Mukti Berjalan Kaki dari Sabang sampai Merauke

Rabu, April 11, 2018
Foto-foto: ABDI PURMONO


MUKTI mengaku ingin menjelajahi Indonesia dari Sabang sampai Merauke dengan berjalan kaki selama 2 tahun. Penjelajahan ia mulai dengan meninggalkan rumahnya di Tugu Kilometer Nol, Desa Iboih, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, Aceh, 12 September 2017.

Pria 43 tahun itu saya jumpai di sela-sela kemeriahan acara sarasehan dan reboisasi yang diadakan Gimbal Alas Indonesia di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Acara ini berlangsung dua hari, sejak 31 Maret dan berakhir pada 1 April 2018.

Nah, Mukti saya jumpai di hari terakhir dan saya ajak berbincang di Pawon Pani, kafe kepunyaan Andi Iskandar Zulkarnain alias Andi Gondronk. “Kalau sampai di sini itu berarti sudah 7 bulan saya menjelajah dari tempat tinggal saya di Sabang dan itu berkat kuasa Allah SWT,” kata Mukti.

Karena mempercayai kekuasaan Sang Pencipta, Mukti hakulyakin perjalanannya lancar dan selamat. Ia mengaku tak membawa bekal uang sepeser pun kecuali dua lembar pakaian, jaket, celana, dan sajadah yang dimasukkan dalam tas. Sebenarnya, kata dia, ia juga membawa kamera dan alat GPS tapi barang berharga itu dirampok 6 pria saat ia berada di Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung, sekitar 3 bulan lalu.

Kamera dan GPS milik Mukti merupakan hadiah yang diberikan Presiden Republik Indonesia kelima, Megawati Soekarnoputri, saat mengunjungi Sabang untuk meninjau perbaikan Tugu Kilometer Nol pada 2006.

Pria yang bekerja sebagai porter di Sabang itu tidak cemas dan takut kehabisan logistik. Ia bisa tidur di mana saja dan malah suka tidur di alam terbuka. Sepanjang perjalanan, Mukti menjumpai banyak orang baik yang membantu dan memberinya rezeki berupa makanan-minuman dan sesekali uang. Mukti pantang meminta-minta, tapi ia juga pantang menolak pemberian orang.

Segala penderitaan yang ia alami selama perjalanan belumlah seberapa dibanding duka teramat dalam yang ditanggungnya: istri dan tiga anaknya meninggal saat Aceh dilantak gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004.

Penderitaan Mukti pun belum sebanding dengan penderitaan banyak orang yang ia temui. “Negeri kita ini sebenarnya sedang sakit. Jangan sampai kita terpecah-belah meski kita berbeda-beda. Kita harus bersatu dalam naungan Pancasila. Ini juga motivasi saya menjelajah Indonesia selain untuk melupakan duka saya setelah kehilangan anak dan istri,” ujar Mukti.

Mukti mengaku sudah terbiasa merasa sepi dan sendiri sejak kematian istri dan anak-anaknya. Karena itu pula ia tak peduli perjalanannya direkam maupun dipublikasikan oleh siapa pun. “Saya tidak harus halo-halo biar orang tahu saya keliling Indonesia dengan berjalan kaki,” kata dia. 

Informasi selengkapnya bisa dilihat pada video berikut ini: Mukti Berjalan Kaki dari Sabang sampai Merauke



Share this :

Previous
Next Post »