Wisata Peduli Sungai Brantas

Jumat, Juni 26, 2009
Jalan masuk ke Arboretum Sumber Brantas, Sabtu, 20 Juni 2009.
Naskah dan Foto: ABDI PURMONO

Malang, Rabu, 24 Juni 2009

SEEKOR lutung jawa jantan bertengger pada sebatang dahan ekaliptus di dalam kawasan Arboretum Sumber Brantas. Primata bernama latin Trachyphithecus auratus itu sedang memakan pucuk-pucuk daun muda.

Namun, begitu hendak dipotret dari jarak sekitar 80 meter, monyet pemakan daun itu spontan meloncat ke cabang-cabang pohon lain hingga melewati pagar pembatas arboretum, lalu bergabung dengan kawanannya yang bersantai pada dahan-dahan pohon kukrup (Engelhardia spicata) yang tinggi besar. Beberapa ekor lutung berteriak keras.

Pohon kukrup dan pepohonan lain itu berada di dalam kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo, yang berada di sebelah barat dan berbatasan dengan kawasan arboretum.

Peristiwa singkat sekitar sepuluh menit itu sungguh menyenangkan Camelia, dara ayu berusia 18 tahun yang baru lulus ujian nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di sekolahnya, SMA Immanuel. Dia datang bersama Suhadi Pangestu, sang ayah, dari tempat tinggal mereka di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu.

Camelia mengaku tidak mengenali lutung dan heran kenapa langsung kabur ketika dilihati. Lutung memang sangat pemalu dibandingkan dengan jenis monyet lainnya. Populasi lutung dan keberadaannya di alam terancam punah sehingga dimasukkan ke dalam kelompok satwa liar yang dilindungi berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No: 733/Kpts-II/1999.

"Lebih baik anak saya ke sini daripada main ke pusat perbelanjaan. Berlibur ke sini menambah pengetahuan dan juga menyehatkan,” kata Suhadi kepada saya, Sabtu, 20 Juni 2009.
  
Sabtu, 20 Juni 2009
Kendati berbeda wilayah administratif, lokasi tempat lutung berkumpul sangat dekat dengan lokasi mata air dalam kawasan arboretum. Ini bukan sembarang mata air. Ada papan penanda bertuliskan dalam dwibahasa, Indonesia-Inggris: “Dari Tempat Ini Berasal Air Kali Brantas (From This Site Spring the Water of the Brantas River)”.

Suhadi dan Camelia lalu mencuci tangan dan muka sepuas-puasnya. Air itu begitu bening dan dingin menyegarkan. Suhadi lalu mengisi botol air mineral besar kosong yang dibawanya dengan air itu.

Bagi Sunardi pengambilan air oleh Suhadi merupakan pemandangan lumrah. Menurut Ketua Rukun Warga 05 Dusun Jurangkuali, Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, itu, para pengunjung biasa membawa botol besar atau jiriken kecil untuk mengambil air Sumber Brantas yang dipercaya berkhasiat untuk membuat awet muda atau menyembuhkan penyakit lain.

“Tapi herannya pengunjung yang ke sini sangat sedikit. Seharian saya di sini, tamunya ya cuma Sampeyan dan bapak-anak itu,” kata Sunardi, sambil melepaskan asap rokok. Plepas plepus...

Jumlah pengunjung Arboretum Sumber Brantas memang sangat sedikit ketimbang jumlah pengunjung lokasi pemandian air panas di Dusun Cangar, yang berjarak sekitar 5 kilometer dari arboretum.

Padahal, kawasan arboretum sudah dikembangkan menjadi obyek wisata konservasi oleh pemiliknya, Perusahaan Umum Jasa Tirta I, sejak setahun lalu bekerja sama dengan Pemerintah Kota Batu. Inilah obyek wisata konservasi sumber air pertama di Jawa Timur dan Indonesia.

Vonny C. Setiawati, Sekretaris Perusahaan Jasa Tirta I, mengaku tidak memiliki data jumlah pengunjung. Kebanyakan pengunjung datang dan pergi alias tidak menginap, kecuali pengunjung yang berkemah di bumi perkemahan yang ada dalam kawasan arboretum.

Menurutnya, obyek wisata konservasi semacam arboretum memang bukan tujuan wisata yang populer. Kebanyakan pengunjung arboretum adalah pelajar, mahasiswa, dan peneliti, meski sebenarnya boleh dikunjungi siapa saja.

Sabtu, 14 September 2014
Tapi, dia menukas, “Untuk sementara, rombongan dalam jumlah besar harus mendapat izin dulu dari kami. Sebaiknya mereka memberitahu rencana kedatangan pada kami lebih dulu agar kami bantu. Kalau cuma satu keluarga atau perorangan, ya, silakan saja datang. Nanti petugas kami mendampingi.”

Keharusan mendapat izin bagi rombongan ditujukan agar pengunjung dapat dipandu petugas, juga untuk memantau mereka agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat merusak keindahan dan keasrian kawasan arboretum, apalagi sampai mengotori mata air.

Untuk mengantisipasi aksi vandalisme, di dalam kawasan dipasang sejumlah papan bertuliskan peringatan, seperti dilarang memburu dan menembak satwa. Ada pula tulisan “daerah keramat, dilarang menebang pohon” di dekat lokasi mata air atau tempat saya bertemu lutung. Peringatan semacam ini merupakan ekspresi dari kearifan lokal (local wisdom) untuk mencegah perusakan hutan.

Setiap pengunjung tidak dipungut biaya apa pun. Jasa Tirta I memang sengaja menggratiskan karena lebih mengedepankan aspek sosial dan kampanye pelestarian mata air Sumber Brantas.

“Yang datang memang harus orang-orang yang mencintai lingkungan. Kami tidak merasa rugi karena tak mendapat keuntungan komersial, tapi kami akan senang jika masyarakat makin sadar dan peduli terhadap kelestarian lingkungan, khususnya terhadap mata air Sumber Brantas,” ujar Vonny beralasan.

Arboretum Sumber Brantas berlokasi sekitar 18 kilometer sebelah utara Kota Batu, tepatnya di Dusun Jurangkuali, Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji atau di sebelah timur kaki Gunung Anjasmoro (2.277 meter dari permukaan laut). Tiga tahun lalu Sumber Brantas masih merupakan dusun yang masuk dalam Desa Tulungrejo.

Berada di ketinggian sekitar 1.500 meter dari permukaan laut, kawasan 12 hektare itu merupakan lokasi salah satu mata air Sungai Brantas yang selanjutnya mengalir melalui Kota Malang, Blitar, Kediri, Jombang, Mojokerto, Surabaya dan bermuara di Selat Madura.

Sabtu, 14 September 2014.
Arboretum berasal dari bahasa Latin, yang biasa ditemukan dalam disiplin ilmu kehutanan dan biologi. Istilah arboretum berarti kawasan yang ditanami dengan spesies pohon tertentu bagi tujuan pemeliharaan sumber genetik, pendidikan, dan penelitian. Pada umumnya arboretum menyerupai hutan biasa yang menampung semua jenis tanaman tahunan baik yang langka maupun yang telah dibudidayakan.

Dulu, lokasi arboretum diperuntukkan sebagai lahan pertanian sayur-sayuran oleh penduduk setempat. Kegiatan ini ternyata acap melongsorkan tanah yang merusak mata air sehingga dilakukan rehabilitasi pada 1982. Pembebasan lahan 11 hektare dilakukan oleh Proyek Brantas pada 1983 dan pada 1995 ditambah sehektare lagi oleh Jasa Tirta I.

Penanaman pohon reboisasi dimulai pada 1983 dan makin diintensifkan setelah tiga kali terjadi erosi yang menimbun mata air. Erosi terjadi akibat penebangan pohon besar-besaran dalam kurun 1997-2000. Akibatnya, debit air Sumber Brantas jauh merosot dari kisaran 12 liter per detik (sebelum 1997) menjadi 2,5 liter per detik.

Keanekaragaman koleksi tanaman menjadi andalan. Hingga kini terdapat sekitar 3.200 pohon dari kapasitas tanaman 10 ribu pohon. Penanaman pohon dilakukan oleh tamu-tamu dinas dan nama penanam diabadikan untuk melengkapi data nama (dalam bahasa lokal dan Latin) pohon yang ditanam.

Pembangunan arboretum ditujukan untuk melestarikan mata air Sungai Brantas, mengoleksi berbagai jenis pepohonan, menyediakan fasilitas penelitian dan pendidikan, serta menyelenggarakan rekreasi edukatif.

Sabtu, 14 September 2014.
Dulu, arboretum terlarang bagi pengunjung umum kecuali yang sudah mengantongi izin dari Jasa Tirta, makanya mayoritas pengunjung adalah tamu-tamu dinas. Tapi, Sekarang pun rombongan pengunjung non-dinas boleh menanam dan sekaligus membubuhkan nama sendiri pada pohon yang ditanam. Bibitnya disediakan Jasa Tirta dan gratis.

“Itu memang sangat kami anjurkan. Namun, maaf lagi, untuk sementara penanaman pohon hanya boleh dilakukan rombongan pengunjung yang telah mendapat izin dari kami. Tapi sebaiknya pemberitahuan diberikan jauh hari agar kami bisa menyiapkan bibitnya,” ujar Vonny.

Untuk menandai pohon-pohon yang ditanam oleh dinas-dinas atau pengunjung non-dinas dibuatlah tujuh blok. Antarblok dihubungkan dengan dengan jalan setapak selebar semeter. Jalan ini sekaligus menjadi pembatas blok yang diperindah dengan lima jembatan kecil.

Disediakan beberapa tempat istirahat di bawah kerindangan pohon. Pada tiap pohon diberi data nama pohon yang dituliskan pada selembar kaleng persegi empat. Misalnya, kayu manis (Cinnanonum burmani), kayu putih (Eucalyptus sp), gagar (Fraxinus griffiti), salam (Eugenia polyantha), pinus (Pinus merkusii), mindi (Melia azedarach), tanjung (Mimusop elengi), suren (Toona sureni), dan cemara gunung (Casuarina junghuhniana).

Namun, seperti dikatakan Vonny, karena belum ramai itulah keindahan, keasrian arboretum, serta gemericik air yang mengalir dari mata air tetap terjaga.

Kawasan arboretum dilengkapi dengan lokasi perkemahan dengan dua rumah peristirahatan, musala, dan areal parkir. Direncanakan penambahan fasilitas lain seperti perpustakaan, kantin, dan pasar buah dan sayur-sayuran agar jumlah kunjungan wisatawan meningkat.


Sumber Kehidupan bagi Warga Jawa Timur

Sungai Brantas sepanjang 320 kilometer dengan 39 anak sungainya memiliki daerah aliran sungai seluas 11.800 kilometer persegi atau 25 persen dari luas Provinsi Jawa Timur yang melewati kaki Gunung Semeru dan Kelud, serta 234 kecamatan di sembilan kabupaten dan enam kota.

Ada delapan waduk besar-kecil yang dioperasionalkan Perusahaan Umum Jasa Tirta I. Waduk-waduk ini multifungsi: pembangkit listrik, pengendali banjir, dan pengairan sawah 303.161 hektare, juga pemasok air bersih untuk air minum bagi 43 persen atau 15,9 juta jiwa penduduk Provinsi Jawa Timur.

Namun, dalam sepuluh tahun terakhir kondisi Sungai Brantas amat memprihatinkan akibat tingginya tingkat pencemaran, aktivitas penambangan pasir, dan alih fungsi lahan di kawasan hulu. Kekritisan hulu Brantas ditunjukkan dengan tingginya erosi yang mencapai 2,2 ton per hektare per tahun, naik 300 persen dibanding kondisi 1980-an. Ini data tahun 2003.

Bahkan, berdasarkan hasil survei Jasa Tirta I dan Badan Lingkungan Hidup Kota Batu, setengah dari 111 mata air di kawasan hulu Brantas rusak dan sebagian mati. Lalu, dari 751 hektare luas Desa Sumber Brantas, seluas 541 hektare atau 72 persen telah menjadi lahan permukiman dan pertanian.

Selasa, 19 Mei 2009.
Menurut Kepala Bidang Pengawasan Badan Lingkungan Hidup Jawa Timur, Drajat Gunawar, kerusakan DAS Brantas dapat menimbulkan banjir bandang di musim hujan dan kekeringan akut pada musim kemarau. Peresapan air tanah pun menurun drastis.

Erosi lahan menyebabkan sedimentasi di waduk sehingga mengurangi volume efektif waduk. Pada kurun 1988-2003, sedimentasi di Bendungan Sutami, misalnya, rata-rata 5,4 juta kubik per tahun sehingga waduk terbesar di Jawa Timur itu kehilangan daya tampung efektif sebesar 43,6 persen dari 253 meter kubik menjadi 142 meter kubik.

Padahal, kalau kemampuan Bendungan Sutami menurun, maka akan mengganggu pasokan air untuk irigasi 2,5 miliar meter kubik yang mengairi 83 ribu hektare sawah, pembangkit listrik yang menghasilkan 1 miliar kilowatt hour (kWh), serta suplai air untuk kebutuhan domestik dan industri yang masing-masing sebesar 206 dan 129 meter kubik per tahun.

Sunggu penting fungsi Sungai Brantas. Kehadiran arboretum merupakan upaya kecil yang dilakukan Jasa Tirta I untuk menyelamatkan Sungai Brantas. Masyarakat tidak hanya diajak untuk berwisata, tapi juga diingatkan untuk memedulikan sungai yang menjadi jantung dan urat nadi kehidupan Jawa Timur. ABDI PURMONO


CATATAN:
Naskah yang sudah diedit oleh redaktur kemudian disajikan di Koran Tempo Edisi Jawa Timur, 26 Juni 2009.

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/06/26/Berita_Utama - Jatim/km.20090626.169211.id.html


Share this :

Previous
Next Post »