Menembus Awan Fujisan

Senin, November 24, 2008
TEMPO 31/XXXV 25 September 2006 

Gunung Fuji
Foto-foto: ABDI PURMONO


Gunung Fuji tak lebih tinggi dari Gunung Kerinci. Masyarakat Jepang sangat memujanya. Dulu wanita dilarang mendaki.


HUJAN membasuh bumi. Cuaca panas lenyap dalam sekejap. Mesin pengatur suhu otomatis menghangatkan kabin bus yang saya naiki dari Kota Fujinomiya di Prefektur Shizuoka. Dari 30 penumpang, cuma saya yang orang asing (gaijin). Sopir melambatkan laju bus seturut jalanan mulus yang kian menanjak.


Di Shingogome, bus berhenti. Sopir membungkuk, menghormat sambil mengucap ”Arigato gozaimasu” beberapa kali. Dan kami menerabas hujan dengan berlari sejauh 70 meter, menuju bangunan utama berwarna putih.


Jepang dianugerahi suhu yang berbeda sepanjang tahun dan curah hujan yang berlimpah karena terletak di daerah bercurah hujan tinggi (monsoon). Hujan bisa turun seharian lebih, seharian tanpa jeda sehingga mampu melongsorkan tanah perbukitan. Tapi, terkadang, selama Agustus pun masih saja ada hujan, ada angin ribut (taifu) segala.


Hari itu, suatu hari pada bulan lalu, saya berdesakan dengan dua ratusan pelancong yang berteduh di bangunan utama. Berada di ketinggian 2.400 meter, Shingogome merupakan terminal terakhir pada rute pendakian Gunung Fuji yang bisa dicapai dengan kendaraan. Dihitung dari pos itu, ketinggian bersisa 1.376 meter. Kemiringan di sekujur tubuh Gunung Fuji mulai Shingogome sampai puncak berkisar 30-55 derajat.


Saya lekas mengenakan raincoat dan mengencangkan tali sepatu trekking. Jika cuaca kurang bagus, butuh 5-6 jam untuk mencapai puncak (sancho), tapi entah sekarang ini.


Yang terang, hujan agak mereda saat saya tiba di pos ketujuh. Hamparan hijau di kawasan Shingogome sudah dipayungi awan kumulus sehingga membatasi pemandangan. Awan ini bergumpal-gumpal bagai kapas. Teluk Suruga nun di kejauhan tampak samar. Saya beristirahat 15 menit di ketinggian 3.030 meter ini. Makin ke atas makin dingin. Uap air yang mengembun pada debu-debu atmosfer (aerosol) membentuk butiran air nan renik. Butir-butir air inilah yang kemudian membentuk awan altostratus. Awan ini lebih padat, kelabu, kelihatan laksana air, dan berjurai-jurai. Ketebalannya memendekkan jarak pandang.

Bagi saya, bukan medan pendakian yang sesungguhnya bikin berat kaki melangkah. Lha wong, demi keamanan, tali direntang di kanan-kiri. Sudah begitu, ”jalur manja” ini pun dirapikan, diperlebar, banyak kelokan yang diberi undakan. Yang bikin berat dan suntuk adalah angin ribut. Saya dan sejumlah pendaki terpaksa berjongkok, merunduk, bahkan tiarap, untuk menghindari tiupan angin. Hujan masih menderai. Hawa dingin menggigilkan tubuh, gigi menggeletuk, sepuluh jari tangan menggeletar.

Ada seorang pria memaksakan diri untuk tetap berjalan. Tapi ia pun berhenti, terhuyung-huyung diterpa angin. Mantelnya sobek. Angin ribut bahkan membuat seorang dara belia Jepang terjengkang. Dua jari tangan kanannya berdarah dan sulit digerakkan. Walhasil, dia terpaksa balik kanan dengan dipapah kedua rekannya.


Singkat cerita, dari pos ketujuh sampai ke puncak makan waktu hampir tiga jam. Beberapa orang bilang, rute dari pos ketujuh sampai kesembilan merupakan rute terberat. Di puncak terdapat pondok lapang, kantor pos, kuil, stasiun meteorologi, dan beberapa bangunan lain, termasuk beko dan buldoser!


Dua pria Jepang menerangkan bahwa alat-alat berat itu dioperasikan untuk membuat jalan yang menghubungkan Shingogome dengan puncak. Ya, memang, beberapa kali saya menyeberangi jalan berpasir yang ”membelit” Gunung Fuji itu. Jika jalan selesai digarap, diharapkan jumlah wisatawan meningkat.


Musim panas, 1 Juli - 31 Agustus, musim terbaik untuk mendaki. Gunung Fuji tiap tahun didaki 200-an ribu orang, 30-40 persen di antaranya turis asing. Yang sampai ke puncak seratusan ribu orang. Syahdan, pendakian pertama dilakukan pada tahun 663.


Di era ke-shogun-an Tokugawa (zaman Edo 1603-1868), kaum wanita dilarang mendaki. Larangan diberlakukan, konon, karena perempuan mengalami menstruasi, sedangkan Gunung Fuji adalah gunung suci. Larangan itu berlanjut sampai habis Perang Dunia Kedua dan Jepang getol memodernkan diri. Larangan itu dicabut pada 1972.


Kini pondok makin sesak. Tapi di luar angin masih menderu-deru, dingin sekali. Ada catatan dari tahun lalu: suhu tertinggi 14,9 derajat Celsius, suhu terendah minus 32 derajat Celsius. Angin yang memercikkan hujan kembali ke udara sehingga curah hujan di puncak Gunung Fuji sulit dicatat. Di puncak, angin meluncur dengan kecepatan rata-rata 11 meter per detik.


Saya terus melangkah. Di tepi Puncak Kengamine, titik tertinggi dari delapan puncak di Gunung Fuji, terdapat stasiun observatorium cuaca—kabarnya tertinggi di dunia. Mount Fuji Weather Station Manager ini dilengkapi dengan radar besar yang mampu meliput areal berdiameter 800 kilometer lebih. Tak jauh dari situ, berdiri sebuah kantor pos, khusus dibuka sepanjang musim pendakian, dari pukul 6 pagi sampai 14.00 JST (Japan Standard Time). Banyak orang senang bisa berkirim kartu pos maupun surat pendek yang diberi cap kantor pos Gunung Fuji.

Tinggi asli Gunung Fuji 3.775,63 meter, tapi digenapkan menjadi 3.776 meter (12.388 kaki) atau 100 meter lebih tinggi dibanding Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. Atau 29 meter lebih pendek dari Gunung Kerinci, gunung tertinggi di Pulau Sumatera dan gunung berapi tertinggi di Indonesia.


Orang Jepang menyebut Gunung Fuji dengan penuh takzim: Fujisan. Nama Fuji berasal dari bahasa suku Ainu, Fuchi, sama dengan api. Ya, Fujisan meletus 18 kali. Letusan terbesar terjadi pada 802. Fujisan sempat terlelap selama 428 tahun (1083-1511). Erupsi terakhir terjadi pada Desember 1707. Masih aktif-tidaknya Fujisan masih terus diperdebatkan. Tapi, setahu saya, belum ada pakar gempa Jepang yang seberani Masatoshi Sagara. Ia bukan pakar gempa picisan karena lulus dari jurusan ilmu pengetahuan alam Universitas Tokyo (Tokyo Daigaku), universitas nomor wahid di Jepang, dan pernah 25 tahun mengabdi di puncak Fujisan.


Sagara mengarang sebuah buku yang judulnya bikin orang Jepang penasaran sekaligus jantungan: Fujisan Dai Bakuhatsu atau Gunung Fuji Akan Meletus. Buku yang diterbitkan dan diedarkan oleh penerbit Tokumashoten, Tokyo, Agustus 1982, ini laris manis. Sagara meramal akan terjadi gempa bumi raksasa di sekitar Tokyo karena Fujisan akan meletus, dengan sangat terperinci, sampai tanggal letusan pun disebut. Hebat.


Ia katakan bahwa Fujisan bakal meletus antara 10 dan 15 September 1983. Segenap orang Jepang jadi heboh bukan kepalang. Untunglah itu tak terjadi. Ia dituding mencari sensasi belaka.


Fujisan memang istimewa. Kerucut yang simetris membuat Fujisan elok ditatap dari segala penjuru. Terlebih saat puncaknya berselimutkan salju tebal di musim dingin. Foto-foto Fujisan bertudung salju inilah yang paling banyak dipromosikan untuk kepentingan pariwisata Jepang sekarang.


Dahulu kala tak ada orang Jepang yang mendaki untuk pelesiran belaka. Semua acara pendakian selalu dikaitkan dengan peribadatan. Banyak pelukis Jepang yang mengagungkan Fujisan, tapi agaknya belum ada karya lukis kuno yang seimpresif dan selegendaris karya Hokusai Katshusika (1760-1849). Ia seniman ukiyoe, seni cetak balok kayu (woodblock prints).


Hokusai menghimpun 36 karya terbaiknya yang dibuat dalam rentang 1826-1833 ke dalam serial hanga (gambar cetakan) berjudul Fugaku Sanjurokkei atau Tiga Puluh Enam Pemandangan Gunung Fuji. Itulah masterpiece yang dianggap ikut mempengaruhi impresionis Eropa. Salah satu lukisan dalam buku itu, Ombak Raksasa di Lepas Pantai Kanagawa (1931), sering dipakai untuk melukiskan tsunami.


Ada sebuah novel yang pernah menggegerkan Jepang. Judulnya Nami no To (Menara Ombak) karya Seicho Matsumoto (1909-1992). Kisahnya tentang seorang wanita yang diselingkuhi suaminya, lalu bunuh diri di Aokigahara Jukai. Yang mengherankan, setelah buku itu diterbitkan (dan sudah difilmkan dengan judul yang sama), banyak orang Jepang menghabisi nyawa sendiri di tempat itu.


Pada 1993 ada Wataru Tsurumi yang menulis buku setebal 198 halaman. Ia menyebut Aokigahara Jukai sebagai salah satu tempat paling aduhai untuk membuang hayat yang di kandung badan. Tapi ia berkilah tak mengajari orang bunuh diri, melainkan sekadar memposisikan bunuh diri sebagai alternatif. Gila.


Aokigahara Jukai sebuah nama yang permai. Jukai berarti samudra pepohonan. Terbentang di Fujiyoshida, dikelilingi empat dari lima danau di Fujisan.


Lokasinya memang molek, tapi dalamnya menyeramkan. ”Sekali masuk ke dalam, bakalan tersesat,” seorang tua yang ikut pendakian menasihati saya. Mungkin berlebihan. Tapi tinggi pepohonan di Aokigahara 15-20 meter. Amat lebat. Bahkan, saking banyaknya orang membinasakan diri di sana, dalam satu edisinya di tahun 1983, majalah Time justru menjuluki Aokigahara Jukai sebagai suicide forest.


Kendati begitu, boleh percaya boleh tidak, konon katanya, menghabisi nyawa sendiri di Aokigahara Jukai merupakan cara paling indah untuk mencapai nirwana. Amboi....


Angka bunuh diri di Jepang memang mencengangkan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah kasus bunuh diri di Jepang terbanyak di dunia (24,1 orang per 100 ribu). Stasiun televisi NHK pada 15 Mei 2006 memberitakan, dalam tujuh tahun terakhir, angka bunuh diri di Jepang melebihi 30 ribu kasus per tahun.


Ah, seseram apa pun cerita tentang Aokigahara, Fujisan tetaplah pujaan hati. Buktinya, jumlah orang Jepang yang menyandang nama Fuji tak terhitung. Ada ribuan perusahaan yang memakai nama Fuji. Salah satu yang terkenal adalah perusahaan Fuji Film, yang mendirikan tiga pabriknya di sekitar Gunung Fuji. Nama dan gambar Fujisan pernah pula diabadikan pada koin dan lembaran yen tempo dulu.


Banyak orang Jepang percaya, Fujisan tidak sembarangan memamerkan diri. Gunung suci ini hanya muncul pada hari-hari tertentu dan menampakkan diri kepada orang-orang bertuah saja. Entahlah. Saya cuma berharap Fujisan tetap diam abadi biar tetap indah dipandang mata.
ABDI PURMONO (Shizuoka) 


http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2006/09/25/PJL/mbm.20060925.PJL121787.id.html

Share this :

Previous
Next Post »