Alun-alun Jadi Ikon Wisata Baru Kota Batu

Kamis, Juli 05, 2012

Foto-foto: ABDI PURMONO

MALANG — Masih pagi, udara segar. Ibu Sulikha tertawa melihat Arini dan Rosa main siram-siraman di Alun-alun Kota Batu. Persis di belakangnya, Bambang Sulistyo, duduk sendirian memperhatikan orang-orang berlalu-lalang.  

“Dua cucu saya senang main di sini. Saya pun bisa awet muda karena banyak tertawa melihat mereka. Sekarang alun-alun makin bersih dan nyaman, tidak seperti dulu,” kata Sulikha, Kamis, 28 Juni 2012.

Perempuan berumur 57 tahun itu punya lima cucu. Sekali dalam sepekan dia membawa cucu-cucunya ke alun-alun, terkadang ditemani anak dan menantu. Selain karena bersih dan nyaman, Alun-alun Kota Batu dilengkapi fasilitas permainan gratis bagi anak-anak.

Bambang pun berkomentar senada. Sekarang kegiatan berjemur pagi di alun-alun menjadi kegiatan rutin yang dilakoni pria berumur 59 tahun itu untuk mengisi masa pensiun, selain bermain bersama cucu. Kata Bambang, berjemur di pagi hari sangat bagus untuk kesehatan tulang, terutama bagi anak-anak.

“Selain itu, di sini mulai rimbun oleh pohon-pohon besar. Udaranya pun segar, minim polusi. Yang lebih penting lagi, sekarang tak ada lagi orang yang sembarangan merokok,” kata pensiunan Bank BRI itu.

Sekarang Sulikha dan Bambang memang keranjingan mengunjungi alun-alun. Tapi jangan harap itu mereka lakukan sebelum alun-alun direnovasi pada 2010. Sebagai warga asli Batu, mereka masih ingat dulu alun-alun jorok oleh sampah dan tanaman tak terawat. Orang-orang merokok di sembarang tempat, pedagang berkeliaran bebas, serta kurang aman di malam hari.

Alhasil, warga kota malas memanfaatkan alun-alun. Turis dari luar Batu pun tak sudi mampir. Tapi sekarang alun-alun sangat dibanggakan warga Batu dan bikin iri warga Malang kota dan kabupaten.

“Sekarang kami sangat senang dan bangga. Mas lihat sendiri, sekarang di sini jadi tempat favorit untuk foto-foto. Biasanya yang suka foto-foto orang luar Batu,” kata Bambang.   

Pengunjung makin ramai menjelang siang. Menurut Junaidi, salah seorang petugas keamanan alun-alun, rata-rata tiap hari seribuan warga Batu mengunjungi taman yang dijaganya. Semua petugas keamanan berseragam rapi. Pengunjung bebas mau datang kapan saja karena alun-alun terbuka 24 jam.

Di masa libur panjang sekolah dan Lebaran, misalnya, jumlah pengunjung alun-alun meningkat hingga ribuan orang. Turis dari luar Batu datang dengan menumpang banyak bus menjadi pemandangan biasa bagi Junaidi dan kawan-kawan. Mereka tak hanya mendatangi alun-alun, tapi juga berbelanja di Plaza Batu, pasar, dan toko-toko di sekitar alun-alun. Ya, mungkin pula menikmati keanekaragaman kuliner Batu.

Membeludaknya jumlah pengunjung membuat Junaidi dan enam kawannya harus meningkatkan kewaspadaan. “Bukan berarti kami harus pasang wajah ketat atau sangar. Kami tetap waspada, tapi tetap ramah agar pengunjung merasa aman dan nyaman. Kami pun ikut menata taman jika ada bagian yang rusak,” kata Junaidi, seraya menyebutkan mereka bertugas dalam tiga shift.

Uniknya, kata Junaidi, Pemerintah Kota Batu mempercayakan pengelolaan alun-alun kepada Legiun Veteran Republik Indonesia, dibantu FKPPI (Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI/Polri), Pemuda Panca Marga (PPM), dan Pemuda Pancasila.

Keterlibatan ketiga organisasi kemasyarakatan pemuda itu tak lepas dari peran Wali Kota Batu Eddy Rumpoko yang pernah jadi Ketua Generasi Muda FKPPI Jawa Timur, serta kini masih menjadi Pembina PPM Kota Batu dan masih jadi Ketua Umum Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila.

Luas Alun-alun Kota Batu sekitar 8 ribu meter persegi. Pada 2010 alun-alun direnovasi, dengan didahului dengan pembongkaran tugu apel di depan alun-alun. Menghabiskan duit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sekitar Rp 12,7 miliar, alun-alun dengan wajah baru dibuka kembali pada 7 Mei 2011.

Perbedaan antara alun-alun lama dengan alun-alun baru sangat kontras. Selain lebih bersih, nyaman, dan aman, alun-alun baru dilengkapi dengan fasilitas bermain bagi anak-anak, pojok lalu-lintas, tempat-tempat duduk yang rapi dan cantik.

Kandang-kandang burung merpati ditempatkan di pohon-pohon besar. Jika sedang beruntung, ratusan merpati suka turun untuk menyantap penganan yang diberikan pengunjung.

Dibantu oleh pengelola taman wisata Jatim Park, alun-alun Batu dilengkapi dengan wahana bianglala (ferris wheel). Keberadaan bianglala ini menjadi satu-satunya bianglala yang ada di alun-alun di Indonesia.

Selain itu, di banyak tempat disediakan fasilitas gratis ZAMP (Zona Air Minum Prima) yang airnya boleh langsung diminum. Bagi perokok disediakan tiga tempat rokok yang didesain elegan. Pedagang asongan dilarang berjualan di semua area alun-alun. Hewan peliharaan terlarang dibawa masuk.

Kecuali bianglala, kakus, dan parkir, semua fasilitas di alun-alun gratis. Pengunjung yang boleh menikmati lanskap Kota Batu dari bianglala harus berusia di atas tiga tahun, serta tak punya kelainan jantung, cacat mental, dan takut ketinggian.

Bianglala dioperasikan dari pukul 9 pagi sampai pukul 10 malam, dengan masa rehat tiap pukul 11.00-12.00, 14.30-15.00, dan 17.00-18.00 WIB. Harga tiket per orang Rp 3 ribu.

Dengan segala kelebihannya, alun-alun kini menjadi ikon wisata baru Kota Batu. Alhasil, pada 29 April 2012, Pemerintah Kota Batu menerima dua penghargaan dari Museum Rekor Indonesia atau MURI untuk alun-alun, yakni penghargaan sebagai pelopor alun-alun bebas rokok dan pedagang asongan, serta alun-alun dengan fasilitas permainan terbanyak untuk anak di Indonesia. ABDI PURMONO


CATATAN: 

Tulisan yang Anda baca sekarang merupakan naskah asli karya saya. Sedangkan naskah yang sudah diedit menjadi lebih pendek bisa dibaca di sini: 

http://www.tempo.co/read/news/2012/06/28/199413612/Alun-alun-Menjadi-Ikon-Wisata-Baru-Kota-Batu

Share this :

Previous
Next Post »