Dari Pasuruan Taklukkan Eropa

Minggu, November 23, 2008
KORAN TEMPO, Sabtu, 26 April 2008


Muhammad Misbakhun
Foto-foto: ABDI PURMONO

Bagi sebagian orang, profesi aparat pajak menjadi ajang perburuan. Bahkan tak sedikit yang menganggapnya sebagai lahan basah. Ladang paling mudah menghimpun pendapatan. Apalagi jika belasan tahun bekerja dengan jabatan lumayan tinggi.

Namun, Muhammad Misbakhun memilih jalan lain. Ia justru hengkang dari kantor pajak setelah 15 tahun menimba pengalaman kerja di sana. Keputusan besar dalam hidupnya itu ditetapkan sepulang beribadah haji dari Mekkah pada 2004. "Hati saya berontak, saya tidak betah jadi pegawai negeri sipil," ujar Misbakhun pada 16 April lalu.

Tak dinyana, putusan hijrah dari pegawai negeri menjadi wiraswasta malah didukung keluarga. Istrinya, Eni Sulistyowati, malah senang. Tak pelak gairah bapak empat anak--tiga perempuan dan satu laki-laki--ini pun semakin menggelora.

Namun, Misbakhun bukan tipe pengusaha spekulan. Pada 2003 atau setahun sebelum banting setir menjadi pengusaha, ia memanfaatkan keahliannya sebagai konsultan keuangan yang diperolehnya dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara pada 1992 dan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti pada 2002.

Pada saat yang sama, ia mulai merintis bisnis keluarga, magang menjadi bos di PT Agar Sehat Makmur Lestari (ASML), produsen tepung agar-agar dari rumput laut. Usaha itu dibentuk bersama saudaranya yang juga ahli perancang pabrik pengolahan rumput laut. Lokasi usahanya seluas 1,2 hektare di pelosok Jawa Timur, tepatnya di Desa Bakalan, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan.

Setahun berjalan, perusahaan belum berproduksi komersial, cuma 7-9 ton per bulan atau 56 ton tepung agar-agar sepanjang 2004. Manajemen masih sederhana. Mereka masih sibuk menjajaki pasar dan menyurvei selera konsumen. Sasarannya pun masih pasar lokal di sekitar Pasuruan.

Namun, setelah Misbakhun terjun, kinerja perusahaan mulai moncer. Tangan dinginnya membuat bisnis yang jarang digeluti orang ini berkembang pesat sampai akhirnya ia dipercaya oleh Bank Mandiri. "Kalau dihitung-hitung, kredit dari Mandiri sudah puluhan miliar rupiah. Tapi, alhamdulillah, saya tak pernah telat membayar cicilan," kata pria kelahiran Pasuruan, 29 Juli 1970, ini.

Terjun jadi pebisnis, ia tak tanggung-tanggung mengejar calon pembeli. Ia mulai rutin menjalin kontak lewat e-mail dengan produsen tepung agar-agar kelas dunia. Salah satunya adalah B&V Agar Producers, pembuat agar-agar beken dari Italia dan terbesar di Eropa. Surat elektronik itu berbalas dengan aksi saling berkunjung.

Sejak itu, perburuannya berbuah pesanan besar. ASML berhasil menaklukkan pasar Eropa setelah meneken kontrak dengan B&V Agar Producers. Pada 2005, produksinya mendadak sontak melonjak hampir tiga kali lipat dari 56 ton menjadi 150 ton per tahun. Setahun kemudian, naik lagi jadi 170 ton per tahun. Ia pun menjadi eksportir tunggal tepung agar-agar ke Eropa lewat B&V.

Pada pertengahan 2007, Misbakhun kembali menggebrak. Ia mengganti semua mesin dengan enam mesin buatan Italia dan Spanyol. Hasilnya, produksi lagi-lagi naik menjadi 200 ton sepanjang 2007 dan 280 ton target tahun ini. Seiring dengan lonjakan produksi, omzet bisnisnya pun meningkat dari hanya Rp 300 jutaan pada 2004 menjadi Rp 17 miliar per tahun.

Untuk menjaga mutu ekspor, B&V menempatkan orangnya di sana. Serangkaian tes produk dijalani, termasuk tes mikrobiologi. Untuk memenuhi pelanggan Eropa yang cerewet soal lingkungan, ASML tak lupa membangun instalasi pengolahan limbah. Sejumlah ikan koi kecil ditebar di kolam pengolahan limbah terakhir sebagai penilaian.

Di sisi lain, ambisi ekspansi pasar terus dipacu. B&V membantunya mencarikan mitra strategis dari Eropa hingga Amerika Utara. Dampaknya, permintaan terus meningkat sampai-sampai ASML tak sanggup memenuhi. Saat ini ia baru bisa mengirim 14-17 ton tepung agar-agar per bulan. Padahal itu sudah mencakup 90 persen produksi.

Di Eropa, produk ASML dikenal sebagai food stabilizer untuk cokelat, es krim, yoghurt, selai, mayonnaise, saus, kecap, dan pizza. Adapun di pasar domestik, ia menjual bahan baku puding agar-agar itu dengan merek AgarKita. Untuk memikat konsumen, ia membuat dalam empat warna (putih, hijau, merah, dan cokelat) serta empat rasa (stroberi, melon, leci, dan anggur). "Kami yang pertama mengolah rumput laut dengan tawaran berbagai rasa," katanya.

Namun, kesuksesan Misbakhun ini bukan tanpa kendala. Ia masih terganjal soal pasokan bahan baku. Padahal ia sudah mencarinya dari ujung barat (Serang) sampai ujung timur (Banyuwangi) wilayah pantai utara Jawa. Setiap bulan ia menyerap 180-200 ton rumput laut dengan harga Rp 2.900-3.500 per kilogram. "Pasokan bahan baku belum lancar," katanya. Ia sedih karena potensi lahan budi daya rumput laut mencapai 1,1 juta hektare, tapi yang dimanfaatkan baru 20 persen.

Problem lain adalah soal tenaga kerja. Dari total 200 karyawan, sebagian besar atau 80 persen hanya lulusan sekolah dasar. Akibatnya, ia bekerja keras melatih mereka agar memahami kultur perusahaan. "Mengubah perilaku mereka susahnya minta ampun," kata dia. "Misalnya, dulu mereka suka buang hajat di kali, padahal sudah disediakan toilet."

Setelah empat tahun bergulat dengan rumput laut, Misbakhun masih punya mimpi. Ia tidak hanya ingin mendongkrak produksi menjadi 600 ton pada 2009, tapi juga ingin mengalahkan 20 pesaingnya, menjadi produsen tepung agar-agar nomor satu di Indonesia. "Kami juga ingin mengalahkan Filipina dan Cile, yang juga dikenal sebagai produsen tepung agar-agar ternama." ABDI PURMONO 


http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/04/26/Suplemen/krn.20080426.129218.id.html




Share this :

Previous
Next Post »