Aksi Unjuk Rasa Pelatih dan Pemain Arema

Rabu, Mei 23, 2018

Tangkapan layar aksi unjuk rasa pelatih dan pemain Arema, Senin, 23 Mei 2011. Foto dan video: ABDI PURMONO

HARI ini tujuh tahun silam.

Sepanjang yang saya tahu dan ingat selama saya bermukim di Kota Malang sejak 28 Oktober 2001, dalam sejarah klub sepak bola Arema baru satu kali pelatih dan pemain Arema Indonesia melakukan aksi protes dengan mendatangi tempat tinggal petinggi klub untuk menagih janji pembayaran gaji.


Ceritanya begini.

Belasan pemain Arema mendatangi rumah kediaman Ketua Yayasan Arema, Muhamad Nur, yang berlokasi di Jalan Puncak Yamin Nomor 2, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Senin sore, 23 Mei 2011.

Rombongan pemain menumpang bus Pion Transport bernomor polisi AA-1586-AA (nomor polisi wilayah Kedu) dan tiba di depan rumah Nur pada pukul 15.05 WIB. Semula mereka berencana mendatangi rumah Nur pukul 2 siang.

Aksi itu dipimpin langsung oleh Miroslav Janu alias Miro, sang pelatih. Ofisial tim yang tampak Tony Ho (asisten pelatih), Joko Susilo (asisten pelatih), Muhammad Taufan (sekretaris tim), dr Albert Rudyanto (dokter tim), dan Mat Banteng (sekuriti).

Para pemain yang tampak Ahmad Bustomi, Yongki Aribowo, Zulkifli Syukur, Talaohu Abdul Musafri, Esteban Javier Guillen Tejera (Uruguay), Roman Chmelo (Slovakia), Roman Gollian (Slovakia), Aji Saka (kiper), Tomy Pranata, Sunarto, Ahmad Amiruddin, Benny Wahyudi, Irfan Raditya, Wahyu Gunawan, Johan Ahmad Farizi, Purwaka Yudhi, Waluyo, Hendra Ridwan, Juan Revi Auriqto, dan Ronny Firmansyah.

Yang tak ikut Achmad Kurniawan (kiper), Kurnia Meiga (kiper), Syaifuddin (kiper), Hermawan, Leonard Tupamahu, Mochammad Fakhrudin, Dendi Santoso, serta dua pemain Singapura, Muhammad Ridhuan dan Noh Alam Shah. Ridhuan dan Alam Shah sedang menjalani wajib militer di Singapura.

Lihat videonya: Aksi Unjuk Rasa Pelatih dan Pemain Arema. 

Kedatangan mereka mengundang perhatian banyak orang. Muncul banyak celetukan, seperti “people power” dan “kami belum gajian”. Adatnya orang bertamu, pemain pun memberikan salam dari balik pagar, tapi tak seorang pun keluar. Hanya ada Toyota Crown cokelat bernomor polisi B-2487-RU di teras rumah bertembok tinggi itu. Aksi mereka berlangsung sekitar 25 menit.

Miro mengatakan, kedatangan mereka untuk meminta pertanggungjawaban Muhamad Nur terhadap nasib mereka. Intinya, pelatih dan pemain menagih hak-hak yang dijanjikan setelah mereka memenuhi semua kewajiban sebagai pelatih dan pemain profesional dengan dedikasi tinggi.

Sebaliknya, ia dan para pemain sangat menyesalkan Muhamad Nur lebih sibuk mengurusi Kongres PSSI daripada Arema. Miro menegaskan tak ada hubungan antara kepentingan Arema dengan PSSI.

“Bukan PSSI yang bayar Arema. Untuk apa dia sibuk mengurusi PSSI, tapi internalnya (Arema) bagaimana. Itu harusnya dia urus dan pertanggungjawabkan. Harusnya dia pulang ke Malang bawa uang untuk bayar gaji kami,” kata Miro.

Baca juga: Menyelamatkan Arema dari Kebangkrutan.

Menurut Rendra Kresna, Bendahara Yayasan Arema merangkap Presiden Klub Arema, tim Singo Edan membutuhkan dana segar Rp 10 miliar hingga akhir kompetisi Liga Super Indonesia.

Lebih dari Rp 5 miliar akan dipakai untuk membayar gaji pemain yang bervariasi antara 2,5 bulan sampai lima bulan. Ahmad Bustomi menjadi contoh pemain nasional yang tak bergaji lima bulan, masing-masing sisa gaji 2,5 bulan musim 2009-2010 dan 2,5 bulan gaji musim ini.

Aksi “people power” itu merupakan akumulasi dari serenteng masalah internal Arema. Mayoritas masalah tersebut berkaitan dengan gaji, khususnya gaji pemain dan pelatih. Keuangan Arema stabil di era pengelolaan PT Bentoel Prima, sejak 30 Januari 2003 hingga 3 Agustus 2009.

Sebelum Miro dan anak buahnya melancarkan aksi “people power”, manajemen dan pemain sebenarnya sudah berdamai. Manajemen menyanggupi pelunasan tiga bulan gaji pemain. Sedangkan pemain pun bersedia memperkuat tim Singo Edan hingga akhir kompetisi Liga Super Indonesia 2010-2011 pada Juli 2011.

Kesepakatan dicapai dalam pertemuan antara Abriadi Muhara selaku Pelaksana Harian PT Arema Indonesia merangkap Asisten Manajer Arema Indonesia dengan Mohamad Noh Alam Shah alias Along, sang kapten yang mewakili seluruh pemain, di mes Arema di Jalan Welirang, Kota Malang, Selasa siang, 15 Maret 2011.

Saat itu, kedua kubu diminta Aremania menandatangani surat pernyataan bermaterai Rp 6 ribu sebagai jaminan kedua kubu sudah akur dan siap memenuhi kewajiban masing-masing. Surat pernyataan pemain ditulis Along.
Saya, Mohamad Noh Alam Shah, perwakilan antara pemain memohon jaminan pembayaran gaji tiap bulan dibayar tepat waktu dari tanggal 15 April sampai akhir kompetisi ILS (Indonesia Super League) 2010/2011. Kalau hak pemain tidak dipenuhi, maka pemain berhak melakukan apa pun yang menjadikan keputusan pemain. Malang, 15 Maret 2011.
Perdamaian kedua kubu disaksikan 200-an Aremania yang membaur dan bersesakan dengan sejumlah wartawan di ruang tamu. Pendiri Arema, Lucky Adrianda Zainal, juga hadir dengan duduk di ruang tengah.

Baca juga: Asa pada Sebatang Harmonika.

Dan, Miro kini tak bisa lagi menyaksikan dan mengikuti perjalanan klub yang pernah diasuhnya pada 2007 dan musim 2010-2011 itu. Pelatih berkebangsaan Republik Ceko ini meninggal di Surabaya pada Kamis, 24 Januari 2003.

Perlu pula diketahui, tim Arema musim 2010-2011 resmi diperkenalkan kepada publik di kafe milik pengusaha Iwan Kurniawan alias KT-52 pada Jumat, 24 September 2010. Di era inilah Arema punya dua kiper kakak-beradik, Ahmad Kurniawan dan Kurnia Meiga Hermansyah.

Demikianlah sepotong sejarah Arema yang bisa saya ceritakan. Semoga berguna bagi kemajuan dan kejayaan Arema serta kemajuan persepakbolaan Tanah Air. Jangan pernah melupakan sejarah. ***




Share this :

Previous
Next Post »