Kuasai Bahasa Asing dengan Ilmu Laduni (2)

Senin, Juni 12, 2017
Pondok Pesantren Nurur Riyadlah di Desa Alas Tengah Timur, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. (Naskah dan foto-foto: ABDI PURMONO)

Pesantren Nurur Riyadlah tidak mengajarkan metode penguasaan bahasa Arab dengan alasan bahasa Arab merupakan induk dari segala bahasa di dunia.

SEMUA penjelasan para santri senior Nurur Riyadlah dibenarkan Kiai Haji Ahmad Sholeh. Perlu diketahui, sebelum menunaikan ibadah haji, Kiai Sholeh bernama asli Kusnadi Sholeh. Sampai sekarang masyarakat setempat dan sekitarnya mengenal Kiai Sholeh dengan sapaan karib Kiai Kusnadi atawa Gus Sholeh.

Gus Sholeh mengaku banyak "alumni" Nurur Riyadlah lancar berbahasa Inggris karena rajin mengamalkan doa dan ajarannya. Ia menjamin bahasa yang sudah dikuasai tidak akan lupa lagi. "Wah, kalau itu sih rahasia," katanya, menjawab pertanyaan saya tentang doa-doa yang dia berikan.

Ia memastikan, apa yang dia ajarkan murni ilmu laduni. Ilmu ini dia ajarkan sebelum mendirikan Pesantren Nurur Riyadlah pada 1994. Ia lebih dulu mendirikan perguruan silat Trisakti. Saat itu santri Nurur Riyadlah masih sangat sedikit dan mulai bertambah di tahun kedua. Santri Nurur Riyadlah kini berjumlah 150-an orang, sebagian besar bocah remaja dari desa setempat.

Cukup sulit bagi Gus Sholeh mengajarkan dan mengembangkan ilmu laduni. Banyak orang yang mencurigai kegiatan di pesantrennya. Ada yang menuduh dia melakukan penipuan dan segala macam cemooh.

Namun, pelan-pelan makin banyaklah orang yang mendatangi pesantrennya. Niat dan tujuan orang yang datang pun macam-macam semisal meminta penyembuhan atau sekadar didoakan supaya gampang dapat jodoh.

Nurur Riyadlah, menurut Gus Sholeh, mempunyai dua unit kegiatan, yakni pendidikan dan kebatinan. Unit pendidikan mencakup pendalaman kitab kuning, pengajian rutin tiap malam Jumat, dan pengajaran ilmu-ilmu umum di madrasah. Sedangkan kegiatan kebatinan meliputi seni bela diri pencak silat Trisakti, penguasaan bahasa asing dengan cara membuka pintu batin, dan istigasah.

Kusnadi Sholeh alias KH Ahmad Sholeh alias Gus Sholeh
Dari kegiatan-kegiatan itu, pengajaran penguasaan bahasa asing yang sekarang paling diminati banyak orang. Peminatnya muslim dan nonmuslim. Dengan ilmu laduni yang dia miliki, Gus Sholeh ingin membantu santri bahasa menemukan kembali bibit bahasa yang sesungguhnya sudah dimiliki sejak manusia berusia empat bulan.

"Waktu masih bayi empat bulan, sebenarnya setiap orang sudah menguasai semua bahasa tapi tidak bisa diucapkan lantaran tidak dibiasakan sejak kecil kecuali bahasa ibu. Dengan ilmu laduni, saya ingin membantu orang-orang yang kesulitan mempelajari atau menguasai bahasa asing. Gampangnya, dengan ilmu laduni, saya ingin membantu orang-orang menembukan kembali bibit bahasa yang hilang itu dengan cara membuka pintu batinnya," kata pria kelahiran 12 Maret 1963 itu.

Tidak dibutuhkan alat bantu apa pun semisal video, kaset bahasa asing, laboratorium bahasa, apalagi mendatangkan native speaker, untuk bisa menguasai bahasa asing tertentu. Peminat cukup melewati tiga tahapan ritual.

Dimulai dengan tahap pembukaan dengan metode ijazah. Biasanya Gus Sholeh akan melakukan pengisian ilmu kepada santri dengan cara merapal doa tertentu. Doanya rahasia. Berselang lima menit santri diberikan selembar kertas berhuruf Arab yang merupakan bacaan salawat ditambah beberapa doa.

"Di tahap pertama," ia menjelaskan, "kami membantu membuka pintu atau mata batin dengan ijazah. Ijazahnya bukan seperti punya anak sekolahan, tapi selembar kertas yang sudah Anda terima kemarin. Isi kertas itu harus dibaca berulang-ulang alias berwirid. Kalau yang ikut paket hemat, lamanya dua jam, lebih sedikit juga tidak apa-apa. Sedangkan yang memilih paket instan Rp 1,5 juta, lamanya maksimal 45 menit."

Dalam tahap pembukaan, santri juga harus menjalani ritual penarikan bibit bahasa. Seperti yang saya alami sendiri, santri dipancing oleh satu atau dua orang santri senior Nurur Riyadlah dengan percakapan dalam bahasa tertentu. Awalnya dicampur aduk dan dilakukan berulang-ulang. Tahap ini bertujuan membiasakan santri mendengar dan mengucapkan kata-kata dari bahasa tertentu.

Usai melakukan penarikan bahasa, santri memasuki tahap pemisahan. Tahap kedua ini bertujuan agar santri fokus pada pilihan bahasa yang dikehendaki sehingga mencapai kemampuan berbicara dan menulis.

Teorinya, menurut Gus Sholeh, dalam dimensi ruqyah, pada saat memasuki tahap pertama belum bisa mengendalikan rasa; mau ngomong dalam bahas Inggris, tapi yang keluar bahasa India. Misalnya begitu.

Khusus bagi santri yang memilih paket eksklusif, diharuskan mandi untuk menyempurnakan pembukaan aura. Jelas bukan mandi sembarang mandi. Mandi ini langsung dipimpin Gus Sholeh. Air yang diguyurkan diberi doa-doa. Istilahnya, mandi untuk membuka aura.

Namun santri perempuan tidak diharuskan mandi kecuali yang bersangkutan tidak keberatan dan harus ditemani kerabatnya. Mandinya di kamar mandi santri yang pintunya terbuka sehingga siapa pun, termasuk saya, dapat melihatnya. Total, untuk ritual dalam paket instan alias paket eksklusif menghabiskan waktu maksimal sekitar 3 jam.

Sedangkan tahap penyempurnaan arti dilakukan sendiri oleh santri, dengan berbekal petunjuk mengamalkan doa penyempurnaan arti sebagaimana sudah ditulis di atas.

Pada prinsipnya, kata Gus Sholeh, santri yang menjalani setiap tahapan ritual sejatinya sudah menemukan bahasa yang dicari namun tidak langung mahir. Kemahiran bisa diasah dengan giat berlatih secara teratur dan berkesinambungan.

“Sebenarnya,” Gus Sholeh menuturkan, “saya hanya memberi petunjuk dan doa-doa untuk mengunci dan mempercepat proses penguasaan bahasa dengan ilmu laduni yang saya miliki. Tapi tetap saja kemauan, kesabaran, dan ketekunan berlatih jelas akan sangat membantu si santri menguasai bahasa yang dipilih. Makin rajin dan giat, maka makin cepat bahasa itu dikuasainya. Sarana untuk upaya itu bisa didapatkan di pasar atau toko buku, seperti video, kaset, kamus, dan buku-buku bahasa asing. Ya, kalau bisa ngomong langsung dengan penutur aslinya.”

Soal panjang-pendeknya masa tahapan, menurut Gus Sholeh, intinya terletak pada keikhlasan melakukan wirid. Motivasinya bukan pada target karena memang Gus Sholeh bukan sedang memprogram ilmu, melainkan memberi jalan, membuka mata batin untuk cepat menguasai bahasa asing yang dimaui.

"Seperti yang saya bilang tadi, manusia itu sejak lahir sudah menguasai bahasa asing. Karena gak dibiasakan bahasa asing itu hilang kecuali bahasa ibu di tempat ia lahir dan dibesarkan. Nah, di sini kami tidak memprogram ilmu, melainkan memudahkan orang menguasai bahasa asing yang dikehendaki. Istilahnya, bibit bahasanya sudah ada, tinggal dipancing dan diamalkan saja," ia mengulang penjelasan.

Ilmu laduni yang diajarkan Gus Sholeh tidak gratis. Santri tinggal memilih dua paket program. Paket istimewa—santri senior seperti Rabat dan Andik menyebutnya paket eksklusif, dibandrol Rp 1,5 juta. Sedangkan paket biasa alias paket hemat Rp 350 ribu. Kedua paket itu memiliki tiga prosesi tadi, hanya ditambah mandi pembukaan aura bagi yang memilih paket eksklusif.

Mengenai biaya itu, buru-buru Gus Sholeh menukas bahwa ia tidak bermaksud mengkomersialkan ilmu laduni yang dia miliki. Ia pun lebih senang menyebut ongkos itu dengan istilah mahar.

"Kalau saya mau mengkomersialkan ilmu laduni, tentu saya sudah buka cabang di mana-mana, seperti yang diminta banyak orang. Saya tidak mau. Lebih baik saya berkunjung ke daerah-daerah sesuai undangan yang saya terima. Sedang istilah ongkos tidak tepat. Sebaiknya disebut mahar. Mahar ini kami pakai untuk membiayai pengembangan pesantren. Jadi, sama sekali tidak ada maksud membisniskan ilmu yang saya miliki," Gus Sholeh menegaskan.

Nurur Riyadlah ramai dikunjungi peminat bahasa asing mulai Jumat sampai Minggu. Jumlah peminat yang datang dalam tiga hari itu mencapai seratusan orang. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Kebanyakan berasal dari daerah-daerah di Pulau Jawa. Latar belakang profesi peminat pun serbaneka.

Bahkan, menurut Rabat, Andik, dan beberapa santri senior lainnya, Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Djaja Suparman, serta seorang bekas menteri yang juga tokoh nasional sangat populer yang masih masih aktif hingga sekarang juga pernah mendatangi Nurur Riyadlah dengan tujuan serupa. Si bekas menteri era Presiden Abdurrahman Wahid itu datang lebih dulu, sekitar pukul 2 pagi di bulan Maret 2005. Sedangkan Djaja datang sehabis salat Isya di bulan April tahun yang sama. 

Menariknya, menurut cerita mereka, sebelum Djaja datang, tiga puluhan prajurit Komando Distrik Militer dan Komando Rayon Militer setempat sudah lebih dulu tiba di lokasi. Dari ujung jalan masuk pesantren sepanjang dua kilometer sudah dijaga beberapa personel intelijen berpakaian preman. Ada yang mengenakan sarung dan berkopiah.

Tapi tiada seorang pun santri senior itu yang mengingat tanggal kedatangan kedua tokoh.

Satu hal penting diketahui, Gus Sholeh tidak mengajarkan metode penguasaan bahasa Arab seperti nahwu dan sharaf, serta perlengkapan paramasastra Araba lainnya seperti balaghah, ma'ani, bayan, dan mantiq.

Makanya, seperti yang saya saksikan dan dengarkan, saat santri melakukan penarikan bahasa, hampir tak satu pun kata dalam bahasa Arab terdengar. Ketika Sukiarno mengucapkan dua kata Arab, Zainullah langsung menghentikan penarikan dan meminta Sukiarno untuk tidak mengulanginya.

Gus Sholeh punya alasannya. Pengajaran bahasa Arab sengaja dikesampingkan dulu karena bahasa Arab adalah induk dari segala macam bahasa di dunia. "Jadi bahasa asing yang dipelajari orang-orang sebenarnya anak-cucunya bahasa Arab," kata dia.

Apabila penguasaan bahasa Arab yang dulu diajarkan, maka bahasa asing lain tidak keluar. Karena itu pula wirid dan segala doa yang dilafazkan dalam tiga tahap tidak menggunakan bahasa Arab. Gus Sholeh menyebutnya sebagai kalam suryani, bahasanya para malaikat.

"Karena kalam suryani, maka orang nonmuslim bisa mengikuti program penguasaan bahasa asing dan sudah banyak orang nonmuslim yang ke sini. Apalagi bahasa itu bersifat universal yang bisa dipelajari oleh siapa pun. Dan sudah menjadi fitrahnya bahasa bahwa setiap orang ketika berusia empat bulan sudah ditiupkan kemampuan berbahasa."

Umumnya, menurut Gus Sholeh, orang-orang yang mendatangi Nurur Riyadlah ingin menguasai bahasa Inggris dan Mandarin. 

Selain menerima santri, Gus Sholeh acap melawat ke luar kota untuk mengajarkan ilmu laduni dalam program penguasaan bahasa asing. Ia menceritakan pengalamannya di Medan dan Pekanbaru, seperti beberapa daerah lain. Pada 5 Oktober 2004, misalnya, ia diundng karyawan PT Sampoerna di Palembang untuk mengajarkan hal serupa.

Gus Sholeh bersyukur karena peminatnya bertambah banyak kendati tanpa publikasi. Dari penjelasan para peminat yang datang diketahui bahwa mereka datang berdasarkan informasi dari orang-orang yang sudah berhasil menguasai bahasa asing sepulang dari Nurur Riyadlah.

"Informasi mengenai pesantren ini menyebar lewat gethok tular. Ini merujuk pada keterangan orang-orang yang ke sini," kata Gus Sholeh yang mengaku tak tahu jumlah orang yang berhasil menguasai bahasa asing. "Mereka itu kan tak harus melapor."

Soal metode yang dipakai Gus Sholeh tidak dipersoalkan para peminat. Sukiarno dan Tito Pinandita, misalnya, mengaku tidak memedulikan metode yang dipakai Gus Sholeh. Mereka datang dengan niat berikhtiar. “Apa salahnya saya mencoba,” begitu kata Sukiarno. Tito pun sependapat.

Lalu, bagaimana cara ia memperoleh ilmu laduni? 

Gus Sholeh mengaku mendapatkan ilmu laduni setelah melakukan riyadlah alias tirakat atawa bertapa di sebuah pantai sejak berusia tujuh tahun. Kebiasaan bertirakat ia warisi dari sang ayah, Kiai Djauhari. Semula, bapak dan anak ini bertirakat untuk melancarkan usaha.

Saat berusia 12 tahun, Gus Sholeh memberikan bertirakat sendiri di tepi laut. Pada satu hari ia bertemu dengan Nabi Khidir, yang dalam agama Islam dikenal sebagai gurunya Nabi Musa. Nabi Khidir kemudian mengajarinya beberapa ilmu, termasuk ilmu laduni.

“Inilah ilmu yang dirahasiakan oleh Allah. Setiap makhluk Allah sudah ditentukan semuanya dari mulai rezeki, umur, jodoh, dan ilmunya. Semuanya sudah tersedia, tinggal kita saja yang mampu atau tidak menggali ilmu itu,” ujar Gus Sholeh.

Beranjak remaja, kemampuan Gus Sholeh kian meningkat. Ketika remaja seusianya asyik bermain, Gus Sholeh sudah mampu menyembuhkan pelbagai penyakit dengan cara memindahkannya ke tubuh binatang. Bahkan, dengan ilmu laduni, Gus Sholeh bisa membuka pintu batin manusia.

Berkat ilmunya itu pula Gus Sholeh mampu menguasai banyak bahasa asing, serta ilmu-ilmu keterampilan, seperti komputer, beladiri, dan seni. "Tapi kebanyakan yang datang ke sini mau lancar berbahasa asing biar bisa jadi TKI (tenaga kerja Indonesia) di luar negeri atau menjadi pemandu wisata seperti Rabat."

Rabat yang namanya disenggol sang guru menimpali bahwa ia dan kawan-kawannya gratis belajar di Nurur Riyadlah. Ia tidak harus mengajarkan kitab kuning pada santri junior karena ia lebih memilih jurusan bahasa. Karena itu pula ia ditugasi Gus Sholeh untuk melayani orang-orang yang mau belajar menguasai bahasa asing.

Nah, pembaca sekalian, demikianlah akhir tulisan panjang saya ini. Terserah pada Anda sekalian apakah mau percaya atau tidak percaya pada ilmu laduni yang diajarkan di Pondok Pesantren Nurur Riyadlah. ABDI PURMONO

CATATAN:

Tulisan yang lebih ringkas dimuat di Rubrik Agama Majalah Tempo Nomor 19, Edisi 4-10 Juli 2005, halaman 44-45.

Menurut informasi dari seorang kawan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, kegiatan pengajaran ilmu laduni untuk melancarkan penguasaan bahasa asing masih berlangsung hingga sekarang.







Share this :

Previous
Next Post »