Belajar Dagang di Universitas Ma Chung

Sabtu, April 17, 2010

Foto-foto: ABDI PURMONO

Jum'at, 09 April 2010 17:23 WIB

TEMPO Interaktif, Surabaya -Waktu makan siang tiba. Oky Chindrawan pun memacu pelan sepeda motornya dalam kompleks Universitas Ma Chung. Ia mau mengantar nasi kateringan untuk delapan dosen yang memesan.


“Ibu saya yang buat nasi kateringan ini. Isinya krengsengan daging dan sambal goreng kentang,” kata Oky kepada Tempo, Jum`at (9/4).

Berselang sepuluh menit, Oky bergabung dengan Yanuar Yoga Rinata di lantai dua gedung Bhakti Persada, gedung perkuliahan berkelas mewah di Universitas Ma Chung, Malang. Mereka ramah melayani beberapa mahasiswa yang membeli kue sus dan cum-cum. Harga sepotong kue Rp 2 ribu.

"Kalau kami ada kuliah, kue-kuenya kami biarkan saja di tempat. Pembeli tinggal membuka penutup kotak kue, ambil dan masukan uang pembayaran ke dalam kotak ini. Mereka sendiri yang menghitung uang kembalian,” kata Yanuar sambil menunjuk bekas kotak tisu warna cokelat yang lobangnya berlambang love.

Mereka percaya teman-teman mereka dapat dipercaya untuk selalu membayar menurut jumlah kue yang dibeli. Kue kejujuran, begitulah sebutan kue yang mereka jual. Inspirasinya bersumber dari konsep dan gerakan kantin kejujuran yang diperkenalkan Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK. Pada pertengahan Februari lalu Sivitas Akademika Ma Chung mengadakan diskusi tentang korupsi dengan KPK.

Mereka mengaku berdagang kue sejak empat bulan silam dengan label usaha Legomoro Kue. Usaha ini diawali dengan berjualan keliling menggunakan Vespa di dalam dan di luar perumahan mewah Villa Puncak Tidar. Mereka mengaku acap tekor karena kue-kue yang mereka jual tak laku.


“Kami berjualan door to door. Yang beli sangat sedikit. Susah sekali berjualan di dalam perumahan mewah karena hampir semua pintu rumah tutup. Kami sering ditolak dan disepelekan, tapi kami tak malu, marah, atau menyerah. Kami anggap saja itu latihan sebagai calon pengusaha,” kata Oky setengah berkelakar.

Pada bulan pertama itu mereka hanya menjual kue sus dan cum-cum buatan saudara sendiri sebanyak 35 potong. Lewat sebulan, mereka berjualan di dalam kampus. Jumlah kue ditambah menjadi sepuluh jenis. Mulai Senin hingga Jumat mereka menjual 250-275 potong kue.

Omzet penjualan dan keuntungan mereka meningkat. Dulu mereka cuma mengantongi keuntungan bersih rata-tara Rp 20 ribu dari omzet Rp 80 ribu. Kini laba bersihnya antara Rp 150 ribu sampai Rp 175 ribu dari omzet antara Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu per hari. Mereka belum pernah merugi selama berjualan di dalam kampus.

Oky dan Yanuar mengaku berjualan kue untuk membiayai kuliah sekaligus mempraktekan teori-teori kewirausahaan (entepreneurship) yang mereka dapat, juga untuk memedomani doktrin 12 Karakter Ma Chung: orisinal, terpercaya, gigih, kreatif, dinamis, ramah dan menyenangkan, meritokratik, profesional, bertanggung jawab, sinergi, rendah hati, dan nasionalis.

Selain mereka, masih ada mahasiswa yang berjualan susu dan jus buah di dalam kampus. Bahkan ada mahasiswa Ma Chung yang membuka stand dagangan di supermall Malang Olympic Garden, Plaza Araya, dan Indomaret.

Kegiatan Oky dan kawan-kawannya seakan hendak memupus anggapan Ma Chung sebagai perguruan tinggi swasta mewah berisi anak-anak dari keluarga kaya yang menabukan mahasiswanya “ngamen” berjualan.

Leenawaty Limantara, sang rektor, justru mendorong para mahasiswanya untuk aktif berkreativitas dalam kegiatan kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Dia tak merasa harkat, citra, dan gengsi universitas yang dipimpinnya jeblok gara-gara mahasiswa seperti Oky berjualan.

"Justru ia dan mahasiswa lain sedang menerapkan teori maupun nilai-nilai entrepreneurship yang kami ajarkan di sini. Belajar menjadi pengusaha harus dimulai sekarang dan jangan menunggu tamat dulu,” kata pakar klorofil itu.

Kegiatan Oky dan kawan-kawannya sesuai dengan visi dan misi Universitas Ma Chung, serta menjadi bagian dari empat bidang kegiatan kemahasiswaan: penalaran (professional skills); minat, bakat, dan kegemaran; humaniora (humanistic skills), serta kesejahteraan dan bakti sosial.


Universitas Ma Chung (UMC) berlokasi di Jalan Villa Puncak Tidar N-01. Ini kawasan perumahan elite di Desa Karangwidoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. UMC memiliki enam program studi dan 864 mahasiswa.

Universitas itu dibangun di atas lahan seluas 39.999 meter persegi. Pembangunannya dimulai Juli 2005 dan resmi dibuka pada 7 Juli 2007, bertepatan dengan ulang tahun ke-62SMA Ma Chung atau Sekolah Tinggi Tiong Hwa Malang. Pembangunan fisik menghabiskan duit sekitar Rp 60 miliar.

Pendirian universitas digagas para alumni SMA Ma Chung. Ada 86 pendiri, 15 orang di antaranya menjadi pendiri utama. Sebanyak 80 persen pendirinya merupakan pengtsaha nasional. Pendiri Grup Lippo, Mochtar Riady, merupakan siswa angkatan pertama SMA Ma Chung yang didaulat menjadi ketua pembina UMC.

Sebelum ditutup tentara, nama SMA Ma Chung masyhur dan kualitasnya diakui negara-negara Asia Timur. Sekolah di Jalan Tanimbar, Kota Malang, itu ditutup saat terjadi gejolak politik membara yang berpuncak pada peristiwa Gerakan 30 September 1965. Kini, bekas gedung SMA Ma Chung menjadi gedung SMA Negeri 5 Kota Malang. ABDI PURMONO


http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2010/04/09/brk,20100409-239266,id.html

Share this :

Previous
Next Post »
2 Komentar
avatar

terima kasih Bang Abel...:D semoga sistem jualan yang kami terapkan bisa menjadi inspirasi rekan-rekan yang lain. berkat bantuan Bang Abel meliput usaha kami, pembelian tiap harinya semakin meningkat... thx a lot bang...

Balas
avatar

truely "perguruan tinggi karya konglomerat"..
sistem belajar di kelas dan teori yang sangat memadai diimbangi praktek enterpreneur..
apakah mahasiswa yang seperti mereka itu yg msuk kriteria 'berkarakter'-nya Pak abel?

Balas