Kuasai Bahasa Asing dengan Ilmu Laduni (1)

Senin, Juni 12, 2017
Santri Pesantren Nurur Riyadlah sedang mengaji kitab kuning. (Naskah dan foto-foto: ABDI PURMONO)

Ilmu laduni digunakan untuk membantu orang-orang menguasai bahasa asing dengan cara membuka pintu batin dan “menarik” bibit bahasa yang diyakini sudah tersimpan dalam hati setiap orang.

SELEPAS melintasi hamparan tanaman tembakau, saya tiba di Pondok Pesantren Nurur Riyadlah pada Minggu sore, 26 Juni 2005. Ini merupakan kunjungan kedua karena ditugasi kantor tempat saya bekerja.

Kunjungan pertama saya ke pesantren yang berlokasi di Desa Alas Tengah Timur, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, itu terjadi pada Rabu petang, 1 Juni tahun yang sama. Saya datang bersama lima orang kawan dari Kota Medan, Sumatera Utara.

Sebenarnya, justru dari mereka itulah saya tahu pondok pesantren yang berlokasi sekitar 98 kilometer dari pusat kota Malang dan berarti pondoknya sudah terkenal sehingga membuat saya penasaran pula.

Saat tiba, saya melihat beberapa santri bersarung meriung di bawah kerindangan dua pohon mangga. Dua orang santri yang mengenali saya bergegas menyambut. Mereka tersenyum begitu mengetahui maksud dan tujuan kedatangan saya: ingin melancarkan bahasa Jerman, bahasa asing yang saya pelajari di SMA dua puluhan tahun silam.

“Mas, langsung saja ikut wirid bersama Mas yang di dalam ruangan itu,” kata Rahmat Bakhtiar alias Rabat, salah seorang santri senior. Ia menunjuk bangunan sederhana yang di bagian atas pintu masuknya tertera tulisan ‘Kantor Ponpes’. Rabat dan kawan-kawan menyebut kami sebagai santri bahasa.

Kami menuju ke sana. Rabat memasuki satu dari ruangan kecil yang bertirai kain lusuh. Di ruang tamu sudah menunggu seorang pria kerempeng berkemeja lengan panjang hijau dan bercelana hitam. Kami pun berkenalan.

Namanya Sukiarno. Ia lahir di Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Sempat tinggal di Kebumen, Jawa Tengah, tempat asal ayahnya, dan kemudian menetap di Pekanbaru, Riau, bersama istri dan anaknya.

Pria 38 tahun itu baru saja pulang dari Tanzania, Afrika Timur. Di Tanzania ia bekerja di perusahaan tambang yang berkantor pusat di Houston, Amerika Serikat. “Saya cuma bekerja tiga bulan. Sekarang sudah habis kontrak dan langsung ke sini. Jadi, saya belum pulang ke rumah,” kata dia di awal perkenalan.

Sukiarno bergaul dengan orang-orang asing selama bekerja di perusahaan tambang. Namun ia tak lancar berbahasa Inggris sehingga kesulitan berkomunikasi. Dari seorang temannya di Jakarta, Sukiarno mendapat informasi Nurur Riyadlah sebagai tempat alternatif untuk mempelajari bahasa asing secara instan dan murah.

“Ya, niat saya ingin melancarkan kemampuan berbahasa Inggris dalam waktu yang tidak terlalu lama biar saya bisa melamar bekerja di perusahaan asing,” ujar jebolan SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) Stabat ini, seraya bersiap menunaikan salat Magrib.

Rabat memanggil kami. Di dalam ruangan berukuran 8 meter persegi yang difungsikan sebagai ruang tidur sekaligus salat itu Rabat menunjukkan dua lembar foto ukuran 6R. Dalam foto terlihat jelas bekas Panglima Komando Strategis Angkatan Darat dan Komandan Sekolah Staf Komando TNI Letnan Jenderal (Purnawirawan) Djaja Suparman sedang berbincang dengan pendiri sekaligus pengasuh Nurur Riyadlah, Kiai Haji Ahmad Sholeh, dan beberapa santri.

Rabat menyerahkan dua keping cakram padat (compact disc) berisi contoh dasar pelogatan 12 bahasa, yang hanya bisa didengarkan. Saya dan Sukiarno diminta membayar Rp 20 ribu, kemudian menerima selembar kertas berisi doa-doa dalam tulisan Arab dan Indonesia. Kami disuruh berwirid selama dua jam.

Rabat mengajak kami berpindah ke sebuah ruangan kelas tempat belajar para santri. Posisinya tepat bersebelahan dengan kantor pesantren. Ruang kelas di areal kantor pesantren ada tiga, yang seluruhnya dibangun menyatu dan disekat dengan tembok batu. Warna bangunannya putih dan semua kusen pintu dicat hijau muda. Bagian atas bangunan kelas terbuka lebar dan diberi kawat-kawat berjala.

Rabat meminta kami berwirid dengan membaca tulisan di kertas. Ia memandu kami sebentar dan menyerahkan dua botol air mineral merek Alamo kemasan 600 mililiter. Ia melepas label salah satu botol.

“Ini untuk menandakan botol pertama dan botol kedua. Yang logonya saya sobek ini botol kedua dan tolong disimpan dulu. Air di botol pertama yang diminum duluan selama wirid. Air dalam botol-botol ini sudah diberi doa khusus oleh Kiai Sholeh,” Rabat menjelaskannya dalam logat Madura nan kentara. Kami mengangguk.

Wirid diawali dengan tawasul (doa berangkai melalui beberapa tokoh wali dan ulama) dengan membaca basmallah dan surah Al-Fatihah sebanyak tujuh kali, lalu minum air pertama. Bacaan ini dihadiahkan kepada Nabi Rasulullah Muhammad SAW, Nabi Khidir, Nabi Ilyas, Nabi Sulaiman, Syekh Abdul Qadir Jailani, Kiai Haji Kusnadi Sholeh (nama asli Kiai Haji Ahmad Sholeh), abi wa ummi (ayah dan ibu), Amya Unur, Husunil Umna, Buyunil Umro, dan Ongsiola.

Sebelum Fatihah dibaca, saya dan Sukiarno diminta lebih dulu menyebut nama-nama tadi secara berurutan. Misalnya begini: Rasulullah SAW, bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahirrabil alamin, dan seterusnya. Jadi, untuk setiap nama disertai pembacaan surah Al-Fatihah. 
Kusnadi Sholeh alias KH Ahmad Sholeh alias Gus Sholeh
Selesai membaca Fatihah 11 kali kami pun diminta mengucapkan doa pembuka yang berbunyi fuh amanurullah ya hamlan amun, nun... nun... nun... disambung dengan menarik napas dalam-dalam, ditahan sesanggupnya, lalu dilepaskan dengan mulut terbuka seraya mendesiskan lafal nun panjang. Sepintas ritual ini mirip dengan kegiatan olah napas.

Setelah itu kami pun membaca fuh amanurrulah ya hamlan amun berulang-ulang selama dua jam. Jika waktunya tiba, kami diminta menutup wirid dengan membaca artinya: ya, Allah, hamba mohon datangnya bahasa asing dengan sempurna...

Jangan bayangkan perwiridan berlangsung kaku. Menurut Rabat, bacaan wirid boleh dikeraskan atau sekadar dibaca di dalam hati. Wirid dapat dilakukan sambil merokok, diselingi minum, sambil tiduran, dan... jalan-jalan. “Kalau sambil beraktivitas, ya sebaiknya membacanya di dalam hati. Kalau dikeraskan, nanti Sampean dikira orang gila. Tapi biar afdol-nya sebaiknya diam di tempat,” Rabat mengingatkan sebelum wirid dimulai.

Berbeda dengan Sukiarno yang berwirid diam di tempat, saya berwirid di sebuah warung langganan para santri. Ditemani dua santri bocah, saya berwirid sambil makan malam. Suasana desa gelap dan sepi. Saya tetap berwirid di dalam hati sambil menyorongkan sesendok makanan.

Usai berwirid pada 19.10 WIB, kami ngobrol bareng beberapa santri yang duduk-duduk di kantor pesantren. Rabat mengatakan program penguasaan bahasa asing tersedia dalam dua paket. Paket murah alias paket biasa bermahar Rp 350 ribu dan mahar paket eksklusif Rp 1,5 juta.

Prosesi penguasaan bahasa asing kedua paket tak banyak berbeda. Wirid paket biasa berlangsung 2 jam. Sedangkan lama wirid paket eksklusif maksimal 45 menit. Dalam paket eksklusif, peminat dari luar pesantren—disebut santri lepas—langsung disuruh mandi untuk menyempurnakan pembukaan aura setelah ritual wirid tuntas.

Itulah perbedaan paling mencolok dibanding dengan paket biasa.

Selain itu, hasil dari ritual penguasaan bahasa asing itu bisa dirasakan dan diketahui dua minggu setelah mondok di Nurur Riyadlah. Sedangkan hasil dari paket biasa baru bisa didapat setelah dua bulan.

Dijelaskan begitu, mendadak Sukiarno berubah pikiran. Kepada Rabat dia meminta diikutkan dalam paket eksklusif. Dengan mantap ia berucap, “Tidak apalah saya sudah lewati wirid 2 jam di paket biasa. Niat saya sejak pulang dari sana (Tanzania) memang mau cepat-cepat menguasai bahasa Inggris biar enak bergaul dengan orang bule.

Rabat dan santri lain hanya tersenyum. Mereka manggut-manggut mirip gerakan pompa angguk tua milik Pertamina yang ada di Minas, Kabupaten Siak, Provinsi Riau; pompa angguk di Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, dan pompa angguk di Pangkalansusu, Provinsi Sumatera Utara.

Saya mengikuti Rabat mengantar Sukiarno ke rumah istri kedua Gus Sholeh, panggilan akrab Kiai Sholeh. Setelah menunggu tujuh menit, Gus Sholeh keluar dengan berpakaian kaus dalam ala Jackie Chan di film Drunken Master. Ia berkupluk putih. Rabat sibuk mematut-matut diri, merapikan sarungnya yang awut-awutan, lalu permisi.

Sukiarno kembali menyampaikan permintaannya. Gus Sholeh setuju. “Kalau begitu, sehabis ini Sampean langsung saja ikut tahap penarikan,” ujarnya.

Tangannya meraih dua botol air mineral. Botol pertama dikosongkan dan diisi lagi sampai penuh. Gus Sholeh membuka kedua tutup botol dan mendekatkan mulut botol ke mulutnya. Gus Sholeh berkomat-kamit. Ia mengaku membaca salawat ditambah doa khusus. Ritual itu berlangsung kurang dari sepuluh menit.

Ditemani seorang santri, selanjutnya Sukiarno diajak ke sebuah kamar santri yang berada di pojok dan cukup tersembunyi. Kamarnya kecil, berukuran 9 meter persegi, tidak berasbes, dan pintunya yang reot harus diganjal dengan pot bunga putih berbahan plastik yang di dalamnya berisi rajangan tembakau dan kertas rokok. Suasana kamar remang-remang.

Zainullah, si santri, memakai kaos dalam putih seperti yang dikenakan gurunya; berkupluk dan memegang tasbih cokelat. Semula ia menyangka saya pun mau ikut penarikan bibit bahasa.

Setelah saya mengatakan hanya mengikuti “paket hemat”, Zainullah berkata dengan ramah, “Silakan dilinting, Mas. Merokok saja. Biar saya selesaikan penarikan ini. Sampean boleh menonton sampai habis, memotret juga boleh, mau tidur pun tidak apa-apa. Pokoknya, dienakin saja, Mas.”

Zainullah lantas memandu Sukiarno dengan didahului penjelasan panjang lebar. Ia acap menyelipkan frasa pokoknya untuk menekankan beberapa hal yang disampaikan.

“Mas silakan ikuti apa yang saya ucapkan, tapi tidak sama pun tidak apa-apa. Pokoknya Mas jangan takut salah, jangan mencari-cari kata yang Mas tahu artinya. Pokoknya keluarkan saja kata-kata bahasa asing yang ada di hati. Coba Mas imajinasikan seolah-olah Mas sedang berbicara dalam bahasa Inggris, India, Cina, Jerman, dan lain-lain. Tidak berurutan juga tak apa-apa... Ya, kedengarannya nanti bahasanya asal-asalan, persis kayak bayi baru belajar ngomong. Kalau mau menguasai pengucapan yang benar beserta artinya, nanti ada tahapannya sendiri. Mas mengerti kan? Ada pertanyaan sebelum kita mulai? Kalau tak ada pertanyaan, kita mulai, ya... Pokoknya Mas lepaskan saja kata-kata yang di hati, terserah dari bahasa mana.”

Penjelasan Zainullah mengingatkan saya saat menjadi anggota teater kampus, 1994-1995 (semester akhir). Dalam teori teaternya Stanislavsky, dramawan tersohor Rusia, dikenal istilah if (andai).

Seorang pemula sering terjebak pada keadaan “masih menjadi diri sendiri” sehingga kerap gagal memerankan karakter tokoh di dalam naskah. Gerakannya menjadi mekanis.

Kembali pada Zainullah dan Sukiarno. Zainullah sangat sabar membimbing Sukiarno yang kerepotan mengeluarkan kata-kata. Kadang Sukiarno terdiam cukup lama. Kalau sudah begitu, lagi-lagi, Zainullah memberi petunjuk dan sugesti pada Sukiarno, dengan mendekatkan mulutnya ke telinga Sukiarno.

“Keluarkan semua kata-kata yang di hati, jangan cari kata dan pikirkan artinya... Mau berteriak, mau marah, mau omong sambil tertawa, silakan. Bayangkan diri Mas sedang berbicara dalam bahasa tertentu...” kembali Zainullah mengingatkan.

Pelan-pelan Sukiarno mengeluarkan “bahasa Tarzan”, yang menurut logatnya merupakan campuran bahasa Mandarin, Inggris, Jerman, India, Jepang, dan Italia. Lama-lama ucapannya makin cepat dan tidak artikulatif. Anehnya, Zainullah makin kesenangan. “Ya, terus, terus, terus.... Bagus, bagus.... keluarkan terus; jangan sampai berhenti. Kalau capek, minum dulu... Ya, ya, itu bahasa India...”

Secara fonetik, sungguh sukar menuliskan kata-kata yang diucapkan. Sekilas samar-samar seperti terdengar kata-kata was-wis-wus-wes-wos, bahat-bahat sukria, buon giarno, italiano, haiya... und, dunk, moshi-moshi, dier, kurma (dalam bahasa Jepang berarti mobil), ich, yes, no, fung tse, long tse... muse gracias, buenos dias, bonjour, dan macam-macamlah. Saya pun tak tahu artinya karena urutannya tidak keruan begitu dan memang itu pula yang diminta pemandu.

Saking bersemangatnya, Zainullah dan Sukiarno pun berkeringat. Sukiarno sesekali mereguk air yang sudah diberi rapalan doa. Zainullah kadang menggerakkan tubuhnya persis orang mendapat momen transendental. Tangannya merentang, tangan kanan menjentikkan jempol dan jari tengah hingga mengeluarkan bunyi tak dua kali, pertanda ritual dimulai kembali.

Dalam keremangan malam itu saya sempat tertidur dan baru terjaga ketika Zainullah dan Rabat menepuk-nepuk bahu. “Mas, bangun. Sekarang giliran Sampean ikut penarikan...” kata Zainullah. Sedangkan wajah Sukiarno tampak seperti orang habis dihipnotis.

“Bagaimana rasanya, Mas? Apa Sampean tahu dan sadar dengan yang Sampean ucapkan tadi?” tanya saya pada Sukiarno.

Sukiarno membalas, “Tadi saya merasa dada saya sesak, kayak ada yang mengganjal. Tapi setelah saya mengeluarkan kata-kata itu, dada saya terasa plong. Soal kata-kata tadi, saya tak tahu artinya tapi saya merasa yang ucapkan itu dalam bahasa Inggris, Mandarin, India, Jerman, Perancis, dan lain-lain. Semula pikiran saya mencoba cari-cari kata dan artinya, tapi gak nyambung, makanya saya sempat berhenti beberapa kali. Nanti Anda rasakan sendiri.” Ia tersenyum.

Kami balik ke kantor pesantren dan kami menjumpai tujuh pria yang datang dengan mengendari mobil SUV (sport utility vehicle) berpelat merah. Belakangan kami ketahui mereka berasal dari Sumedang, Jawa Barat. Hanya saja mereka enggan menyebutkan pekerjaannya.

“Biasanya orang-orang yang ke sini malu menyebutkan latar belakang pekerjaannya, Mas,” Rabat membisikkan. “Kami saja biasanya tidak bertanya sampai sejauh itu. Kadang nama saja tidak kami tanyakan. Tahunya mereka datang dari mana, itu saja. Habis ritual, ya, pulang.”

Dari tujuh orang itu, empat orang di antaranya sudah tua, berjenggot, berbaju takwa, dan mengenakan peci haji. Sedangkan yang muda lebih trendi, dengan membawa tas kulit hitam dan berkemeja.

Bersama mereka saya menjalani ritual penarikan seperti yang dilakukan Sukiarno. Sebenarnya waktunya lebih lama. Namun, lantaran peserta yang tua tersengal-sengal napasnya, sedangkan sebagian pria muda tampak malu-malu, akhirnya ritual itu terpaksa dihentikan walau Andik Priyo Kunarbowo, santri senior yang menjadi koordinator ustad pemandu bahasa asing sekaligus menjadi tangan kanan Gus Sholeh, sudah berusaha sabar dan telaten memandu mereka.

“Prinsip tahap penarikan ini sebenarnya sederhana, kok. Peserta cuma diminta mengeluarkan atau mengucapkan kata-kata sambil mengimajinasikan style masing-masing penutur bahasa. Tapi terkadang peserta yang datang jauh-jauh sering tak mau meneruskan karena masih kecapekan,” ujar Andik.

Jebolan Universitas Islam Malang itu menguraikan, lama-pendeknya masa berwirid di awal tahap pertama merupakan masa untuk mengukur keikhlasan sang pembelajar. Keikhlasan yang dimaksud adalah niat dan tujuan mempelajari metode penguasaan bahasa asing versi Nurur Riyadlah.

“Ada yang datang ke sini untuk ngetes, ada pula yang benar-benar ingin mempelajarinya. Tapi itu terserah mereka saja. Kami di sini hanya membantu membuka pintu batin mereka,” katanya kepada saya seusai meladeni tanya-jawab dengan tujuh pria asal Sumedang. Mereka kemudian pamit pulang ke ke daerah asalnya meski malam sudah larut, sekitar pukul setengah satu pagi.

Masa penarikan yang terpaksa dipendekkan itu justru menguntungkan saya lantaran sempat menyaksikan Sukiarno dimandikan langsung oleh Gus Sholeh. Sebelum dimandikan, air di dalam bak diberi doa-doa tertenu yang bunyi dan artinya tidak disampaikan Gus Sholeh dengan alasan rahasia. Mandi selama kurang dari 10 menit ini ditujukan untuk menyempurnakan pembukaan hijab (tirai penutup) batin.

Walau sudah dinihari, ada delapan tamu yang datang dalam dua kelompok berbeda. Tiga pemuda kemudian berkumpul di kantor pesantren. Kami berkenalan. Mereka mengaku mahasiswa dari Surabaya.

Saya dan Sukiarno tidur sekamar di satu dari dua kamar mungil yang ada di kantor pesantren. Menjelang subuh Sukiarno terbangun, ambil air wuduk, dan menunaikan salat Subuh. Sehabis salat ia mengamalkan doa pemisah, dengan didahului dengan melafazkan basmallah 21 kali, disusul meminum air di botol kedua. Selanjutnya prosesinya sama dengan tahap pertama, hanya jumlah bilangan basmallah yang berbeda—di tahap pertama basmallah dibaca tujuh kali.

Sehabis itu Sukiarno membaca Fatihah yang ditujukan pada 11 nama yang sudah disebut di atas, disusul membaca fuh amanurullah ya hamlan amunnun... nun... nun... tarik napas dalam dan lepaskan perlahan dengan mulut terbuka. Setelah itu, Sukiarno melafazkan doa pemisah, yakni hindimu hundifar selama tiga menit—semua petunjuk ada di selembar kertas berisi tahapan doa dan wirid.

Supaya lebih jelas, berikut penjelasan Andik Priyo Kunarbowo. Peserta paket biasa (Rp 350 ribu) yang sudah melewati tahap pembuka tinggal sekali membaca fuh amanurullah ya hamlan amun. Sebaiknya diamalkan setiap sehabis salat atau minimal sehari sekali, dengan durasi tiga menit atau sesanggupnya.

Sedangkan doa hundimu hundifar diamalkan selama tiga hari sesuai waktu habisnya tahap pembuka. Misalnya, selesai pukul 12 malam, ya hitungan tiga hari dimulai dari waktu itu. Tuntas tiga hari peserta diminta mengamalkan bacaan hundimu hundifar penuh 100 persen atau seingatnya selama dua bulan, dengan durasi 3 menit. Lebih dari 3 menit juga tidak apa-apa. 

“Sesanggupnya saja. Idealnya tiga menit, tapi kurang dari itu, lebih dari tiga menit atau lupa, juga tak apa-apa. Hanya saja, harus diingat, cepat-lambatnya hasil dari proses ini tergantung dari kerajinan, ketekunan, dan kesabaran peserta mengamalkan doa-doa,” Andik menerangkan.

Setelah tiga hari tadi, bacaan fuh amanurullah ya hamlan amun dan hundimu hundifar ditutup dengan doa yang berintikan permohonan disempurnakan bahasa asing yang dikehendari. Misalnya kepingin lancar bahasa Rusia, maka doanya, “Ya, Allah mohon kesempurnaan bahasa Rusia.

Setelah dua bulan, maka santri bahasa diperkenankan membaca doa amalan penyempurnaan arti: ya hu’ binuri dzati washifati ya hamlan wajhi fil wujudi ya ruhan nur ya nurorrah ruh, ruh, ruh (Ya Allah, hamba mohon kesempurnaan bahasa.... dan artinya dengan sempurna)—ruh, ruh, ruh diucapkan sama dengan membaca nun, nun, nun. Doa ini dibaca dalam wirid. Usai salat dan wirid, santri diminta memadah doa pembuka tiga kali, yakni fuh amanurullah ya hamlan amun...

Tetapi, Andik menukas, bagi santri bahasa yang memilih paket eksklusif, hundimu hundifar tak perlu dibaca, melainkan langsung masuk tahap ketiga, yakni penyempurnaan arti sesuai bahasa asing yang dikehendaki. Doanya sama dengan yang di atas.

Setelah dua minggu (bagi peserta paket eksklusif/instan) atau dua bulan (bagi peserta paket biasa) diharuskan meminta izin sebelum mengamalkannya, sekaligus untuk mengecek kemampuannya dalam berbahasa asing yang dipilih. Cara mengeceknya, Gus Sholeh mengajak santri bahasa bercakap-cakap.

Mandi pembuka aura santri bahasa.
Andik menyarankan, “Jika sempat sebaiknya murid atau santri jalan itu harus menyediakan sebotol air mineral kemasan 600 mililiter merek apa saja, kemudian dibawa ke sini. Jika tak sempat, bisa lewat telepon. Caranya, tutup botol dibuka dan lalu dekatkan ke gagang telepon. Nanti dari jauh Kiai Sholeh memberi doa-doa.”

Namun, Andik mengingatkan lagi, sesungguhnya metode penguasaan bahasa asing itu haruslah disertai dengan belajar lagi di rumah atau di mana saja bila ada kesempatan. Semisal dengan menambah kursus, mendengarkan kaset, atau langsung berbicara dengan native speaker alias penutur asli bahasa asing.

“Ya, sebaiknya amalan yang sudah didapat ditambah lagi dengan ketekunan belajar. Cara dan medianya macam-macam. Misalnya rajin buka kamus, mendengar conversation dari kaset yang biasa dijual di toko-toko buku, dan sebaiknya langsung ngomong saja dengan native speaker. Kami di sini hanya membantu membuka pintu batin atau pintu hati. Setidaknya, jika selama ini Anda kesulitan mencerna atau menangkap pelajaran bahasa asing, bisa menjadi lebih mudah dan cespleng,” ujar lajang yang mengaku fasih berbahasa Inggris itu.

Senin pagi, 27 Juni 2005. Pesantren Nurur Riyadlah kedatangan sembilan calon santri (empat perempuan, lima pria). Mereka tidak datang bersamaan. Empat orang di antara mereka lebih dulu menyelesaikan wirid selama dua jam. Dapat dipastikan, mereka datang dengan niat dan tujuan serupa.

Tito Pinandita, misalnya, mengaku datang ke Nurur Riyadlah untuk menghilangkan kegagapannya berbahasa Inggris. “Saya datang ke sini agar bisa fasih dan mengerti bahasa Inggris, demi memudahkan penyusunan tesis,” ujar pria Sukabumi yang menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Sewaktu saya berpamitan pulang ke Malang, muncul dua orang calon santri bahasa. Rambut si cewek disemir pirang kecokelatan. Yang cowok sibuk memencet tuts Nokia 9300 yang berbodi montok. Menurut supir yang mengantar, mereka bekerja di sebuah biro iklan. ABDI PURMONO

Share this :

Previous
Next Post »