Para Aktivis Mahasiswa Mengenang Munir Lewat Sastra

Kamis, September 07, 2017
Kegiatan Sastra Purnana untuk mengenang 13 tahun wafatnya pejuang HAM Munir Said Thalib. Foto: ABDI PURMONO
MALANG — Puluhan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam beberapa lembaga mengikuti acara orasi dan kesusastraan untuk mengenang dan menghayati perjuangan pejuang hak asasi manusia Munir Said Thalib alias Munir yang wafat karena diracun pada 7 September 2004.

Acara tersebut dihelat di Lantai 3 Kafe Literasi Oase, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur, Selasa malam, 5 September 2017. Acara bertajuk Sastra Purnama Edisi Munir itu dimulai pukul 20.00 dan berakhir pada pukul 23.00 WIB.

Selain dari Malang kota dan kabupaten, peserta berasal Kota Batu, Pasuruan, Blitar,  Surabaya, Probolinggo, Tulungagung, dan Jember. Peserta juga berasal dari beberapa perguruan tinggi di Malang, seperti Universitas Brawijaya, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Universitas Muhammadiyah Malang, dan Universitas Islam Malang.

Menurut Al Muiz Liddinillah, salah seorang aktivis Gusdurian, penyelenggaraan acara Sastra Purnama digagas oleh komunitas Gubuk Tulis dan Sabda Perubahan, Malang. Sastra Purnama diagendakan untuk menjadi poros perkumpulan umat manusia dan mengembalikan peran sastra itu sendiri. Sengaja diadakan saat kemunculan bulan purnama supaya sajak-sajak yang dilantunkan bisa lebih bernyawa, bisa menggerakkan hati dan pikiran umat manusia.

Penyelenggaraan Sastra Purnama bermisikan untuk membumikan sastra di tengah kekacauan politik sekarang ini, di saat Indonesia terancam mengalami ketidakharmonisan dalam berbangsa dan bernegara yang ditandai dengan aksi-aksi radikalisme dan merajalelanya hoaks alias kabar dusta. Sastra harus bisa bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan.

“Sastra merupakan produk kebudayaan yang harus bisa menjawab tantangan kemanusiaan. Di edisi kedua ini kami ingin mengambil spirit perjuangan Munir bagi penegakkan nilai-nilai kemanusia atau HAM. Munir harus tetap dikenang untuk merefleksikan kondisi kehidupan kita yang makin kompleks,” kata Muiz.

Dosen sekaligus pengamat sosial-politik dari Universitas Brawijaya, Haris El Mahdi, menyebut Munir sebagai seorang pejuang HAM yang juga mencintai seni sastra. Dari obrolan dengan Suciwati, kata Haris, dirinya mengetahui bahwa Munir memiliki sejumlah puisi yang, seingat Haris, bertema perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan. Puisi Munir mengingatkan ungkapan yang disampaikan oleh Presiden John F. Kennedy bahwa jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya; jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya.

Puisi karya Munir beberapa kali dipublikasikan oleh Suciwati di akun Facebook. “Kalau Mbak Suci sudah pasang puisi Cak Munir di Facebook, itu tandanya Mbak Suci sedang kangen pada Cak Munir,” kata Haris.

Haris pernah mengusulkan kepada Suciwati dan beberapa sahabat Munir supaya menerbitkan puisi-puisi karya Munir maupun karya sastra yang mungkin pernah dibuat Munir supaya dimensi maupun sisi-sisi humanisme seorang Munir makin diketahui secara luas.

“Munir juga hampir selalu membawa Mbak Suci di tiap acara yang diikuti Mas Munir. Saya kira, kepribadian Munir sebagai suami dan ayah perlu juga dipublikasikan agar jadi teladan bagi kita semua,” kata Haris.

Acara Sastra Purnama Edisi Munir diisi pembacaan dan musikalisasi puisi, pembacaan cerita pendek, permainan musik oleh Petika Romantik dengan lagu-lagu Efek Rumah Kaca, testimoni tentang Munir, serta doa lintas-agama (Islam, Katolik, dan Buddha) untuk Munir. ABDI PURMONO




Catatan:
Artikel serupa dipublikasikan oleh Tempo.co dengan judul Para Aktivis Mahasiswa Mengenang Munir Melalui Sastra, Rabu, 6 September 2017, pukul 21.51 WIB.  

Share this :

Latest
Previous
Next Post »
1 Komentar
avatar

Kalau mampir ke Malang, aku pengen ke rumah Munir, mas
Terima kaish tulisannya

Balas