Balada Musik Oseng-Oseng Kangkung Iksan Skuter

Minggu, Desember 31, 2017

Foto-foto: ABDI PURMONO

Iksan Skuter dikenal sebagai musikus balada. Tapi sebenarnya ia tak menentukan satu aliran musik karena yang terpenting seniman harus berkarya. Ia pernah jadi pekerja alih daya (outsourcing), office boy, dan tukang cat.

LEBIH dari 5 ribu orang menyaksikan Folk Music Festival 2017 di Lapangan Kusuma Agrowisata, Kota Batu, Jawa Timur, Sabtu, 15 Juli 2017. Penonton datang dari banyak daerah di Indonesia.

Ada 14 penampil selama 14 jam durasi perhelatan yang dimulai pukul 10 pagi. Salah satu penampil yang disambut meriah penonton adalah Mohammad Iksan. Pria kelahiran Blora, Jawa Tengah, 30 Agustus 1981, lebih dikenal dengan nama panggung sebagai Iksan Skuter. Penontonnya mayoritas orang Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu).

“Skuter itu Vespa butut buatan 1977 milik saya. Oleh kawan-kawan saya skuter itu dijadikan singkatan ‘seniman kurang terkenal’ dan saya sadar diri hingga sekarang memang enggak terkenal, ha-ha-ha...” kata Iksan kepada saya di Warung Srawung, Selasa malam, 5 Desember 2017. Obrolan berlangsung hingga Minggu, 6 Desember 2017, pukul 00.30 WIB.

Warung Srawung beralamat di Jalan Parangtritis, Kelurahan Oro-oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Warung ini didirikan Iksan pada 2013, tak lama setelah ia balik lagi ke Malang setelah berkarir di Jakarta sejak 2006.

Sebelum menjadi solois balada, Iksan menjadi gitaris dan penulis lagu di Putih Band sepanjang 2000-2010. Putih Band awalnya homeband Universitas Brawijaya. Iksan dan kawan-kawan pindah ke Jakarta setelah 5 tahun (2000-2005) berkiprah di Kota Malang. Selama di Malang mereka menghasilkan tiga karya, yakni album kompilasi bersama band-band Malang yang berjudul Mboyl Pos (2002), Putih Mini Album (2002), dan album Cerita Sahabat (2003).

Debut Putih Band di Jakarta dimulai 2006. Mereka memasuki industri musik di bawah naungan produser besar. Di tahun pertamanya Putih Band merilis album perdana yang berjudul Apa Kabar Cinta. Pada 2008 Putih Band merilis album kedua yang berjudul Gelombang Cinta, disusul rilis album ketiga berjudul Yang Ketiga pada 2009. Album Yang Ketiga menjadi album terakhir Putih Band.

Putih Band bubar pada 2010 dan sejak itu Iksan bersolo karir hingga sekarang. Dari aliran pop, Iksan beralih genre balada meski ia sendiri tidak merasa begitu. Musikus folk atau balada umumnya berciri idealis, independen, dan kritis baik lewat sikap keseharian maupun melalui karya-karyanya.

Ia sudah menghasilkan 6 album dan sedang menggarap album ketujuh. Dari enam album dibuat, satu album berisi lagu anak-anak. Album ketujuh yang sedang dalam proses penggarapan pun merupakan album lagu anak-anak.

“Indonesia sedang mengalami darurat lagu anak-anak. Anak-anak terlalu cepat dewasa sebelum waktunya. Banyak sekali anak-anak, termasuk keponakan saya, yang lebih hafal lagu cinta-cintaan orang dewasa dan mars sebuah partai yang sebenarnya tidak pantas buat mereka” ujar Iksan, peraih titel Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Brawijaya pada 2004.

Hampir 20 tahun Iksan berkarya. Iksan mengaku sampai tak ingat seluruh karyanya baik saat bersama Putih Band maupun setelah bersolo karir apabila tidak ada orang yang mendokumentasikannya.

Sudah cukup banyak kontribusi Iksan buat jagat musik Indonesia, terutama untuk aliran folk yang minoritas. Misalnya, ia sangat mendambakan Indonesia yang bebas korupsi, makanya ia rela berunjuk rasa untuk mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan menciptakan lagu Partai Anjing. Lagu ini masuk album kompilasi lagu-lagu antikorupsi yang dirilis Indonesia Corruption Watch.

Kiprahnya juga jadi perhatian host Andy F. Noya sehingga Iksan diundang tampil dalam program ternama “Kick Andy” di MetroTV. Waktu itu temanya “Musik Perangkap Tikus”, yakni musik-musik yang mengangkat isu korupsi.

Kendati ia menekuni genre balada, Iksan tetap berkarya di luar genre aslinya. Tidak heran karyanya jadi bejibun. Pada 2014, misalnya, Iksan membuat lagu tema (theme song) serial animasi Malaysia, Boboiboy, yang dibawakan Kotak Band. Setahun kemudian, ia membuat original soundtrack film Boboiboy the Movie yang dibawakan D’Massiv. Lalu di tahun yang sama, Iksan membuatkan dua lagu untuk album grup Musikimia, yang notabene berisi empat personel eks-Padi Band.

“Masih banyak lagi karya saya, Mas, tapi tak saya ingat semuanya. Perlu pendokumentasian yang baik,” Iksan, bungsu dari tujuh bersaudara.

Iksan orang yang suka melucu, ceria dan bersemangat. Saking bersemangatnya, ia suka memberi jawaban yang panjang-panjang atas pertanyaan pendek. Kadang, saat menjelaskan, ia seperti sedang mendongeng. Namun, dengan begitu, kentaralah bahwa Iksan seorang seniman tulen sekaligus seorang ayah yang mempunyai prinsip dan tekad kuat.

Oh ya, satu hal pasti, Iksan seorang Pancasilais yang sangat membenci koruptor dan politikus busuk. Dan, inilah hasil obrolan kami.

Saat mengisi acara Liberasi "Seni Merawat Indonesia Raya" di Warung Srawung, Jumat malam, 22 Desember 2017.

Bagaimana awalnya Sampeyan menjadi musikus?

Saya senang ngeband sejak SMP dan SMA di Blora. Saya sudah tidak ingat berapa band yang pernah saya ikuti sejak SMP hingga kuliah di Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya.

Kapan mulai serius ngeband?

Sejak mulai kuliah. Tepatnya pada 2000 saya gabung di homeband Universitas Brawija bernama Putih Band. Saya gabung sampai 2010. Lalu saya bersolo karir sejak 2011 hingga sekarang. Sudah hampir 20 tahun saya di musik. Lumayan panjang, lumayan kesel kalau diceritain, ha-ha-ha...

Sampeyan seorang sarjana hukum. Kenapa memilih jalur musik ketimbang mencari pekerjaan yang sesuai dengan titel sarjana?

Ilmu hukum itu mencakup semua aspek. Di industri musik pun berhubungan dengan kontrak dan legalitas. Ilmu hukum akhirnya tetap berguna bagi karir bermusik saya.

Kenapa Sampeyan memutuskan total bermusik?

Karena saya tipikal manusia yang tidak bisa menjadi buruh. Saya harus menjadi tuan atas apa pun yang saya lakukan. Kata Bung Karno, kita harus berani berdikari.

Lalu, apa tujuan Sampeyan berkesenian?

Tujuan berkesenian untuk hidup dan kehidupan itu sendiri karena hidup itu ada bagian dari seni. Dalam berkesenian, “hidup” ibarat bisnis. Sedangkan “kehidupan” berarti kesenian yang saya tekuni harus berguna bagi lingkungan dan berfungsi sosial.

Alasan bersolo karir?

Saya memutuskan bersolo karir mulai 2011 karena Putih Band vakum dari panggung musik dan dapur rekaman. Pada 2010 Putih Band bubar setelah menghasilkan tiga album lewat label besar di Jakarta.

Selama 2006-2010 berkiprah di Jakarta, kami sangat merasakan ketidakbebasan. Hampir segala sesuatunya diatur produser. Lirik diatur, genre musik pun diatur. Pokoknya kami harus jadi band yang mainstream pop. Saat tanda tangan kontrak, saya merasa tidak ada bedanya kami dengan buruh outsourcing, seperti pengalaman saya dulu.

Apakah gara-gara pendiktean oleh produser itu yang membuat Putih Band tidak kompak, muncul sikap pro-kontra di antara personel, sampai kemudian Putih Band vakum dan bubar?

Tidak sepenuhnya faktor tersebut. Melainkan faktor internal dan personal juga sangat berpengaruh. Detailnya tidak bagus untuk diceritakan.

Tapi dari label tersebut saya banyak belajar manajemen bisnis, cara menggarap produksi, belajar mengaransemen, dan hal lainnya yang terkait dengan industri musik.

Sampeyan murni seorang vokalis sekaligus gitaris?

Oh tidak. Saya aslinya gitaris dan song writer (penulis lagu) di Putih Band. Saya mulai jadi vokalis merangkap gitaris sejak bersolo karir. Saya agak nekatan jadi vokalis karena suara saya enggak bagus-bagus amat.

Tapi alasan sebenarnya adalah saya kesulitan mendapatkan vokalis yang bisa menjiwai lagu-lagu yang mengandung kritik sosial, kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan, serta hal-hal lain yang Sampeyan tanyakan tadi. Karena enggak dapat-dapat, saya tak punya pilihan lain kecuali menjadi vokalis juga meski vokal saya agak cempreng, ha-ha-ha...

Lirik-lirik lagu seorang Iksan dikenal mengandung kritik sosial, melawan penindasan, keprihatinan terhadap kondisi masyarakat, dan kepedulian terhadap lingkungan dan kemanusiaan. Ada yang berlirik lugas dan banyak pula yang bergaya satire. Apakah Sampeyan memang sudah begitu sejak di Putih Band? 

Putih Band beraliran pop. Waktu itu ngangkat isu-isu sosial lewat jelas enggak marketable. Tapi saya pribadi juga menulis lirik-lirik lagu bertema hal-hal yang Sampeyan tanyakan. Teman-teman di Putih Band tahu kebiasaan saya itu. Saya menulisnya berdasarkan apa yang saya lihat, saya rasa, dan saya dengar. Istilahnya, waktu di Putih Band, saya sudah nabung lirik lagu dan sebagian besar sudah jadi lagu yang saya nyanyikan sendiri.

Berapa banyak lagu bertema alam dan lingkungan?

Sangat banyak, Mas. Seperti Lagu Kita, Uang Tak Bisa Dimakan, Nyanyian Pagi, Rumput Berburu Tanah, Tumbuh dan Tergesa, serta Papua Kucinta. Saya terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya dengar, dan rasakan langsung.

Atau dari berbagai persoalan paling aktual dan panas. Seperti kematian Salim Kancil di Lumajang, saya tergerak mendokumentasikan tragedi Salim Kancil lewat karya.

Punya pengalaman pribadi yang melatari dan mempengaruhi kekritisan Sampeyan melalui lagu?

Banyak hal. Saya pernah jadi buruh outsourcing; pernah jadi office boy, dan juga pernah jadi tukang cat. Kerja-kerja ini saya lakoni pasca-lulus kuliah. Persisnya dari awal 2004 sampai 2005 sebelum saya ke Jakarta. Khusus kerja ngecat dan kerja lainnya itu di Jakarta. Saya benar-benar harus bekerja keras untuk hidup.

Lho, Sampeyan kan sudah ngeband di masa itu...

Sudah, memang. Tapi kerja-kerja itu nyata saya lakoni karena hidup di dunia musik tak seperti bayangan orang-orang. Selebihnya enggak usah detail ya; banyak kalau diceritakan ha-ha-ha...

Pastinya pengalaman-pengalaman itu sangat berguna dan turut mempengaruhi sikap dan kepribadian saya sekarang ini. Jadi begitulah, lagu-lagu saya buat berdasarkan dari apa yang saya lihat, saya rasakan, dan saya dengar. 

Namun, tanpa saya sadari, di luar ekspektasi saya, apa yang saya rasa ternyata dirasakan pula oleh banyak manusia yang tidak bisa bersuara dan punya medium untuk menyampaikan keluh-kesahnya.

Boleh dibilang, musik saya adalah musik curhat tentang cinta, harapan, impian, kenyataan pahit dan kenyataan manis, dan juga kemarahan.

Tema-tema lagu Sampeyan identik dengan karakteristik musik folk atau balada. Musikus folk umumnya dikenal idealis, independen, dan kritis. Meski folk tidak marketable seperti yang Sampeyan bilang, tapi kok justru Sampeyan tekuni...

Saya sebenarnya tidak menentukan genre atau aliran musik yang saya mainkan. Sebutan folk untuk musik saya berasal dari teman-teman dan fans saya. Ada juga penilaian dari musisi lain.

Tapi apalah itu, yang jelas saya sengaja mengangkat isu-isu sosial dan lingkungan karena ingin mengembalikan fungsi musik yang sebenarnya bukan cuma untuk menghibur dan bersenang-senang.

Dalam sejarah kita sudah terbukti, sejak zaman Kerajaan Majapahit hingga Kerajaan Demak, seni musik juga bisa difungsikan sebagai media dakwah seperti yang dilakukan Sunan Kalijaga dengan tembang Lir Ilir, serta pemersatu nasionalisme seperti yang dilakukan W.R. Supratman dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Lalu, di zaman Orde Lama dan Orde Baru, seni musik banyak digunakan sebagai alat propaganda partai politik. Jadi, fungsi musik dan lagu tidak hanya buat hiburan karena fungsinya bisa juga ditentukan oleh kondisi sosial-politik di zamannya.

Saya mempelajari dan merasakan, hampir di tiap periode sejarah, selalu saja ada tren keseragaman taste musik. Untuk era sekarang, keseragaman musik dan lagu itu terasa banget, yang umumnya didominasi tema cinta-cintaan yang pemaknaannya sempit hanya sebatas hubungan asmara manusia. Padahal makna cinta sangat luas dan bersifat universal.

Saya ingin mengangkat tema-tema berbeda, tidak mainstream, agar lebih gampang dikenali dan diingat seperti lagu-lagu Iwan Fals. Tidak seorang pun di Indonesia yang tidak kenal Iwan Fals. Mas Iwan juga punya lagu cinta, tapi kan enggak mendayu-dayu, tidak mellow, dan enggak lebay

Tentang genre, jadi apa sebenarnya aliran musik yang Sampeyan usung?

Saya sebenarnya makan semua genre. Sebutan folk itu penilaian teman-teman dan pengamat musik. Jujur saja, menerima brand sebagai penyanyi folk sangat berat karena genre folk sangat anti-mainstream. Secara umum, folk identik dengan pemberontakan, perlawanan, dan kegelisahan sosial.

Makanya, sebagai contoh, saya buat lagu berjudul Lagu Petani di album kelima yang saya rilis pada 2016. Lagu ini saya dedikasikan untuk para petani Kendeng yang terus berjuang menentang pembangunan pabrik semen di kampung mereka. 

Di album itu juga ada lagu yang terilhami kisah nyata Salim Kancil. Judulnya Kisah Kakek dan Cucu. (Salim Kancil adalah warga Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Ia menjadi korban pembunuhan pada 26 September 2015 setelah bersama beberapa kawannya menentang penambangan pasir di desa mereka.)

Tapi Sampeyan sendiri sudah menentukan aliran musik lewat album Folk Populi Folk Dei. Apa tema album ini? 

Iya, juga sih... Folk Populi Folk Dei itu album kedua yang saya dirilis pada 2013. Sedangkan album pertama saya berjudul Matahari.

Sekitar 70 persen dari album kedua berisi tentang kecemasan saya terhadap munculnya sektarianisme, intoleransi, dan merajalelanya korupsi. Itu tahun 2013, tapi kita bisa lihat kemudian mulai Pilpres 2014 yang saya cemaskan terjadi, seperti banyaknya ujaran kebencian dan hoax yang hampir merusak kerukunan dan toleransi beragama, hampir merusak kebinekaan kita. 

Isu korupsi dalam album itu saya sampaikan lewat lagu Hymne Koruptor. Saya pernah ikut aksi #SaveKPK di Jakarta, ya sekalian mentas. Salah lagu saya yang berjudul Partai Anjing ya cerita tentang korupsi juga. Video Partai Anjing berlatar aksi dukung KPK, tapi video itu pun bergaya satire.

Sampeyan sepertinya punya genre sendiri...

Genre saya adalah oseng-oseng kangkung, ha-ha-ha... Orang-orang bebas saja menyebut genre apa pun untuk musik dan lagu-lagu saya. Tapi saya perhatikan semua genre berakar dari “pemberontakan” untuk banyak hal dan tujuan.

Ketika semua industri musik mengarah ke metroseksual, saya mengarah ke “agroseksual”, ke lingkungan dan manusia. Awalnya dari kegelisahan personal, lalu jadi kegelisahan yang kompleks yang menyangkut banyak aspek dan perspektif. Kita harus menyelamatkan lingkungan sebagai ekosistem yang besar demi menghormati harkat manusia dan kemanusiaan, demi masa depan Bumi, demi generasi pelanjut.

Lewat lirik lagu saya ingin berpesan hal-hal semacam itu kepada para pendengar dan pemerintah. Tapi sebenarnya saya tidak pernah mengkritik siapa pun. Saya hanya merekam dan menyuarakan apa yang saya lihat, saya dengar, dan saya rasa. Kalaupun dianggap mengkritik, ya terserah saja dan semoga itu baik bagi kita semua. Itu juga sebagai bentuk kecintaan saya kepada Indonesia.

Oseng-oseng kangkung... Bercanda atau serius?

Itu hanya sebuah istilah karena saya tidak mau dipusingkan urusan genre. Tugas seniman berkarya. Apa pun bentuknya, itu tetaplah karya; karya yang merupakan anak kandung seniman dari proses.

Lagi pula, istilah genre di Indonesia terlalu didominasi istilah bule sehingga kurang familiar di telinga, makanya saya bikin saja genre oseng-oseng kangkung. Bukan karena saya sangat menggemarinya, tapi gampang diingat saja, ha-ha-ha...

Sudah berapa album solo karir yang Sampeyan buat dan apakah album pertama Sampeyan bertema kritik sosial dan lingkungan?

Ada 6 album yang saya buat sejak 2012. Enam album itu berisi kurang-lebih 80 lagu. Dari enam album, ada satu album lagu anak-anak yang berjudul Kecil Itu Indah. Album lagu bocah ini berisi 8 lagu.

Album pertama berjudul Rumput Berburu Tanah (2012). Album ini intinya tentang perebutan lahan di Jakarta. Sebagai kiasan, coba bayangkan, jangankan manusia, kucing-kucing saja sudah kesulitan untuk boker karena tanah-tanah sudah disemen. 

Sekarang saya sedang persiapan merilis album ketujuh, yakni album lagu anak-anak. Saya targetkan bisa dirilis pada Februari tahun depan dengan judul Kecil Itu Indah Volume 2.

(Dalam album lagu-lagu anak Volume 2 itu terdapat 9 lagu: Anak Indonesia, Desaku, Doa untuk Ayah, Anak Rajin dan Pintar, Baca Buku, Hati-hati di Jalan Raya, Nanti Tuhan Marah, Terima Kasih Petani, dan Waktunya Tidur.)

Menarik sekali. Kenapa Sampeyan membuat album lagu buat anak-anak?

Lagu anak-anak sangat minim di negeri kita. Album lagu anak-anak pertama yang saya buat dilatari kegelisahan saya bahwa negeri kita sedang mengalami darurat lagu anak. Sungguh memprihatinkan saat mendapati kids zaman now lebih hafal-hafal lagu-lagu orang dewasa yang temanya didominasi cinta-cintaan melulu. Mereka belum waktunya untuk nyanyi begituan

Album lagu anak-anak yang kedua saya buat setelah saya mendengarkan seorang keponakan saya lebih hafal lagu mars sebuah partai politik ketimbang lagu-lagu nasional dan lagu-lagu anak. Selain itu, saya masih sering menjumpai anak-anak yang menyanyikan lagu cinta-cintaan. Anak-anak sekarang terlalu cepat dewasa sebelum waktunya. Imajinasi mereka hampir sepenuhnya dikuasai imajinasi orang dewasa.

Semua lagu Sampeyan sendiri yang ciptakan?

Iya. Saya masih punya stok lirik lagu yang dulu saya tabung saat masih bersama Putih Band. Ada yang masih sebatas lirik dan ada pula yang sudah diberi aransemen nada meski harus disempurnakan lagi.

Apa saja temanya?

Tentang lingkungan. Karya saya yang berjudu Lagu Petani berdasarkan pemikiran bahwa saya ini seorang ayah dengan satu anak. Saya ingat leluhur saya berpesan kepada orangtua saya supaya mewariskan hal-hal yang sangat bermanfaat bagi generasi pelanjut.

Sebagai gambaran, Malang 10 tahun ke depan jadi seperti Bandung dan Bogor. Bandung dan Bogor 10 tahun ke depan jadi seperti Jakarta. Jakarta 10 tahun ke depan mungkin sudah jadi seperti Mars yang gersang. Lalu anak-cucu kita nanti mau dapat apa?

Manusia terlalu serakah hingga tidak bisa mewariskan apa pun untuk generasi penerus. Hal-hal semacam ini yang bagi saya harus diangkat. Kita harus menyelamatkan lingkungan sebagai ekosistem yang besar. Kita harus mengkritisi regulasi-regulasi yang kontroversial dan merugikan lingkungan. Banyak regulasi yang berdampak destruktif terhadap lingkungan dan manusia bahkan sampai jatuh korban manusia seperti Salim Kancil.

Saya kasih contoh yang terdekat. Tiap kali hujan deras turun, di jalanan dekat warung saya ini pasti air menggenang cukup tinggi, sudah banjir. Pasti ada yang salah, entah di regulasinya atau orang-orang yang harusnya melaksanakan regulasi dengan amanah.

Contoh lain, Hutan kota Malabar sempat hendak dipermak layaknya sebuah taman kota. Padahal, secara teori dan teknis, konsep dan hakikat hutan dan taman kota itu berbeda banget. Kami protes, tapi ada media lokal yang terkesan mengopinikan protes kami sebagai sikap menantang dan menentang pembangunan. Lebay betul beritanya sehingga kami membuat selebaran Suar Malabar untuk menyajikan sikap objektif kami.

Padahal, sesungguhnya kami tidak menentang pembangunannya karena hal itu keniscayaan; pembangunan pasti terjadi. Tapi pembangunan itu prosesnya harus transparan dan partisipatif; desainnya harus berperspektif lingkungan. Yang terjadi awalnya kan tidak begitu.

Saya menonton beberapa video klip Sampeyan di kanal Youtube. Semua buatan Sampeyan?

Tidak semua. Beberapa video klip yang justru dibuatkan oleh fans. Gratis. Contohnya lagu Doakan Ayah (Oktober 2016). Saya enggak ingat berapa jumlahnya, tapi yang jelas fans begitu sangat membantu. Saya tidak menyangka cukup banya fans saya yang militan, agak fanatik begitu.

Cerita dong proses kreatif Sampeyan dalam berkarya...

Saya lebih banyak mendapatkan ide berkarya saat jalan kaki ke mana saja dan terutama saat saya naik Vespa butut kepunyaan saya. Itu Vespa buatan 1977. Pokoknya, ide-ide itu justru muncul saat saya tidak pegang alat musik. Kebanyakan ide itu saya simpan atau rekam di kepala.

Berapa lama tiap lagu saya buat, ya tidak tentu. Saya seorang seniman, terkadang cepat-tidaknya penciptaan satu lagu tergantung mood. Tapi minimal dalam satu tahun saya harus bisa melahirkan satu album.

Salah satu contohnya lagu berjudul Doa di Mana-mana (2005). Kalau didengar dan perhatikan liriknya, Sampeyan bisa mengerti maksud saya bahwa doa itu memang ada di mana-mana; bahwa berdoa pun bisa dilakukan di mana saja, tidak harus selalu dilakukan di tempat ibadah, dan dapat dilakukan dalam kondisi apa pun. Siapa pun boleh berdoa dengan caranya sendiri.

Di setiap kaki tukang becak mengayuh rejeki
Itu doa, ada doa
Di setiap lengan-lengan kuli-kuli bangunan
Itu doa, ada doa
Di setiap bahu-bahu kekar buruh memanggul
Itu doa, ada doa
Di balik merahnya gincu dan gelapnya prostitusi
Ada doa, ada doa

Doa itu di mana-mana
Ada di kolong sekolan
Ada di balik jamban
Ada di setiap nafasnya pengangguran

Jangan mengajari orang miskin berdoa
Jangan mengajari preman-preman jalanan berdoa

Doa itu di mana-mana
Ada di balik penjara
Ada di setiap tetes air mata
Ada di setiap nafasnya manusia

Doa-doa mengisi alam semesta
Ada di hutan-hutan rimba
Ada di letusan gunung

Ada di gemuruh badai yang menggila

Berapa lama waktu untuk membuat satu karya?

Tidak tentu, Mas. Saya seorang seniman, terkadang cepat-tidaknya penciptaan satu lagu tergantung mood. Tapi mood bukan satu-satunya alasan untuk berkarya. Minimal dalam satu tahun saya harus bisa melahirkan satu album.

Saya harus punya target. Saya bukan jenis seniman yang baru bisa berkarya kalau mood-nya sedang bagus maupun kalau sudah dapat wangsit atau ilham. Sekarang saya sedang mempersiapkan satu album lagu anak-anak seperti yang saya ceritakan tadi.

Selain Iwan Fals, siapa saja tokoh atau musisi yang ikut mempengaruhi Sampeyan dalam bersikap dan berkarya?

Sawung Jabo, Franky Sahilatua, Leo Kristi, Gesang (Martohartono), dan Slamet Abdul Sjukur. Kalau Jabo, Franky, Leo, dan Slamet, Sampeyan sudah tahulah siapa mereka. Tapi mungkin Sampeyan heran kenapa saya pun menyebut Gesang sebagai salah satu inspirator. Saya mengagumi vitalitasnya sebagai seniman. Energinya luar biasa. Meski sudah sepuh, ia masih berkarya meski lagu-lagunya “aman-aman” saja.

Dari luar Indonesia, saya mengidolakan Woody Guthrie (legenda lagu rakyat Amerika Serikat) karena lagunya My Land Your Land. Pengaruh Woody tidak hanya di negaranya, tapi juga menginspirasi gerakan keadilan sosial di banyak negara.

Selain Woody, saya Bob Dylan, dan John Lennon, saya juga menggandrungi Bob Marley. Bob Marley seorang seniman yang sangat istimewa karena mampu mendamaikan dua kubu yang bertikai di Jamaika. Bahkan, lagu ciptaan Bob yang berjudul Zimbabwe dijadikan lagu kebangsaan oleh rakyat Zimbabwe.

Hebat lagi, selain bisa mendamaikan negaranya pada 1978, di tahun yang sama lagu ciptaannya turut mempengaruhi gerakan kemerdekaan negara lain, yakni Zimbabwe merdeka dari jajahan Inggris. Bob Marley dan reggae masih dikenang hingga sekarang. Karena saya mengagumi Bob Marley, maka ada juga lagu saya yang bergaya reggae, seperti Berburu Tanah.

Indonesia juga punya dua karya yang begitu monumental dan berpengaruh hingga sekarang, yaitu lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman dan lagu mars gerakan mahasiswa Darah Juang (ciptaan John Tobing). Lagu Darah Juang sudah jadi ikonik reformasi dan sudah seperti jadi lagu wajib yang dinyanyikan mahasiswa, terutama oleh mahasiswa yang sedang berunjuk rasa.

Karena karya-karya Sampeyan yang kritis, apakah Sampeyan pernah merasa terancam atau diancam?

Tidak pernah. Toh saya sebenarnya tidak mengkritik siapa pun. Seperti saya sampaikan tadi, saya hanya menyampaikan apa yang saya lihat, saya rasa, dan saya dengar lewat lagu. Kalau saya dianggap getol mengkritik, itu terserah pada persepsi masing-masing; orang bebas menilainya.

Tapi saya punya pengalaman manggung yang bikin saya gelisah. Suatu saat saya tampil di JCC (Jakarta Convention Center) tahun 2013. Saya mainkan lagu Partai Anjing. Lagu ini masuk album kompilasi lagu antikorupsi yang dirilis Indonesia Corruption Watch.

Pas bagian refrain, semua penonton bernyanyi dan meneriakkan kata “anjing”, sedangkan saya diam sambil tetap main gitar. Saat itu saya merasa gimana ya, syerrr... agak-agak gelisah gimana, tapi tetap senang juga karena ternyata lagu itu tetap mendapat apresiasi yang besar.

Paling-paling saya kena kritik. Misalnya, saya pernah dikritik menjual kemiskinan. Padahal itu fakta yang saya saksikan. Intinya, seperti saya katakan tadi, saya hanya menceritakan apa yang saya lihat, saya dengar, dan saya rasakan. Kemiskinan itu nyata, ada di mana-mana.

Dari mana ide pembuatan lagu Partai Anjing?

Saya serap dari obrolan di warung-warung kopi dan di banyak tempat saya nongkrong. Tiap kali ada berita korupsi di koran atau televisi, respons orang-orang hampir selalu bilang, “Asu wong iki” (anjing orang ini). Responnya terkesan kasar, tapi itulah ekspresi orang-orang yang sudah geram pada korupsi. Karena bahasa sopan sudah tidak mempan.

Saat itu saya berpikir bahwa seniman memang tidak harus selalu bercerita tentang cinta dan keindahan, tapi ia juga harus mau merespons keadaan dan lingkungan demi kehidupan dan kemanusiaan yang lebih baik. Karena korupsi merupakan kejahatan luar biasa, makanya saya buatkan lagu Partai Anjing.

Aku punya ide bikin partai baru
Namanya partai anjing

Logo gambar partai garis segilima
Tengahnya gambar anjing

Punya program kerja korupsi terang-terangan
Yang tak mau korupsi jangan masuk partai kami

Kuasai suara di dewan rakyat yang terhormat
Korupsi yang banyak biar modal balik lagi anjing anjing anjing juga

Orang-orang brengsek suka makan duit rakyat
Masuk ke partai anjing
Yang suka korupsi dan pandai mengumbar janji
Bergabung ke partai anjing anjing anjing juga

Punya tujuan mulia menjual aset negara
Merekrut anggota yang rakus seperti hhuukk hhhukk
Merekrut anggota yang tak malu tak punya muka
Karena semua anggotanya harus keturunan anjing

Orang-orang jujur singkirkan perlahan-lahan kerjanya partai anjing
Habisin anggaran pajak dari uang rakyat biar kaya partai anjing
Maen perempuan dan yang suka jalan-jalan merapat ke partai anjing
Bikin undang-undang biar rakyat kebingungan

Sampeyan cukup lama bermusik di Jakarta. Kenapa kembali ke Malang bila di Jakarta lebih prospektif buat karir bermusik?

Kompetisi di Jakarta sangatlah kuat, tekanan hidup yang tinggi. Dan saya pikir, di zaman yang serba cepat dan terbuka, serta modern seperti sekarang, untuk berkarir di dunia musik tak harus ke Jakarta. Di Malang saya merasa lebih bebas dan mandiri berkarya. Saya menikmati berkarya di jalur indie.

Karena ingin bebas dan mandiri berkarya pula yang mendorong Sampeyan beralih dari pembuatan single ke album. Seberapa penting arti album bagi Sampeyan?

Saya punya tiga alasan beralih ke album. Pertama, album itu sebagai bukti dokumentasi karya. Di era modern sekarang membuat album itu tidak sulit. Saya bisa manfaatkan peranti lunak iTune untuk berpromosi dan berjualan di Amazon. Atau saya bisa pasarkan lewat website pribadi maupun lewat media sosial lainnya. Dengan itu semua, minimal karya saya bisa jadi warisan buat anakku.

Kedua, saya merasa lebih gampang merekam dan mengkampanyekan ide, gagasan, dan impian saya dalam bentuk album.   

Saya memproduksi dan memasarkan karya-karya saya secara indie, dari kata independen. Kalau mengutip kata Bung Karno, indie bisa berarti berdikari atau mandiri. Dengan indie, berarti seorang musisi harus bisa menjadi tuan atas karya-karyanya sendiri. Selama ini banyak seniman justru jadi buruh atas karya yang dibuatnya.

Padahal karya itu anak kandung seniman, maka saya harus jadi bapak yang baik untuk anak-anak saya. Kalau tidak menempuh jalur independen, itu seperti menitipkan anak di panti asuhan atau malah bisa jadi seperti anak yang tidak diinginkan. Kalau tidak pakai jalur independen, saya seperti orangtua yang tidak bertanggung jawab.

Ketiga, dengan membuat album, saya telah membuktikan diri sebagai pelaku industri kreatif yang membuka lowongan kerja. Proses pembuatan album melibatkan banyak orang dari hulu ke hilir, berbeda saat saya menggarap single. Membuat album lebih sulit daripada menggarap single.

Alasan ingin mandiri pula yang mendorong Sampeyan mendirikan Warung Srawung? Warung ini bisa menjadi salah satu kantong kebudayaan di Malang.

Basic-nya, saya suka ngopi, suka nongkrong. Akhirnya terpikir untuk membuat warung kopi sendiri pada 2014, enggak lama setelah hijrah dari Jakarta. Di Srawung ini kami membuat komunitas musik bernama Sanak Kadang yang berkedudukan di Kota Malang. 

Selain bisa ngopi sendiri, Warung Srawung bisa saya jadikan titik temu dalam beride, membentuk jaringan, dan apa pun yang berkaitan dengan aktivitas saya.

Selain bisa ngopi sendiri, Warung Srawung bisa saya jadikan titik temu dalam beride, membentuk jaringan, dan apa pun yang berkaitan dengan aktivitas saya.

Di Warung Srawung saya bisa secara bebas dan fokus membahasakan atau mengekspresikan pengalaman-pengalaman batin saya untuk dijadikan sebuah karya. Warung ini rumah sekaligus kantor bagi saya. Di sini saya bebas berkarya, nongkrong, dan berkontemplasi, dan lain-lain.

Kalau bahasa Sampeyan tadi, ya semoga Warung Srawung bisa menjadi salah satu kantong kebudayaan di Malang.

Selain itu, Warung Srawung juga merupakan upaya diversifikasi usaha saya agar tetap eksis dan berkembang maju; untuk mengekspresikan hasrat dan cita-cita.

Saya sudah membuat beberapa usaha, ya bisa dibahasakan sebagai “Srawung Group”, yakni Srawung Media yang berfungsi sebagai media online; Srawung Record untuk perekaman lagu; Srawung Store untuk tempat jualan compact disk dan merchandise (barang dagangan) lainnya; Visualectica, ini semacam usaha penyewaan dan pembuatan karya berbasis fotografi dan video; Srawung Sound untuk penyewaan perangkat sound system buatan lokal.

Untuk Srawung Record, misalnya, tahun depan kami mau rilis band Remissa. Personelnya dari beberapa daerah. Tahun depan saya mau bikin Srawung Event yang bergerak di bidang event organizer atau EO (penyelenggara acara).

Banyak juga bidang kerjaan yang Sampeyan garap di Srawung...

Saya sekalian menerapkan kemampuan saya sebagai penyanyi, penulis lagu, komposer, arranger musik, dan gitaris. Saya sedangkan menerapkan ilmu manajemen industri musik yang saya dapat selama di Jakarta.

Ada bentuk usaha lain yang Sampeyan lakukan seperti mendirikan Srawung?

Sebelum mendirikan Warung Srawung, saya lebih dulu mendirikan sekolah musik nonprofit di Depok, Jawa Barat. Sekolahnya bernama Institut Musik Jalanan (IMJ).

IMJ saya buat berdasarkan kegelisahan saya atas fakta bahwa karya-karya musisi jalanan tidak dapat panggung di dunia hiburan. IMJ juga sebagai bentuk perlawanan terhadap personal branding di industri hiburan bahwa seniman atau artis harus cantik dan ganteng. Industri hiburan di Indonesia itu sangat “main fisik”, beda misalnya di Amerika. Di sana bukan fisiknya yang utama, tapi otak dan kemampuan senimannya yang terpenting.

Melalui IMJ saya dan kawan-kawan mengajari recording, merekam lagu-lagu mereka sampai diproduksi dalam bentuk CD (cakram padat) dan dijual. Musisi jalanan juga harus belajar meningkatkan personal branding lewat karya-karya bermutu.

Ujung-ujungnya, lewat IMJ, dengan personal branding yang berkualitas, mereka bisa berhenti menjual karya-karya orang lain, berhenti jadi marketing atas karya-karya orang lain yang mereka mainkan. Sebaliknya, mereka harus mau dan mampu menjual atau melakukan marketing karya-karya sendiri.

Ketika nanti mereka mampu mandiri, mereka diharapkan sangat responsif terhadap lingkungan di sekitar mereka, responsif terhadap bahaya korupsi, peka terhadap kemiskinan, dan lainnya. Yang jelas lagi, mereka bisa merdeka dari tema cinta-cintaan yang mainstream melulu.

Kerja keras Sampeyan mulai berbuah manis. Sampeyan makin dikenal, terbukti dengan banyaknya penggemar atau pengikut Sampeyan di media sosial seperti Instagram.

Ha-ha-ha... Ya, lumayanlah buat jual suara pas pilkada. Enggak, saya guyon saja, Mas. Enggaklah, saya belum terkenal. Yang mengikuti saya itu hanyalah orang-orang khilaf ha-ha-ha...

(Hingga wawancara ini ditulis, pengikut atau follower Iksan Skuter di Instagram berjumlah 20 ribu orang, dan akun Twitter-nya diikuti hampir 4 ribu orang).

Tahun 2018 dan 2019 merupakan tahun politik. Adakah pihak-pihak yang mendekati Sampeyan untuk kepentingan ekonomi-politik mereka?

Memang ada pihak yang mendekati saya, tapi saya tolak secara halus. Sekali saja saya ikut mereka, bisa habislah karir saya karena masyarakat takkan percaya pada saya lagi. Ini karena kondisi dan citra politik kita masih dipenuhi kekotoran.

Tapi bukan berarti saya anti-politik. Seniman harus paham politik, tapi jangan sampai main politik praktis misalnya jadi anggota partai politik. Seniman harus tetap netral.

Terakhir, nama asli Sampeyan adalah Mohammad Iksan. Dari mana ceritanya punya nama panggung Iksan Skuter?

Ha-ha-ha.... Nama panggung saya itu berasal dari kawan-kawan saya. Secara berguyon mereka bilang ke saya bahwa saya ini kan seniman kurang terkenal dan suka pakai Vespa butut warna abu-abu. Nah, Vespa biasa disebut skuter. Lalu kawan saya buatkan singkatan dari nama skuter menjadi Seniman Kurang Terkenal...

Dan, nama Iksan Skuter itu rasanya cocok banget dengan karakter dan hobi, serta status kesenimanan saya. Saya sadar betul kok kalau sampai sekarang saya kurang dan bahkan belum terkenal. Saya kalahlah sama para selebs yang suka muncul di televisi dan media sosial. 

Penampilan Sampeyan khas dengan kaus oblong, gitar kopong, ditambah topi hijau bergambar satu bintang merah ala topi kelas pekerja di Cina dan Vietnam.

Sekarang eranya orang gampang paranoid. Enggak khawatir disebut kekiri-kirian atau dituding sebagai orang komunis hanya gara-gara pakai topi model begitu?

Ha-ha-ha... Enggaklah, topi itu hanyalah ikonik saya. Cuma buat fesyen saja. Selebihnya, saya tetaplah Pancasilais sejati, tetap Merah Putih bendera kebangsaanku, dan tetaplah Indonesia Raya lagu kebangsaan saya.

Beberapa lagu saya ciptakan karena kerinduan dan kecintaan saya pada negeri kita yang kaya raya ini. Coba Sampeyan dengarkan lagu Shankara yang saya rilis tahun 2016. ABDI PURMONO


Dari kanan ke kiri: Iksan Skuter bersama Kristanto Budi Prabowo (Presidium Gusdurian Jawa Timur) dan Andy Shafik (produser dan penulis naskah film Warge) saat mengisi acara Liberasi.




Share this :

Previous
Next Post »