa. Namun kami tak bisa banyak berharap, apalagi mengandalkan tenaga pengungsi. Pengalaman pada hari kedua dapat dijadikan gambaran betapa sulitnya meminta bantuan kepada pengungsi. Entah mengapa saat itu ratusan pengungsi pria hanya menonton, sementara para aparat dan sukarelawan mandi keringat mengangkut bantuan dan obat-obatan.

Kami terpaksa berteriak meminta bantuan pengungsi. Dengan pendekatan persuasif, akhirnya mereka menurut. Tapi emosi kami hampir meledak sewaktu seorang pria bertopi biru, yang tak ikut membantu, tiba-tiba mempersoalkan garam dan obat-obatan yang kami kumpulkan di depan tenda Satgana PMI Kabupaten Malang. Rupanya ia meminta bagian dengan alasan kelompoknya tidak kebagian. Namun permintaannya dicemooh pengungsi lain.

Kami berusaha menjelaskan sebaik-baiknya. Akhirnya dia mengerti dan mengulurkan tangan, meminta maaf. Kami juga meminta maaf. Keesokan harinya giliran marinir mengkoordinasi pengungsi. Kami tetap membantu mengangkut, sedangkan anggota Satgana melanjutkan evakuasi jenazah dan pembuatan jembatan. Kali ini tim off-road ikut membantu. Marinir ikut mengangkut bantuan logistik dengan lima tank amfibi buatan 1961.

Pada hari berikutnya para lelaki dikumpulkan dan diberi pengarahan setiap pagi dan sore oleh marinir. Setelah itu mereka diminta bekerja. Jika tak ada bantuan, mereka diminta membersihkan sampah yang berserakan dan mulai menggunung. Ribuan lembar pakaian bekas yang tak terpakai dan menumpuk begitu saja terpaksa dibakar. Hasilnya, kawasan Teluk Calang lebih bersih dibanding hari-hari pertama kami tiba.

Seorang prajurit mengaku, pengarahan saban pagi dan sore itu adalah salah satu cara untuk mengendus penyusupan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ke dalam kelompok pengungsi. Demi keamanan, marinir menerapkan jam malam. Seluruh pengungsi dan sukarelawan dilarang melewati tali kuning yang mengepung areal kamp, mulai pukul 21.00 sampai 06.00. Jarak tali dari tenda dua meter.

Kelonggaran diberikan bagi mereka yang hendak membuang hajat dan menunaikan salat subuh, meski harus diperiksa dulu. "Tolong, jangan ada yang berkeliaran di luar. Kalau ada yang melewati tali kuning, jangan salahkan kalau kami bertindak menurut peraturan," kata seorang prajurit yang menyeruak masuk ke tenda kami pada malam pertama.

Meski masih terseok, kehidupan dan optimisme warga mulai bersemi. Di Bukit Carak, kami menyaksikan para pria sibuk memperbaiki sepeda dan sepeda motor yang mereka angkut dari reruntuhan kota. Dua perempuan dan tiga lelaki tua tekun merajut jaring-jaring ikan yang awut-awutan. Di Bukit Carak, pasar darurat buka sejak 13 Januari. Semula baru ada seorang penjual, sehingga harganya pun selangit.

Gula 1,5 kilogram naik Rp 5.000 dari harga normal Rp 2.500. Minyak goreng yang biasanya dijual Rp 7.500 per kilogram dibandrol Rp 5.000 per seperempat liter. Ikan kembung satu ons dipatok Rp 5.000, naik Rp 3.500 dari harga normal. Bawang merah satu ons Rp 2.000, sedangkan harga normalnya Rp 750. Ikan teri seperempat kilo Rp 3.000, padahal normalnya Rp 6.000 per kilo.

Pembenahan prasarana juga dilakukan. Dalam jangka tiga bulan tim akan membangun sekolah, puskesmas, kantor kabupaten, masjid, pelabuhan, dan barak pengungsi dari papan atau tripleks. Para pengungsi akan ditempatkan di 28 penampungan. Masing-masing 7 di Jaya (Lamno), 6 di Sampoi Niet (Lhok Kruet), 5 di Setia Bakti (Lageun), 4 di Teunom, 3 di Panga, 2 di Krueng Sabee, dan 1 di Calang.

Namun, tak terasa hari terakhir kami di Calang pun tiba. Sejumlah pengungsi meminta kami memperpanjang masa tinggal. Di atas sekeping lantai dari reruntuhan bangunan, mereka menulis besar-besar dengan arang: "Tolong kami, bawa pergi dari sini." Kalimat itu makin sayup, ketika kami perlahan-lahan meninggalkan Calang.... HANIBAL W.Y. WIJAYANTA dan ABDI PURMONO (Calang) 


http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2005/02/07/NAS/mbm.20050207.NAS103840.id.html

Artikel serupa ada dalam buku Sejarah Tumbuh di Kampung Kami (2005) karya Mardiyah Chamim, wartawan Tempo.

Share this :

Previous
Next Post »