Agar Anggrek Selop Lestari

Sabtu, Agustus 03, 2013
Anggrek selop (Paphiopedilum glaucophyllum) di Kebun Raya Purwodadi, 25 Juni 2013.
Foto-foto: ABDI PURMONO

TONI Artaka selalu berada di belakang rombongan. Saat rombongan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tertib berjalan menyusuri jalur pendakian ke Gunung Semeru pada 3-5 Juni 2013, ia malah berjalan ke sembarang arah sambil menenteng kamera.

Berada di ekor rombongan membuat Toni leluasa bertingkah laksana guru biologi yang aneh. Tahu-tahu ia menyeruak semak, merunduk di bawah pohon, bahkan nyaris tiarap serata tanah untuk memotret flora dan fauna. Sesekali ia berseru keras untuk memberitahu rekan seperjalanan.

Hasil kerjanya tertuang dalam laporan “Harta Karun TNBTS: Catatan FloNa dari 2.200-3.676 mdpl” setebal 19 halaman. Banyak gambar ditampilkan; antara lain, lutung jawa (Trachypitecus auratus Geofory) di Blok Landengan Dowo; Corybas imperatorius, anggrek tanah berumbi; suket melelo (Styphelia javanica); purwaceng (Pimpinella pruatjan Monkelb.); edelweis jawa (Anaphalis javanica); Verbenia brasiliensis Vell, serta Dendrobium jacobsonii J.J.Sm.

Lutung jawa sudah berstatus dilindungi. Penampakan Corybas imperatorius merupakan temuan baru karena sebelumnya tidak ada data keberadaannya di Blok Ranu Kumbolo. Anggrek ini berdaun tunggal berukuran 1,5 x 1,5 sentimeter, berwarna hijau keabu-abuan, dengan venasi (jalur-jalur) pada daun tebal berwarna keperakan.

Ahli anggrek ternama, J.B. Comber, dalam buku Orchids van Java (1990) mendeskripsikan Corybas imperatorius sebagai flora khas sabana (padang rumput) pegunungan pada tanah-tanah yang miskin hara. Disebutkan pula bahwa sebaran Corybas imperatorius di ketinggian 1.280 sampai 1.730 meter dari permukaan laut (mdpl). Tapi ternyata Corybas imperatorius bisa tumbuh di Ranu Kumbolo pada ketinggian 2.480 mdpl.

Corybas imperatorius pun disebut tanaman endemik gunung Jawa Tengah dan dan Jawa Timur. “Sungguh temuan yang luar biasa. Masalahnya, anggrek itu rentan gangguan manusia karena tumbuh di tebing jalan setapak dari Watu Rejeng hingga tanjakan menuju Ranu Kumbolo,” kata Pengendali Ekosistem Hutan Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Senduro TNBTS itu kepada saya, 12 Juni lalu.

Toni meneruskan, suket melelo memang berfisik mungil dan sepele. Tapi dalam ekosistem sabana, suket melelo sangat disukai serangga karena menghasilkan nektar. Purwaceng salah satu jenis tanaman obat di TNBTS yang paling sering dicuri karena dipercaya manjur meningkatkan vitalitas pria. Edelweis terancam habis karena sering dipetik pendaki yang bertindak ngawur

Verbena brasiliensis merupakan tanaman semak tahunan dan berumur pendek yang berasal dari Amerika Selatan. Ia tanaman asing yang tumbuh invasif sehingga bisa menguasai habitat asli dan menggusur tanaman asli TNBTS, seperti sabana Oro-Oro Ombo. Sedangkan Dendrobium jacobsonii menjadi sampul buku tebal Orchids of Java.

Namun Toni mengaku masih penasaran. Kecuali Corybas imperatorius, ia belum menjumpai banyak anggrek endemik Jawa Timur yang tumbuh di kawasan TNBTS, khususnya anggrek selop (Paphiopedilum glaucophyllum). 

“Saya tahu dari buku Orchids of Java dan hasil penelitian LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bahwa di TNBTS banyak anggrek endemik dan harta karun itu sudah langka dan terancam punah. Tapi sejak bekerja tahun 2000, saya belum pernah menjumpainya di alam,” kata dia.

Toni menduga, anggrek-anggrek endemik semakin susah dijumpai lantaran banyak diburu untuk diperjualbelikan, juga akibat pencurian kayu yang merusak habitat anggrek.

Untungnya, frekuensi pencurian flora dalam TNBTS sudah jauh berkurang. Menurut Yohanes Cahyo Dwi Hartono, Kepala Resor Ranupani, kasus pencurian terakhir tercatat terjadi pada Agustus 2011. Petugas TNBTS menangkap sejumlah pencuri kayu, pencuri tanaman obat, dan pembuat arang berbahan baku cemara gunung.

Pencurian terjadi lebih dikarenakan sedikitnya jumlah personel polisi hutan atau jagawana (ranger). Hanya ada sekitar 45 orang jagawana yang menjaga taman nasional seluas 50.276 hektare dan tersebar di dalam wilayah empat kabupaten: Lumajang, Malang, Pasuruan, dan Probolinggo.

Destario Metusala alias Rio dan Tarmudji sependapat. Rio peneliti anggrek di Kebun Raya Purwodadi (KRP) Pasuruan. Tarmudji bekas ahli taksonomi anggrek (taksonom) yang pensiun pada 2012 setelah mengabdi selama 36 tahun di KRP.

Anggrek selop Kebun Raya Purwodadi, 28 April 2008.
Anggrek selop merupakan maskot KRP. Hingga April 2008, di lahan KRP seluas 85 hektare tumbuh 10.934 spesimen tanaman yang terdiri dari 173 suku dan 908 marga. 

Koleksi tumbuhan ini merupakan hasil eksplorasi dari berbagai daerah di Indonesia, hasil pertukaran dengan negara lain, dan sumbangan pribadi atau dari instansi lain. Mayoritas tanaman yang dikoleksi KRP merupakan hasil penangkaran di luar habitatnya atau konservasi ex-situ.

Koleksi tumbuhan itu mencakup bambu, polong-polongan, mangga, paku-pakuan, pisang, tumbuhan obat, palem, dan anggrek. Anggrek ditempatkan di rumah kaca yang kondisinya disesuaikan dengan habitat alaminya.

Terdapat sekitar 3 ribu spesimen anggrek alam atau anggrek spesies yang terdiri dari 71 marga dan 329 jenis, serta 227 jenis lainnya yang belum terindentifikasi. Tujuh jenis di antaranya merupakan anggrek endemik Jawa Timur seperti Appendicula imbricate, Dendrobium arcuatum, dan tentu saja termasuk anggrek selop.

Rio menerangkan, anggrek selop—populer disebut anggrek kantong atau anggrek kasut (lady slipper) berbulu—sangat mirip dengan anggrek varietas mouquettianum yang ada di Jawa Barat. Varietas mouquettianum tumbuh di ketinggian 150 meter dari permukaan laut (mdpl).

Sebaran anggrek selop ada di wilayah selatan Gunung Semeru. Anggrek selop kini hanya bisa dijumpai di tebing-tebing tinggi yang sulit dijangkau para pemburu anggrek. Anggrek selop disukai karena bentuknya yang unik, menyerupai kantong semar atau alas kaki wanita, serta gampang diambil para pemburu karena tumbuh di permukaan tanah, serta relatif gampang beradaptasi dengan iklim subtropis. Walau laju pertumbuhannya lambat, namun anggrek selop termasuk jenis yang relatif mudah dipelihara dan toleran untuk dibudidayakan di dataran rendah.

“Anggrek selop disukai kolektor di luar negeri sebagai indukan anggrek hibrida. Paphiopedilum glaucophyllum populer sebagai tanaman ornamental,” kata Rio di kantin KRP pada Rabu, 25 Juni.  

Kolektor peminat anggrek selop ada di Inggris, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, Taiwan, dan Thailand. Dalam nilai rupiah, harga pasaran di luar negeri antara Rp 700 ribu sampai 5 juta per tanaman. Bahkan, anggrek selop asli (bukan hibrida) bisa mencapai Rp 12 juta per tanaman.

Selasa, 25 Juni 2013.
“Modus perdagangan anggrek selop, dan anggrek langka lainnya makin canggih dengan menggunakan kemajuan teknologi informasi, seperti lewat media sosial Facebook,” ujar alumnus Jurusan Biologi Konservasi Universitas Kent, Inggris, ini.

Harga anggrek selop di kalangan pemburu antara Rp 15 ribu sampai Rp 17 ribu per pot. Pemburu bisa membeli dengan harga lebih murah dari masyarakat di sekitar kawasan hutan, terutama masyarakat Lumajang yang bermukim di selatan Gunung Semeru. Harga dari masyarakat dalam kisaran antara Rp 2 ribu sampai Rp 5 ribu.

Sejatinya anggrek kantong alam (spesies asli) terlarang untuk diperjualbelikan dalam bentuk apa pun. Anggrek selop masuk dalam daftar Apendiks 1 Konvensi Perdagangan Internasional untuk Tumbuhan dan Satwa Liar (Convention on International Trade in Endangered Species/CITES). CITES mulai berlaku sejak 1 Juli 1975. Indonesia menjadi negara ke-48 dari 175 negara yang telah meratifikasi konvensi itu. CITES diteken Indonesia pada 28 Desember 1978.

Selain dilindungi secara internasional, anggrek kantong masuk dalam daftar 29 anggrek yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dalam daftar ini anggrek selop disebut dengan nama anggrek kasut berbulu. Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, induknya KRP, pada 2010 pun memasukkan anggrek selop sebagai Spesies Prioritas Konservasi.

Terlarang diperjualbelikan, tapi faktanya perdagangan gelap anggrek selop terus berlangsung karena penangkaran atau perbanyakan anggrek selop di luar habitat, termasuk di luar KRP, cukup berhasil meski tidak dalam jumlah melimpah. Perbanyakan anggrek selop umumnya dilakukan kolektor dan pengusaha nurseri (breeder) anggrek.

Sedikitnya ada 46 nurseri anggrek di Jawa Timur yang berlokasi di Surabaya, Pasuruan, serta Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu).

Ada banyak anggrek endemik di TNBTS. Menurut Tarmudji, sebuah laporan 1993-1994 menyebut banyak anggrek endemik Jawa Timur di kawasan Bromo-Semeru yang terancam punah. “Laporan itu dibuat sebelum pembalakan hutan marak dan liar (1998-1999). Coba bayangkan kondisinya sekarang, kira-kira masih hidup atau sudah habis anggrek-anggrek itu,” kata Tarmudji pada Senin malam, 1 Juli.

Laporan yang dimaksud Tarmudji adalah hasil inventarisasi anggrek di areal 1.500 hektare di Semeru selatan lewat Proyek Pembinaan Suaka Alam dan Hutan Wisata TNBTS. Kegiatan inventarisasi dilakukan selama 12 hari (18-29 September 1993), laporan kegiatan dirilis pada Februari 1994.

Meski orang KRP, Tarmudji dan seorang rekannya ikut dalam tim bentukan TNBTS sebagai pendamping. Keahlian Tarmudji sebagai taksonom anggrek terasah selama 14 tahun saat menemani Comber meneliti anggrek di hutan-hutan Pulau Jawa dan menghasilkan buku Orchids of Java.

Dalam laporan disebutkan, dari kegiatan inventarisasi flora dan fauna TNBTS pada Agustus 1987 diketahui kekayaan flora dan fauna sangat beragam dan memiliki nilai ilmiah yang tinggi, terutama dari jenis anggrek.

Tim menjumpai 128 jenis anggrek, tiga jenis di antaranya merupakan jenis endemik dan ada sembilan jenis yang namanya terdaftar dalam Red Data Book terbitan IUCN (International Union for Conservation of Nature) tahun 1978.

Enam tahun berselang, jumlah anggrek spesies dalam kawasan TNBTS diketahui bertambah banyak. Pada September 1993 terdata 157 jenis atau spesies famili anggrek (Orchidaceae) yang tercakup dalam 55 genus (marga); mayoritas (107 jenis) tumbuh menempel pada pohon-pohon (epifit) dan 50 jenis merupakan anggrek yang tumbuh di permukaan tanah (terestrial).

Selasa, 25 Juni 2013.
Dari 157 jenis anggrek, 40 jenis merupakan anggrek langka. Di antaranya tiga jenis anggrek langka endemik Jawa dan 15 jenis anggrek endemik Jawa Timur, termasuk 3 spesies khas Semeru, yakni Malaxis purpureonervosa, Malleola witteana (anggrek lalat), dan Liparis rhodochila (anggrek burung). Ketiga spesies khas Semeru selatan ini tumbuh di wilayah Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.

Dari 40 jenis anggrek langka, kata Tarmudji, 34 jenis diduga sudah punah dihabitatnya, termasuk Malaxis purpureonervosa, Malleola witteana, dan Liparis rhodochila. Tapi mungkin juga sebagian masih hidup di luar habitat, termasuk di Kebun Raya Purwodadi.   

Dalam laporan disebutkan anggrek selop sudah berstatus genting (endangered). Anggrek terestrial ini bisa dilihat dari batangnya yang pendek dan berbentuk semu, dengan daun berukuran 30 x 5 sentimeter dengan daging agak tipis, berwarna hijau bercak-bercak hitam, bentuk oblong.

Ciri lain, tandan bunga mencapai 40 sentimeter, berbulu halus warna cokelat. Bunganya berdiameter 10 sentimeter berbentuk kelopak bulat telur, berwarna hijau bergaris cokelat kemerahan, mahkota berbentuk bulat panjang (long oblong) berwarna hijau totol-totol cokelat kehitaman pada bagian pangkal. Sedang pada bagian ujung berwarna ungu kemerahan, bagian permukaan masing-masing berbulu halus, bibir bunganya berwarna hijau kecokelatan.

Dari habitatnya diketahui anggrek selop tumbuh subur di tempat-tempat tersembunyi, lembab dan di tanah yang agak miring dan penuh humus pada elevasi antara 750 sampai 2.000 mdpl.

Kondisi populasi anggrek-anggrek di Semeru selatan sangat dipengaruhi oleh kondisi bio-ekologis, spesies dan keadaan fisik lapangan akibat dampak aktivitas vulkanik Gunung Semeru. Dikenal dua macam bahaya di daerah sekitar gunung tertinggi di Pulau Jawa itu, yakni bahaya primer dan bahaya sekunder.

Bahaya primer dijelaskan sebagai bahaya akibat langsung dari aktivitas vulkanik Semeru berupa awan panas letusan, lontaran material vulkanik dari kawah, awan panas tipe guguran, dan aliran lava. Bahaya sekunder sering disebut juga bahaya basah yang hakikatnya berupa hujan yang menghanyutkan endapan bahan-bahan vulkanik dan mengalir sebagai banjir lahar dingin.

Namun, kata Tarmudji, kerusakan habitat anggrek endemik di dalam kawasan TNBTS lebih banyak akibat ulah manusia. Masyarakat sekitar kawasan mengeksploitasi hasil-hasil hutan, termasuk anggrek, untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Kebutuhan sehari-hari mereka bertemu dengan kepentingan para hunter dan pebisnis anggrek. Alhasil, eksploitasi anggrek makin sulit dikendalikan. Tapi Tarmudji menukas bahwa masyarakat tidak bisa disalahkan begitu saja. Secara umum di Indonesia, kata dia, pembalakan hutan dan pengalihan fungsi lahan hutan besar-besaran baik oleh pemerintah maupun swasta menjadi penyebab terbesar kerusakan habitat anggrek di alam.

Untuk menyelamatkan anggrek langka, Kebun Raya Purwodadi memprioritaskan pelestarian anggrek selop dengan cara perbanyakan secara alamiah tanpa rekayasa genetika sebagai sumber plasma nutfah supaya kemurnian genetik anggrek terjaga.

Pengamatan di KRP mencakup aspek agronomis budidayanya, seperti media tumbuh yang paling sesuai, intensitas cahaya yang tepat, pola penyiraman dan pemupukan. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa Paphiopedilum glaucophyllum diketahui dapat berbunga sepanjang tahun dan masa mekarnya relatif cukup lama, antara 6 sampai 14 hari.

Rio mengatakan, perbanyakan anggrek di KRP menggunakan teknik kultur in-vitro (kondisi steril). Teknik ini dibagi menjadi kultur jaringan dan kultur biji. Kecuali perbanyakan anggrek selop, kultur biji diterapkan ke anggrek-anggrek lain dan relatif berhasil. 

Dengan metode kultur jaringan, planlet (calon bibit atau tanaman kecil dengan organ lengkap) baru bisa diperoleh dalam masa dua-tiga tahun, tergantung jenis anggreknya. Planlet anggrek berukuran besar (anggrek vanda), misalnya, lebih lambat lagi dihasilkan.

Dengan metode kultur biji, dalam 8 bulan sampai 1,5 tahun bisa didapatkan ratusan bahkan sampai ribuan planlet. Namun metode kultur biji masih diujicobakan pada anggrek selop. Sejauh ini anggrek selop masih diperbanyak dengan teknik andalan, yakni pembiakan vegetatif, dengan pemisahan rumpun (simpodial) agar didapat anakan anggrek yang baru. Dengan teknik ini, dalam 6-8 bulan sudah bisa diperoleh satu anakan anggrek.

Tiap kali anakan anggrek muncul dari satu rumpun langsung dipisahkan untuk diperbanyak lagi dan begitu seterusnya. Dengan teknik vegetatif, kemurnian genetik anggrek selop tetap terjaga.

Dua teknik perbanyakan ini dilakukan di tempat berbeda. Kultur biji dilakukan di laboratorium, sedangkan teknik perbanyakan vegetatif dikerjakan di kebun. Tarmudji menyebut teknik vegetatif sebagai teknik konvensional alias teknik manual.

Bukan hanya Kebun Raya Purwodadi yang berupaya melestarikan anggrek langka dari kepunahan, pedagang anggrek pun mengklaim turut melestarikan anggrek asli meski mendapat bibit dari pemburu.

Sisipan Jawa Timur Majalah Tempo Edisi 8-14 Juli 2013.
Simaklah penuturan Dede Setyo Santoso, pemilik Dede Orchid di Batu. Ia fokus mengembangkan dan menjual anggrek spesies asli lantaran harganya lebih mahal dibanding anggrek hibrida. Bunga anggrek hibrida memang cantik-cantik, tapi harganya murah. 

Dede punya lebih dari 150 anggrek spesies. Anggrek spesies yang diunggulkan antara lain Dendrobium taurinum, Dendrobium laxifilorum, dan Dendrobium stratiotes menjadi anggrek. Dede jujur mengaku masih mengandalkan pemburu untuk mendapat anggrek spesies meski ia tahu sebagian anggrek spesies berstatus dilindungi. Sebagaimana KRP, Dede membudidayakan anggrek spesies dengan teknik kultur jaringan.

Dede berpendapat, alih fungsi lahan yang dilakukan pemerintah menjadi penyebab utama kerusakan habitat anggrek spesies. Sedangkan hunter hanya mengambil porsi kecil.

“Dari hunter (pemburu anggrek) saya dapat indukan, lalu saya budidayakan. Dengan begitu anggrek spesies bisa bertahan di luar habitatnya. Secara tidak langsung, saya juga melakukan konservasi terhadap anggrek-anggrek spesies,” kata Dede kepada saya pada Senin petang, 1 Juli.

Ia mengatakan anggrek selop miliknya lebih banyak diperlakukan sebagai koleksi dan untuk kepentingan penelitian. Buktinya, Dede bekerja sama dengan Departemen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga.

Harto Kolopaking, pemilik Simanis Orchids di Lawang, Kabupaten Malang, berpendapat senada. Menurut dia, kondisi anggrek spesies di alam sangat mengenaskan. Pemerintah melindunginya, tapi upaya konservasi oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia lewat Kebun Raya tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan.

“Orang-orang seperti kami tidak melulu memikirkan bisnis, tapi juga sangat peduli konservasinya,” ujar Harto.

Harto menyarankan kepada pemerintah untuk menerbitkan kebijakan baru yang membebaskan sejumlah anggrek spesies dari daftar langka dan terancam punah karena faktanya banyak anggrek spesies yang bertahan hidup dan malah jumlahnya bertambah banyak di luar habitatnya. Bila jumlahnya bertambah banyak, berarti sang anggrek tak lagi terancam punah.

Kebijakan baru ini penting untuk menekan laju perdagangan gelap anggrek, yang hanya menguntungkan pebisnis anggrek di luar negeri. Mereka membudidayakan anggrek spesies yang mereka beli dari Indonesia, kemudian diekspor ke banyak negara di luar Indonesia.

Dan dari situlah posisi anggrek selop dan kawan-kawan menjadi kontroversial, berada di tengah pertarungan antara kepentingan konservasi dan kepentingan bisnis. ABDI PURMONO

Share this :

Previous
Next Post »
2 Komentar
avatar

Terima kasih! Saya baru saja mendaki Bukit Kelam di kab.Sintang Kalimantan Barat. Saya menemukan species Anggrek sangat mirip Paphiopedilum glaucophyllum ini juga, namun dengan karakteristik bunga tumbuh hanya satu, berwarna hijau muda dengan semburat ungu pada sayapnya. Yang unik adalah daunnya yang berwarna hijau gelap dan bertotol putih, eksotis! Apakah ini termasuk salah satu spesies anggrek tersebut atau jenis anggrek lainnya?

Balas
avatar

@Rifqi Adzani: Waduh, mohon maaf saya melewatkan begitu lama pesan dari Anda sehingga balasan dari saya pun sangat telat.

Maaf lagi, saya sebenarnya bukan ahli anggrek. Apabila ada fotonya, barangkali saya bisa bantu mengenalinya. Tapi ada kawan yang ahli anggrek yang saya sebut dalam artikel itu yang mungkin bisa membantu Anda.

Terima kasih ya sudah mau berkomentar.

Balas