Film 5 Cm Dikritik Pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Jumat, Februari 22, 2013
Suasana pagi di Ranu Kumbolo, 1 Juli 2012.
Foto: ABDI PURMONO

MALANG — Kesuksesan film 5 Cm sangat dipuji oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Ayu Dewi Utari. Namun, Ayu juga memberi tiga kritik terhadap pembuatan film yang diangkat dari novel berjudul sama itu.

Pujian diberi Ayu berdasarkan jumlah pengunjung ke TNBTS yang melonjak drastis selama sepekan dari 25 Desember 2012 sampai 1 Januari 2013. Diperkirakan ada 5 ribu sampai 10 ribu pengunjung.

“Waktu di hari H-nya (malam tahun baru) saja ada sekitar 3 ribuan pengunjung. Pasti ada dampaknya dari film itu, tapi juga boleh jadi itu karena animo orang Indonesia ke TNBTS memang makin tinggi,” kata Ayu, Rabu, 20 Februari 2013.

Kata dia, jumlah pengunjung itu berlipat hingga 100 persen lebih. Selama ini TNBTS nyaris tak pernah menerima pengunjung melebihi 5 ribu orang. Sebagai gambaran saja, pengunjung pada 2009 dan 2010 masing-masing tercatat 2.532 dan 2.769 orang. Mayoritas pengunjung adalah pendaki pemula yang ingin mendaki Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa yang menjulang setinggi 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl).

Mereka hanya bermodal rasa penasaran dan kenekatan setelah menonton film besutan Rizal Mantovani itu. Mereka tidak paham medan dan karakter pendakian. Banyak pengunjung yang tidak mendaftar di Pos Ranupani, Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

Berada di ketinggian 2.200 mdpl, Pos Ranupani merupakan pos perizinan dan pengecekan bagi semua pengunjung. Pengunjung yang datang berombongan cukup diwakili pemimpin regu atau kelompok dengan menyerahkan fotokopi kartu tanda penduduk, daftar nama pengunjung, surat keterangan sehat, dan daftar barang bawaan. Pengunjung pun harus bayar tiket masuk. Lantaran banyak pengunjung yang tidak mendaftar, maka sangat susah memastikan jumlah pengunjung.

“Dalam film itu kan digambarkan seolah-olah naik ke Semeru itu tidak butuh persiapan yang matang, cukup modal nekat dan semangat. Contohnya, tas ransel yang dibawa para pemain filmnya saja tidak tampak penuh oleh logistik yang dibutuhkan selama pendakian. Untuk mendaki Semeru itu rata-rata butuh waktu empat sampai 5 hari dan tentu harus bawa bekal atau logistik yang sangat cukup,” kata Ayu, memberi kritik pertama.

Ayu makin prihatin setelah tahu banyak sekali pengunjung yang melanggar larangan naik hingga ke Mahameru, puncak Gunung Semeru. Pendaki dibatasi naik hingga Pos Kalimati di ketinggian 2.800 meter dari permukaan laut. Alasannya, aktivitas vulkanik di kawah Jonggring Saloka sangat labil dan membahayakan. Pelarangan ini sesuai dengan rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Selain itu, mulai Januari sampai 25 Maret nanti pendakian ke Semeru ditutup total karena cuaca buruk yang ditandai dengan curah hujan tinggi nan deras dan kabut tebal yang sangat membahayakan keselamatan jiwa.

“Tim film 5 Cm pun menyelundup hingga ke atas. Kami sudah cek soal itu. Gara-gara pembuatan film 5 Cm, sekarang kami minta kepada semua tim produksi apa pun untuk bersedia didampingi petugas kami. Terakhir petugas kami mendampingi tim produksi film Akordion. Kalau terjadi apa-apa pada orang yang naik ke Semeru, nanti kami yang disalahkan juga,” ujar Ayu.

Itu kritik kedua dari Ayu. Kritik terakhir, Ayu menilai adegan pemain film nyebur ke dalam air Ranukumbolo di akhir film juga tidak mendidik penonton. Setiap pengunjung dilarang mandi dan berenang di Ranukumbolo demi keselamatan pendaki karena suhu air yang dingin dan cenderung ekstrem, serta menghindari pencemaran lingkungan. 

Tapi faktanya, seperti saya saksikan pada akhir Juni 2012, banyak pengunjung yang mandi di sana dan bahkan ada yang memakai sabun. Itu belum lagi sampah berserakan. ***

Share this :

Previous
Next Post »
3 Komentar
avatar

hahaha..iyya betul pak..ini yg salah siapa yya?
Filmmakernya yg memang sepertinya tanpa riset dlm pembuatan film (jd terkesan asal2an) ataukah penonton indonesia yg belum bs selektif dlm menerima pesan yg disampaikan sebuah film.. :-)
Mahasiswa UMM semester VI

Balas
avatar

Sahabat alam yg saya cintai, selama puluhan tahun saya naik turun gn. Semeru, sering saya lihat pendaki / pecinta alam yg mandi di danau. Trus kenapa baru sekarang ( setelah 5 cm booming ) ada pro dan kontra masalah itu..?? Marilah kita berkaca dari diri kita masing2, sudahkah kita berdisiplin yg tinggi..?? Apa yg sudah kita lakukan buat gunung yg kita cintai ini ( semeru ) selain mengotori dan merusaknya..?? Jgn cuma bs debat msalah konservasi, tp tunjukkan saja km pernah andil berkonservasi di gunung yg kita cintai ini. Talk less do more..itu yg penting.
Salam rimba

Balas
avatar

@ Raja hutan makanya dgn tulisan ini, bagi siapapun yg membaca bakal mengerti bahwa qta nggk seenaknya saja. Ok anda pengalaman di hutan, tpi pasti smua punya aturan kan?stuju dgn komentar anda tentang Disiplin :)

Balas